Untitled Love

Untitled Love
Ep 100



Pertama kalinya mereka ikut ke kantor. Hani dan Yuri duduk di sofa sambil menonton drama Korea di laptop. Ya, ruangan Kenzie tidak seperti ruangan para CEO ternama. Rama tidak menyediakan ruang istirahat. Hanya ada satu sofa panjang dan dua sofa kecil.


Devan duduk manis di pangkuan Papanya. Dengan tenang Kenzie menyelesaikan beberapa berkas yang harus ia tanda tangan. Tak lama seseorang mengetuk pintu Kenzie. Rama masuk ke ruangan Kenzie.


"Wah, sedang ramai ya." Kata Rama.


"Nah, begini kan enak. Kerja sambil bawa anak istri." Lanjutnya.


"Yah, Yuri jadi gak enak nih. Mama minta ikut, kesepian katanya." Kata Yuri.


"Iya gak apa-apa, wajar lah ya Bu. Namanya juga kita sudah bertahun-tahun hidup berdampingan. Pasti berasa sepi, jangankan pergi selamanya. Baru sehari jauh saja pasti berasa sepi." Jawab Rama.


"Tadi sih katanya Naomi mau kesini. Sepertinya masih berada di jalan." Kata Rama.


"Tuh Ma, nanti ada Bunda." Sahut Yuri.


"Iya, Mama dengar tadi." Balas Hani.


Rama membicarakan tentang pekerjaan bersama Kenzie. Hani dan Yuri masih asik nonton drama Korea. Sedangkan Devan sudah tertidur di pangkuan Kenzie.


"Suruh kesini saja." Kata Rama pada Frans.


"Kenapa Yah?" Tanya Kenzie.


"Bunda kamu sudah di bawah." Jawab Rama.


"Oh iya Ken, setelah ini kita ada meeting ya sama Hermans." Kata Rama.


"Wow! Keren! Oke Yah." Jawab Kenzie.


Hermans adalah Brand ternama yang ingin bergabung di Mall mereka. Semakin banyak Brand ternama di Mall mereka maka Mall mereka akan terbilang Mall mewah. Tak hanya Hermans, tapi masih ada beberapa Brand terkenal lainnya yang sudah bergabung di Mall mereka.


"Hei Jeng." Sapa Naomi saat masuk.


"Hai Jeng Naomi." Balas Hani.


"Hei Jeng, ketemu juga ya kita disini. Main dong Jeng ke rumah." Ajak Naomi.


"Jeng, Minggu depan ke rumah aku ya. Ada acara perkumpulan gitu. Nanti aku kenalin ke teman-teman aku." Lanjut Naomi.


"Tuh Ken, begitulah wanita. Makanya kita harus kerja keras buat membahagiakan mereka." Bisik Rama.


"Untungnya Yuri gak suka kumpul-kumpul geng sosialita." Balas Kenzie.


"Yah, belum saja. Nanti kalau dia sudah banyak teman, apalagi istri-istri rekan kerja kita kalau sudah se frekuensi, kelar sudah tiada hari tanpa bergosip." Bisik Rama.


"Sudah yuk Yah, nanti mereka nunggu lama." Ajak Kenzie.


"Yah, Bunda mau ke bawah dulu ya sama Jeng Hani. Yuri mau ikut gak?" Tanya Naomi.


"Engga bunda, Yuri disini saja." Jawab Yuri.


Naomi dan Hani pun keluar. Mereka ingin berbincang di kantin. Kantin di perusahaan tersebut memang terkenal mewah dan enak-enak.


"Sayang, aku meeting dulu ya. Kamu disini saja, kalau ada apa-apa bilang saja ke sekertaris aku ya." Kata Kenzie sambil memindahkan Devan ke pangkuan Yuri.


Devan menangis saat berada di pangkuan Yuri. Ia ingin kembali ke gendongan Kenzie. Kenzie pun bingung, ia harus ikut rapat bersama Ayahnya.


"Pa,, Pa,, Pa,," Devan menangis sambil mengulurkan kedua tangannya.


"Devan sama Mama dulu ya. Papa mau kerja dulu." Kata Yuri.


"Pa,, Pa,, Pa,," Devan tak mendengarkan perkataan Yuri.


"Anak Papa yang tampan. Papa kerja dulu sebentar ya." Kenzie menggendong Devan sebentar. Namun saat ingin di pindahkan kembali, Devan memegang erat kerah kemeja Kenzie.


"Pa,, Pa,, Pa,," Devan menangis sambil berteriak.


"Devan, Papa mau kerja dulu. Papa gak lama kok Dev." Yuri membujuk Devan. Tapi ia tetap tidak ingin melepaskan genggamannya.


"Iya sudah, Devan mau ikut Papa?" Tanya Kenzie. Devan menganggukkan kepalanya.


"Yah," Kenzie melirik ke Ayahnya.


"Gak apa-apa bawa saja. Devan juga anaknya baik." Jawab Rama.


Kenzie membawa Devan untuk bertemu dengan Klien. Yuri sudah menggantikan pakaian Devan dan mendandaninya dengan bedak baby. Tak lupa ia juga menyemprotkan parfum di baju Devan.


Mereka menuju ke ruang rapat. Devan senang sekali bisa ikut bersama Papanya. Sepanjang perjalanan Devan selalu tebar pesona pada semua karyawan. Tak jarang dari mereka memuji ketampanan Devan. Bahkan ada yang menggodanya.


"Astaga, jadi ini niat kamu ikut Papa?" Tanya Kenzie pada Devan.


"Nak, Papa gak pernah loh tebar pesona seperti kamu. Sekalinya pernah itupun hanya sama Mama kamu loh." Kata Kenzie.


Jarak yang tidak terlalu jauh, mereka masuk ke ruangan meeting. Lebih kagetnya lagi, Klien mereka heran pertama kalinya orang meeting sambil membawa anak. Kenzie pun meminta maaf pada klien tersebut.


Sepanjang meeting Devan nampak pendiam. Seakan ia mengerti keinginan Papanya. Devan terkadang mengeluarkan senyuman mautnya. Rapatnya pun berakhir dengan lancar.


"Anak Papa pintar sekali tidak menangis." Puji Kenzie.


"Devan, kita jalan-jalan yuk nyusul omah." Ajak Rama.


"Pa,, Pa,, Pa,," Devan mengulurkan tangannya. Ia hanya ingin bersama papanya.


"Devan sama Opah dulu ya. Kasihan Mama di tinggal." Kata Kenzie.


"Ma,," Panggil Devan.


"Iya, Papa jemput Mama kamu dulu ya." Jawab Kenzie. Devan menganggukkan kepalanya.


Akhirnya Devan mau ikut Rama turun ke kantin. Ia menyusul istrinya ke kantin. Karena sudah jam makan juga, ia sudah mulai lapar. Kenzie kembali ke ruangannya untuk mengajaknya ke kantin.


Di ruangan Kenzie, Yuri sedang asik berbalas pesan pada Marsha. Seorang wanita datang dengan membawa beberapa berkas. Ia masuk dan meletakkan berkas tersebut di atas meja.


"Jadi ini istrinya Pak Kenzie. Cantik Kan juga Klara daripada dia." Ketus wanita itu. Yuri tidak menggubris ucapannya. Ia tetap lanjut membalas pesan Marsha. Memang sakit tapi ya sudahlah. Baginya itu tidak penting.


"Sombong banget sih. Cantik enggak sombong iya." Katanya lagi.


"Paling juga hanya memanfaatkan Pak Kenzie. Secara Pak Kenzie itu tampan, tajir pula." Wanita itu masih memancing emosi Yuri.


"Maaf, anda siapa ya? Jika sudah tidak ada keperluan, anda bisa keluar." Kata Yuri.


"Oh bisa bicara juga. Aku kira kamu bisu tidak bisa bicara." Balas wanita itu.


"Pekerjaan kamu itu hanya mengomentari hidup orang saja ya? Kasihan sekali." Kata Yuri.


"Terus kenapa? Memang benarkan? Kamu hanya memanfaatkan Pak Kenzie. Hah!" Wanita itu membuat Yuri kesal.


"Kalau memang benar kenapa? Wajar dong istri memanfaatkan suaminya. Daripada wanita seperti temanmu itu. Bukan siapa-siapa tapi memanfaatkan suami orang!" Balas Yuri.


"Atau jangan-jangan anda juga wanita seperti itu? Suka menggoda suami orang." Lanjut Yuri.


"Apa kamu bilang?!" Wanita itu mengangkat satu tangannya.


"Kenapa? Pukul saja! Itu membuktikan bahwa omonganku benar." Tatapan Yuri menajam.


"Hentikan!" Teriak Kenzie dari pintu.


"Fani! berani sekali kamu memukul istri saya!" Bentak Kenzie.


"Dia,,"


"Saya gak butuh jawaban dari kamu! Saya sudah mendengarnya dari luar!" Kata Kenzie. Kenzie menarik Fani ke luar. Seketika beberapa karyawan mendekat dan melihat keributan antara Kenzie dengan Fani.


"Tapi Pak,"


"Saya sudah mendengar semuanya! Kamu menghina istri saya!" Kenzie membentak Fani.


"Bagi siapapun yang berani mengganggu istri saya, saat itu juga akan saya pecat! Termasuk kamu Fani, mulai saat ini kamu saya pecat!" Lagi-lagi Kenzie mengakhiri perkataannya dengan hentakan. Kenzie juga mendorong Fani hingga terjatuh ke lantai.


Cukup ia di manfaatkan oleh Klara. Ia tidak ingin kehilangan istri dan anaknya. Kenzie kembali masuk dan mengajak Yuri pergi ke kantin.