
Kaira hanya memperhatikan cara mereka mengobrol. Memang terlihat aneh tapi begitulah Dita dan Zein. Zein lebih dulu menceritakan kenangannya bersama Yuri. Lalu di lanjut oleh Dita bersama Melani.
"Padahal cantik kan aku daripada kamu ya, Ri." Kaira sedikit iri. Karena tidak banyak pria yang berani dekat dengannya.
"Aku juga gak tahu kenapa kak." Yuri juga menyadari bahwa dirinya tidak terlalu cantik.
"Terus gimana tuh sama cowok posesif itu? Patah hati juga dong sama seperti kita." Tanya Zein. Zein Memang melihat Kenzie terlalu posesif menjaga Yuri.
"Kasihan dia, padahal dia yah begitu lah. Tapi pada akhirnya gagal juga mendapati kamu." Lanjutnya.
"Kenzie maksud kamu?" Tanya Yuri.
"Ya, siapa lagi cowok yang posesif banget." Jawab Zein.
"Ehem." Kaira berdehem.
"Aku perkenalkan sekali lagi ya. Aku rasa ada yang terlewat sedikit disini." Kata Yuri.
"Kenalin ini Kaira kakak iparku. Kakak dari Kenzie suami aku." Lanjut Yuri.
"Astaga, Ri. Kamu kenapa gak bilang." Zein menutup wajahnya karena malu. Sedangkan Kaira masih terus menatapnya.
"Aku kesini mau ngantar undangan. Kebetulan sekalian ada kamu juga. Jadi aku sekalian ngasih ke kamu ya." Yuri mengeluarkan undangannya.
"Jangan lupa bawa Sora sama baby kamu." Lanjutnya.
"Pak Dita, saya nitip untuk Nathan ya." Pinta Yuri.
"Tadi aja manggilnya gak pakai Pak. Sekarang ada maunya baru manggil saya Pak." Jawab Dita.
"Kan saya sudah bukan karyawan bapak lagi. Jadi suka-suka saya ingin memanggil apa." Kata Yuri.
"Saya nitip ya Pak." Ucap Yuri.
"Memang kamu tidak di kabari oleh Nathan?" Tanya Dita.
"Ada apa ya Pak?" Tanya Yuri.
"Nathan sudah pindah dan tinggal di Belanda. Tapi nanti akan aku usahakan untuk menyampaikannya.
Seminggu telah berlalu. Yuri sudah berada di kamarnya sambil menunggu tukang rias datang. Sambil menunggu Kaira, Hani dan Naomi menemani Yuri di kamarnya. Sedangkan Kenzie masih sibuk mengurus susunan acara nanti.
"Ri, kakak cantik gak kalau begini?" Tanya Kaira.
"Cantik Kak. Apalagi tambahan gelangnya. Bikin kakak makin cantik sekali." Jawab Yuri.
"Iya dong, Kenzie yang pilih kemarin." Kata Kaira.
Penata rias pun sudah datang dan mulai melukis wajah Yuri. Ia meminta agar make up tidak terlalu tebal. Yuri tidak terbiasa dengan polesan make up di wajahnya.
Yuri pun sudah siap untuk memasuki ballroom tempat acaranya di selenggarakan. Begitu pintu terbuka, terdengar alunan piano yang menuntun Yuri untuk menaiki dan berjalan di Altar yang telah di hias dengan bunga segar yang sangat harum.
Kedua orangtua Yuri dan Kenzie juga sudah duduk di meja mereka bersama Keenan dan Kaira. Samping meja mereka sudah ada Zein, Sora dan Baby-nya. Dita dan Melani juga bergabung duduk bersama Zein dan Sora. Marsha, Kevin, Prisa dan Jimmy juga sudah berada di meja mereka. Begitu juga dengan sahabat Kenzie yang sudah bergabung dalam satu meja.
Di sisi sebelah sudah hadir kerabat dari Rama dan Indra. Rekan bisnis Rama juga sudah hadir. Begitu juga dengan Pak Moko dan Derry yang ikut hadir dalam acara pesta pernikahan Yuri dan Kenzie. Kerabat dari Naomi dan Hani juga sudah bergabung dalam satu meja.
Selangkah menuju tempat panggung utama, Yuri melihat Kenzie sedang memainkan piano yang sedari tadi mengiringi ia berjalan. Kenzie langsung berlari dan menjemput sang istri untuk duduk di sofa putih yang megah. Kenzie menggandeng sang istri dan menghadap ke para tamu undangan. Seketika para tamu undangan bertepuk tangan.
"Kenapa kamu? Aku terharu sekali. Akhirnya kamu berhasil mendapatkan hatinya ya." Kata Zein. Zein menjadi pusat perhatian. Siapa yang tidak kenal dengannya. Bahkan rekan bisnis Rama saja kenal dan ada beberapa dari mereka yang menjadikan Zein model iklannya.
"Yuri! selamat ya untukmu!" Zein masih berusaha untuk memeluk Yuri tapi selalu di halangi oleh Kenzie.
Di meja sebelah, Naomi dan Hani tertawa melihat anaknya. Berbeda dengan Kaira yang terus melirik ke arah berlawanan. Sora sudah tak lagi cemburu ia percaya pada suaminya.
"Sudah duduklah dan nikmati hidangan dari kami. Terimakasih sudah hadir di hari bahagia kami." Ucap Kenzie.
"Ri, kalau nanti dia buat kamu sedih kabari aku ya. Aku akan menjemputmu dan membawamu pulang." Berbeda dengan Zein yang to the poin. Dita dengan santainya mengatakan hal tersebut.
"Dita!" Melani cemburu mendengarnya. Dita tersenyum pada Melani.
"Selamat ya Ri." Ucap Prisa.
"Terimakasih ya Sa." Balas Yuri.
Prisa memeluk Yuri dengan erat. Masih tersimpan rasa bersalah dalam dirinya. Ia hanya tidak tahu bahwa sampai saat ini Yuri masih mengalami trauma.
"Maafin aku ya, Ri." Ungkap Prisa.
"Ya ampun, Sa. Semua sudah berlalu begitu lama. Aku sudah memaafkan kamu sebelum kamu mengatakannya." Balas Yuri.
"Selamat ya sahabatku yang suka galau." Ucap Marsha. Kevin juga mengucapkan selamat pada Yuri dan Kenzie. Begitupun dengan tamu yang lain.
Hari yang sangat melelahkan. Lusa mereka sudah harus kembali lagi ke Singapura. Naomi, Kaira dan Rama sudah lebih dulu berangkat selesai acara. Sama seperti Mereka, Pak Moko dan Derry juga pulang bersama usai acara berakhir.
Sebelum balik, Yuri dan Kenzie menginap di rumah orangtua Yuri. Hani dan Indra mengajak ngobrol Kenzie. Mereka hanya ingin mengobrol bertiga. Yuri menunggu Kenzie di kamarnya sambil merapikan pakaian yang hendak ia bawa ke Singapura nanti.
Keesokan paginya, mereka sarapan bersama. Keenan sudah bersiap untuk berangkat sekolah dengan seragam rapinya. Yuri dan Kenzie juga sudah selesai sarapan. Yuri membantu mamanya merapikan meja makan.
Yuri mulai belajar masak dengan mamanya sejak hari pertama ia menikah. Hari ini Yuri kembali belajar masak untuk makan siang. Ia ikut mamanya belanja ke pasar membeli bahan untuk di masak. Kenzie mengantarkan Keenan sampai ke sekolahnya.
"Wih, yang di antar pakai mobil." Temannya menggoda Keenan.
"Mobil kakak iparku. Sudah ayo masuk!" Jawab Keenan.
Kenzie teringat pesan kedua orangtua Yuri. Tanpa mereka minta, Kenzie sudah melakukannya sejak awal. Ia selalu berusaha menjaga dan melindungi Yuri. Ia juga terus berusaha untuk membuat Yuri selalu bahagia.
Kenzie mampir melihat kedai kopinya lebih dulu sebelum ia kembali ke Singapura. Pulang dari sana, Kenzie langsung pulang ke rumah orangtua Yuri.
Jam makan siang, mereka makan bersama di meja makan. Kenzie dengan lahap menyantap makanan yang ada di meja makan. Yuri antara khawatir dengan senang melihat suaminya lahap sekali makannya.
"Pelan-pelan sayang makannya." Ucap Yuri.
"Ma, hari ini makanannya enak banget. Walaupun menu ini selalu ada setiap kami kesini. Tapi kali ini rasanya sangat enak." Puji Kenzie.
"Loh, itu masakan yang buat istrimu loh, Ken." Jawab Hani. Kenzie tersendat mendengarnya.
"Nah kan, makannya pelan-pelan sayang." Ucap Yuri.
"Ini enak loh sayang." Kata Kenzie.
"Iya tapi pelan-pelan saja makannya." Kata Yuri.