Untitled Love

Untitled Love
Ep 28



Sudah seminggu lebih, Kenzie menemani Yuri di rumah sakit. Setiap pulang sekolah Kenzie selalu pulang ke rumah sakit. Bergantian menjaga Yuri dengan Hani.


"Ken, terimakasih ya sudah bantu Tante jaga Yuri." Ucap Hani.


"Sama-sama Tante, Om Indra sudah pulang dinas?" Tanya Kenzie.


"Belum Ken, paling nanti kami naik taksi online saja." Jawab Hani.


"Ken antar saja Tante. Kebetulan Ken hari ini bawa mobil kesini." Kata Kenzie.


"Gak usah Ken, Tante gak enak ngerepotin kamu terus. Waktu ke Singapura juga Tante ngerepotin Mama kamu. Tante jadi gak enak banyak ngerepotin kamu." Jawab Hani.


"Gak apa-apa Tante. Yuk!" Kenzie mendorong kursi roda Yuri.


Yuri tersenyum melihat Kenzie yang ikut sibuk memindahkan barangnya ke bagasi. Saat ia tersadar sampai ia sudah bisa pulang ke rumah, hanya Kenzie yang selalu berada di sampingnya.


Ia sudah tak sabar untuk segera masuk sekolah. Yuri sangat merindukan Marsha, teman-temannya, aroma harum sekolahnya dan juga rooftop tempat mereka bersantai.


Kenzie selalu mengantar jemput Yuri. Begitu juga dengan hari ini. Hari pertamanya masuk sekolah kembali. Sejak ia sakit, Kenzie selalu memberikan catatan pada Yuri. Kenzie memintanya ke teman sekelas Yuri.


"Kamu bisa naik ke atas?" Tanya Kenzie.


"Bisalah, emangnya aku masih pakai kursi roda?" Jawab Yuri.


"Sini biar aku bantu." Kenzie mengulurkan tangannya. Perlahan Yuri berjalan menaiki anak tangga.


Sampai di lantai tiga, Marsha sudah menyambut Yuri. Begitu juga dengan Nathan yang melihat Yuri ketika ia keluar dari kelasnya.


"Yuri aku kangen!" Marsha memeluk Yuri.


"Kamu sudah sehat?" Tanya Nathan.


"Sudah." Jawab Yuri sambil tersenyum.


Marsha menarik Yuri untuk pergi ke kelasnya. Di kelas, Prisa sudah berada di tempat duduknya. Awalnya Yuri ragu, tapi ia kembali berjalan ke tempat duduknya di bantu oleh Marsha.


Marsha tiada hentinya bercerita dengan Yuri. Hanya bel sekolah yang mampu menghentikan ceritanya. Marsha kembali ke kelasnya.


"Nanti kita cerita lagi ya. Bye!" Marsha melambaikan tangannya di depan kelas Yuri.


Yuri kembali fokus belajar. Walau sudah sering mendapatkan catatan dari Kenzie, ia masih merasa tertinggal jauh.


Bel istirahat berbunyi. Yuri ingin pergi ke kelas Marsha lebih dulu. Ia ingin sekali ke kelas Marsha sambil melihat Kenzie di kelasnya.


Ia mencoba meraih kruk miliknya yang tersandar di tembok. Tak sengaja Kruk miliknya jatuh.


"Ini." Prisa memberikan Kruk milik Yuri.


"Yuri!" Marsha lari dari depan kelasnya Yuri.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Marsha.


"Sini aku bantu. Kamu mau kemana?" Tanyanya lagi.


"Aku mau ke kelas kamu." Jawab Yuri.


Marsha menuntun Yuri. Sedangkan Prisa hanya bisa berdiri sendiri di tempat yang sama. Yuri melirik ke arah Prisa dan melihatnya menatap dirinya.


Sampai di kelas Marsha, Yuri melihat Kenzie sedang ngobrol dengan teman-temannya di pojok kelas. Kenzie tersenyum saat Yuri melihat dirinya. Pandangannya, ia alihkan ke teman-temannya agar Yuri tak merasa bahwa Kenzie tersenyum padanya.


"Eh, Ken. Kamu kenapa ketawa sendirian? Parah ih, temen lagi sedih juga." Kata Sandi.


"Lah, siapa yang ketawa? Aku lagi senam pipi biar gak layu kayak kamu." Balas Kenzie.


"Bunga kali ah layu!" Kata Sandi.


Ia juga menceritakan tentang Kenzie saat Yuri berada di rumah sakit. Dalam hatinya ia senang mendengar ada Kenzie sangat perhatian padanya. Diam-diam Yuri tersenyum mendengar cerita Marsha.


Zein sudah menunggunya di depan gerbang. Yuri baru saja ingin naik ke motor Kenzie, Zein sudah memanggilnya.


Yuri lebih dulu menatap Kenzie. Kenzie cukup memberikan senyumannya. Walaupun sebenarnya ia tidak ingin Yuri pergi. Tapi ia juga tidak ada hak untuk melarangnya.


Kenzie membantu Yuri jalan menghampiri Zein. Yuri pun masuk ke dalam mobil Zein. Kenzie menahan rasa cemburunya dan tersenyum pada Yuri. Ia juga membantu Yuri menutup pintu mobil.


Yuri datang lebih awal. Ia berangkat bersama Keenan. Keenan membantu kakaknya jalan. Kenzie pagi itu tidak bisa menjemput Yuri. Motornya mogok saat di tengah jalan menuju rumah Yuri.


Kenzie pun terlambat datang. Ia di hukum memutari lapangan oleh guru piket. Yuri melihat Kenzie memutari lapangan.


"Aku iri deh lihatnya." Kata Marsha mengagetkan Yuri.


"Marsha, kamu ngagetin aja sih." Kata Yuri.


"Kamu ngerasa gak sih kalau Kenzie tuh suka sama kamu?" Tanya Marsha.


"Hahaha gak mungkinlah. Waktu itu temannya cerita kalau dia itu suka sama cewek dan udahlama banget. Prisa juga bilang gitu. Jadi gak mungkin dia suka sama aku." Kata Yuri.


"Ciye, jadi kamu berharap ya?" Tanya Marsha meledek Yuri.


"Marsha! Apaan sih kamu." Pipi Yuri memerah.


Yuri langsung masuk ke kelasnya di bantu oleh Marsha. Ia menuntun Yuri sampai ke tempat duduknya.


Di kelas Yuri sedang tidak ada guru. Guru yang mengajar sedang ada keperluan. Yuri hanya bisa menggambar saja di dalam kelasnya.


"Gimana keadaan kamu Ri?" Tanya pelan Prisa pada Yuri.


"Sudah membaik kok." Yuri tersenyum pada Prisa.


"Ma~" Yuri langsung menahan bibir Prisa.


"Hush, gak ada yang perlu di maafkan lagi. Aku sudah memaafkan kamu sebelum kedua orangtua kamu datang menjengukku." Jawab Yuri.


"Orangtuaku?" Tanya Prisa.


"Iya, waktu aku baru sadar, mereka menjengukku dan memohon padaku." Yuri menceritakan kedatangan orangtua Prisa saat Yuri masih berada di rumah sakit.


Air mata Prisa mengalir. Ia mengerti kenapa orangtuanya dan juga tunangannya berubah menjadi lebih memanjakan dirinya dan juga menjadi lebih perhatian padanya. Terutama Jimmy, Jimmy mulai meminta Prisa untuk membantu dirinya agar bisa mencintai Prisa.


"Maafin aku Ri, aku salah sudah terlalu cemburu sama kamu." Prisa memeluk Yuri.


"Sa, kalau kamu mau aku jujur, jujur saat itu aku berat banget. Aku sakit hati Sa mendengar Jimmy akan di jodohkan denganmu." Yuri menceritakan perasaannya saat itu.


"Tapi, Kenzie selalu menghiburku. Dia selalu berada di sampingku. Dia yang sudah mampu mengobati luka hatiku." Lanjut Yuri.


"Jadi, kalau kamu beranggapan aku masih mencintai Jimmy, kamu salah besar Sa." Tambahnya lagi.


Prisa juga menceritakan penyesalannya telah melakukan perbuatan yang tidak baik pada Yuri. Tak hanya itu, dirinya sempat frustasi telah mencelakai Yuri. Ia juga menceritakan perubahan orangtuanya dan Jimmy.


Mereka memulai hari barunya. Prisa banyak bercerita. Mereka saling bertukar cerita dan berbagi informasi lucu yang ada di sosial media.


"Ri, terimakasih ya kamu sudah mau memaafkan aku. Kamu juga mau berteman denganku." ungkap Prisa.


"Setidaknya kamu menyesal dengan perbuatan kamu. Jika suatu saat ada orang yang mendekati Kak Jimmy, jangan lakukan seperti itu lagi ya." Pesan Yuri.


"Kamu tahu sendiri kan? Kak Jimmy itu idola di sekolah ini. contohnya Kak Febby, kakak kelas bar-bar yang terlalu menyukai Kak Jimmy." kata Yuri.


"Aku sih terlalu malas untuk meributkan seorang cowok. Kayak cowok cuma dia saja di dunia. Bisa saja ke depannya kita malah dapat cowok yang lebih baik dari dia." lanjut Yuri.