Untitled Love

Untitled Love
Ep 92



"Ma,, Ma,, Ma,,"


Sontak membuat Yuri dan Kenzie menghentikan kegiatan mereka. Kenzie yang tadi sedang fokus ke layar ponselnya langsung mendekati Devan. Begitu juga saat Yuri sedang menyiapkan makanan untuk Devan. Ia mematikan mesin penggiling buah.


"Sayang, apa kamu mendengar apa yang aku dengar?" Tanya Yuri.


"Aku dengar sayang." Jawab Kenzie.


"Devan, tadi Devan panggil Mama?" Tanya Yuri.


"Ma,, Ma,, Ma,,"


"Sayang, Devan manggil aku Mama!" Teriak Yuri kesenangan.


"Devan sayang, Devan gak mau manggil Papa?" Tanya Kenzie. Tapi hanya di balas dengan senyuman manis Devan.


"Ma,, Ma,, Ma,,"


"Mam!" Devan teriak sambil memukul-mukul meja makannya dengan sendok.


Sudah lima bulan sejak Derry menghilang tidak ada kabar. Kaira juga tidak tahu kabar Derry. Ia benar-benar galau sekali karena merindukan Derry. Ia juga suka bertanya dengan Yuri tapi Yuri juga tidak tahu keberadaan Derry.


Yuri, Kenzie dan Devan makan bersama pagi itu. Yuri membiarkan Devan makan sendiri sambil memperhatikan anaknya. Kenzie tersenyum melihat kedekatan anak dan ibu. Hani datang setelah mengantar sang suami dan Keenan. Kini Keenan bekerja di Swalayan menggantikan Derry dan Indra di pindahkan ke Swalayan cabang terbaru mereka.


"Cucu Omah!" Teriak Hani sambil menutup pintu apartemen.


"Mah! Mah!" Devan membalas teriak sambil tertawa.


"Devan,, Pa,, Pa,, Papa." Kenzie tetap meminta Devan untuk memanggilnya.


"Mah!" Namun Devan tetap memanggil Sang Omah. Hani terkejut mendengarnya. Ia senang sekali di panggil oleh sang cucu.


"Apa sayang? Omah mau dengar lagu." Namun Devan hanya tersenyum manja. Ia menunjuk dengan sendok seakan mengajak sang omah makan bersamanya.


"Devan sedang mam ya? Mamam yang banyak ya Cucu Omah." Kata Hani.


"Makan Ma! Jangan ikutin pakai bahasa Devan. Nanti yang ada dia akan begitu terus dan sulit nantinya." Protes Yuri.


"Devan, Omah jadi di marahi tuh sama Mama Devan." Omah mengadu pada Cucunya.


Devan mengulurkan tangannya seakan ingin di gendong oleh Hani. Tapi ternyata saat di angkat Devan malah minta turun. Hani bingung dengan sikap Devan.


"Maksudnya peluk Omah. Bukan mau di gendong." Sahut Yuri dengan nada datar.


"Aduh sayang, peluk sini. Omah jadi gak sedih lagi deh kalau sudah di peluk Devan." Kata Hani. Devan tersenyum pada Hani.


Pagi hari yang terasa hangat melihat tingkah Devan setiap harinya. Terkadang hal itu yang membuat Kenzie malas untuk keluar rumah. Padahal hari ini ia harus ke kantor karena ada beberapa berkas penting yang harus ia tanda tangan.


"Ri, nanti siang Mama ada kursus masak. Jadi Mama gak bisa bantu kamu jaga Devan." Kata Hani.


"Iya Ma, tidak apa-apa. Yuri juga nanti mau ke rumah Bunda. Katanya kangen sama Devan. Jadi nanti mau berangkat bareng Kenzie." Kata Yuri.


"Ya sudah, nanti selesai kursus Mama nyusul kesana ya." Pinta Hani.


Hani lebih dulu berangkat di antar oleh Keenan. Kenzie dan Yuri sama-sama ke rumah keluarga Ishan. Devan duduk di kursi belakang menggunakan kursi khusus bayi. Ia senang sekali melihat ke arah jendela.


"Ma,, Ma,, Ma!" Devan teriak melihat kendaraan yang lalu lalang.


"Nak, panggil Papa yuk. Papa kan juga ingin di panggil sama kamu." Kata Kenzie. Namun Devan tak menanggapi.


"Sayang, nanti kamu ajari anak kita manggil papanya ya." Pinta Kenzie.


"Gimana ceritanya? Makanya sering-sering ajak ngobrol." Jawab Yuri.


Mereka telah sampai di kediaman Ishan. Seperti biasa Naomi dan Rama sudah menunggu kedatangan mereka. Dengan senang Devan tertawa melihat Omah dan Opah nya.


"Mah!" Teriak Devan.


"Coba, opah mau dengar. Panggil Opah." Pinta Rama.


"Mah!" Ternyata Devan hanya memanggil Omah nya.


"Opah,," kata Rama.


"Mah!" Teriak Devan.


"O,, Pah,," kata Rama.


"Mah!" Teriak Devan. Lalu mukanya mulai memerah dan memajukan bibirnya.


"Ma,, Ma,, Ma." Devan menangis di pelukan Yuri.


"Ayah,, Anak Ken jadi nangis kan tuh." Kata Kenzie.


"Sudah, sudah siang sana kalian pergi kerja." Kata Naomi.


"Uh kesayangan Opah. Maafin Opah ya Devan. Opah pergi dulu ya sama Papa Devan." Rama merasa bersalah dan mengusap kepala Devan.


Rama dan Kenzie pergi bersama ke kantor. Walau satu kantor, Namun mereka berbeda tempat. Yuri dan Naomi masuk ke Devan. Yuri menyusui Devan yang masih sedikit menangis. Mendengar ada suara tangisan Devan, Kaira langsung keluar dan menghampiri keponakannya itu.


"Aduh, yang datang-datang nangis. Ada apa kesayangan Aunty?" Kaira langsung mengambil Devan yang sedang menyusu.


"Ma,, Ma,, Ma,," Devan menangis dan ingin kembali ke pangkuan Mamanya.


"Wah, kesayangan Aunty sudah bisa ngomong ya." Kaira tetap menggendong Devan.


"Ma,, Ma,, Ma." Devan menangis dan meminta ke Mamanya.


"Sini dulu saja, Aunty kangen banget loh sama Devan." Kata Kaira. Kaira langsung mengajak Devan ke kamarnya. Tinggal Yuri dan Naomi yang berada di kamar.


"Ri, apa kamu tidak ada kabar tentang Derry?" Tanya Naomi.


"Belum ada Bunda. Yuri juga sudah berkali-kali mencoba menghubungi Derry tapi gak bisa juga." Jawab Yuri.


"Kaira terus saja murung di kamar. Bunda sudah berkali-kali mengajaknya jalan. Tapi ia tetap saja memilih diam di rumah." Kata Naomi.


Yuri mempunyai ide yang sudah pasti Kaira belum tentu mau. Tapi Yuri ingin mencobanya dengan mertuanya. Yuri pun membisikkan rencananya. Naomi setuju dengan ide Yuri tapi kembali lagi ia juga tidak yakin akan berhasil.


"Kakak, Kak." Yuri mengetuk pintu.


"Kenapa Ri?" Tanya Kaira begitu membuka pintunya.


"Kak, temani aku yuk buat beli baju-baju Devan. Bajunya sudah kekecilan semua." Pinta Yuri.


"Ayo Kak, kalau sama Kakak kan ada yang bantu Yuri jaga Devan. Yuri juga gak pandai milih-milih baju yang bagus." Katanya lagi.


"Kenapa gak minta antar Bunda?" Tanya Kaira.


"Bunda katanya mau ikut kalau Kakak ikut. Kalau tidak ya Bunda juga tidak mau ikut." Jawab Yuri.


"Aduh, kesayangan Aunty makin chubby saja sih. Bajunya jadi pada kecil deh." Kata Kaira sambil mengajak Devan bercanda.


"Ya sudah, Kakak mandi dulu ya. Kamu siap-siap saja dulu sama Bunda. Bilang Bunda make up nya jangan lama-lama." Kata Kaira.


Yuri senang idenya berhasil. Namun sang korban fitnah pun hanya terdiam menatap mamanya. Padahal kemarin Yuri baru saja belanja pakaian untuk Devan. Ia tak lupa memberi tahu Naomi. Naomi pun senang mendengarnya. Ia langsung berganti pakaian dan berdandan.


Siang itu mereka pergi ke Mall untuk belanja. Kaira selalu tertawa melihat Devan. Devan pun senang setiap di ajak bercanda oleh Kaira. Ia bahkan melupakan kesedihannya sejenak.