
Pulang dari Mall mereka langsung mandi. Di luar dugaan, Yuri mengira tidak akan sebanyak ini berbelanja. Ia mengira hanya akan membawa tiga atau empat tentengan saja. Ternyata ia membawa lima kali lipat dari dugaannya. Devan yang juga sudah lelah ia masih tertidur. Yuri menyempatkan untuk mandi lebih dulu.
Keluar dari kamar mandi sudah ada Naomi yang membantunya merapikan belanjaannya. Ia berencana untuk membeli baju saja. Begitu sampai Mall, Kaira memilihkan baju, celana, jas, topi, tas, sepatu, mainan dan lain sebagainya yang bahkan Yuri berpikir itu tidak penting. Tapi demi membuat Kaira senang dan melupakan kesedihannya, ia membiarkan Kaira memilih apapun untuk Devan.
Tak hanya Devan, Kaira juga ikut belanja untuk dirinya. Yuri pun kebagian baju dan tas yang di pilihkan oleh Kaira. Naomi yang senang perhiasan juga mendapatkan perhiasan baru. Kaira membeli itu semua dari hasil tabungannya. Karena Rama memang benar-benar mengambil semua fasilitas miliknya.
"Ri, terimakasih ya. Berkat kamu dan Devan, Kaira bisa keluar dari kamar dan menghilangkan kesedihannya." Kata Naomi.
"Sama-sama Bunda, sudah seharusnya seorang adik menyenangkan hati kakaknya." Kata Yuri.
Belum selesai beberes, salah satu pelayan mendatangi mereka di kamar Devan. Ia mengatakan bahwa ada tamu yang mencari mereka. Yuri mengira itu Mama nya. Tapi ternyata pelayan tersebut mengatakan bahwa tamunya adalah seorang pria.
"Oh, mungkin Keenan. Yuri coba ke bawah dulu ya Bunda." Pamit Yuri.
"Ya sudah, biar Bunda yang jagain Devan." Balas Naomi.
"Si Keenan ada-ada saja sih. Harusnya kan dia jemput Mama jam segini." Yuri ngedumel saja sambil turun.
"Nyonya, tamunya sudah saya suruh tunggu di ruang tamu. Saya permisi ke belakang dulu ya." Pamit pelayan tersebut.
"Iya Bik, oh iya sekalian buatkan minuman ya Bik." Pinta Yuri.
"Baik Nyonya." Pelayan tadi pergi ke dapur.
Yuri heran kenapa jantungnya berdetak tak seperti biasanya. Padahal ia hanya akan menemui adiknya. Yuri berhenti begitu melihat tamunya. Perasaannya berubah senang saat melihatnya.
"Derry!" Teriak Yuri.
"Loh, Yuri?" Tanya Derry.
"Kamu kemana saja? Pergi menghilang begitu saja." Tanya Yuri.
"Ceritanya panjang, Ri. Aku rencananya ingin bertemu Kaira sih bukan ketemu kamu." Jawab Derry.
"Kamu tahu tidak? Gara-gara ulah kamu. Kak Kaira murung diri di kamar. Dia galau banget!" Kata Yuri.
"Kalau gitu kamu panggilkan dia sana. Cepat!" Pinta Derry.
"Ini tamu gak ada sopan-sopan nya ya. Aku malah di usir coba!" Yuri kembali ngedumel pada Derry.
"Makanya tadi tuh bilang yang jelas ingin bertemu Kaira gitu! Jadikan yang di di panggil langsung Kak Kaira." Protes Yuri.
Yuri kembali ke atas dan mengetuk pintu kamar Kaira. Yuri tak lebih dulu memberi tahunya siapa tamu yang mencarinya itu. Kaira pun keluar menemui tamunya. Yuri kembali ke kamarnya dan melihat Devan sudah mandi dan sudah berganti pakaian.
"Aduh, anak Mama sudah mandi. Siapa yang mandikan?" Tanya Yuri.
"Mah!" Teriak Devan dengan tersenyum.
"Wanginya anak Mama." Puji Yuri.
"Bunda terimakasih ya. Jadi ngerepotin Bunda." Ucap Yuri.
"Ada apa sama Keenan, Ri?" Tanya Naomi.
"Oh, tadi bukan Keenan ternyata, Bun." Jawab Yuri.
"Terus siapa? Teman kamu?" Tanya Naomi. Yuri menganggukkan kepalanya.
"Iya, Bund. Teman Yuri yang sudah membuat Kak Kaira galau berhari-hari." Jawab Yuri.
"Hah? Derry?" Tanya Naomi.
"Iya Bun." Jawab Yuri.
"Lama hilangkan ada kabar! Buat Kaira nangis, sedih, galau, gak mau keluar! Sekarang berani datang! Kemarin kemana saja?! Cari wanita lain apa?! Keterlaluan!" Kini berganti Bunda Naomi yang ngedumel sambil keluar.
"Anak Mama, sudah wangi." Yuri menggendong Devan dan memberinya ASI.
"Ma,, Ma,, Ma,,"
"Mam,," Pinta Devan usai di beri ASI.
"Anak Mama mau makan? Yuk, kita makan." Yuri mengajaknya keluar. Ia langsung ke dapur menyiapkan makanan untuk Devan.
Selesai makan, Yuri hendak ke atas. Tapi ia berubah pikiran ketika mendengar suara Naomi yang memarahi Derry. Ia mencoba ke ruang tamu agar bisa mencairkan suasana.
Disana Kaira sudah menangis dan Derry hanya terdiam menunduk saat di marahi Naomi. Yuri tak langsung menghentikan Naomi. Ia melihat situasi yang ada lebih dulu.
"Sebelumnya saya minta maaf atas sikap saya kemarin." Ucap Derry setelah Naomi selesai memarahinya.
"Saat itu saya baru pertama kali kerja di rumah sakit dan saya di minta untuk magang selama lima bulan di rumah sakit yang terletak di perbatasan. Disana tidak ada Sinyal sama sekali," Derry menjelaskannya secara lengkap.
"Setelah saya diizinkan kembali dan di tetapkan menjadi karyawan tetap. Saya langsung kesini untuk menemui Kaira langsung." Lanjutnya.
Setelah lama berbincang-bincang. Keadaan mulai kembali tenang. Kaira dan Derry saling berpelukan. Naomi cukup senang melihat Kaira kembali senang bersama pilihannya.
"Bunda kenapa nangis?" Tanya Yuri.
"Mah!" Devan ikut menegur Omah nya.
"Bunda bahagia akhirnya Kaira bisa tersenyum lagi. Bunda hanya khawatir jika Kaira anak Bunda di saki hatinya." Jawab Naomi.
"Mah!" Devan menyenggol lengan Omah nya.
"Omah gak apa-apa, Nak." Jawab Naomi menjelaskan ke Devan.
"Aduh, kesayangan Aunty perhatian banget sih." Kaira memeluk Devan dan menggoda Devan hingga menangis.
"Akh!" Teriak Devan hingga menangis.
"Ma,, Ma,, Ma,," Seakan Devan mengadu pada Yuri.
"Kenapa Devan? Di ganggu Aunty ya. Sayang aunty Nya biar gak gangguin Devan." Kata Yuri.
"Anak kamu menggemaskan sekali ya, Ri." Kata Derry.
"Jelas dong, siapa dulu Papanya." Sahut Kenzie tiba-tiba.
"Ken? Sudah pulang?" Tanya Yuri.
"Sudah, aku gak bisa lama-lama jauh dari kalian." Kenzie langsung bermanja dengan Yuri di depan Derry dan yang lain.
"Ken, Ayah mana?!" Tanya Kaira.
"Ayah sedang ngobrol sama Pak Frans di luar." Jawab Kenzie dengan santai.
"Awas saja nanti sama aku!" Kata Kaira seakan memiliki dendam.
"Ada apa sih Kak?" Tanya Kenzie.
"Nanti juga kamu tahu! Capek kalau berulang kali menjelaskannya." Kata Kaira.
"Udah ada Derry masih aja ngamuk-ngamuk. Malu tuh di lihatin Derry. Perempuan tuh harus kalem kayak Bunda sama Yuri. Lihat tuh istri aku, aduh cantiknya kalem." Kenzie memuji Yuri.
"Belum aja, lihat saja nanti. Biasanya perempuan kalem kalau udah marah tuh seram melebihi Singa ngamuk." Balas Kaira.
Rama masuk dengan santai bersama Frans sekertaris nya. Kaira sudah menatapnya dengan tajam. Rama mengerti dengan tatapan tersebut. Ia pun berubah menjadi patung. Diam tanpa kata dan hanya tersenyum.
"Kamu bisa ke ruangan saya lebih dulu ya." Pinta Rama pada Frans.
"Ayah!" Teriak Kaira.
"Hehehehe," Rama hanya bisa tersenyum.
"Tenang dulu ya anak ayah yang cantik. Yuk, kamu duduk dulu." Rama perlahan-lahan mendekati Kaira.
"Jelasin!" Kaira kembali teriak.
"I~iya, Ayah jelaskan. Kamu duduk dulu, tenang dulu, jangan marah-marah dulu. Malu tuh di lihatin Derry." Rama berhasil mendekati Kaira tanpa terkena pukulan.
"Jelasin Sekarang!" Pinta Kaira dengan keras.
Ya, Kaira memang bisa di bilang random. Kadang ia cuek, kadang bisa juga ia manja dengan Ayah dan Bundanya, kadang juga bisa galak melebihi Singa. Itulah alasan Kenzie tidak berani membuat Kakaknya marah.