Untitled Love

Untitled Love
Ep 33



Jimmy benar-benar menunggu Kenzie. Ia bersama Prisa menunggu di depan gerbang sekolah. Prisa tidak ingin Jimmy dan Kenzie berkelahi. Ia menghubungi Marsha dan Yuri untuk menghampiri mereka usai keluar kelas.


Tak lama, Kenzie keluar dan Jimmy langsung menghadang jalannya Kenzie. Begitu Kenzie turun dari motor, Jimmy langsung memukul Kenzie tepat di wajahnya.


Pukulan Jimmy mampu membuat Kenzie tersungkur jatuh. Prisa tak ingin Jimmy memukul Kenzie lagi, ia langsung menahan tangan Jimmy.


"Kenzie!" teriak Raisa. Ia lari menghampiri Kenzie yang sudah terduduk di aspal.


"Kamu apa-apaan sih Jim?" tanya Raisa kesal.


"Berdiri kamu!" Jimmy menarik kerah seragam Kenzie.


"Aku sudah melepas orang yang aku cinta. Sekarang ini balasan kamu?!" bisik Jimmy.


"Jadi dia pilihan kamu sekarang? Ingat Ken, aku bisa saja merebut Yuri untuk kembali padaku." bisiknya lagi. Kenzie hanya terdiam.


"Sudah!! Sudah!!" teriak Raisa memisahkan mereka berdua.


"Kamu! Jaga dong tunangannya! Gimana sih tunangannya berantem malah di lihatin saja!" Raisa menunjuk ke Prisa.


Raisa membawa Kenzie menjauh dari Jimmy. Begitu juga dengan Prisa, ia menuntun Jimmy masuk ke dalam mobilnya.


Sampai di dalam mobil, Jimmy melihat ke arah jendela mobil. Dari kejauhan Yuri dan Marsha berdiri menyaksikan mereka. Ia juga melihat Kenzie yang sedang di tuntun Raisa menuju Pos Security.


Yuri hanya terdiam melihatnya. Sedangkan Marsha merangkul sahabatnya yang ia yakini mulai merasa sedih melihat Kenzie dengan gadis lain.


"Pak, saya minta tolong ambilkan~" pinta Raisa.


Raisa membasuh luka di pipi Kenzie. Ia juga mengompres memarnya. Kenzie melihat Yuri yang lewat sambil menatapnya dari luar.


"Yuri!" panggil Kenzie.


"Kamu mau kemana?" Raisa menarik tangan Kenzie yang berdiri tiba-tiba sambil memanggil nama gadis lain.


Ia tak sempat mengejar Yuri. Tangannya tertahan oleh Raisa. Ia kembali duduk hingga Raisa selesai mengobatinya.


"Ken, gak bisakah kamu mencintaiku?" tanya Raisa.


"Aku menyukaimu Ken." Ucap Raisa sambil memberikan obat pada lukanya.


"Biarkan aku terus berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padaku Ken. Aku pasti bisa membuatmu mencintaiku." Belum sempat plester nya menempel, Kenzie sudah menahan tangan Raisa.


"Thanks." kata Kenzie.


"Ah iya, kamu gak perlu usaha apapun dan kamu gak perlu menunggu ku." lanjutnya saat hendak keluar pos.


"Semoga kamu bisa cepat mendapatkan pengganti ku." kata Kenzie.


"Thanks ya sudah mengobati lukaku." Kenzie melambaikan tangannya.


Masih pagi, teman-temannya sudah berkumpul di mejanya. Begitu juga Raisa, ia datang ke kelas Kenzie untuk melihat kondisinya dan masih berusaha untuk mendapatkan hati Kenzie.


"Duh, masih pagi kali. Udah di samperin aja." canda salah satu temannya Kenzie.


Kenzie melirik ke Yuri tanpa terlihat yang lain. Ia melihat Yuri yang juga menatapnya dengan ekspresi berbeda. Kenzie tersenyum melihatnya.


"Hai Ken." Raisa melihat Kenzie yang tersenyum tiba-tiba.


"Gimana lukanya?" Raisa melihat luka yang ada di wajah Kenzie sudah tertutup oleh plester bermotif Frozen.


"Aduh, perhatian banget." canda temannya.


"Hati Abang terluka nih neng, Lihat Eneng perhatian sama si Ken. Obati dong Neng." lagi-lagi temannya mengejek Raisa.


Kenzie menahan tangan Raisa yang hendak menyentuh plester yang menutupi lukanya. Ia sedikit melirik Yuri yang masih menatapnya. Kemudian Kenzie mempertajam tatapannya.


"Berhenti menyentuhku sesuka hatimu." Ucap Kenzie dengan ekspresi datar. Namun seketika terasa dingin.


Bel masuk berbunyi di saat yang tepat. Raisa keluar bersamaan dengan Yuri. Mereka saling bertemu di depan pintu. Belum sempat Yuri melangkah ke kelasnya, Raisa sudah lebih dulu menarik tangannya.


"Tunggu!" kata Raisa.


"Ada perlu apa ya?" Yuri bertanya balik.


"Jauhi Kenzie! Aku tidak akan menyakitimu jika kamu tidak menyakitiku." jawab Raisa.


"Aku gak butuh pertanyaanmu. Jauhi Kenzie dan aku tidak akan menyakitimu." kata Raisa.


"Siapa yang ingin menyakiti siapa?" tanya Kenzie.


"Kembalilah ke kelasmu dan jangan sekalipun kamu mengganggu Yuri." lanjutnya. Sedangkan Kenzie masih menggenggam tangan Yuri.


Raisa kesal melihat Kenzie memegang tangan Yuri. Ia juga kesal karena Kenzie membela Yuri.


Yuri menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Kenzie. Tapi ternyata, genggaman Kenzie begitu kencang.


"Kamu mau kemana?" tanya Kenzie.


"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya. Biar aku kasih tau ya, lepaskan genggamanmu, karena aku ingin balik ke kelasku." jawab Yuri dengan perasaan kesal.


Kenzie bingung dengan Yuri yang tiba-tiba berubah dingin padanya. Tapi hal itu membuat Yuri terlihat lucu di mata Kenzie.


"Kamu lucu Ri. Aku suka."


"Kenapa diam? lepasin! Sudah ada Pak Yono di kelasku!" kata Yuri.


Ternyata ucapan tadi hanya sanggup ia katakan dalam hati. Kenzie masih belum berani mengungkapkan perasaannya.


Bel pulang, Kenzie lebih dulu menunggu Yuri di depan kelasnya. Ia menunggu Yuri bersama Marsha dan Kevin.


"Kalian ke bawah saja duluan." kata Kenzie.


Yuri pulang bersama Marsha, Kenzie dan Kevin. Mereka berniat untuk main ke rumah Yuri. Kenzie dan Kevin ingin bermain PlayStation bersama.


Di rumah Yuri, Kenzie, Kevin dan Keenan bergantian bermain PlayStation. Sedangkan Yuri dan Marsha duduk di pojok sofa sambil makan makanan ringan.


"Sha, menurut kamu pandangan Kenzie ke aku tuh gimana?" Tanya Yuri.


"Gimana apanya? Kamu suka ya sama Kenzie?" Marsha bertanya balik.


"Apa sih Sha? Semuanya aja sekalian bilang aku suka sama cowok satu sekolah." Yuri kesal.


"Hahaha,, kok marah sih? Santai dong." Jawab Marsha.


"Ya, menurut aku sih dia suka sama kamu Ri." Kata Marsha.


"Tapi kok dia selalu dukung aku dengan siapapun?" Tanya heran Yuri.


"Apa Kenzie pernah cerita ke kamu tentang perasaannya?" Tanya Yuri.


"Gak apa-apa Sha, aku cuma mau meyakinkan aja. Aku gak bakal cerita ke dia kok." Lanjutnya.


"Menurut kamu Kenzie gimana?" Marsha bertanya balik ke Yuri.


Yuri menceritakan seluruh perasaannya. Marsha mendengarkan cerita Yuri. Yuri sesekali tersenyum mengingat kedekatannya dengan Kenzie.


"Ri, Kenzie itu bukan orang yang melarang ini itu. Dia juga bukan orang yang aneh." Kata Marsha.


"Dia pernah bilang ke aku, kalau dia itu suka sama kamu Ri." Kata Marsha. Dalam hati, Yuri merasa sangat senang dan bahagia.


"Suka? Gak mungkin Sha." Jawab Yuri.


"Dia tuh gak pernah cemburu setiap ada cowok yang dekat sama aku. Bahkan terakhir dia bahas kalau Nathan suka sama aku." Lanjutnya.


"Ri, Kenzie tuh bukan tipe yang langsung menyatakan cintanya gitu aja. Dia memilih mengalah demi kebahagiaan kamu!" Kata Marsha.


"Maksud kamu?" Tanya Yuri.


"Dia memang suka sama kamu Ri, tapi dia gak berani untuk mengungkapkan perasaannya. Jika kamu bilang dia gak cemburu, kamu salah besar Ri." Jawab Marsha.


Marsha menceritakan bagaimana perasaan Kenzie pada Yuri saat awal ia dekat dengan Jimmy. Yuri gak menyangka Kenzie rela mengorbankan hatinya demi kebahagiaan dirinya.


"Dia juga gak mau kalau kamu menjauh darinya usai menyatakan cintanya ke kamu Ri." Lanjut Marsha.


"Sha, aku minta bantuan kamu untuk membuat Kenzie berani jujur dengan perasaannya." Pinta Yuri.


"Aku gak akan menjauh darinya. Setidaknya aku bisa mendengarkan pernyataannya secara langsung Sha." Lanjut Yuri.


"Baiklah." Jawab Marsha.