
Yesha mulai menjauh dari Kenzie. Ia sadar, sampai kapanpun Kenzie tak akan pernah bisa ia dapatkan. Mungkin dulu Kenzie diam karena tidak ingin memberinya harapan dan tidak ingin membuang waktu juga merusak moodnya.
Tapi Kenzie tidak akan tinggal diam jika itu bersangkutan dengan Yuri. Karena ulahnya, ia hampir kehilangan Yuri. Kenzie benar-benar kesal dengan ulah Yesha dan juga perkataan Yesha yang menjelekkan Yuri.
Karena sudah selesai ujian, Kenzie ikut membantu ayahnya untuk memantau rumah sakit dan hotel milik ayahnya. Ia hanya mengantar Yuri ke kampus dan akan menjemputnya nanti sepulang Yuri kerja. Yuri juga tidak keberatan tanpa Kenzie di kampus. Toh, jika nanti Kenzie lulus lebih dulu Yuri juga sendiri di kampus.
"Huh, hari ini mami dan papi ku pergi dinas keluar kota. Gimana kalau aku menginap di asrama kamu Ri?" Tanya Stella.
"Kenapa gak di rumah kamu aja?" Wenda memberi pilihan pada Stella.
"Boleh tuh, tapi nanti Yuri gimana? Dia pasti kerja dulukan." Jawab Stella.
"Gampang, kan ada Kak Derry. Nanti juga di antar sama dia. Ya kan, Ri?" Tanya Wenda.
"Rencana sih Kenzie mau jemput aku." Jawab Yuri.
"Ya setidaknya nanti ada kan yang antar kamu. Nanti aku kirim alamat rumah aku ya." Balas Stella.
"Aku bakal adain party malam ini." Lanjut Stella
Wenda sedari tadi merasa ada yang memperhatikan mereka. Ia melihat ke sekeliling kantin. Benar saja, Andre yang sedang ngumpul dengan teman-temannya terus melirik ke arah mereka.
"Ri, kamu gak ada masalah sama Andre kan?" Tanya Wenda.
"Setahuku tidak, dia tidak pernah menghubungiku lagi. Kalaupun bertemu ya hanya sebatas tegur sapa saja." Jawab Yuri.
"Ada apa sih?" Tanya Stella.
"Eh, dia kesini tuh." Kata Wenda.
Ya, karena sudah ketahuan oleh Wenda. Andre akhirnya beranjak dari tempat duduknya. Darren, Dimas dan Laras membiarkan Andre pergi.
"Yah, Si Andre. Ngapain dia? Masih mau dekati Yuri?" Tanya Darren.
"Biarkan saja dia mau kemana. Sirik aja sih kamu, Ren." Kata Laras.
"Ya, gak gitu sih. Cuma kan dia udah tau bakal di tolak gitu." Jawab Darren.
Andre duduk di sebelah Yuri. Karena posisinya Yuri yang memang duduk sendiri menghadap kedua temannya itu. Andre ikut bergabung di meja mereka.
"Kak Andre." Sapa Yuri.
"Hai, Ri. Gimana kabar kamu?" Tanya Andre. Sambil melirik ke arah Stella.
"Padahal satu kampus, di kantin juga suka lihat." bisik Wenda.
"Baik Kak. Kak Andre gimana?" Yuri berbalik nanya.
"Lagi gak baik nih, Ri." Jawab Andre lalu ia berbisik pada Yuri. Yuri pun tersenyum mendengar bisikan Andre.
"Minggir!"
"Jadi begini ya? Gak ada aku kamu malah mencuri kesempatan!"
"Main bisik-bisik sama calon istri orang."
"Menjauh! Jangan dekat-dekat!" Kenzie tiba-tiba datang dan duduk di tengah Yuri dan Andre.
"Yah Ken, aku belum selesai bicara sama Yuri." Kata Andre.
"Ya kan bisa ngobrol biasa, gak perlu bisik-bisik." Balas Kenzie.
"Segala main rahasia-rahasia. Gak ada!" Kenzie tetap duduk di tengah.
Namun Andre beranjak dari duduknya dan duduk di sisi kiri Yuri yang masih kosong. Kenzie tak ikut berpindah, ia justru memeluk sang kekasih dan menutup kuping kekasihnya dengan telapaknya. Dari kejauhan ketiga teman Kenzie cukup tertawa melihatnya.
"Zie sayang, gak enak di lihat orang-orang tuh." Yuri agak risih berpelukkan di tempat umum. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian.
"Tahu ih, takutan banget aku ambil sih." Kata Andre.
"Sudah ah, nanti aku hubungi kamu saja ya, Ri. Nomor kamu masih sama kan?" Tanya Andre.
Andre kembali bergabung dengan ketiga temannya. Sedangkan Kenzie masih penasaran dengan apa yang di bisikan oleh Andre. Begitu juga pada kedua teman Yuri yang ikut penasaran.
"Ngomongin apa sih?" Tanya Stella.
"Ada deh." Jawab singkat Yuri.
"Aku juga mau dong di bisikin sama dia." Kata Stella.
Kenzie pergi kumpul bersama empat temannya. Tatapan Kenzie menjadi tajam setiap melihat Andre. Ia takut jika kekasihnya di rebut oleh orang lain.
Pulang kuliah, Yuri berangkat kerja bareng Derry. Kenzie masih kumpul bersama temannya. Sampai Swalayan Pak Moko langsung memeluk Yuri. Sudah dua hari ia tidak bertemu Yuri. Pak Moko merindukan Yuri.
"Yuri! Bapak kangen sama kamu. Kamu gak masuk-masuk." Kata Pak Moko.
"Gimana kabar kamu? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Pak Moko sambil memutar-mutar tubuh Yuri.
"Apa sih Pak Moko? Udah kayak setahun gak ketemu Yuri saja." Sindir Derry.
"Yuri baik Pak. Maaf ya Pak, Yuri gak masuk dua hari. Jangan pecat Yuri ya Pak." Jawab Yuri.
"Gak akan, Ri. Bapak gak akan memecat kamu." Balas Pak Moko.
Mereka ke belakang ke ruang karyawan. Disana mereka menaruh tas dan juga mengganti seragam. Karena Yuri karyawan wanita sendiri, Ia hanya sendiri di ruang karyawan wanita.
Yuri kembali kerja seperti biasa. Ia tak lagi mengambil makanan kadaluarsa. Cukup sudah ia membuat Kenzie khawatir. Jika kedua orangtuanya tahu juga mereka pasti sangat Khawatir.
Selesai mengerjakan tugasnya, Teman-teman Kenzie beserta Kenzie datang ke Swalayan. Mereka berencana untuk ngobrol-ngobrol disana. Alasan Kenzie setuju nongkrong di Swalayannya agar ia bisa melihat Yuri. Semenit saja ia tidak melihat Yuri sudah merasakan rindu.
"Sudah lama ya kita gak kesini. Ken, kita boleh ambil sepuasnya kan?" Tanya Darren.
"Aku juga mau ya." Andre dan Darren memang senang setiap ke swalayan Kenzie.
"Asal jangan ngambil semua barang. Rugi nanti si Ken." Teriak Dimas.
"Yang, itu kan teman kamu." Kata Dimas.
"Oh, si Ghea. Palingan juga mau cari perhatian sama si kasir tuh." Jawab Laras.
Yuri masih asik menaruh stok produk yang harus di isi kembali ke rak. Rak-rak yang kosong ia isi kembali dengan barang yang baru. Ia tidak merasa terganggu dengan kehadiran Darren dan Andre yang sibuk mengambil beberapa makanan dan minuman.
"Sayang, kamu buru-buru banget sih pulangnya." Ghea langsung menggelayut di lengan Derry.
"Sayang, katanya kita mau ngerjain tugas bareng." Derry tetap tak menanggapi Ghea yang sedang berakting.
Sejak kapan dirinya resmi berpacaran dengan Ghea. Dulu saja dirinya di tolak oleh Ghea. Sekarang, Ghea malah mengejarnya dan seakan ia resmi menjadi pacar Derry.
"Aku sedang kerja Ghe. Kamu tidak bisa lihat aku sedang sibuk?" Jawab Derry kesal.
"Kamu kok gitu sih? Aku kan kangen sama kamu." Ghea memasang wajah sedih. Dari kejauhan Yuri tersenyum melihat partner kerjanya pacaran. Pertama kalinya ia melihat Derry berpacaran.