
"Ri, aku belum meninggalkan jejak di bajumu!" kata Marsha.
Marsha menyemprotkan pewarna pada kain pelindung baju seragam Yuri. Iya, mama Hani melarang Yuri untuk merusak seragamnya dengan mencoret-coret. Sehingga Yuri membeli kaos berwarna putih.
"Kevin?" Yuri tak menyangka Kevin akan membuat gambar hati yang besar di seragam Marsha bagian belakang.
"Kenapa Ri?" tanya Marsha.
Kevin tak ingin keduluan oleh Yuri. Ia bertekuk lutut di hadapan Marsha. Sebelumnya, setelah ia membuat gambar hati, Kevin memotretnya.
"Sha, kamu harus mau jadi pacar aku ya!" ungkap Kevin sambil menunjukkan gambar yang ia gambar.
"Loh? kok malah maksa sih Vin?" tanya Yuri.
"Biar dia gak ada pilihan Ri." jawab Kevin.
"Tanpa kamu paksa, aku mau kok." Mereka berdua berpelukkan di depan Yuri.
"Ehem." Yuri berdehem.
Satu tahun berlalu, di hari kelulusan. Yuri, Marsha dan Kevin naik ke rooftop. Mereka menikmati momen di hari terakhir mereka berada di Rooftop.
Mereka merapikan rooftop agar terlihat indah dan rapi. Tempat mereka berteduh tak sedikitpun mereka sentuh. Mereka membiarkan tempat mereka agar tetap seperti itu.
"Aku sudah menduplikat kunci yang baru. Aku berikan ke kalian sebagai kenang-kenangan." Marsha menyerahkan kunci duplikatnya ke Kevin dan Yuri.
Ponsel Yuri berdering. terlihat nama Nathan di layar ponselnya. Yuri mengangkat telponnya. Yuri menarik tasnya yang ada di meja kecil.
"Aku duluan ya. Nathan mencari ku." Yuri pulang lebih dulu.
"Ciye, yang sudah move on dari Kenzie." canda Marsha.
Yuri turun dan menuju ke pintu gerbang. Ia melihat Nathan dengan motor besarnya menunggunya. Belum sampai di pintu gerbang, Prisa memanggilnya.
"Ri! tunggu dulu!" Prisa dan Jimmy menghampiri Yuri.
"Kita belum meninggalkan jejak." Lanjutnya.
Prisa dan Jimmy bergantian meninggalkan jejak dengan menuliskan 'PJ Couple' yang di kurung dengan sebuah hati. Begitu juga dengan Yuri, secara bergantian ia menuliskan namanya dan pesannya untuk Jimmy dan Prisa.
"Biar kamu gak lupa untuk undang aku di pernikahan kalian nanti." kata Yuri.
"Baru juga lulus Ri. Aku masih ingin menikmati masa kuliahku dulu dan menikmati masa mencari kerja." balas Prisa.
"Eh, kamu anak sultan gak perlu kerja juga udah banyak duit kamu. Udah aja langsung nikah sama Kak Jimmy." kata Yuri.
"Aku ikuti gimana Prisa saja Ri." sahut Jimmy.
"Baiklah, kalau gitu aku duluan ya. Nathan sudah nunggu aku dari tadi, Bye." Yuri melambaikan tangannya.
Kini ia bersama Nathan. Bukan, bukan menerima cinta Nathan. Ia menghampiri Nathan yang sedari tadi menunggunya.
Yuri memang sudah menolak cinta Nathan. Tapi, semenjak tidak ada Kenzie. Nathan masih terus mengejar cinta Yuri. Nathan yang selalu ada di sampingnya setelah Kenzie pergi.
"Thanks ya Than." ucap Yuri.
"Santai aja kali Ri," kata Nathan.
"Aku gak tau, yang pasti aku mau kerja dulu buat meringankan orangtuaku." Jawab Yuri.
Melihat suasana kampus, ada keinginan Yuri untuk kuliah. Tapi apa boleh buat, dia masih memiliki adik yang baru saja memasuki tahun ajaran pertama di Sekolah Menengah Atas. Ia tidak ingin menambah beban orangtuanya.
"Yur, ada tamu di sebelah sana. Kamu bersihkan dulu mejanya sana!" perintah Meri, senior Yuri di tempat kerjanya.
Yuri mulai bekerja di sebuah cafe yang terletak di depan sebuah kampus swasta yang bergengsi. Kampus yang berisi orang-orang kaya. Mahasiswa lulusan kampus tersebut mampu melahirkan generasi yang maju dan menjadi pesaing yang unggul.
Kampus tersebut hanya ada jurusan seni baik seni desain, seni musik, seni peran dan seni lainnya. Selain itu masih ada jurusan programmer dan sastra. Sebagian mahasiswa masuk tersebut karena ingin memperdalam hobi mereka dan memperluas ilmunya agar hobi mereka semakin bermanfaat.
"Hey, melamun saja! Ada apa Yur?" tanya Melani seniornya yang berbeda dari yang lain.
"Eh Kak Meli. Gak ada cuma lihat mereka yang beruntung bisa langsung kuliah saja." jawab Yuri.
"Udah gak usah di lihatin. Nanti jadi timbul iri loh." Kata Melani.
Melani senior Yuri yang sudah lama bekerja di cafe tersebut. Melani memang memiliki sifat yang lembut. Berbeda dengan Meri yang memang suka mengeluh dan sombong pada juniornya.
"Eh Yur, kamu ngapain pada disini? Ayo kerja lagi!" Ucap Meri dengan judes. Ia tidak berani menegur seniornya. Bahkan tak jarang Meri selalu bersikap lembut pada seniornya agar mendapat pujian.
Cafe akan ramai setiap jam makan siang hingga malam hari. Banyak mahasiswa yang menikmati waktu bersantai mereka di cafe tersebut. Karena cafe tersebut tidak terlalu besar dan tidak terlalu banyak menu. Karyawan di cafe tersebut juga tidak banyak. Sehingga tidak ada pergantian shift.
Malam hari, selesai bekerja Yuri langsung memesan ojek online. Dirinya masih belum bisa membawa kendaraan roda dua. Ia menunggu di depan cafe yang sudah gelap.
Begitulah Yuri setelah lulus sekolah. Ia memutuskan untuk bekerja sambil membantu orangtuanya membiayai Keenan sekolah. Ia masih memiliki keinginan untuk kuliah. Tapi ia mengerti kondisi kedua orangtuanya. Ia selalu menyembunyikan keinginannya untuk kuliah.
Bukan karena kedua orangtuanya tidak bisa membiayainya kuliah. Hanya saja biayanya akan semakin bertambah. Ia melihat papanya yang selalu kerja keras untuk membiayai dirinya dan Keenan sekolah. Bahkan sesekali Papanya suka menerima pekerjaan tambahan.
Sebulan ia bekerja di cafe sebagai waiters. Ya walaupun ia sedikit tidak nyaman dengan sikap Meri yang suka menyuruh ini itu. Tapi masih ada Meli dan yang lainnya yang selalu baik padanya.
"Eh Yur, tolong meja empat sama meja tujuh di gabungin ya. Ada yang reservasi untuk acara gitu." perintah Meri.
Belum selesai ia merapikan meja, Meri sudah memintanya untuk mengantarkan pesanan ke meja lain. Begitu seterusnya sampai Cafe terlihat sepi. Yuri kembali merapikan sudut kanan dan menghias sudut kanan untuk acara yang akan di adakan sore hari.
Ia kembali memastikan pesanan untuk acara nanti sudah di siapkan oleh chef dan barista. Sedangkan Meri asik sendiri sambil berfoto selfie di meja yang sudah Yuri hias.
"Pasti yang ngadain acara cowok ya?" tanya Melani.
"Tapi tadi yang booking seorang gadis cantik." jawab Fitri.
"Pasti pacarnya itu mah." sahut Jihan.
"So sweet banget sih." Kata Melani.
Sore hari, gadis tersebut kembali datang ke Cafe. Ia menyerahkan Kue bertingkat ke Fitri. Gadis itu meminta Fitri untuk membawanya nanti ketika mendapat kode dari gadis itu.
satu jam berlalu, gadis itu kembali datang bersama teman-temannya dan juga seorang pria dengan mata tertutup. Jika dilihat dari postur tubuhnya, Pria tersebut pasti tampan. Tubuhnya terlihat pas, berkulit putih terawat dan rambutnya yang rapi.
Gadis itu memberi kode pada pelayan. Yuri membawakannya dan menyerahkannya pada gadis tersebut. Cafe menjadi ramai ketika mereka mengucapkan kata 'Surprise'.
Selesai memberi surprise, Yuri dan yang lain mulai mengeluarkan menu makanan yang telah di pesannya.
"Yuri!" sapa si yang punya acara.