
Sampai di rumah sakit, Kedua orangtua Prisa merasa malu dan tak sanggup melihat akibat perbuatan anaknya. Jimmy lebih dulu masuk ke ruangan tersebut.
"Mau ngapain kamu kesini?!" Ucap Kenzie sinis.
"Aku ingin melihat kondisi Yuri." Jawab Jimmy.
"Aku juga membawa kedua orangtua Prisa." Lanjutnya.
Katherine dan Arnold masuk ke dalam ruangan Yuri. Yuri baru saja tidur usai di beri obat oleh dokter. Cuma kondisinya masih belum bisa banyak bicara.
Melihat kondisi Yuri yang terbalut perban pada kepala dan kakinya, membuat Katherine sedih melihatnya. Ia tak menyangka putrinya telah melakukan hal itu hanya karena seorang pria.
Kenzie membiarkan mereka menjenguk Yuri. Yuri perlahan membuka matanya. Ia melihat dua orang asing yang tidak ia kenal. Ia mengalihkan pandangannya ke Kenzie. Seakan ia ingin tahu siapa orang yang menjenguknya itu. Kenzie menatap kedua orangtua Prisa.
"Perkenalkan, kami kedua orangtua Prisa." Ucap Arnold selaku ayahnya Prisa.
"Ini istri saya, Mamanya Prisa." Lanjutnya. Yuri tersenyum ke mereka.
"Saya mewakili anak kami, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya." Ucap Arnold.
"Saya mohon, jangan laporkan kejadian ini ke pihak yang berwajib." Katherine memohon sambil menangis, menggenggam tangan Yuri.
"Kami janji, kami akan memberi pelajaran ke anak kami. Biarkan kami yang menghukumnya." Kata Katherine. Yuri membalas genggaman Katherine, air matanya mengalir.
"Saya sudah memaafkan Prisa." Kata Yuri dengan terbata.
Jimmy sungguh tak menyangka Yuri akan berkata seperti itu. Padahal perbuatan Prisa sudah membuatnya celaka.
"Ini hanya salah paham saja." Ucapnya lagi sambil tersenyum.
Kenzie sudah tak heran, dulu ia selalu membuat Yuri menangis. Tapi Yuri tak pernah mengadu pada Mamanya. Sampai ketika Kenzie bertemu lagi dengan Yuri, Yuri sama sekali tak menaruh dendam pada Kenzie. Bahkan hubungan mereka semakin dekat.
Tok~ Tok~
Zein dengan penampilannya yang tertutup, masuk ke ruangan Yuri sambil membawa buket bunga. Kenzie hanya sanggup menunduk dan kembali mengangkat kepalanya.
Jimmy yang melihat situasi seperti itu langsung melirik ke Kenzie. Ia tahu bahwa Kenzie mencintai Yuri. Yuri mengintip untuk melihat siapa yang datang.
Yuri tersenyum melihat Zein membawa buket bunga untuknya. Siapa yang tidak senang, saat sakit sang idola menjenguknya. Tidak semua fans mendapatkan perlakuan khusus seperti itu.
"Gimana kondisi kamu?" Tanya Zein sambil membuka masker dan topinya. Yuri hanya tersenyum.
"Terimakasih, sudah membawaku kesini." Kata Yuri dengan terbata.
"Ini juga berkat temanmu." Jawab Zein.
"Kamu, artis penyanyi yang viral itukan?" Tanya Katherine.
"Be~benar." Jawab Zein.
"Ah, saya nge fans banget sama kamu. Bisa minta fotonya?" Tanya Katherine mengajak Zein selfie. Zein menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Pa, fotoin Mama sama Zein ya." Katherine mengeluarkan ponselnya.
"Iya baiklah-baiklah." Arnold selalu menuruti kemauan istrinya.
Usai berfoto, Katherine mengajak Kenzie untuk berbicara di luar. Jimmy dan Arnold ikut keluar untuk mendengarkan apa yang ingin di bicarakan oleh Katherine.
"Saya dengar, kamu temannya anak saya sejak SMP ya?" Tanya Katherine.
Awalnya Kenzie tak menjawab. Namun ia akhirnya menjawab dengan jawaban 'Iya'. Kenzie menceritakan awal mula ia kenal Prisa dan juga kebiasaan Prisa saat SMP.
Katherine merasa tenang, setidaknya anaknya berteman dengan orang baik. Namun, ia kembali merasa bersalah telah melarang anaknya berteman.
Setelah mendengar cerita dari Kenzie, kedua orangtua Prisa pamit untuk pulang. Ia menitipkan salam untuk kedua orangtua Yuri dan menitipkan maaf.
Jimmy masih di luar menemani Kenzie. Sejujurnya ia juga masih ingin bertemu dengan Yuri.
"Kamu tidak cemburu melihat Yuri dengan Zein?" Tanya Jimmy.
"Menurutmu?"Kenzie melemparkan pertanyaannya kembali.
"Kalau aku sejujurnya merasa cemburu melihat Yuri tersenyum bercanda dengan Zein. Ingin rasanya aku menyuruhnya pulang dan jangan menjenguk Yuri lagi." Jawab Jimmy.
"Ya, itu yang aku rasakan. Tapi, aku tidak punya hak untuk itu. Lagi pula selagi Yuri bisa tersenyum bahagia, kenapa aku harus melarangnya?" Kata Kenzie.
"Berarti dia bukan jodohku." Jawab singkat Kenzie.
Zein keluar dan pamit pada Kenzie. Ia juga mengatakan bahwa ia menitipkan Yuri pada Ken.
"Masuklah jika kamu ingin bertemu dengan Yuri." Kata Kenzie.
"Tidak, aku titip salam saja untuk Yuri." Jimmy mengurungkan niatnya.
Jimmy harus menerima keputusan Yuri. Mungkin dengan berjaga jarak bisa mengurangi penderitaan Yuri.
Jimmy juga harus bisa move on dari Yuri dan menerima Prisa kembali. Prisa sebenarnya orang yang baik. Sama seperti Yuri, Prisa juga ramah. Hanya saja beberapa hari terakhir ini, dirinya sudah salah bergaul dengan Jessy dan kawan-kawannya.
Kenzie kembali masuk ke dalam. Yuri tersenyum pada Kenzie.
"Kamu habis darimana?" Tanya Yuri.
"Tadi habis ngantar orangtuanya Prisa." Jawab Kenzie.
"Oh iya, tadi Jimmy titip salam untuk kamu." Lanjutnya.
***
Selama tiga hari berturut-turut. Zein selalu datang menjenguk Yuri. Tak pernah lupa ia selalu membawakan Yuri buket bunga.
kondisi Yuri juga sudah berangsur membaik. Ia sudah bisa berbicara dengan baik dan juga sudah bisa berjalan ke taman.
"Gimana kondisi kamu?" tanya Zein.
"Sudah membaik kok. Terimakasih ya." jawab Yuri.
"Gimana kalau kita jalan ke taman?" ajak Zein.
"Apa gak terlalu berbahaya Zein? Bagaimana kalau ada yang mengenalimu?" Yuri mengkhawatirkan Zein.
"Gak ada masalah." jawab Zein sambil mengambil kursi roda.
Zein mengajaknya pergi ke taman menggunakan kursi roda. Zein mendorong kursi roda Yuri sampai ke taman.
Banyak pasien yang sedang menghirup udara segar di taman tersebut. pepohonan, warna-warni bunga dan gemericik air mancur membuat taman tersebut terasa nyaman.
"Kamu sering ke taman ini?" tanya Zein.
"Ya, kemarin Kenzie membawaku kesini." jawab Yuri.
"Cowok yang selalu di samping kamu itu?" tanya Zein. Yuri mengangguk.
"Siapa dia? Apa dia kekasihmu?" Tanya Zein.
"Dia temanku sejak kecil. Dulu dia suka sekali menggangguku sampai aku menangis." Yuri menceritakan tentang Kenzie.
"Aku kira dia kekasihmu. Dia terlalu posesif sebagai seorang teman." kata Zein.
"Zein!" seseorang memanggil Zein.
Gadis berambut panjang sepunggung, berwarna hitam pekat. Tak lupa ia memakai kacamata gelap dan Syal yang menutupi leher dan setengah wajahnya.
"Jadi kamu disini? Selesai syuting, kamu langsung pergi kesini untuk menemui dia?" tanya gadis itu.
"Sora? untuk apa kamu kesini?" tanya Zein.
"Aku hanya ingin tahu kemana kamu pergi. Seberapa pentingnya dia sampai kamu pergi ninggalin syuting." jawab Sora.
"Ya, dia sangat penting bagiku." Zein berkata dengan lembut.
"Zein! kamu menyakitiku." ucap Sora.
"Zein, kenapa sih kamu gak bisa sedikit saja lihat aku. Aku sangat mencintaimu Zein." ungkap Sora.
Kini mereka menjadi pusat perhatian. Beberapa orang mengabadikan kejadian Sora dengan Zein.
Ingin sekali rasanya dia pergi. Ia takut akan ada orang yang menyakitinya lagi. Walau ia sudah memaafkan Prisa. Tapi masih ada trauma dalam dirinya.
Kenzie datang di saat yang tepat. Ia tidak mempedulikan Zein dengan gadis tersebut. Ia langsung membawa Yuri kembali ke ruangannya.