Untitled Love

Untitled Love
Ep 55



Sudah seminggu Yuri resmi menjadi mahasiswa di kampus tersebut. Ia belum juga menemukan Kenzie. Sialnya, saat pertama ia datang ke Singapura. Ia harus kehilangan ponselnya saat sedang berada di pusat keramaian.


Kini Yuri memiliki teman baru bernama Stella, Wenda dan Billy. Mereka adalah kelompok belajar yang di bentuk sejak mata kuliah pertama di hari pertama mereka. Sejak saat itu, mereka menjadi selalu bersama.


"Wenda, kantin yuk." Ajak Yuri.


"Ayo." Jawab Wenda.


"Aku ikut dong." Pinta Stella.


"Pokoknya aku mau mencicipi semua menu yang ada disini!" Kata Wenda saat menuju kantin


"Ri, kamu tinggal dimana?" Tanya Stella.


"Aku di asrama." Jawab Yuri singkat.


"Sama dong. Kamu di kamar nomor berapa?" Tanya Wenda.


"Aku di gedung H lantai 3 nomor 306." Lanjutnya.


"Aku di gedung K lantai 2 nomor 210 Wen." Jawab Yuri.


"Kalau kamu Stel?" Tanya Wenda.


"Aku memang asli tinggal disini. Ya, lumayan sih kalau dari kampus. Gak terlalu jauh, gak terlalu dekat juga." Jawab Stella.


"Oh, jadi orangtua kamu asli orang sini." Balas Wenda.


"Ayahku yang asli sini. Kalau ibu aku asli Indonesia." Jawab Stella.


"Aku juga mau ah dapet orang sini." kata Wenda.


"Ri, aku lihat kamu dekat sama senior di kampus kita ya?" Tanya Stella.


"Siapa?" Yuri bertanya balik.


"Itu loh, yang setiap pagi nyamperin kamu." Stella memperjelas orang yang ia maksud.


"Oh, Kak Andre. Aku sih gak kenal. Tiba-tiba aja dia muncul terus sejak aku nyasar pertama kali masuk." Jawab Yuri.


"Kenalin dong ke aku." Pinta Stella.


"Aku gak kenal." Jawab singkat Yuri.


Di kantin Andre sudah berkumpul dengan teman-temannya. Andre selalu menggoda Laras, walau berkali-kali Dimas menumpuknya dengan remahan snack. Andre senang membuat Laras cemburu.


Dimas akan selalu kena amukan dari Laras. Dari cubitan sampai pukulan mendarat di tubuh Dimas. Bahkan Laras akan menangis dan cemberut pada Dimas. Namun sudah bukan hal yang sulit lagi untuk menaklukkan Laras. Setiap ngambek Laras tidak pernah lama.


"Aduh, Andre! Udah sih." Ucap Kenzie.


"Heh, tiap pagi aku selalu lihat kamu dengan wanita. Sudah punya gebetan baru? Lupa sama Zena?" Tanya Dimas mengalihkan.


"Kalau yang ini, Zena kalah jauh. Udah cantik, pintar, berbakat, lembut lagi orangnya." Jawab Andre.


"Alah, bilang aja kamu di tolak sama Zena. Lagi udah berkali-kali di tolak masih saja ngejar." Sahut Darren.


"Secantik apapun wanita disini. Gak ada yang bisa ngalahin pacar aku." Puji Kenzie.


"Pacar? Hahaha." Darren dan Andre sama-sama menertawakan Kenzie.


"Ken, aku tahu kamu sudah lama jomblo. Tapi gak usah mengenaskan seperti itulah." Darren menepuk pundak Kenzie.


"Eh tunggu, tapi kamu masih normalkan ya?" Tanya Dimas.


Mereka terus meledek Kenzie yang selalu menolak mahasiswi yang mendekatinya. Sering sekali mereka menggoda Kenzie, tapi Kenzie tidak pernah tergoda. Bahkan Kenzie meninggalkan mereka dan menjauhi mereka.


"Aku punya pacar dan dia seorang wanita. Dia tinggal di Indonesia." Jawab Kenzie sambil membayangkan wajah senyuman Yuri.


"Eits, aku gak minta pembuktian lewat foto ya. Aku minta melalui telepon!" Sambung Andre. Kenzie mengeluarkan ponselnya.


Ia menghubungi nomor Yuri. Namun nomornya tidak aktif. Berkali-kali Kenzie menghubungi Yuri tak juga bisa di hubungi.


"Hahaha, sudah Ken. Mending kamu terima cinta Yesha saja. Daripada jadi jomblo seperti ini." Andre menepuk pundak Kenzie.


"Kamu saja sana yang sama Yesha." Kenzie membalas Andre.


"Lah, aku mah sudah ada. Aku yakin dia bakal nerima cinta aku. Hanya memerlukan kesabaran untuk mendekatinya." Jawab Andre.


Andre selalu mendekati Yuri setiap hari. Walaupun selalu di cuekin, Andre terus menantinya. Andre selalu mengikuti Yuri kemanapun ia pergi.


Berkali-kali Yuri mendiamkan Andre. Di hatinya hanya ada Kenzie. Hatinya sudah tertutup dan baginya hanya Kenzie yang segalanya dalam hidup Yuri. Tapi kini ia bagaikan orang yang sedang kesasar dalam hutan.


Sudah hampir satu semester Yuri menjalani kuliah sepenuhnya. Ia berencana untuk mencari pekerjaan yang tidak mengganggu waktu kuliahnya. Yuri mencari pekerjaan paruh waktu yang tidak terlalu jauh dari tempatnya tinggal.


"Ri, ada swalayan yang butuh karyawan tuh." Ucap Stella.


"Di mana?" Tanya Yuri.


"Pokoknya gak jauh deh dari sini." Stella menjelaskan tempat yang membutuhkan pekerja. Ia juga menjelaskan bahwa dirinya akan aman.


Yuri menyiapkan berkas lamaran kerja. Dengan pakaiannya yang selalu rapi. Yuri melangkah keluar kampus. Namun sayangnya langkahnya terhenti begitu ada seseorang yang memanggilnya.


"Kak Andre, ngapain disini?" Tanya Yuri.


"Mau nemuin kamu. Kamu sendiri mau ngapain?" Andre berbalik nanya.


"Aku mau pulang." Jawab Yuri singkat.


"Dengan bawa amplop cokelat?" Andre melihat tangan Yuri yang sedang membawa amplop cokelat yang ia tulis dengan benar.


"Oh ini, apa tadi itu punya Wenda. Iya, tadi Wenda butuh ini." Yuri menarik Stella untuk menjauh dari Andre.


"Riri! tunggu aku." Andre menarik tangan Yuri. melihat Yuri masih membawa amplop tadi.


"Sebentar ya Kak, besok saja kita bicaranya. Aku sibuk dan tidak banyak waktu." Kata Yuri.


"Baiklah, kamu hati-hati ya di jalan." Andre melambaikan tangannya begitu mereka sudah berjalan.


Diam-diam Andre mengikuti mereka. Yuri masuk ke dalam Swalayan yang sedang membutuhkan karyawan. Perasaan gugup menyelimuti dirinya.


Setelah lama masuk, Yuri keluar dan menghampiri Stella. Ia memeluk tubuh Stella sambil berteriak. Stella baru tau jika Yuri anaknya seheboh ini.


"Stella! Aku di terima kerja disini!" Bisik Yuri hingga terdengar di telinga Yuri.


"Yeay, bisa kebeli handphone nih. Cepat-cepat kerja ya." Jawab Stella.


"Hari ini aku sudah boleh langsung masuk kerja." Balas Yuri.


"Yah, aku pulang sama siapa dong?" Ucap Stella.


"Kamu mau nunggu aku disini?" Tanya Yuri.


"Engga deh. Aku masih banyak keperluan. Bye!" Ucap Stella.


Yuri kembali masuk ketika Stella pulang. Ia meletakkan tasnya di loker karyawan yang sudah di sediakan. Ia langsung memakai rompi yang juga sudah di sediakan.


Yuri bertugas untuk memeriksa stok barang. Ia juga di minta untuk menarik barang yang sudah kadaluarsa. Setelah itu ia bertugas untuk membersihkan toko seperti mengepel, menyapu dan membuang sampah bekas pelanggan yang datang dan makan di toko.


Pulang kerja ia langsung kembali ke asrama. Karena jaraknya yang tidak jauh, Yuri cukup berjalan kaki dari tempatnya bekerja. Cukup melelahkan baginya, tapi ia juga tidak ingin merepotkan orangtuanya.


Bulan pertama berjalan dengan lancar. Yuri juga sudah kenal dekat dengan seniornya. Mereka selalu menghibur satu sama lain. Pekerjaan pun terasa lebih menyenangkan baginya.