
Selesai memberi surprise, Yuri dan yang lain mulai mengeluarkan menu makanan yang telah di pesannya. Satu-persatu menu mereka keluarkan. Di mulai dari makanan pembuka dan minuman.
"Yuri!" sapa si yang punya acara. Yuri berhenti menuangkan air ke gelas.
"Nathan?" Yuri mengenalinya.
Yuri kembali menuangkan air sampai selesai. Ia melanjutkan pekerjaannya. Karena acara tersebut tak membooking seluruh Cafe, maka sisanya masih terbuka untuk umum. Dari kejauhan Nathan terus memperhatikan Yuri yang sibuk mondar-mandir.
"Nath, gimana? kamu suka?" Tanya gadis tersebut.
"Terimakasih ya Gris, aku suka." jawab Nathan.
Ya, gadis tersebut bernama Grisella. Dia gadis yang membooking tempat untuk merayakan ulangtahun Nathan. Dia juga yang meminta tempat tersebut di hias seperti yang Yuri buat.
"Aku masih punya satu hadiah lagi untuk kamu." kata Grisella.
"Aku dengar dari mama kamu, kalau kamu sedang ingin mainan ini. Jadi aku membelikan mu ini." Grisella memberikan kadonya yang tak ia bungkus.
"Terimakasih ya Gris. Kamu bawa aku kesini saja aku sudah senang." ucap Nathan.
Ya, Nathan sangat berterimakasih. Berkat Grisella ia dapat bertemu Yuri. Setelah lulus, Yuri jarang sekali membalas chat darinya. Bahkan ia tak tahu jika Yuri bekerja di Cafe depan kampusnya.
"Ri, sini!" Panggil Nathan.
"Kamu ikut gabung disini yuk." Nathan menggebukan kursi kosong yang ada di sebelahnya.
"Ah, aku masih banyak kerjaan Than. Kamu lanjut saja acaranya." jawab Yuri.
"Oh iya Gris, kenalin ini Yuri. Yuri kenalin ini Grisella." Nathan memperkenalkan Yuri pada Grisella.
"Yuri ini yang pernah aku ceritain saat SMA." kata Nathan.
Rumah mereka saling bersebelahan. Setiap hari Nathan dan Grisella selalu belajar bersama walau mereka dari sekolah yang berbeda. Mereka sering bertukar cerita.
Mengingat Nathan selalu menceritakan bahwa dirinya jatuh hati pada Yuri. ekspresi Grisella kembali berubah. Nathan memang tak menyadari. Tapi Yuri menyadari bahwa Grisella tidak suka padanya.
"Hai, aku Grisella." Grisella mengulurkan tangannya.
"Aku Yuri. Kalau begitu aku lanjut kerja lagi ya Than. Maaf ya gak bisa ikut gabung." Yuri kembali kerja.
Selesai acara, Nathan dan Grisella pulang bersama. Meri mulai mendekati Yuri. Ia mulai penasaran dengan hubungan Yuri dan pria yang tadi datang.
"Kamu kenal sama yang tadi?" tanya Meri.
"Ya kenal lah, kalau gak kenal ngapain juga dia manggil Yuri." sahut Fitri.
"Eh Fit, aku kan nanya Yuri. Kenapa kamu yang jawab?" Meri kesal.
Pulang kerja, Yuri kembali memesan ojek online. Beberapa kali pesanannya di tolak. Karena memang cuaca sedang hujan deras. Cafe sudah terlihat gelap, kanan kiri terlihat sepi.
Sorotan lampu mobil membuat Yuri menghalangi cahayanya dengan tangan sebelah. Seorang tamu datang di saat cafe sudah tutup. Mobil tersebut berhenti di pintu pagar depan Cafe. Seseorang keluar sambil membuka payung.
"Ri, aku antar yuk!" ucap Nathan.
Orang tersebut adalah Nathan. Kini ia membawa mobil berwarna hitam. Ia juga membawa payung berwarna biru dan menghampiri Yuri.
"Ah, gak perlu Than. Gak usah repot-repot." jawab Yuri.
"Sudah ayo." Nathan menarik tangan Yuri hingga membawanya masuk ke dalam mobil.
"Selamat ulangtahun ya Than." ucap Yuri.
Nathan membawanya ke sebuah restoran yang berada di tengah kota. Entah karena sudah malam atau karena cuaca yang sedang hujan. Restoran tersebut terlihat sepi. Nathan menuntun tangan Yuri.
"Aku rasa restorannya sudah tutup Than." Yuri ragu.
Nathan tetap saja menggandeng Yuri masuk ke dalam restoran tersebut. Sampai di depan pintu, dua orang pelayan menyambut kedatangan mereka. Pelayan lain mengarahkan mereka untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan.
Yuri melihat buku menu yang di berikan pelayan tadi. Ia bingung harus memesan apa. Ia kembali menutup buku menu dan meletakkan buku menu itu ke meja.
"Aku ngikut aja deh." kata Yuri.
Selesai makan, Nathan tak langsung mengajak Yuri pulang. Ia meminta salah satu pelayan untuk mengambil gambar mereka berdua. Nathan langsung mengubah gambar di ponselnya dengan gambar yang baru saja di ambil.
"Hari ini, di hari ulangtahun aku. Aku bisa mendapatkan sesuatu yang sangat spesial." kata Nathan.
"Wah, Grisella memang hebat ya. Pasti dia sangat mencintai kamu ya Than?" tanya Yuri.
"Kok dia? yang spesial di hari ini tuh ya ini. Aku bisa makan malam berdua sama kamu," kata Nathan.
"Coba deh kamu ingat-ingat. Dulu apa pernah kita bisa makan berdua seperti ini?" tanya Nathan.
Dulu Yuri tetap memberi jarak pada Nathan. Ia tidak ingin Nathan terlalu berharap. Sama seperti yang ia lakukan saat ini. Ia tetap tidak ingin sikapnya membuat Nathan kembali berharap.
"Aku tau, kamu selalu berusaha untuk jaga jarak dengan aku. Sejak aku menyatakan cintaku padamu," bahas Nathan.
"Aku juga selalu berusaha untuk menghilangkan perasaan ini. Tapi semakin aku mencoba maka akan semakin bertambah rasa cinta aku Ri." ungkap Nathan.
"Aku harap kamu tidak semakin menjauh dari aku Ri." Nathan meraih kedua tangan Yuri.
"Semakin kamu menjauh, aku akan semakin menginginkanmu Ri." lanjut Nathan.
"Maafkan aku Than." Yuri merasa bersalah tidak bisa membalas cintanya.
Nathan sudah sangat baik padanya. Bahkan Nathan selalu berada di sampingnya. Tapi Yuri benar-benar tidak bisa menerima Nathan. Hanya ada Kenzie yang ada di hatinya.
"Sudah yuk, besok kamu kerjakan?" tanya Nathan.
Nathan mengantar Yuri sampai ke depan rumahnya. Ia terus menunggu hingga Yuri masuk ke dalam dan tak terlihat lagi. Nathan tak langsung pergi, ia masih sangat merindukan Yuri.
"Ri, seandainya saja aku lebih dulu bertemu denganmu. Pasti kita sudah bahagia berdua." lirih Nathan.
Hari libur membuat Yuri malas untuk keluar kamar. Ia meminta Keenan untuk mengajarinya mengendarai sepeda motor. Hani masih melarang anaknya untuk membawa sepeda motor. Hanya saja, jika tidak seperti itu gajinya hanya habis untuk di ongkos saja.
Yuri mengendarai motor secara perlahan. Baginya tak cukup jika hanya berlatih di lahan kosong. Yuri membawa motor tersebut keluar dari perumahan. Namun tiba ia keluar tanpa melihat kanan kiri, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menyerempet dirinya hingga terjatuh ke selokan.
"Kakak!" teriak Keenan.
"Yuri! Kamu tidak apa-apa?" Nathan datang disaat Yuri bermandikan air selokan.
"Kak, kok bisa berenang disini sih?" tanya Keenan.
"Ih, berisik! Ayo bantuin kakak." pinta Yuri.
"Sini biar aku yang membantumu." Nathan menarik tubuh Yuri agar keluar dari selokan.
"Maaf ya merepotkan kamu lagi." ucap Yuri.
"Gak apa, kebetulan aku ingin ke rumah kamu tadinya." jawab Nathan.
Nathan membantu Keenan membawa Yuri pulang. Nathan kembali mengambil mobilnya yang tadi sempat terparkir di depan perumahan.