Untitled Love

Untitled Love
Ep 51



Di Cafe, Dita dan Zein sedang mengobrol di ruangan Dita. Melani masih tidak berani menegur Dita. Bahkan ia juga suka menjauh setiap Dita di luar ruangan.


"Sayang!" Teriak Audrey dari luar.


"Dita, kamu masih pelihara kuntilanak?" Tanya Zein.


"Aku lupa menancapkan paku di kepalanya. Makanya gentayangan terus." Jawab Dita.


Di luar


"Mau apa lagi kamu kesini?" Tanya Melani.


"Suka-suka aku dong!" Jawab Audrey dengan gaya gemulainya.


"Aku sudah bilang kan jangan ganggu pacarku lagi! Kamu tuh harus pakai bahasa apa sih?" Kesal Melani. Ia mendorong Audrey.


"Berani ya kamu mendorong aku?" Audrey tak terima di perlakukan seperti itu pada Melani.


Audrey pun memulai keributan di Cafe tersebut. Fitri dan yang lain mencoba untuk memisahkan Melani. Kecuali Meri yang masih asik memainkan ponselnya.


Di dalam ruangan, Zein yang menguping dari tadi. Zein mendengar Melani dan Audrey ribut pun semakin senang mendengarnya. Ingin rasanya ia keluar dan melihat langsung.


"Aku gak nyangka ya, Melani yang kalem bisa galak juga." Kata Zein.


"Apa dia benar-benar menyukaimu?" Tanya Zein.


"Dia seperti itu karena dia sudah bosan melihat Audrey yang setiap hari kesini." Jawab santai Dita.


"Apa kalian sekongkol?" Tanya Zein.


"Tidak, aku tidak memintanya untuk mengaku-ngaku sebagai pacarku." Jawab Dita.


Sementara di luar ramai. Dita hanya bersikap biasa saja. Dia sudah lelah dengan keributan yang di buat oleh Audrey.


"Lebih baik kita bicarakan permasalahan tentang kita." Pinta Dita.


"Tentang kita?" Zein bingung.


"Iya, kamu kan udah lama kenal dengan Yuri." Kata Dita. Zein mulai duduk di hadapan sahabatnya.


"Ah, jadi kamu suka dengan Yuri?" Tanya Zein.


"Apa yang sudah terjadi dulu dengan Yuri?" Dita berbalik nanya.


Zein menceritakan sejak awal ia bertemu Yuri. Tapi bukan itu yang Dita ingin tahu. Dita juga pernah melihat postingan Zein yang memotret Yuri. Sampai saat ini Zein tidak ingin menghapus foto Yuri.


"Bisakah kamu menceritakan kejadian-kejadian yang membuat Yuri trauma?" Tanya Dita.


"Trauma? Trauma pacaran? atau trauma sama cowok?" Tanya Zein.


"Aku dengar dari temannya Yuri, kalau dia trauma karena kejadian lalu." Jelas Dita.


"Atau jangan-jangan kejadian setelah ia pentas?" Zein bertanya-tanya.


"Maksud kamu?" Dita ikut bertanya.


"Jadi gini~" Zein menjelaskan kejadian yang di alami Yuri.


"Seberat itukah yang di alami Yuri?" Tanya Dita.


"Ya, dia juga pernah di dorong ke kolam renang saat malam hari. Yuri itu tidak bisa berenang." Jelas Zein.


"Tapi aku tidak menyangka akan menyebabkan trauma seperti itu." Lanjutnya.


"Saat aku dengan Sora dia bersikap biasa saja." Zein kembali bingung.


Ya, saat itu Yuri masih memiliki Kenzie yang selalu berada di sampingnya. Sedangkan kemarin Yuri hanya sendiri. Tidak ada yang mengerti dirinya selain Kenzie. Tidak ada yang membuatnya nyaman, senyaman saat berada di samping Kenzie.


Melani dan Audrey berhasil terpisahkan. Melani benar-benar mengusir Audrey sampai ia keluar dari halaman Cafe. Melani merapikan dirinya agar tidak terlihat berantakan.


Setelah Dita sudah mendapatkan informasi lengkap tentang kejadian tersebut. Dita mengerti kenapa Yuri langsung menjauh darinya dan menangis. Zein pulang karena Sora sudah menghubunginya berulang kali.


Di kediaman Indra, Yuri masih di rumah. Ia tidak di izinkan untuk bekerja lagi. Indra dan Hani juga meminta Yuri agar fokus dengan beasiswa yang diinginkan Yuri. Yuri berpesan agar orangtuanya tidak memberi tahu Kenzie.


Setelah semalam ia pulang ke rumahnya. Paginya ia menengok kedai kopi miliknya yang sudah lama tak ia kunjungi. Hanif dan Arif dengan senang dapat bertemu kembali dengan Kenzie.


"Bos, selama gak ada bos. Kami langsung memotong biaya untuk gaji kami. Sisanya sesuai dengan yang saya transfer." Hanif melaporkan keuangan Kedai kopi.


"Iya, saya percayakan semuanya ke kalian." Jawab Kenzie sambil berbaring di sofa.


"Bos, selama bos gak ada Non Yuri pernah beberapa kali kesini. Setelah itu, dia gak pernah kesini lagi." Hanif kembali melaporkan.


"Aku pergi dulu!" Kenzie teringat sesuatu. Baru sampai, Kenzie sudah pergi lagi.


Kenzie pergi ke rumah Yuri. Ia kembali mengendarai motornya yang sekian lama tidak ia gunakan. Namun sering di panasi dan di service oleh Hanif ataupun Arif. Kenzie memencet bel rumah Yuri.


"Permisi Tante, Yuri ada?" Tanya Kenzie.


"Ada Ken, masuk saja. Yuri sedang tiduran saja di sofa." Jawab Hani.


"Hai sayang, gimana kabar kamu?" Tanya Kenzie sambil duduk di lantai sebelah sofa.


"Ken, kok duduk di bawah? Kamu bangun dong Ri." Kata Hani.


"Kamu udah makan belum? Tadi Bunda kamu nanyain kamu." Tanya Hani.


"Sudah Tante, tadi saya ke kedai kopi dulu." Jawab Kenzie.


"Kenapa makan di luar? makan disini saja." Hani sudah menganggap Kenzie seperti anaknya sendiri. Sebelum ia tahu bahwa anaknya dan Kenzie berpacaran.


"Gak apa-apa Tante, tadi sekalian cek pegawai. Masih pada hidup apa engga. Karena kan selama di Singapura saya gak pegang ponsel. Gak bisa hubungi kemana-mana." Jawab Kenzie.


Mereka saling mengobrol. Yuri hanya menyaksikan Mamanya yang terlihat menyanjung anak orang lain. Kenzie juga sudah terbiasa dengan keluarga Yuri.


Yuri tertidur setelah lama menyaksikan kedua orang yang di sayang mengobrol. Melihat Yuri tidur, Kenzie membantu Hani untuk membuat menu makan siang. Usai membantu Hani, Kenzie menjemput Keenan sekolah.


Sampai di gerbang sekolah. Kenzie menjadi pusat perhatian para gadis. Ada beberapa yang berani mendekati Kenzie. Tapi Kenzie tetap tak bergeming, bahkan dia hanya dia seperti patung.


"Aduh, tampan banget sih ini." Ucap salah seorang gadis.


"Eh, sudah jangan lihat-lihat pacar aku!" Sahut seorang gadis lain.


"Kalau dia pacar kamu, dekati dong. Beraninya disini doang." Balas gadis lain.


Akhirnya orang yang di tunggu Kenzie terlihat. Tapi nampaknya Keenan sedang bersama seorang gadis. Terlihat Keenan sedang mengejar gadis yang nampak sedang marah dengannya.


"Keenan!" Teriak Kenzie. Keenan masih mengejar gadis itu. Setelah dirasa percuma, Keenan langsung menghampiri Kenzie yang masih di kelilingi siswi-siswi.


"Kak, dari kapan?" Tanya Keenan.


"Kalian apaan sih pada disini? Hush! Sana!" Keenan mengusir murid lain.


"Ziya! kamu ngapain masih disini? Sana pergi! Ganjen banget!" Keenan berbeda dengan Yuri. Keenan selalu terus terang jika ada sesuatu yang tak dia suka.


"Aduh, duo tampan bersatu. Gak dapat kamu, Dapat Kakaknya juga boleh." Ziya menggoda Kenzie.


"Sudah Ken? Kakak gak tega ninggalin istri kakak lama-lama." Ucap Kenzie membuat Ziya terdiam.


"Yah, udah ada anjingnya." bisik Ziya.


"Sial! Istrinya tuh Kakak aku!" Keenan kesal dan melototi Ziya.


Keenan gak menyangka Kenzie berhasil membungkam mulut mereka. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu. Keenan hanya diam, menyimpan obrolan saat di rumah nanti.


"Ken, kita mampir sebentar dulu ya. Sepertinya dompet aku tertinggal disana." Ucap Kenzie.