
Proses pemakaman berjalan dengan lancar. Hani dan Yuri masih saling berpelukan dan menguatkan diri mereka. Memang sangat mendadak tanpa ada firasat apapun. Bahkan sebelumnya Indra selalu manja pada Hani.
"Ma, Kak. Kita pulang yuk." Ajak Keenan. Kenzie masih membawa Devan dalam gendongannya.
"Mama sama Kakak ingatkan permintaan Papa yang terakhir. Papa gak ingin kita bersedih." Lanjut Keenan.
Keenan membantu Mamanya dan Kakaknya berdiri. Mereka mencoba untuk tegar. Kenzie menghapus air mata Yuri dengan tangan satu. Ia juga memeluk sang istri sambil mengusap kepala sang istri.
"Ma,, Ma,, Ma,," Panggil Devan seakan ia mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Yuri.
"Mama tidak apa-apa, Nak." Yuri mencoba memperlihatkan senyumannya pada sang anak. Namun kesedihan masih menyelimutinya. Air mata kembali berkumpul bersamaan dengan senyumannya.
"Kita pulang yuk, Hari sudah hampir gelap." Ajak Kenzie.
Mereka langsung menuju ke apartemen. Kenzie dan Keenan membawa Hani ke apartemen Ken dan Yuri. Untuk menenangkan hati mereka. Kenzie menyiapkan minuman hangat untuk istri dan mertuanya. Keenan membantunya menjaga Devan.
"Terimakasih Nak." Ucap Hani. Hani menceritakan hari-hari mereka selama seminggu kemarin.
"Sudah Ma, Papa kan bilang jangan mengingat masa lalu." Kata Keenan.
Hani dan Keenan menginap di apartemen 5cmereka. Keenan kembali mengambil beberapa barang untuk beberapa hari ke depan. Setidaknya sampai hati mereka tenang kembali.
"Dev, Devan sama Papa dulu ya." Kenzie mengulurkan tangannya.
Sudah sebulan, Yuri dan Hani bersedih atas kepergian orang yang mereka cintai. Perlahan mereka mulai menerima semuanya. Yuri dan Hani kembali seperti biasa. Rasanya memang sangat sedih dan sakit, tapi kalau terus-menerus bersedih juga tidak akan membuat orang yang mereka cinta kembali.
Hani kembali ke apartemennya. Keenan kini menggantikan posisi ayahnya. Pagi itu mereka berkumpul sarapan di apartemen Hani.
"Waktunya sarapan!" Teriak Hani agar anak-anak nya berkumpul.
"Mah,, Mam!" Devan teriak.
"Aduh, cucu Omah udah gak sabar ya untuk makan?" Hani mencubit pelan pipi chubby cucunya.
"Sayang, makan dulu yuk." Ajak Yuri pada Kenzie yang sedang fokus menelpon Pak Moko.
"Begitu saja ya Pak, kalau tidak nanti saya kesana. Sekalian bareng Keenan, Yuri juga katanya kangen ingin main ke sana." Kata Kenzie pada Pak Moko melalui panggilan suara.
"Yuk sayang." Kenzie merangkul istrinya mesra.
Mereka makan bersama. Hani membuatkan menu sarapan seperti biasanya. Usai sarapan mereka bersiap-siap untuk berangkat. Yuri sudah rapi dengan pakaiannya, begitu juga dengan Keenan yang sudah rapi sambil membawa tasnya.
"Ken, mama boleh ikut tidak?" Tanya Hani.
"Ma, katanya mau jagain Devan." Kata Yuri.
"Tapi kan, Ri." Hani menunduk.
"Boleh Ma, biar Mama gak jenuh di rumah terus." Sahut Kenzie.
"Zie, kamu kan katanya ada kerjaan." Kata Yuri.
"Gak apa-apa, aku senang kok kalau ada yang nemenin." Jawab Kenzie.
Hani langsung berganti pakaian. Mereka jalan setelah Hani rapi dan siap untuk berangkat. Sampai di Swalayan, Kenzie ke ruangan Pak Moko. Yuri dan Hani pergi ke ruangan Keenan bersama Keenan.
"Dulu kamu kerja disini, Ri?" Tanya Hani.
"Iya Ma, Yuri gak tahu kalau ini Swalayan milik Kenzie. Pak Moko dan Derry benar-benar baik sekali mereka sama Yuri." Jawab Yuri.
"Derry kakak ipar kamu?" Tanya Hani.
"Setidaknya Mama tenang kamu bersama orang-orang yang baik." Kata Hani.
"Em, makanan basi kesukaan kamu yang mana, Ri?" Celetuk Hani. Yuri kaget ketika Mamanya bertanya seperti itu. Ia tidak pernah mengatakan hal itu pada orangtuanya.
"Yang mana? Yang ini? Seberapa enaknya sih?" Tanya Hani.
"Ma,," Mata Yuri sudah berkaca-kaca. Yuri menganggukkan kepalanya. Tebakan Hani benar, makanan yang ia pegang dulu sering sekali di makan sama Yuri. Karena memang menu itu yang kurang peminatnya.
"Mama coba ya. Tapi ini gak basi kan?" Tanya Hani.
"Ma, itu gak basi. Hanya sudah kadaluarsa saja Ma. Rasanya juga masih enak. Kalau basi kan sudah busuk, Ma." Jawab Yuri.
"Wah ternyata enak ya rasanya. Pantas saja, walaupun sudah basi saja kamu makan." Sindir Hani.
"Ma,," Air mata Yuri sudah mengembang.
Kenzie dan Pak Moko keluar bersama. Tugasnya dengan Pak Moko sudah selesai. Kenzie keluar untuk menemui Yuri dan Mamanya.
"Kalau begitu saya pamit ya Pak. Masih ada pekerjaan di kantor pusat." Pamit Kenzie.
"Ri, gak mau berlama-lama disini dulu nih?" Tanya Pak Moko.
"Pengennya gitu Pak. Tapi kalau lama-lama disini yang ada makanan siap saji ya di makan habis sama Mama saya." Jawab Yuri.
"Hahaha,, Bagus dong kalau habis. Jadi tidak ada yang terbuang." Kata Pak Moko.
"Kalau tidak si kecil saja ya, disini." Kata Pak Moko. Tiba-tiba Devan menangis saat Pak Moko mendekatinya.
"Ma,, Ma,, Ma,," Ucap Devan sambil menangis.
"Devan tinggal sini saja sudah. Biar Papa sama Mama bisa berduaan." Kenzie meledek putra pertamanya.
"Pa!" Gertak Devan.
"Apa Nak?" Tanya Kenzie dengan santai. Ia belum menyadari ucapan Devan.
"Eh sebentar, apa tadi Devan? Papa gak dengar." Tanya Kenzie.
"Ya sudah, Devan tinggal sini saja ya. Habis gak mau manggil Papa." Kata Kenzie.
"Mama,, Pa!" Teriak Devan seakan mengadu pada Yuri.
"Kenapa sayang? Papa kenapa?" Tanya Yuri.
"Kamu tinggal sini saja ya. Mama sama Papa mau pergi jalan-jalan sama Omah juga." Yuri ikut meledek putra mereka.
"Mah! Mah!" Devan kembali merengek sambil mengadu pada Omah nya.
"Kenapa cucu Omah? Gak di ajak ya sama Mama Papa? Devan sama Omah saja ya. Omah gak akan ninggalin Devan." Kata Hani.
Devan berpindah ke Omah nya. Berawal dari Pak Moko hingga sang Mamanya ikut meledek Devan. Mereka tertawa setiap Devan mengadu. Kenzie sudah datang dengan menghentikan mobilnya tepat di depan pintu Swalayan.
Mereka kini sudah berada di kantor pusat. Pandangan seluruh karyawan tertuju pada Yuri, Devan dan Hani. Ya, walau mereka bukan dari orang kaya tapi mereka terlihat cantik dan muda. Semua kagum melihat kecantikan Hani dan Yuri.
Beberapa juga terpesona melihat Kenzie sedang menggendong putranya. Ketampanan mereka benar-benar membuat mereka suka melihat Kenzie dan Devan. Banyak yang memuji ketampanan Devan.
"Ri, orang-orang pada lihatin kita. Apa mereka gak senang ya ada kita? Kita ke rumah Naomi saja yuk." Hani belum terbiasa di lihatin seperti saat ini.
"Baru juga sampai, Ma. Biarkan saja mereka menilai kita seperti apa. Kita hidup juga bukan untuk di puji sama mereka." Jawab Yuri.