
Pertama kali Yuri bertemu Pak Moko kepala cabang yang baru. Pak Moko langsung menyapa Yuri yang datang bersama Derry. Derry memperkenalkan Yuri pada Pak Moko.
"Pak, ini Yuri. Rekan satu shift saya." Kata Derry.
"Oh ini yang namanya Yuri. Wah pantas saja Derry semangat mulu kalau kerja. Tapi tiba sendiri diam aja termenung di depan." Balas Pak Moko sambil menunjuk meja bundar yang ada di luar swalayan.
"Ya namanya juga lagi sepi masa iya mau jungkir balik Pak?" Tanya Derry.
"Pak Moko orang Indonesia juga?" Tanya Yuri.
"Saya asli sini. Anak saya yang sekolah di Indonesia. Saya selalu minta ajari dia bahasa Indonesia." Kata Pak Moko.
"Terus dia dapat istri orang Indonesia dan tinggal disini. Jadi saya bisa lancar bahasa Indonesia." Lanjutnya.
"Setahu saya, yang punya toko ini juga orang Indonesia dulunya. Namanya Pak Rama." Tambah Pak Moko.
Mereka ngobrol sambil melakukan pekerjaan mereka. Yuri dan Derry juga senang mendengar cerita Pak Moko. Sesekali Pak Moko membuat mereka tertawa. Sesekali mereka juga sedih mendengar kisah Pak Moko yang sudah lama di tinggal sang istri.
Walau sudah lama istrinya pergi. Pak Moko tak ada niat untuk mencari penggantinya. Ia sudah sangat mencintai mendiang istrinya.
"Saya sangat mencintai Laura. Dia cinta pertama dan terakhir bagi saya. Tanpa mencari penggantinya, saya berhasil mendidik anak saya sampai ia sukses seperti sekarang." Kata Pak Moko.
"Wah, bapak hebat ya. Mungkin jika istri bapak masih ada, beliau pasti bahagia sekali bersama bapak." Kata Yuri.
"Ada gak sih Pak berantem gitu?" Tanya Derry. Yuri masuk ke dalam toko.
"Pasti ada lah, namanya juga 20 tahun bersama." Jawab Pak Moko.
"Itu si Yuri ngapain? bukannya udah cek stok?" Tanya heran Pak Moko.
Derry hanya menepuk jidatnya saja. Yuri keluar dengan membawa satu cup mie instan dan satu nasi kepal. Pak Moko melongo melihat Yuri.
"Ri, kamu gak salah misah stok kadaluarsa sama yang engga kan? Awas ya kalau kerja kamu gak teliti." Ucap Pak Moko. Pak Moko mengambil mie dan nasi kepal yang ada di tangan Yuri.
"Ri, ini kan sudah kadaluarsa. Kenapa gak kamu buang?" Tanya Pak Moko.
"Pak, nasinya masih bagus kan? Gak berlendir kan? Gak bau juga kan? Mienya juga masih terlihat seperti biasakan? Berarti masih bisa di makan Pak." Jawab Yuri.
"Gak baik untuk kesehatan kamu, Ri." Pak Moko menepuk pundak Yuri.
"Kamu ini gimana sih? Rekan kerja macam apa kayak gini? Temannya makan, makanan kadaluarsa malah di biarkan." Tanya Pak Moko.
"Dia mah susah di bilangan Pak. Udah sering di kasih tau." Jawab Derry.
"Memang kamu gak pernah di kirimi duit sama orang tuamu? Orang tua macam apa gak mempedulikan anaknya." Kata Pak Moko.
"Aku gak ingin merepotkan mereka Pak. Dengan saya kuliah disini saja beban mereka sudah bertambah. Itu kenapa saya kuliah sambil kerja. Gaji saya bisa saya gunakan untuk biaya hidup saya." Jawab Yuri.
"Nah, kan sudah ada gaji. Kenapa gak beli makanan yang lebih layak?" Tanya Pak Moko.
"Saya sedih Pak melihat Papa saya kerja banting tulang. Belum lagi asik saya masih sekolah. Sedangkan saya, mati-matian belajar agar bisa kuliah disini untuk bisa bersama orang yang saya cintai. Tapi nyatanya ~" Yuri tak melanjutkan pembicaraannya.
Sebagai orangtua Pak Moko merasa sedih mendengar penjelasan dari Yuri. Selain Yuri tidak ingin merepotkan orangtuanya. Yuri juga memilih makan, makanan kadaluarsa yang ada di toko agar ia tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk makan. Walaupun Pak Moko bukan orangtuanya, hati orangtua mana yang gak teriris melihat Yuri. Begitu juga Derry yang baru ini ia mendengar cerita tentang Yuri.
"Kamu perempuan hebat Ri. Bodoh dia yang sudah menyia-nyiakan kamu." Sahut Derry.
"Bapak terharu mendengarnya Ri. Kamu begitu menyayangi dan perhatian pada orang tua kamu. Tapi kenapa harus mie instan kadaluarsa terus dan makanan kadaluarsa lain? Padahal kamu bisa membeli sayur dan memasaknya di asrama kamu." Kata Pak Moko.
"Ri, jika mereka tahu kamu seperti ini disini. Orangtua kamu pasti sedih banget dan sakit hati pada diri mereka sendiri. Bapak saja yang bukan ayah kamu, sedih mendengarnya, Terharu bapak mendengarnya." Pak Moko menghapus air matanya yang sempat keluar.
"Saya gak bisa masak Pak. Hehehe, Tapi begini juga sudah nikmat kok Pak. Kenyang banget malah nih." Jawab Yuri
"Maaf ya Pak, saya gak ada maksud buat bapak sedih dan iba pada saya." Yuri menunduk.
"Saya harap Bapak dan kamu Derry setelah ini jangan menatap ku dengan perasaan kasihan ya. Karena aku senang menjalani hidupku. Ini keputusan aku dan aku sudah menerima semuanya." lanjut Yuri.
"Kamu perempuan langka Ri." Derry menepuk-nepuk pundak Yuri.
Tak lama beberapa mahasiswa datang untuk makan malam. Mereka kembali ke posisi mereka masing-masing. Pak Moko mengontrol kembali kerjaannya.
Pak Moko sengaja ikut pulang bersama mereka. Padahal jam kerja Pak Moko hanya sampai jam 6 sore. Karena Pak Moko hidup sendiri dan kini ia sudah mendapat teman. Pak Moko lebih memilih bersama mereka.
Pagi hari, Derry sudah menunggu Yuri di depan asramanya. Tak lupa Derry membawa jus untuk Yuri. Ia juga membawakan roti untuk Yuri. Sedangkan Yuri masih menyantap mie instan kadaluarsanya di kamarnya. Ia tidak ingin makanannya di buang oleh Stella lagi.
"Derry!" Yuri menyapa Derry.
"Ngapain disini?" Tanya Yuri.
"Nunggu kamu dari tadi." Jawab Derry.
"Ciye, ada yang nungguin nih sekarang." Canda Wenda.
"Apa sih kamu? Udah yuk kita jalan. Udah jam berapa nih, nanti yang ada kita kesiangan." Kata Yuri.
Derry mengantar Yuri sampai depan gedung. Kenzie melihat dengan jelas perhatian yang Derry berikan pada Yuri. Saat zaman sekolah, Kenzie bisa menahan rasa cemburunya. Kini, hanya melihat seorang pria dekat dengan Yuri saja dirinya sudah tenggelam dalam kecemburuannya.
"Minuman apa nih? Siapa tahu dalamnya beracun." Kenzie mengambil botol jus yang ada di tangan Yuri. Lalu ia lempar ke tempat sampah.
"Kenzie! apa-apaan kamu?" Yuri kesal.
"Aku hanya gak ingin kamu kenapa-napa." Jawab santai Kenzie.
"sebaiknya kamu berkaca!" Yuri pergi begitu saja dengan Wenda.
Derry masih berdiri sampai Yuri naik dan masuk ke kelasnya. Tak hanya Derry yang masih berdiri disana. Kenzie juga masih berdiri sambil menatap Derry.