Untitled Love

Untitled Love
Ep 63



Kenzie pergi keluar kantin. Sedangkan ketiga temannya terdiam melihat Kenzie marah. Pertama kalinya ia melihat Kenzie marah. Sesering apapun Yesha mengganggu Kenzie, Ia tidak pernah menanggapi Yesha sedikitpun.


"Kan, aku bilang juga apa. Udahlah stop ngejar-ngejar Kenzie. Masih ada kita yang mau sama kamu kok." Kata Darren.


"Kita? Kamu aja kali. Aku mah udah ada Laras." Jawab Dimas.


"Semua cewek aja kamu jadikan pacar, Ren." Lanjutnya.


"Apa sih hebatnya itu cewek?!" Tanya Yesha yang cemburu dengan Yuri.


"Makanya follow dong IG nya Kenzie. Bilangnya suka, cinta, sayang. Tapi gak tau tentang dia." Kata Dimas.


"Di IG nya tuh, mereka sudah jadian sejak SMA. Nah, cewek itu cinta pertamanya Ken yang ia suka sejak SMP. Tapi baru jadiannya pas kelas dua SMA." Jelas Dimas.


"Sial, IG nya di private dan dia belum accept IG aku." Keluh Yesha dan kedua teman Kenzie.


"Kalo di lihat dari komentar teman-temannya Kenzie itu emang udah cinta banget sama Yuri." Dimas memperlihatkan isi dari IG Kenzie.


"Hua, hilang dong kesempatan aku!" Yesha langsung patah hati.


"Makanya, benar kata Darren. Mending kamu menyerah saja. Nih lihat, dia bahkan pernah merelakan Yuri dan menunggunya saat Yuri memilih cowok lain." Kata Dimas.


Di meja yang berbeda dengan mereka. Stella dan Wenda mulai jenuh melihat pemandangan mereka yang biasa saja. Mereka terus saja memutarkan spaghetti yang ada di piring mereka.


"Kalian tuh kenapa sih? Di putar terus saja!" kata Yuri.


"Kalian tuh gak bisa apa tunjukkan kemanisan kalian. Suap-suapan gitu? atau lap sisa makanan di wajah atau apapun itu gitu." Komentar Stella.


"Lah buat apa? Yuri juga masih bisa sendiri. Ya kan Ri?" Tanya Derry.


"Ah, aku kira ada bunga-bunga yang tumbuh kuncup atau sudah mekar gitu di antara kalian." Jawab Wenda.


"Udah gak usah di tanggapi mereka, Der." Yuri kembali melanjutkan makannya.


"Yuri!" Sapa seorang pria. Yuri mencari sumber suaranya.


"Siapa tuh Ri? Tampan banget." Kata Wenda.


"Kak Jimmy?" Yuri membalas sapaan Jimmy.


"Ternyata benar kamu ya? Sudah lama aku perhatikan. Mau negur takut salah." Kata Jimmy.


Jimmy kakak kelas yang pernah mengisi hatinya Yuri. Kini mereka kembali bertemu. Yuri sudah melupakan kesalahan Jimmy. Ia tetap menganggap Jimmy adalah seniornya.


"Kamu jurusan musik juga kan?" Tanya Jimmy.


"Kok kakak tau?" Yuri berbalik nanya.


"Lama nih gak duet. Nanti acara kampus mau gak kita duet lagi?" Tanya Jimmy.


"Hehe, makasih kak." Yuri ragu. Ia melihat situasi di kantin.


"Tenang, Prisa gak kuliah disini. Kita juga udah saling percaya kok." Kata Jimmy seakan mengerti maksud Yuri.


"Kapan memangnya kak?" Tanya Yuri.


"Oh, udah ganti Kak." Jawab Yuri. Mereka pun bertukar nomor ponsel.


Di meja sudut kantin masih saja ada yang iri dengan Yuri. Yesha semakin iri begitu melihat Yuri dekat dengan pria lain. Ia menatap Yuri dengan penuh cemburu.


"Tuh, lihat saja kalian. Apa yang aku bilang benarkan? Seharusnya tuh Kenzie buka matanya lebar-lebar." Kesal Yesha.


"Menurut informasi dari IG Ken. Cowok itu adalah mantannya Yuri. Dulu Kenzie mengalah demi cintanya pada Yuri. Tapi akhirnya Yuri putus dengan dia." Dimas kembali menjelaskan sesuatu yang ia lihat.


Ya, IG Kenzie memang di penuhi dengan punggung Yuri yang membelakangi kamera. Ia juga mempublish foto dirinya dengan Yuri. Postingan itu yang ramai dengan komentar dari teman-teman Kenzie yang mengucapkan selamat atas penantian panjangnya.


"Kamu udah kayak akun gosip deh." Kata Darren.


"Ya, biar nih cewek berhenti ngejar Kenzie. Pusing aku lihat dia lagi, dia lagi." Kata Dimas.


"Kamu pusing, gimana Kenzie ya?" Sindir Andre.


Jam pulang sekolah, Yuri dan Derry ke swalayan bersama. Ia di kejutkan dengan suara Pak Rama yang melengking. Ia juga melihat Pak Moko yang selalu menunduk. Yuri dan Derry langsung masuk menghampiri mereka.


"Saya tidak ingin memperingatkan kamu berkali-kali! Bukannya saya pelit! Tapi makanan itu tidak layak untuk di konsumsi! Kenapa kamu masih membiarkannya?!" Ucap Rama dengan nada tinggi.


"Hanya ini saja kamu tidak becus memperingati bawahanmu! Kemas semua barang kamu! Kamu saya pecat!" Teriak Rama. Pak Moko tak dapat berkutik. Yuri melihat air mata yang sudah menetes ke lantai.


"Pak, saya mohon maafkan Pak Moko. Ini semua salah saya. Jika Bapak ingin memecatnya, lebih baik bapak pecat saya. Saya yang tidak mendengarkan omongan Pak Moko." Yuri berlutut di hadapan Rama.


"Saya mohon Pak. Ini bukan salah Pak Moko." Yuri terus memohon.


"Bukannya saya perhitungan. Tapi apa kata pelanggan saya yang membiarkan karyawannya makan makanan kadaluarsa? Sedangkan setiap bulan saya selalu memberikan kalian jatah untuk mengambil apapun dengan nominal yang sudah di tentukan." Kata Rama.


"Saya mohon Pak. Saya akan jamin hal ini tidak akan terulang lagi. Jika nyatanya hal itu terulang saya siap untuk anda pecat Pak." Yuri kembali memohon sambil memegang kaki Rama.


"Baiklah! Kali ini saya maafkan. Ingat! Jika hal ini terjadi lagi, Saya akan memecat kalian!" Setelah lama ia mempertimbangkan. Ia menyetujui perkataan Yuri.


Rama langsung keluar dan masuk ke mobilnya. Yuri memeluk Pak Moko yang masih sedih. Begitu juga dengan Derry yang turut memeluk Yuri dan Pak Moko.


"Maafkan saya ya Pak." Ucap Yuri.


"Tidak, tidak apa-apa." Pak Moko tersenyum dan pergi ke ruangannya.


Setelah menaruh tas dan jaketnya. Yuri memakai seragam dan menguncir rambutnya. Ia tak langsung ke depan melainkan ke ruangan Pak Moko. Baginya ia merasa sangat bersalah pada Pak Moko. Ia tidak tega melihat kondisi Pak Moko saat itu.


Yuri mengetuk pintu lebih dulu. Ia baru masuk setelah mengetuk pintu. Yuri melihat Pak Moko yang duduk masih dengan membelakangi pintu. Ia yakin bahwa Pak Moko sangat sedih sekali.


"Bertahun-tahun saya selalu bekerja dengan baik. Saya tidak ingin pekerjaan saya terlihat buruk di mata atasan saya. Demi anak dan istri saya kerja keras. Begitu istri saya pergi, saya seorang diri menjaga anak satu-satunya saya." Pak Moko menceritakan kisahnya.


"Kini, saya hanya hidup sendiri. Anak saya sudah bersama keluarga kecilnya. Saya mencari pekerjaan agar tidak jenuh. Tapi ternyata orangtua seperti saya memang seharusnya diam di rumah menikmati masa tuanya. Jika bekerja maka selalu saja ada kesalahan yang timbul." Kata Pak Moko.


"Pak Maafkan saya. Ini semua salah saya. Tak seharusnya Bapak menanggung kesalahan yang saya buat." Jawab Yuri.


"Ri, kamu sudah saya anggap seperti anak saya. Pak Rama itu baik sekali pada karyawannya. Ia tidak ingin kamu seperti itu. Kamu masih bisa mendapatkan makanan yang layak untuk di makan." Kata Pak Moko.


"Begitu juga saya, saya tidak ingin kamu makan makanan itu. Sakit hati saya melihat anak saya memakan makanan kadaluarsa. Walaupun kamu bukan anak kandung saya." Lanjut kata Pak Moko.