
Akhirnya Yuri mendengarkan omongan Pak Moko. Ia tidak lagi mengambil Makanan kadaluarsa lagi saat kerja. Mereka kembali bercanda bersama melupakan hal kemarin. Pak Moko juga terlihat lebih ceria setelah kemarin mentalnya down.
Sebelum ke swalayan Yuri menyempatkan diri untuk latihan bersama Jimmy. Saat latihan saja Stella dan Wenda di buat terpanah oleh pesona Jimmy dan Yuri. Jika di lihat mereka memang seperti pasangan yang serasi. Yuri bernyanyi sambil memainkan biola dan di sambut oleh alunan piano yang di mainkan oleh Jimmy.
"Kalian keren banget sih." Kata Stella.
Aura mereka kembali muncul setelah sekian lama redup. Yuri juga menjauh dari Jimmy agar Prisa tidak cemburu lagi dengannya. Jimmy memberikan sebotol air mineral untuk Yuri.
"Dulu kok kamu gak pernah main musik sih, Ri?" Tanya Jimmy.
"Aku terlalu asik di drama musikal Kak." Jawab Yuri.
Acara kampus pun tiba. Dari berbagai jurusan dan komunitas turut ikut serta meramaikan acara. Yuri kembali gugup karena memang sudah lama ia tidak berada di atas panggung. Tak berbeda dengan perasaan dia saat seorang pria mendekatinya. Kini Yuri benar-benar sangat takut untuk melangkah maju dan naik ke panggung.
"Kamu tenang ya, Ri. Ada aku disini, kamu akan baik-baik saja." Jimmy memeluk Yuri.
Tiba saatnya Jimmy dan Yuri tampil. Jimmy lebih dulu keluar dari bawah panggung. Setelah sesaat Jimmy memainkan pianonya, Ruangan kembali sunyi. Hanya suara dentingan piano yang beberapa kali di mainkan oleh Jimmy.
Terdengar suara alunan biola. Yuri muncul dari bawah panggung sambil menggesekkan senar biola. Secara bergantian Yuri dan Jimmy mengalunkan musiknya. Penampilan mereka mengundang perhatian para dosen dan mahasiswa lain. Termasuk Kenzie yang dari jauh melihat penampilan Yuri. Para penonton bertepuk tangan mengakhiri penampilan mereka berdua.
"Kan aku sudah bilang, dia itu memang senang di kelilingi pria." Ucap Yesha yang berjalan di samping Kenzie mengikuti langkah Kenzie.
"Ken, aku bisa kok lebih baik dari dia. Aku benar-benar mencintai kamu Ken." Yesha terus berbicara.
"Ken, Lihat aku Ken! Aku yang mencintai kamu. Dia hanya memanfaatkan kamu saja agar mendapat banyak perhatian." Yesha menghadang jalan Kenzie.
"Serendah itukah kriteria untuk menjadi kekasih kamu?" Tanya Yesha sambil menatap Kenzie.
"Apa kamu bilang? Rendah? Siapa yang rendah? Kamu atau dia?!" Kenzie mendorong Yesha ke tembok lorong. Kenzie mencengkram rahang Yesha.
"Aku sudah peringatkan kamu! Jangan memandang rendah Yuri. Karena dia tidak sepertimu!" Ia melepas cengkeramannya dan kembali mendorong Yesha ke tembok.
"Kenzie!" Teriak ketiga temannya menghampiri mereka.
"Aku sudah cukup diam melihat tingkah kamu yang menjijikan setiap hari. Tapi jika kamu berani menjelekan Yuri, aku tidak akan diam!" Kenzie menatap Yesha dengan tajam.
"Ken, hentikan! Kasihan Yesha!" Laras melerai mereka.
"Dia hanya ingin mencari perhatian kamu Ken!" Ucap Laras.
"Gak gitu caranya, Ras! Gak dengan cara dia menjelekkan Yuri di depanku!" Jawab Kenzie.
"Berlebihan tahu gak kamu Ken? Memang sikap kamu seperti ini akan di lihat oleh Yuri? Memang dengan kamu seperti ini akan membuat Yuri balik ke kamu?" Tanya Laras.
"Kalau kamu memang mencintai Yuri, seharusnya kamu kejar, Ken. Bukan malah mengumpat di belakang seperti ini!" Lanjut Laras.
"Ini semua karena dia yang selalu ada di samping aku! Kalau saja dia tidak mengejar ku secara berlebihan, aku tidak akan berpisah dengan Yuri!" Kenzie menunjuk Yesha dan terus menyalahkannya.
"Ken! Dia itu perempuan! Gak semua perempuan seperti Yuri. Sama seperti kamu yang mencintai Yuri dengan cara kamu sendiri!" Sahut Laras.
"Laras benar Ken, gak seperti ini cara kamu. Menurut kamu dengan seperti ini Yuri bisa balik sama kamu?" Tanya Dimas.
"Kalian gak tahu apa yang dirasakan oleh Yuri karena ulah dia. Kalian gak tahu apa yang di alami Yuri!" Kenzie kesal.
"Ya tapi gak seperti ini Ken!" Kata Laras.
"Sudah lah yang, dia tuh gak akan mendengarkan kita. Lebih baik kita pergi saja." Kata Dimas.
Dimas dan Laras pergi meninggalkan Kenzie dan Yesha. Yesha secara tiba-tiba memeluk Kenzie. Seakan pelukannya dapat meredakan amarah Kenzie. Tapi nyatanya, Kenzie mendorong Yesha dan meninggalkannya.
Selesai tampil, Yuri pergi lebih dulu dan langsung berangkat kerja. Derry sudah lebih dulu sampai di Swalayan. Ia sedang berdua dengan Pak Moko sambil melihat ponsel milik Derry.
"Ri, sini! Kamu keren banget loh disini." Kata Pak Moko.
"Derry, kamu merekamnya ya?" Tanya Yuri.
"Ya penampilan yang sangat jarang di lihat masa ia gak aku abadikan sih." Kata Derry.
Ia sendiri tidak menyangka bisa kembali tampil di panggung. Walau kini lebih menegangkan karena penampilannya bukan berada di negaranya sendiri, melainkan negara orang.
"Kamu kenapa gak solo karir saja, Ri?" Tanya Derry.
"Solo karir?" Yuri bingung maksud Derry.
"Suara kamu bagus, kenapa kamu gak cover lagu dan mempublish rekaman kamu?" Tanya Derry.
"Terkadang aku suka mempostingnya di IG aku kok." Jawab Yuri.
Yuri terus mengambil lembur. Meski ia sering lembur, tiga kuliahnya tidak pernah ia tinggalkan. Yuri tetap bisa membagi waktu antara kuliah dengan kerja.
Malam telah larut. Yuri mulai mematikan semua lampu swalayan. Ia juga mengunci Swalayan agar aman.
Keesokkan harinya, seluruh kampus heboh. Banyak mahasiswa lain menatapnya. Tak jarang dari mereka yang tersenyum pada Yuri. Penampilannya sudah membuatnya di kenal. Yuri tak menanggapi tatapan mereka.
"Ri!" Panggil Wenda.
"Sebaiknya kita ke asrama dulu yuk. Aku sudah meminta Stella untuk mengurus semua." Kata Wenda.
"Ada apa sih, Wen?" Yuri aneh dengan sikap Wenda.
"Nanti aja kalau sudah sampai Asrama." Kata Wenda sambil menarik Yuri.
"Kayak domba aku tuh di tarik-tarik." Kata Yuri.
Sampai di asrama, Wenda mengunci pintu Yuri dan duduk di ruang TV. Wenda mengambil ponselnya. Ia menunjukkan sesuatu pada Yuri.
"Ada apa sama foto ini?" Tanya Yuri.
"Ya ampun, Ri. Perhatikan baik-baik dong!" Wenda memperbesar gambarnya.
"Kok ada foto aku?" Yuri baru menyadarinya.
"Ri, kenapa sih kamu tuh susah di bilangin?" Tanya Wenda.
"Loh, memang kenapa? Ada apa sama makanan yang baru kadaluarsa?" Yuri kembali bertanya.
Seseorang mengetuk pintu Yuri. Ia mengetuk dengan nada cepat. Yuri membukakan pintu dengan santai.
"Ri! Ya ampun Ri! Kamu gak apa-apa kan? Derry masih mencari tahu siapa penyebar foto tersebut." Ucap Stella.
Ya, seseorang menyebar foto Yuri saat sedang mengambil makanan yang sudah berada di tempat sampah. Pada nyatanya, makanan tersebut sudah di lapisi berlapis-lapis dengan plastik.
"Ri, Sudah berkali-kali aku bilang ke kamu untuk tidak mengkonsumsi itu lagi. Kamu bisa bilang ke aku, aku bawain Ri. Semua makanan yang ada di rumahku untuk kamu." Ucap Stella.