Untitled Love

Untitled Love
Ep 22



Menegangkan sekali penampilan kali ini. Suasananya melebihi saat mereka tampil di gedung seni.


Seluruh murid baru yang menjadi juri mereka saat ini. Kesuksesan mereka dapat terlihat jika banyak murid yang ikut bergabung di ekskul mereka.


Sama seperti tahun lalu, Jimmy mengawali pembukaan, di lanjutkan dengan temannya yang lain dan di sambung dengan ekskul lain. Ekskul Teater di jadwal sebagai penampilan penutup.


Berbagai macam kegiatan ekskul sudah tampil. Dari paskibra, Pramuka, pecinta alam, dance, band, English club, paduan suara, basket, volly, sepak bola, beladiri hingga ekskul seni melukis sudah tampil dengan sempurna.


"Semangat ya semua! Kita bisa menampilkan yang terbaik!" Sena memberi semangat untuk anggotanya.


Satu-persatu sudah keluar ke tengah lapangan. Tinggal Yuri yang masih menunggu giliran untuk keluar. Alunan Drum memberikan aba-aba keluarnya Yuri. Yuri keluar di sertakan alunan Drum dan gitar. Membuat semua penonton bersorak kagum. Begitu juga dengan semua para guru yang ikut menari di pinggir lapangan.


"Yuri keren ya. Aku gak menyangka kalau Yuri bisa bermain dengan sempurna." Ucap Marsha yang sedang berdiri di samping Kenzie.


Mereka bertiga menyaksikannya melalui rooftop. Banyak di antara mereka yang mengabadikan penampilan ekskul Teater.


Penampilan mereka menandakan bahwa acara telah selesai. Seluruh anggota ekskul bergabung ke tengah lapangan. Begitu juga ekskul band yang ikut berkumpul. Alunan musik tergantikan oleh musik rekaman.


Sangat menakjubkan, membuat semua murid baru kagum dan senang menyaksikan penampilan mereka. Begitu juga para guru begitu melihat murid-muridnya tampil.


"Kerja bagus semua! Terimakasih ya Ri, saran kamu bagus banget. Mungkin selanjutnya, kamu yang akan menjadi ketua." Kata Sena.


"Aku setuju jika Yuri jadi ketua. Apalagi, kita semua bakal sibuk dengan ujian-ujian. Kita gak bisa aktif seperti sekarang." Sambung Lily.


Mendapat usulan seperti itu senang pastinya. Tapi tidak bagi Yuri. Dia terlihat murung mendengarnya.


"Kamu kenapa Ri?" Tanya Sena.


"Jujur sebenarnya aku senang. Tapi aku gak bisa jika harus menjadi ketua atau apapun di ekskul." Yuri menjelaskan alasannya kenapa ia tidak ingin menjadi ketua atau mendapat jabatan di ekskul.


"Aku hanya bisa mendukung dari belakang saja. Mungkin setelah ini aku juga tidak bisa seaktif kemarin Kak." Lanjut Yuri.


"Maaf kalau aku sudah mengecewakan kalian." Yuri merasa tak enak hati telah menolaknya.


Sena, Yuri dan yang lainnya mulai berkeliling menawarkan ekskul mereka. Satu-persatu kelas mereka kunjungi. Banyak sekali murid yang memuji penampilan mereka, ketika mereka masuk ke kelas.


Ada juga yang mulai merayu Yuri, Lily dan juga Nathan. Penampilan mereka yang membuat mereka di sanjung adik kelas. Bahkan ada beberapa yang berani menanyakan nomor WhatsApp Yuri juga Nathan.


Sedangkan Lily, mulai sibuk dengan para adik kelas yang meminta foto padanya. Selama mempromosikan ekskul mereka. Sudah banyak yang daftar secara langsung untuk bergabung.


Ternyata hal ini membuatnya lelah. Walau begitu, ia tetap senang bisa tampil bersama Jimmy. Iya, Yuri senang karena ini pertama kalinya mereka tampil bersama. Sayangnya, kini perasaan Yuri tidak lebih sekedar mengaguminya saat bermain alat musik. Hatinya tak lagi memilih Jimmy.


"Ri, aku ada minum nih. Kamu pasti capek banget ya. Kalau aku ikut gabung di ekskul Teater udah terlambat belum sih?" Tanya Prisa.


"Engga kok, kamu mau ikut gabung?" Tanya Yuri. Prisa menganggukkan kepalanya.


"Langsung datang aja ya besok sepulang sekolah." Lanjutnya.


***


Prisa mengikuti Yuri ke ruang Teater. Sebelum ia mengenalkan Prisa. Sena, Lily, Gwen dan Gerry sudah lebih mengenalnya.


"Kamu tunangannya Jimmy kan?" Tanya Gwen dengan polosnya.


"Ternyata berita kami sudah tersebar luas ya Kak?" Prisa menjawab balik sambil melirik Yuri.


Prisa dan anggota lainnya memperkenalkan diri mereka. Begitu juga dengan Yuri, ia memperkenalkan dirinya di depan anggota baru.


Di hari pertama mereka ekskul, hanya masa perkenalan. Seperti tahun lalu, momen yang mereka tunggu juga sudah terjadwal kan. Jadwal lomba sudah mereka catat di papan kecil. Masih ada waktu lama untuk bersantai sambil berlatih naskah.


Anggota baru juga turut berlatih membaca naskah. Berulang kali mereka lakukan, sesekali mereka juga melatih intonasi mereka dan juga membaca naskah secara berpasangan.


Karena baru hanya Yuri yang mengenalnya, maka Prisa meminta Yuri. Yuri pun bingung karena merasa canggung.


Selesai latihan, Yuri pulang bareng Kenzie. Yuri menaiki motor milik Kenzie. Yuri tidak diizinkan untuk mengendarai motor. Tak hanya Yuri, Keenan pun juga turut di larang untuk membawa motor.


"Terimakasih ya Ken." Ucap Yuri.


"Santai aja kali." Jawab Kenzie.


"Ri." Panggil Kenzie.


"Ah, iya." Yuri berbalik.


"Hem, gimana?" Tanya Kenzie.


"Hah? Gimana apanya?" Yuri bertanya balik.


"Kamu sama Jimmy." Jawab Kenzie.


"Oh itu, biasa aja. Sepertinya aku sudah move on." Balas Yuri.


Kenzie tersenyum tipis mendengar jawaban Yuri. Ia merasa bahagia jika Yuri sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Jimmy.


"Baiklah kalau begitu, aku pulang ya. Jangan rindu sama aku ya." Kata Kenzie dengan senyuman mautnya.


***


Pagi hari, Marsha sudah bermain di kelas Yuri. Seperti biasa ia menceritakan kisahnya yang bertemu mantan saat pulang sekolah kemarin.


"Hai Ri, hai Sha." Sapa Prisa.


Yuri terkejut melihat perubahan Prisa. Rambutnya yang ikal dan panjang sudah berubah menjadi lurus dan pendek. Prisa yang biasanya menggerai rambutnya kini menguncinya persis seperti Yuri.


"Kenapa? Bagus gak rambut aku?" Tanya Prisa.


"Bag~bagus kok. Ya kan Sha?" Jawab Yuri.


"I~iya bagus kok." Marsha memasang wajah senyum terpaksa.


"Aku bosan dengan model rambutku ya seperti itu terus." Prisa menjelaskan bahwa dirinya bosan dengan model rambutnya.


"Oh iya Ri, weekend ini aku main ke rumah kamu boleh gak? Aku mau belajar masak sama kamu." Pinta Prisa.


"Hah? Apa?" Yuri sontak kaget.


"Iya, boleh gak?" Tanya Prisa.


"M~mbak aku lagi cuti kerja. Dia sedang balik ke kampung." Yuri mencari alasan.


"Iya gak apa-apa. Kan masih ada kamu atau Mami kamu." Prisa kekeh ingin main ke rumah Yuri.


"Bai~baiklah." Mau tak mau Yuri mengizinkan Prisa ke rumahnya.


Yuri merasa risih dengan Prisa. Ia tidak suka ada temannya yang memaksa untuk datang ke rumahnya. Hanya orang tertentu yang boleh ke rumahnya. Terlebih rumahnya sangat beda jauh pastinya dengan rumah Prisa.


Entah apa maksudnya, Prisa hanya orang baru yang datang di kehidupan Yuri. Dia bahkan tidak seakrab seperti Marsha. Prisa baru dekat dengan Yuri sejak mereka satu kelas dan duduk bersebelahan.


"Ri, kamu ngerasa ada yang aneh gak sih sama Prisa?" Bisik Marsha saat mereka berada di Rooftop.


"Apa yang aneh? Aku gak ngerasa apa-apa." Jawab Yuri.