
Tak terasa kini mulai memasuki ujian kenaikan kelas. Seperti biasa, mereka belajar bersama. Ada yang bertambah di antara mereka yaitu Prisa. Sejak Prisa meminta maaf pada Yuri, Prisa sesekali ikut berkumpul di Rooftop sambil belajar bersama.
Selama ujian mereka selalu belajar lebih dulu di Rooftop sebelum akhirnya mereka pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Gak terasa ya, sebentar lagi kita bakal naik kelas tiga." Ucap Marsha.
"Aku gak yakin nih bisa menyelesaikan ujian dengan baik apa gak." Jawab Yuri.
Seminggu mereka menjalani ujian akhir semester. Kini, waktunya mereka berlibur. Merencanakan akhir tahun bersama. Namun sayangnya Marsha sudah janji pada orangtuanya untuk merayakan tahun baru bersama. Begitu juga dengan Kevin yang ikut pulang kampung bersama keluarganya.
"Keenan ngajakin tahun baru bareng di rumah. Mama sama Papa juga setuju. Gimana?" Tanya Yuri.
"Iya sayang, kita akan merayakan tahun baru bersama." Jawab Kenzie.
Kenzie kembali bermain PlayStation dengan Keenan. Yuri menemaninya di samping. Keenan agak sedikit risih memang melihat kakaknya yang Bucin.
"Kak! Mending bikinin minum atau cemilan kek!" Pinta Keenan.
"Ih, emang Kakak pembantu. Bikin sendirilah!" Jawab Yuri.
Terdengar suara ponsel berdering. Ponsel Kenzie berbunyi, terlihat nama seorang wanita menghubunginya. Kenzie memilih mengangkat telepon di luar rumah. Hal itu membuat Yuri curiga dengan Kenzie.
Kenzie buru-buru pulang tanpa pamit. Yuri mengikutinya menggunakan ojek yang mangkal di depan perumahan.
Sampai di rumah Kenzie, Yuri melihat wanita cantik berambut pendek sebahu memeluk Kenzie. Kenzie membalas pelukan wanita tersebut. Yuri yang cemburu, langsung mendatangi Kenzie.
"Zie!" Panggil Yuri. Air matanya sudah berlinang.
"Ri,," Belum sempat menjelaskan Yuri sudah memotongnya.
"Kamu jahat Zie! Aku gak mau dengar penjelasan dari kamu!" Ucap Yuri sambil menangis sesenggukan.
"Ri, tunggu dulu! Dengarkan dulu penjelasan dari aku. Aku mohon Ri! Berhenti!" Ucap Kenzie.
Yuri tidak menghiraukan Kenzie. Ia tetap naik ke motor yang tadi ia tumpangi. Rasanya sangat sakit melebih saat ia di khianati oleh Jimmy.
Sampai rumah, Yuri langsung mengunci pintunya. Ia menangis tanpa henti di dalam kamar. Rasanya sangat sakit sekali melihat orang yang ia cinta berpelukan dengan wanita lain.
Keesokan harinya, Kenzie datang ke rumah Yuri. Ia ingin menjelaskan tentang apa yang ia lihat kemarin.
Namun sayangnya, Hani gagal membujuk Yuri untuk keluar kamar. Mamanya saja tidak bisa, bagaimana dengan Kenzie.
"Yuri dari kemarin juga gak keluar. Ia juga gak makan malam. Sebenarnya apa yang terjadi sama Yuri?" Tanya Hani.
Kenzie mau tak mau jujur pada Hani tentang hubungannya dengan Yuri. Ia juga menceritakan kejadian kemarin yang sudah membuat Yuri seperti hari ini.
"Nanti biar Tante coba bujuk ya Ken. Mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan pikirannya." Kata Hani.
"Iya Tante, Kenzie harap Yuri bisa mendengarkan penjelasan Kenzie dulu." Kata Kenzie.
Sudah malam hari, Yuri tak juga keluar kamar. Kenzie pun memutuskan untuk kembali pulang.
Hari-hari Yuri kembali sepi. Hanya bisa melihat Keenan bermain PlayStation. Ia berharap Kenzie datang ke rumah. Sejujurnya ia sangat merindukan Kenzie.
Beberapa kali ia ingin sekali menghubunginya lebih dulu. Tapi ia selalu mengurungkan niatnya tersebut. Ia yang lebih dulu merajuk.
Menjelang akhir tahun, Kenzie tak juga datang main ke rumah. Ia juga tidak ada di warung kopinya. Yuri benar-benar sangat merindukan Kenzie.
Di malam akhir tahun Yuri merayakan bersama keluarga. Ia juga mengundang Marsha dan Kevin. Mereka pun datang menemani Yuri.
"Kenzie mana Ri?" tanya Marsha.
"Gak tau, sama pacarnya kali." Yuri masih saja memutar-mutar jagungnya.
"Pacarnya?" tanya Marsha.
"Dia bilang ke aku, kalau dia hanya mencintai kamu," lanjutnya.
"Ah, gak tau aku Sha. Biarin ajalah, mungkin dia sudah capek mengejar ku." Kata Yuri.
"Ya udah, gak usah di pikirin. Benar kata Kevin, kita happy-happy saja." balas Marsha.
Marsha memang sahabat yang pengertian. Yuri sangat beruntung memiliki sahabat seperti Marsha. Yuri masih terdiam, ia sangat-sangat merindukan Kenzie.
"Ri! Gosong tuh!" teriak Hani.
"Marsha, Kevin di minum dulu nih. Tante sudah buatkan sirup." kata Hani.
"Siap Tante." balas Marsha.
"Wah, pas banget nih Tante satenya juga sudah matang." Kevin berhenti mengipasi sate.
"Keenan tampan banget sih." puji Marsha.
"Terbang dia mah di bilang kayak gitu." Yuri mengusap wajah adiknya.
"Kakak! tangan kakak kan hitam! Nanti aku gak tampan lagi dong." Keenan kesal sambil memakan sate.
Keseruan di akhir tahun, tetap terasa kurang lengkap tanpa kehadiran Kenzie. Walau ia dapat tertawa tapi tidak pada hatinya. Yuri ingin sekali datang menghampiri Kenzie. Tapi ia takut mengganggu Kenzie dengan kekasihnya.
"Tante masakannya enak-enak banget sih. Pasti Om betah ya di rumah?" Puji Kevin.
"Tau aja kamu Vin. Kalau rumah sama kantor Om dekat juga, Om bakal pulang buat makan siang," jawab Indra.
"Tapi kan Mama selalu bawain bekal buat Papa." sahut Hani.
"Coba saja Kenzie disini ya. Pasti bakal lebih ramai nih." kata Hani.
"Memang Kenzie kemana Tante?" tanya Kevin.
"Loh, memang kalian gak tahu? Tanya saja sama pacarnya." jawab Hani.
"Oh, Kenzie sudah punya pacar Ma?" tanya Indra.
"Sudah." Jawab singkat Hani.
Marsha diam-diam merangkul Yuri agar sahabatnya tetap semangat. Kevin juga melihat ke arah Yuri yang terlihat sedih. Kevin pun bertanya kembali.
"Nanggung ah Tante. Kan Tante yang mulai, jadi Tante dong yang ngasih tau." Kevin yakin Yuri juga tidak tau.
"Kenzie itu sudah balik ke orang tuanya. Kemarin dia di jemput untuk pulang ke Singapura." Jawab Hani.
"Jauh juga ya Tan." balas Kevin.
"Nah, gimana kalau kita Videocall saja? Tante coba hubungi bundanya Kenzie ya." Hani mengambil ponselnya dan menghubungi Naomi.
Panggilan pun terhubung. Dari layar terlihat bundanya Kenzie yang cantik dan awet muda sedang melambaikan tangan. Tak hanya Naomi, di belakang juga ada Kenzie dan seorang wanita yang sedang asik barbeque.
"Hai Jeng, ini teman-temannya Kenzie kangen katanya." ucap Hani.
Naomi langsung mengalihkan kameranya. Gadis yang bersama Kenzie lah yang mengambil ponsel Naomi. Ia memegangi ponsel Naomi agar Kenzie dapat menelpon sambil membakar.
Marsha dan Kevin langsung heboh ngobrol dengan Kenzie. Ia tidak menyangka sahabatnya pindah tanpa mengucapkan salam perpisahan. Tiba saatnya Yuri, ia memilih masuk ke dalam rumah dengan alasan ke kamar mandi.
Suasana terasa hening seketika melihat Yuri menolak bicara dengan Kenzie. Usai menelpon, Yuri baru keluar tanpa kata. Marsha mengerti bahwa suasana hati sahabatnya kini tidak baik-baik saja.