
Yuri terus menjauh dari Kenzie. Kenzie gak mengerti dengan sikapnya. Mereka baru saja bertemu kembali tapi Yuri berubah.
"Ri, kamu kenapa?" Tanya Kenzie.
"Semalam aku menghubungi Tante Hani dan aku~" Kenzie menceritakan kisahnya semalam.
"Ri, kenapa kamu gak ngasih tau aku?" Tanya Kenzie.
"Aku khawatir dengan kamu Ri." Kata Kenzie.
"Khawatir? Khawatir atau asik dengan cewek lain Ken?" Yuri pun mengeluarkan emosinya.
"Apa maksud kamu Ri? Aku disini gak ngapa-ngapain. Aku setia sama kamu Ri. Aku sayang sama kamu Ri. Cuma kamu yang aku cinta." Kata Kenzie.
"Cinta? apa nempel dengan cewek lain bisa di katakan setia? bisa di katakan hanya aku yang kamu cinta Ken?" Air mata Yuri mengalir.
"Apa yang kamu maksud Ri? Aku gak ngerti, aku benar-benar hanya mencintai kamu." Kata Kenzie.
"Ken! Aku melihat sendiri dengan mata kepala aku sendiri Ken! Aku melihat kamu nyaman di dekati oleh cewek di kantin. Bahkan ia merangkul lengan kamu dan kamu membiarkannya." Jelas Yuri.
"Yesha? Dia bukan siapa-siapa aku Ri."
"Stop! bahkan aku tidak ingin mendengar namanya Ken! Kamu tahu sendiri kan? aku tidak suka memperebutkan seorang cowok. Aku takut untuk mendekati cowok yang di jadikan incaran setiap cewek Ken. Aku takut jika hidup aku terancam dan tidak tenang. Aku takut membahayakan diri aku Ken." Yuri meluapkan kesedihannya.
"Mulai saat ini kita putus Ken. Tolong jangan dekati aku lagi." Yuri meninggalkan Kenzie begitu saja. Tangisan Yuri pun pecah saat ia meninggalkan Kenzie.
Sampai di asrama, Yuri menghubungi Derry untuk minta izin tidak hadir. Derry pun menyetujuinya, karena memang Yuri sudah sebulan ini memilih lembur tanpa henti. Makanya bukan masalah jika Yuri meminta haknya untuk izin. Tapi Derry khawatir, karena ia tahu Yuri sering memakan makanan kadaluarsa. Ia khawatir dengan kesehatan Yuri.
Dua hari Yuri izin tidak kuliah dan tidak bekerja. Yuri hanya mengurung diri sendiri dengan lampu kamar yang selalu ia padamkan.
Terkadang Derry mengantarkan makanan untuknya agar ia dapat makan dengan baik. Begitu juga dengan Stella dan Wenda yang selalu menjenguknya, walau mereka tidak bertemu dengan Yuri. Tubuhnya terasa lemas, ia sama sekali tidak napsu makan. Yuri tidak membukakan pintu kamarnya untuk kedua temannya itu. Setiap malam akan terlihat sangat gelap.
Tiga hari Yuri mengurung diri. Kini ia mulai memulihkan mentalnya. Dirinya masih merasa lemas tapi Yuri terus memaksanya.
Derry datang ke gedung Yuri dan memberikan sebotol jus untuk Yuri. Setelah melihat Yuri meminumnya, Derry barulah kembali ke kelasnya. Ia ingin memastikan bahwa jusnya di minum dan Yuri mengkonsumsi vitamin.
"Gimana enak gak jus buatanku?" Tanya Derry.
"Lumayan, Aku sejujurnya kurang suka dengan jus buah dan sayur seperti ini. Tapi~"
"Tapi kamu harus minum ini. Ini mengandung banyak vitamin yang bagus untuk kesehatan kamu." Kata Derry.
"Siap pak dokter." Yuri kembali ke kelasnya.
"Beberapa hari ini, atasan kita datang untuk interview karyawan baru." Info Derry.
"Terus apa sudah dapat karyawannya?" Tanya Yuri.
"Sudah. Dia bapak-bapak dan dia baik banget." kata Derry.
"Kamu hari ini masuk tidak?" Tanya Derry.
"Masuk dong, nanti kalau lama izin yang ada aku bisa di pecat." Jawab Yuri.
"Bukan karena kangen sama makanan kadaluarsa kan?" Canda Derry.
"Apa yang merugikan mu Ri? Aku selalu membawakan mu makanan, begitu juga teman-temanmu. Tapi makanan itu gak kamu sentuh sama sekali." Derry agak kesal.
Yuri lupa kalau selama ia sakit, ia tidak pernah keluar kamar. Tapi tadi pagi dia tidak melihat makanan. Mau bingung tapi harus nanya sama siapa.
"Kak, aku ke kelas dulu ya. Terimakasih jusnya." Kata Yuri.
Yuri kembali ke kelas. Derry masih terus menatap Yuri dengan tatapan sedih. Pertama kalinya ia melihat seorang gadis seperti Yuri.
Di perpustakaan Kenzie sudah merapikan berkas-berkas yang di berikan ayahnya. Ia juga sudah mendapatkan karyawan baru. Namun geraknya terhenti ketika ia melihat map yang tertulis nama Yuri Handayani. Yuri tercatat sebagai karyawan baru yang bekerja di mini market miliknya.
"Yuri?" Kenzie memperjelas penglihatannya. Ia mendekatkan map itu untuk memastikan bahwa Yuri yang tertulis adalah Yuri yang ia kenal.
"Tolong izinkan aku hari ini." Ucap Kenzie saat menelpon salah satu temannya.
Kenzie pergi ke mini marketnya. Ia langsung memeriksa CCTV di ruang kontrol. Kenzie melihat CCTV sejak Yuri datang melamarnya. Saat itu, anak buah ayahnya yang menggantikan sementara posisi kepala cabang.
Kenzie melihat Yuri senang saat bekerja. Ia juga melihat kedekatan Yuri dengan teman satu shift nya. Kenzie kembali tak percaya ia melihat Yuri selalu memakan makanan kadaluarsa yang seharusnya di buang.
Peraturan mini market, jika makanan siap saji yang di jual sudah kadaluarsa, makanan tersebut harus di tarik dan di buang. Tapi yang ia lihat, bukannya di buang Yuri malah memakannya dan sebagian ia bawa pulang.
Tubuhnya melemah dan jatuh terduduk di kursi roda. Sesuatu yang membuatnya terpukul. Terlebih ia mengingat perkataan Hani. Bahwa Yuri mati-matian kerja keras sampai ia mendapatkan beasiswa di kampusnya, karena ingin selalu bersama dirinya. Tapi karena Yesha yang selalu menempel dengannya yang membuat Yuri menjauh darinya.
Kenzie buru-buru pergi sebelum Yuri datang. Tepat saat ia masuk ke dalam mobilnya, ia melihat Yuri jalan bersama teman satu shift nya. Kenzie terus menatap Yuri dari dalam mobil. Ia melihat semangat Yuri bekerja.
Ia pulang tanpa mampir ke kampusnya. Tubuhnya masih lemas, sehingga ia berjalan dengan lunglai. Naomi yang melihat anaknya duduk di sofa dengan lemas pun khawatir.
"Kamu kenapa Nak? Kamu sakit? Apa yang sakit? Kita ke dokter yuk." Naomi menyentuh dahi sang anak. Memastikan suhu tubuhnya.
"Hati Ken yang sakit, Bunda." Jawab Kenzie.
"Sakit kenapa?" Tanya Naomi.
"Ken sudah menemukan Yuri, Ken juga melihat Yuri bekerja di mini market milik ayah." Jawab Kenzie.
"Terus apa yang membuatmu sakit Ken? Apa dia selingkuh? atau mutusin kamu?" Tanya Naomi.
"Lebih dari itu Bunda. Ken melihat Yuri selalu memakan makanan kadaluarsa yang seharusnya di buang." Jawab Kenzie dengan air mata yang sudah jatuh membasahi sebagian hidungnya.
"Apa?" Naomi juga terkejut mendengarnya. Matanya berkaca-kaca. Selama ini yang ia tahu, Hani dan suaminya hidup berkecukupan dan tidak kekurangan apapun.
"Itu kenapa Tante Hani bilang, Yuri selalu mendapat makanan gratis dari kampusnya. Yuri tidak ingin membebani orang tuanya." Kata Kenzie.
"Lalu kamu diam saja?" Tanya Naomi.
"Aku bisa apa Bunda? Yuri bahkan sudah mulai menjauh sejak ia melihat Yesha selalu menempel denganku." Jawab Kenzie.
"Kalau Yuri cinta sama kamu. Dia pasti akan melawan Yesha Ken. Mungkin memang dia sudah tidak mencintaimu lagi." Kata Naomi.
"Engga Bunda, Bunda salah," Kenzie menceritakan kondisi yang di alami Yuri.
"Kasihan sekali Yuri. Pasti ia merasa sendiri di negara ini. Kalau Hani tahu kondisi yang sebenarnya, ia pasti akan membenci Bunda." Ungkap Naomi.