Untitled Love

Untitled Love
Ep 88



Di Hari pernikahan Ayah dan Bundanya Kenzie, semua keluarga dan rekan kerja berkumpul di kediaman Ishan. Hani dan Indra juga ikut hadir dalam acara perayaan. Hani senang bisa berkumpul dengan teman-temannya. Sedangkan Indra hanya mengobrol dengan Pak Moko. Derry dan Kaira sudah mulai terang-terangan berpacaran. Sebelumnya Kaira takut Ayah Bundanya tidak merestui mereka. Kenzie dan Yuri juga berkumpul dengan teman mereka masing-masing.


"Terimakasih ya kalian sudah hadir." Ucap Yuri.


"Perkenalkan ini temanku namanya Marsha dan Kevin." Yuri memperkenalkan sahabatnya.


"Yang itu tampan, Ri." Bisik Wenda menunjuk ke Kevin.


"Hush! mereka itu sebentar lagi akan menikah." Jawab Yuri.


"Yah, gagal deh." Balas Wenda.


Mata Wenda selalu melirik ke semua tamu yang hadir. Ia baru saja putus cinta dengan kekasih onlinenya. Sampai ia melihat seorang pria yang juga terlihat sedang mencari.


"Ri, kamu kenal sama dia tidak?" Wenda menunjuk ke seorang pria.


"Mana sih?" Tanya Yuri.


"Itu, yang disitu." Kini Wenda menuntun wajah Yuri.


"Oh itu. Hah?! Siapa yang mengundangnya?" Tanya Yuri.


"Siapa sih? Kamu kenal?" Tanya Wenda.


"Kamu masa gak kenal? Dia itu vokalisnya Boys Band." Jawab Yuri.


"Dia sudah punya istri dan anak." Lanjutnya.


"Yah, kirain dia jomblo. Habis kayak orang sedang kebingungan saja." Kata Wenda.


"Yuri!" Teriak Zein dari kejauhan. Beberapa tamu undangan melirik ke Yuri dan Zein.


"Astaga! malu-maluin banget sih segala teriak." Bisik Yuri. Zein menghampiri Yuri, seketika itu juga Kenzie langsung merapat ke samping Yuri.


"Hai Bro! Gimana kabarnya?" Kenzie menggantikan posisi Yuri saat ia tahu Zein akan memeluknya.


"Kok kamu sih?" Zein melepaskan pelukannya.


"Sudah lama ya tidak berjumpa. Istri sama anak gimana?" Tanya Kenzie.


"Masih ingatkan sama Istri dan Anak?" Tanyanya lagi.


"Ri, Kenzie kalau cemburu ngeri ya." Bisik Wenda.


Setelah memperkenalkan Marsha dan Kevin. Stella bergabung bersama orangtuanya. Mereka sedang asik mengobrol dengan Ayah dan Bunda Kenzie.


"Gak ngeri kok. Cuma ya gitu, lucu." Bisik Yuri.


"Astaga, sudah menikah masih saja cemburu. Memangnya tidak boleh aku merindukan Yuri?" Tanya Zein.


"Ya tentu, GAK BOLEH!" Tegas Kenzie.


"Kamu ngapain kesini Zein?" Tanya Yuri.


"Pak Ishan mengundangku. Karena memang kami sempat kerjasama dan ada beberapa rekan Pak Ishan yang juga menjadikan aku Brand ambassador mereka." Zein menjawab sambil membanggakan dirinya.


"Oh iya, kamu lihat Henri tidak?" Tanya Zein.


"Siapa dia? Pasti hanya sebagai alasan saja. Padahal yang kamu cari istriku, iya kan?" Kenzie menaruh curiga.


"Sayang, Henri itu pemain piano di grup mereka." Sahut Yuri sambil menggapai pundak sang suami.


"Tuh, dengar." Kata Kenzie.


"Ri, lucu banget sih mereka merebutkan kamu. Aku juga mau dong." Kata Wenda.


"Aku sudah bosan melihat mereka seperti ini." Lirih Yuri.


Acara pemotongan kue di mulai dengan dentingan piano yang di mainkan oleh Henri. Para tamu yang hadir mulai merapatkan posisi untuk menghadap ke panggung kecil. Naomi dan Rama sudah berada di atas panggung.


"Untuk anak dan menantu Tuan Ishan dan Nyonya Naomi di persilahkan untuk menemani Ayah dan Bundanya." Ucap MC.


Mereka mulai memotong kue mereka yang memiliki lima tingkatan. Kue tersebut berbalut warna merah muda dengan hiasan bunga yang cantik. Dari tingkatan paling atas sampai tingkatan paling bawah. Mereka mengambil bagian yang paling bawah dan saling menyuapi. Tamu yang hadir bertepuk tangan saat mereka saling suap.


"Ah!" Yuri berteriak sambil memegang perutnya.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Kenzie.


"Perutku sakit." Jawab Yuri.


"Kamu kenapa Nak?" Tanya Naomi.


"Panggilkan ambulan!" Perintah Rama.


Hani dan Indra ikut mendatangi mereka. Tak ingin berhenti begitu saja. MC berinisiatif untuk melanjutkan acaranya. Sedangkan Kedua keluarga membawa Yuri kedalam sambil menunggu ambulan datang.


"Bunda, ini cairan apa?" Tanya Kenzie.


"Yuri, kamu masih kuat?" Tanya Naomi.


"Atur nafas kamu ya sayang." Pinta Hani.


"Panggil Dokter Stefany sekarang!" Pinta Naomi.


Setelah menunggu, Dokter Stefany datang bersama mobil ambulan yang sudah di hubungi oleh Kaira. Semua menunggu Yuri dengan cemas. Dokter Stefany dibantu oleh asistennya menangani Yuri. Kenzie tetap berada di samping Yuri. Ia tetap menggenggam tangan Yuri.


Setelah menunggu beberapa lama, terdengar suara tangisan bayi dari dalam kamar Yuri. Semua yang sedari tadi menunggu, terharu mendengarnya. Terutama Kenzie yang selalu berada di samping Yuri. Rambutnya yang tadinya rapi sudah berantakan tak karuan. Dasi yang tadinya terpasang rapi kini juga sudah berantakan.


Semua yang ada di luar terkejut melihat penampilan Kenzie saat keluar kamar. Kaira tertawa melihat adiknya berantakan seperti itu. Ayahnya juga tersenyum melihatnya.


"Bagaimana Nak?" Tanya Hani.


"Berjalan lancar Ma. Yuri juga sudah selesai di tangani oleh Dokter Stefany." Jawab Kenzie.


"Tuan dan Nyonya sudah boleh di persilahkan masuk." Kata Dokter Stefany.


"Terimakasih Dok." Ucap Naomi dan Rama.


"Kalau begitu kami permisi dulu." Pamit Dokter Stefany.


Semua dengan cepat masuk ke kamar Yuri dan Kenzie untuk melihat keadaan Yuri yang sedang memeluk anak pertamanya. Hani dan Naomi sangat terharu. Mereka kini sudah menjadi nenek-nenek muda.


"Mana nih cucu Omah?" Tanya Hani.


"Kemarin saja mintanya di panggil Nenda. Sekarang nyebutnya Omah." Yuri sedikit mengejek Mamanya.


"Nenda? Apa tuh Jeng?" Tanya Naomi.


"Nenda itu singkatan dari Nenek Muda Bunda. Kata Mama biar gaul dan tidak terlihat tua." Sahut Yuri.


"Hahaha bisa saja Jeng. Tapi boleh juga tuh Jeng. Nanti saya di panggilnya Manda." Kata Naomi.


"Ibu-ibu memang seperti itu ya Bro." Kata Rama pada Indra.


"Begitulah, berbulan-bulan yang di pikirin ya nama panggilan untuk dia. Nenda lah, Nen lah, apalah semuanya." Jawab Indra.


Mereka sibuk menggendong cucu pertama mereka tanpa mengingat bahwa bayi tersebut belum di beri nama. Kenzie masih saja memeluk sang istri sambil sesekali menciumnya. Ia melihat sendiri bagaimana perjuangan istrinya melahirkan buah cinta mereka.


"Manda-Manda dan Panda-Panda. Mohon maaf sekali, cucunya ingin istirahat dulu." Ucap Kenzie.


"Ayah Bunda juga masih ada tamu undangan kan?" Tanya Kenzie.


"Tapi kita belum mencari nama." Kata Rama.


"Kita sudah punya nama untuk anak kita. Ayah tenang saja." Jawab Kenzie.


"Jangan lupa sertakan Ishan loh, Ken." Kata Rama.


"Sudah, ayah, bunda, Mama dan papa tenang saja ya." Kata Kenzie.


Mereka kembali keluar dan bergabung kembali ke acara anniversary mereka. Hani dan Indra juga ikut bergabung. Tersisa Kenzie, Yuri dan Bayi mereka.