
Yuri memakan makanan tersebut dengan sangat lahap. Bahkan Derry heran melihat Yuri yang makan seperti orang yang sudah tiga hari belum makan. Derry menyiapkan air minum untuk Yuri.
"Ah, kenyangnya." Yuri mengelus perutnya yang kekenyangan. Namun tak berapa lama dirinya mulai mual dan mengeluarkan seluruh yang baru saja ia masukkan.
Seharian membuat Yuri cukup melelahkan. Setiap selesai makan ia selalu mengeluarkannya kembali. Belum lama ia makan, ia kembali merasakan lapar. Kerja sebentar sudah merasa lelah. Ia juga lebih banyak duduk di lantai setiap mengisi stok.
Saat istirahat ia gunakan untuk tidur. Setiap ada pelanggan yang menghangatkan makanan siap saji, ia selalu mual mencium aromanya. Pak Moko dan Derry cukup khawatir dengan kondisi Yuri.
"Kamu baru pulang kemarin. Kenapa tidak istirahat dulu saja di rumah, Ri?" Tanya Pak Moko.
"Aku bosan Pak. Lagi juga aku lebih suka disini ada banyak makanan." Yuri mengeluarkan uang sebesar tiga ratus ribu dan memberikannya ke Derry.
"Untuk apa, Ri?" Tanya Pak Moko. Derry langsung memberikan struk belanjaan Yuri yang terlihat banyak dengan makanan cepat saji.
"Ini kamu semua yang makan, Ri?" Tanya Pak Moko.
"Saya lapar sekali Pak. Saya rasa Derry melebihkan nih." Yuri melirik ke Derry.
"Kamu periksa sendiri saja."
"Saya gak mungkin seperti itu Pak." Kata Derry.
Kenzie pulang kerja langsung ke apartemennya. Tapi saat sampai apartemen ia tidak melihat Yuri. Tanpa panik dan tanpa mengganti pakaian, Kenzie langsung ke Swalayan. Ia menemukan Yuri yang sedang ngobrol bersama Pak Moko dan Derry.
"Ken?" Yuri kaget melihat Kenzie yang lari menuju Swalayan masih dengan setelan jas dan dasi merahnya.
"Maaf ya aku gak dengar omongan kamu." Yuri menunduk. Kenzie menghampiri Yuri dan memeluknya.
"Gak apa-apa sayang. Setidaknya kamu kabari ke aku. Agar aku tidak khawatir." Kenzie memeluknya dan mengusap rambut Yuri.
"Duh Pak, kita bakal jadi penonton setia drama romantis kayaknya nih." Bisik Derry.
"Gak apa-apa, Der. Asal gak jadi penonton setia drama Thriller." Balas Pak Moko.
Kenzie menjemput Yuri agar pulang bersamanya. Kenzie tidak menyadari bahwa dirinya ke Swalayan tidak membawa kendaraan. Ia berlari dari apartemen menuju Swalayan.
"Aku pulang duluan ya." Pamit Yuri.
"Ken!" Panggil Derry. Pak Moko cukup melongo melihat Derry yang berani memanggil Kenzie tanpa gelar.
"Jangan lupa kasih makan istrimu." Derry memperlihatkan struk belanjaan Yuri yang tertinggal. Kenzie mendekatinya dan melihat struk belanjaan istrinya.
"Aku gak akan lupa memberinya makan. Tapi jika dia lebih suka makan banyak itu bukan masalah. Asal dia bahagia." Jawab Kenzie.
"Akan aku ganti uang belanja kamu. Lain kali, apapun yang kamu inginkan ambil saja. Biar nanti itu masuk dalam tagihan bulanan ku." Kata Kenzie.
"Pak Moko, jika begitu lagi, jangan biarkan Yuri membayarnya ya. Masukkan saja ke tagihan bulanan saya." Perintah Kenzie.
Kenzie dan Yuri pulang bersama. Selama perjalanan Yuri lebih cepat lelah. Mereka lebih sering duduk di kursi umum. Saking seringnya berhenti, Kenzie menggendong istrinya di punggungnya.
"Sayang, kita ke dokter yuk. Aku takutnya kamu tipus atau apapun itu." Kata Kenzie.
"Sayang." Tak mendapat jawaban dari sang istri. Kenzie memanggil Yuri dan Ternyata Yuri sudah tertidur.
Sampai apartemen, Kenzie membawa Yuri ke kamarnya. Ia letakkan Yuri di atas kasur dengan perlahan. Kenzie mengusap kening dan membelai rambut sang istri. Ia masih tak menyangka seseorang yang dulu ia tunggu-tunggu, bahkan ia tidak yakin bisa mendapatkannya. Sekarang sudah menyandang status sebagai seorang istri. Istri yang selalu ia cintai.
"Cepat sembuh ya sayang. Aku gak ingin melihat kamu sakit." Ucap pelan Kenzie.
Kenzie mengendurkan tali dasinya dan membuka pakaiannya. Ia memilih untuk mandi dan membuatkan makan untuk sang istri. Baru saja ia menuangkan minyak ke wajan, Yuri sudah terbangun dan menghampirinya.
"Sayang, bau banget sih!" Yuri menutup hidungnya sambil menahan rasa mual.
"Tapi aku gak suka aromanya." Yuri memajukan bibirnya.
"Aroma apa sayang? Aku belum juga masak. Lihat tuh gak ada apa-apa kan di teflon?" Kenzie memperlihatkan telfonnya.
"Gak mau ah pokoknya." Yuri menutup hidungnya.
"Ya sudah kita makan di luar saja ya." Ajak Kenzie.
"Gak ah, aku ngantuk sayang. Tapi aku juga lapar." Jawab Yuri.
"Gimana kalau~" Belum selesai Kenzie ngomong, Bel apartemen mereka berbunyi.
"Siapa tuh,Yang?" Tanya Yuri.
"Kamu tunggu di sofa dulu. Biar aku yang bukakan pintu." Kata Kenzie.
Kenzie mengintip lebih dulu. Ia melihat Bunda dan Kakaknya sedang menunggunya membukakan pintu. Kenzie pun membukakan pintu untuk mereka.
"Lama banget sih Ken!" Protes Kaira.
"Tadi lagi di dapur." Jawab singkat Kenzie.
"Yah, kalian sudah makan? Padahal Bunda bawain kesukaan kamu loh." Naomi menunjukkan plastik besar berwarna putih.
"Wah, nasi Hainan Pak Tatang!" Kenzie sudah mengenali dari bungkusnya.
"Kebetulan sekali. Tadinya Ken mau masak. Eh, Yuri protes gak suka sama aromanya. Padahal Ken baru nuang minyak doang." Curhat Kenzie.
"Kepanasan mungkin teflon kamu." Jawab Naomi.
"Yuri!" Teriak Naomi.
"Bunda? Kak Kaira?" Yuri senang kedatangan mereka.
"Wah apa nih Bunda?" Yuri melihat bungkusan yang di bawa Naomi. Ia mulai merasa mual mencium aroma tersebut.
"Sebentar Bunda." Yuri lari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
"Kamu kenapa, Ri?" Tanya Naomi.
"Kecapekan Bun katanya. Tadi juga dia bukannya istirahat malah kerja." Kenzie mengadu layaknya anak kecil.
Yuri benar-benar tidak bisa mencium aroma makanan yang di bawa Naomi. Ia terus merasa mual. Sehingga ia tidak memiliki nafsu untuk makan.
Kenzie pun bingung. Ia memesankan bubur melalui pesan antar. Hanya itu yang bisa di nikmati oleh Yuri. Menu yang berbeda dari mereka.
Selesai makan, Yuri kembali mual dan mengeluarkan seluruh makanan yang ia masukkan. Kenzie benar-benar gak tega melihat Yuri. Untungnya mereka masih libur kuliah. Sehingga Kenzie cukup khawatir dengan pola makan Yuri.
"Ken, kamu gak sewa pembantu?" Tanya Naomi.
"Belum kepikiran Bun. Kemarin aku mau nyari pembantu tapi kata Yuri dia masih bisa mengerjakannya sendiri." Jawab Kenzie.
"Ya walaupun begitu, seharusnya kamu tetap cari pembantu dong. Setidaknya bisa bantu-bantu bersihkan rumah." Kata Naomi.
"Apalagi sekarang Yuri sedang sakit. Kasihan kalau harus dia yang berbenah." Lanjut Naomi.
Kenzie mendengarkan perkataan Bundanya. Ia menatap Yuri yang lemas karena mual-mual. Ia benar-benar gak tega melihatnya seperti itu. Kenzie membuatkan teh hangat untuk Yuri.
Setelah makan bersama Naomi dan Kaira pulang. Kenzie mengantarkan mereka sampai ke lobby.