Untitled Love

Untitled Love
Ep 76



Kini mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri. Untuk sementara mereka tinggal di rumah Yuri. Selama di Singapura, Yuri sudah pernah tinggal bersama keluarga Kenzie. Jadi Naomi dan Rama mengalah untuk mengizinkan mereka bermalam di rumah Yuri.


Malam hari Kenzie masih bermain bersama Keenan. Yuri, Hani dan Indra hanya melihat mereka bermain sambil mengobrol bersama. Hani mengungkapkan kesedihannya saat tahu bahwa anaknya berbohong demi tidak membuat dirinya tidak khawatir.


"Maafkan Yuri ya Ma. Yuri waktu itu tidak ingin membuat Mama dan Papa sedih juga membuat kalian khawatir." Ucap Yuri.


"Setidaknya nanti kami tenang. Sudah ada Kenzie yang terus berada di samping kamu." Kata Hani.


"Mama titip Yuri ya Ken." Pinta Hani.


"Siap Nyonya Ratu. Saya akan selalu melindungi Tuan Putri." Ucap Kenzie sambil melempar joystick.


"Yes! Aku menang! Akhirnya Kak Kenzie kalah." Teriak Keenan.


Mereka bercanda bersama hingga larut malam. Waktunya mereka masuk ke kamar masing-masing. Begitu juga dengan Yuri dan Kenzie. Mereka masuk ke kamar Yuri. Awal yang canggung untuk pengantin baru.


"Sayang, apa kamu sudah ngantuk?" Tanya Kenzie.


"Ya, ternyata pesta itu melelahkan sekali ya." Jawab Yuri.


"Bagaimana dengan nanti? Ayah dan Bunda mengundang kerabatnya yang ada di Singapura." Jawab Kenzie.


"Mau aku pijat gak sayang?" Tanya Kenzie.


"Gak!" Jawab singkat Yuri.


"Sayang, yuk!" Kenzie mulai menggoda istrinya.


Skip ya Guys acara unboxing nya~ Pokoknya mah sudah paham ya. Buka kemasannya dulu, Di raba isi dalam kemasannya, lalu di angkat isi paketnya dan begitulah.


Pagi harinya, Hani sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Siang hari mereka mulai menyebar undangan pernikahan mereka. Ada beberapa yang di kirim melalui personal message.


Sudah seminggu mereka tinggal di rumah Yuri. Kini mereka berganti menginap di rumah Kenzie. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh Keluarga Kenzie. Naomi juga sudah menyiapkan makan siang. Tentu saja bukan sang bunda yang masak. Naomi memanggil Chef di hotel bintang lima.


"Wah, wangi sekali. Ini Tante yang masak?" Tanya Yuri.


"Bunda dong panggilnya. Masa masih saja manggil Tante." Pinta Naomi.


"Ini bunda yang masak?" Tanya Yuri.


"Cobain dulu yuk." Naomi langsung menaruh beberapa lauk ke piring Yuri. Kenzie, Kaira dan Rama hanya melongo melihat sikap bundanya dan istrinya hanya menyuguhkan makanan pada menantu pertamanya saja.


"Ayo, kalian kenapa pada diam sih?" Tanya Naomi melihat anak dan suaminya hanya diam menyaksikan dirinya dengan Yuri.


"Wah, enak banget Bunda. Bunda pintar sekali masaknya." Puji Yuri.


"Wah, Bunda memang pintar, Ri. Paling pintar mencari chef terhebat dimanapun." Sahut Kaira. Yuri seketika tersendat. Berbeda dengan Kenzie dan Rama yang samar-samar tersenyum agar tak nampak pada Naomi.


Selesai makan Yuri pamit untuk pergi ke Cafe tempatnya bekerja sebelum ia memutuskan untuk ke Singapura. Kenzie tidak bisa menemani Yuri sehingga ia meminta Kakaknya untuk menemani istrinya. Kaira menyetir mobil milik Kenzie. Sedangkan Kenzie pergi menggunakan motornya.


Kenzie juga berencana untuk berkumpul dengan sahabatnya di Kedai kopi. Yuri tidak mengabari Dita maupun Melani. Ia juga lupa menyimpan kontak mereka. Sampai di depan Cafe, Yuri disambut oleh Meri dengan wajah yang sedikit jutek. Berbeda dengan Fitri yang langsung menghampirinya dan menunjukkan tubuhnya.


"Yuri!" Teriak Fitri.


"Ah, aku kangen banget sama kamu." Ungkap Fitri.


"Aku juga kangen banget sama kamu, Fit." Yuri membalas pelukan Fitri.


"Kak Melani sama Si bos kemana?" Tanya Yuri.


"Mereka sedang pergi sebentar. Paling bentar lagi juga balik." Jawab Fitri.


"Oh iya Fit. Kenalin ini Kakak iparku namanya Kak Kaira." Yuri mengenalkan Kaira pada Fitri.


"Lama gak jumpa sudah punya kakak ipar saja kamu, Ri." Goda Fitri.


"Duduk dulu, Ri. Ajak kakak ipar kamu duduk disana. Nanti aku akan buatkan menu baru untuk kalian." Ajak Fitri.


Yuri dan Kaira duduk di sisi VIP. Biasanya itu di siapkan untuk Dita dan teman-temannya kumpul. Karena teman Dita kebanyakan artis papan atas yang sudah terkenal tak hanya di Indonesia saja.


"Kamu sering nongkrong disini, Ri?" Tanya Kaira.


"Tempatnya enak juga ya, Nyaman banget." Lanjutnya.


Melani dan Dita baru saja tiba. Mereka datang bersama teman-teman mereka. Melani bingung melihat makanan yang menumpuk dan belum di antarkan.


"Fit, ini kenapa numpuk disini? Nanti keburu dingin dan gak enak lagi loh." Ucap Melani.


"Iya Kak, nanti aku yang antar." Jawab Fitri sambil membuatkan minuman.


"Fit, itu di VIP kenapa ada orang? Gimana kalau nanti Dita marah lihat tamu menempati VIP nya." Kata Melani.


"Oke, sudah siap. Kak, maaf aku boleh minta tolong bawakan gak? Meri masih sibuk." Pinta Fitri.


Melani dengan senang hati membantunya. Ia meletakkan tasnya lebih dulu dan menguncir rambut panjangnya. Ia mengambil nampan yang ada di meja saji.


"Ini mau di antar kesana? Kamu seharusnya bilang dulu ke dia. Gak enak nanti kalau di usir oleh Dita. Kamu kan tahu sendiri." Melani tak henti-hentinya berkata.


Fitri lebih dulu sampai ke meja tempat Yuri dan Kaira duduk. Ia meletakkan minumannya. Tak lupa ia meletakkan minuman kesukaan Yuri. Melani menyusul meletakkan makanannya tanpa melihat pelanggannya.


"Kak Melani!" Sapa Yuri.


"Yuri?!" Melani kaget melihat Yuri.


"Ya ampun Yuri, Kakak kangen banget sama kamu." Melani memeluk Yuri dengan erat.


"Sayang!" Teriak Melani.


"Kak Melani sudah punya pacar?" Tanya Yuri. Melani menganggukkan kepalanya.


"Wah, selamat ya Kak. Sudah move on dari Dita ternyata." Lanjut Yuri.


"Move On? mana bisa aku move on dari dia. Perasaanku bahkan semakin bertambah setiap hari." Jawab Melani.


"Dia lesbong, Ri?" Bisik Kaira.


"Engga kak, Dita itu bos aku. Dia lelaki, nama panggilannya saja seperti cewek." Jawab Yuri.


"Bukannya Kakak sudah punya pacar? Aku gak ngerti ah." Yuri bingung.


"Dita itu ya pacar aku, Ri. Karena Audrey dan kamu yang buat Dita menerimaku." Jawab Melani.


Dita datang menghampiri Melani. Ia tak sendiri, ia bersama teman-temannya. Mereka baru saja masuk ke Cafe. Dita lebih dulu menghampiri Melani begitu melihat sosok Yuri dari jauh.


"Yuri." Sapa Dita.


"Kamu gak lagi trauma sama aku kan?" Tanya Dita.


"Engga kok." Jawab Yuri sambil tersenyum.


"Yuri!" Teriak Zein dari jauh dan langsung memeluknya.


"Kamu kemana saja sih? Aku kangen banget! Kata adik kamu, kamu pergi ke Singapura. Aku kesana nomor kamu sulit di hubungi." Ucap Zein.


"Panjang ceritanya." Balas Yuri.


"Ri, itu bukannya Vokalis Boys Band?" Tanya Kaira berbisik.


"Oh iya, Kak Melani, Pak Dita, Zein. Kenalin ini Kakak iparku namanya Kaira." Yuri kembali mengenalkan Kaira.


"Hah?! Kakak ipar?" Zein dan Dita serentak teriak terkejut.


"Patah hati sudah kita Zein." Ucap Dita.


"Ho'oh." Jawab singkat Zein.


"Ehem." Melani berdehem.


"Parah emang Mel si Dita. Sudah ada kamu masih saja gagal move on." Zein mengompori Melani.


"Kamu sudah punya buntut satu masih belum bisa move on dari Yuri. Aku mah sudah cinta banget sama kamu sayang." Dita membela dirinya.


Kaira hanya memperhatikan cara mereka mengobrol. Memang terlihat aneh tapi begitulah Dita dan Zein.