
Hari pertama sekolah di kelas 2. Pengumuman nilai dan penempatan kelas sudah terpampang di papan pengumuman.
Walau hampir kesiangan, Yuri masih tepat waktu sampai di sekolah. Tujuan Yuri di pagi hari adalah melihat nilai dan penentuan di kelas jurusan apa yang ia dapat.
Sebelum menemui namanya, ia lebih dulu menemui nama Kenzie, Kevin dan Marsha. Kenzie dengan nilai tertinggi, berhasil masuk ke jurusan IPA. Marsha juga berhasil masuk ke jurusan IPA walau nilainya masih di bawah Kenzie. Kevin nilainya hampir saja bisa memasuki jurusan IPA.
Ia mendapatkan namanya dengan nilai yang tidak tinggi dan juga tak rendah. Tapi, ia tidak bisa sekelas dengan Kenzie dan Marsha. Nilai yang Yuri peroleh hanya bisa masuk ke jurusan IPS. Yuri sedih harus terpisah dengan Marsha.
Ia juga harus rela sekelas dengan Jessy dan Prisa. Kelas yang ia kira akan sehangat pertama ia sekolah di TBC. Tapi pada nyatanya kelasnya saat ini akan membuatnya sangat tidak nyaman.
"Hufh." Yuri menghela napas dalam.
"Ri!" Panggil Marsha.
"Sha!" Yuri memasang wajah sedih.
"Semangat ya Ri." Marsha memberi semangat pada Yuri.
"Aku mau pindah sekolah aja rasanya." Yuri kembali menghela napas.
"Hai, pagi-pagi udah ngomongin aku ya?" Canda Kenzie.
"Udah ah ke kelas aja." Yuri semakin gak mood.
Pisah kelas dengan Kenzie, membuat ia semakin gak mood. Yuri merasa berat sekali untuk masuk ke kelas.
Ia memilih meja yang ada di pojok kanan paling belakang. Ia memilih di sana agar ia bisa melihat pemandangan taman belakang sekolah.
Yuri membuka tasnya dan mengeluarkan buku kosong. Buku coretan baru yang pernah di berikan oleh Kenzie. Yuri suka sekali mencurahkan isi hatinya ke buku coretan. Walau bukan dengan tulisan. Ia biasanya mencurahkan ya melalui sebuah gambar yang mengartikan perasaannya.
Jessy dan temannya mulai mendekati Prisa. Prisa yang asing dengan Jessy, tak menghiraukannya. Karena ia gak pernah berteman secara langsung. Butuh proses agar ia yakin bahwa orang tersebut cocok untuk berteman dengannya.
Prisa yang sedikit risih dengan Jessy dan temannya. Ia pindah ke bangku kosong sebelah Yuri. Yuri pun tak dapat menolaknya. Ia mengizinkan Prisa duduk di sebelahnya.
Hari pertama di mulai, Yuri masih fokus dengan apa yang di tulis oleh gurunya di papan tulis. Ia juga merangkum kembali apa yang di jelaskan oleh gurunya.
"Ri, lihat deh. Dia itu kenapa sih aneh banget?" Prisa menunjuk ke arah Jessy.
"Dia emang gitu." Jawab singkat Yuri.
Tidak banyak yang di obrolkan oleh Yuri dan Prisa. Bahkan setiap istirahat, Prisa selalu mendatangi markas Jimmy. Sedangkan Yuri, ia makan bersama Marsha.
"Sha, Kenzie duduk sama siapa Sha?" Tanya Yuri.
"Kenapa? Tumben kamu nanya tentang Kenzie. Biasanya kalian ribut terus." Jawab Marsha.
"Gak apa-apa, aku cuma nanya aja kok." Ragu Yuri.
Jam istirahat pun berakhir. Marsha kembali ke kelasnya. Yuri pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan.
Kembali ke kelas, ia melihat Jimmy mengantar Prisa sampai depan kelas. Tapi kini, ia tidak merasakan sakit hati sedikitpun. Bahkan yang ia rasakan sekarang hanya biasa saja. Ada juga sedikit rasa kesal setiap mengingat perkataannya.
"Ri, kamu habis dari mana?" Tanya Prisa.
"Dari kamar mandi." Jawab singkat sambil melirik Jimmy.
"Sudah sana kamu balik ke kelas." Perintah Prisa ke Jimmy.
"Oh iya Ri." Panggil Jimmy.
"Nanti pulang sekolah ada latihan gabungan ya sama semua ekskul." Lanjutnya.
"Iya, udah tau kok." Jawab singkat Yuri tanpa senyum sedikitpun dan kembali ke tempat duduknya.
***
Bel pulang sekolah berbunyi, Yuri merapikan buku-bukunya. Ia bersiap untuk ke rooftop berkumpul dengan Marsha, Kevin dan Kenzie.
"Ah, engga kok. Aku jarang masak." Jawab Yuri berpura-pura untuk menjaga jarak dengan Prisa.
"Dia cerita kalau dia suka makan masakan kamu." Prisa heran.
"Oh, waktu itu mbak di rumah aku yang masak." Jawab Yuri.
Mbak? Padahal di rumahnya ia tidak memiliki pembantu. Bagaimana bisa ia terpikirkan tentang itu.
"Oh gitu." Prisa mulai terdiam. Yuri keluar kelas dan pindah ke rooftop sambil menunggu jam ekskul.
Di Rooftop sudah ada Marsha dan Kevin. Mereka berdua tampak serius. Yuri langsung berdiri ke arah dimana ia bisa melihat lapangan sekolah.
Disana sudah ada Jimmy dan anggota band lainnya yang sedang mempersiapkan latihan gabungan. Ia juga melihat Jimmy yang sedang memainkan Drum.
"Kenzie kemana?" Tanya Kevin.
"Tadi sih katanya lagi ada perlu sebentar." Jawab Marsha.
Kenzie datang dengan membawa Muchdi. Ayam goreng yang paling di sukai semua orang.
"Makan guys!" Kenzie meletakkan Muchdi Nya di atas meja.
"Wah Ken, kamu habis main sama Tante yang mana?" Tanya Kevin.
"Itu, Tante Laura yang di salon depan gang." Jawab Kenzie.
"Itu mah Tante berbatang Ken!" Kevin melempar gumpalan kertas.
Mereka semua makan bersama. Baru selesai makan, ponsel Kenzie berdering. Kenzie mengangkat panggilan masuk yang ada di ponselnya.
"Ri, Mama mau ngomong nih." Ucapan Kenzie yang membuat Marsha dan Kevin saling berpandangan.
"Nyokap Nya Yuri lagi meet up sama nyokap aku. Biasalah emak-emak rumpi." Lanjut Kenzie.
Yuri banyak mengobrol dengan Mamanya. Sebelum mematikan panggilannya. Yuri menghadapkan kameranya ke semua temannya termasuk Kenzie.
"Ri, kapan-kapan kamu kesini ya sama Kenzie. Biar dia mau pulang ke rumah." Pesan Naomi.
"Anak kita akur ya Sis. Gimana kalau~" Kenzie langsung mematikan panggilannya.
Selesai makan, Yuri bergabung untuk latihan bersama. Kenzie, Marsha dan Kevin hanya menyaksikan dari Rooftop.
"Ken, kamu masih belum ungkapin perasaan kamu?" Tanya Kevin.
"Engga Vin. Aku gak mau kalau setelah itu, Yuri bakal jauh dari aku. Aku lebih senang dia sedekat ini sama aku Vin." Jawab Kenzie.
"Kenapa gak coba dulu Ken? Pura-pura nanya gitu atau apa?" Usul Marsha.
"Nanti akan ada waktunya yang tepat kok." Jawab Kenzie.
Cemburu pasti ada saat melihat Yuri berkolaborasi dengan Jimmy dan anggota lainnya. Terlihat jelas jika Jimmy lebih mendominasi mengawal Yuri tampil.
Begitulah pada nyatanya. Jimmy sebisa mungkin membuat penampilan Yuri menjadi suatu yang luar biasa. Bahkan para guru ikut senang menyaksikan penampilan mereka.
Kenzie menahan cemburunya. Ia sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapanya Yuri. Dia juga tidak ingin Yuri berprasangka lain.
Mereka berlatih sampai sore. Marsha dan Kevin pulang lebih dulu. Tinggal Kenzie yang masih menunggunya di kursi panjang yang tersedia di lantai bawah.
"Sabar ya Bro, jangan cemburu gitu ah." Ucap seorang di sebelahnya.
"Hahaha, untuk apa aku cemburu sama kamu yang sudah pasti tidak ada apa-apanya di mata Yuri sekarang." Jawab Kenzie.
Jimmy kesal mendengar jawaban dari Kenzie. Tapi, itu semua memang benar. Yuri sudah tidak lagi mencintai Jimmy.