
Tiga hari Yuri di rumah sakit. Bergantian Dita dan Nathan yang selalu menjenguk Yuri. Nathan tidak tahu bahwa Dita juga sering datang menjenguk Yuri.
"Kata dokter besok kamu sudah bisa Checkout." Kata Hani.
"Yes! Aku sudah bosan sekali disini. Mending staycation di hotel berbintang tujuh." Jawab Yuri.
"Bintang kejora Ri, Bintang Kejora! Bintang tujuh, puyer itu mah Neng cantiknya Mama." balas Hani.
"Pokoknya kalau kamu masuk rumah sakit lagi, Mama gak ngasih kamu kerja. Lagi juga Kenzie kan uangnya banyak. Gak ada serinya dia mah, jadi gak habis-habis." Lanjut Hani.
"Apa sih Ma? Ma, Yuri sama Kenzie tuh belum tentu berjodoh. Apalagi Kenzie jauh dari Yuri. Disana juga kan banyak cewek cantik." kata Yuri.
"Ma, Kenapa ya, tiap hari ada aja yang nangis." Tanya Yuri.
"Ya, namanya juga keluarga, kalau ada yang sakit ya pasti sedihlah mereka." Jawab Hani.
"Mama kok engga sih?" tanya Yuri.
"Menurut kamu, Mama sama Keenan bawa kamu ke rumah sakit. Mama gak khawatir? Telapak kamu sudah dingin banget, muka kamu pucat, badan lemas banget. Menurut kamu Mama gak khawatir?" ungkap Hani.
Di balik pintu ternyata ada Dita yang sedang mendengar cerita Hani. Dita merasa sedih mendengar Yuri sakit sampai seperti itu. Dita akhirnya masuk setelah Hani bercerita.
"Pagi Tante, Pagi Yuri." sapa Dita.
"Pak, ada apa ya?" tanya Yuri.
"Hush, masa ada yang jenguk di tanya seperti itu?" Hani menutup mulut Yuri.
Tak lama Dita datang, Zein datang dan masuk ke ruangan. Dita heran darimana sahabatnya itu bisa tahu keberadaan Yuri. Jujur, Dita tidak suka melihat Zein dekat dengan Yuri.
"Ri, kamu gak apa-apa?" Tanya Zein panik.
"Eh, Nak Zein. Gimana kabarnya? Lama gak main ke rumah." tanya Hani.
"Baik Tante, iya nih. Saya sedang sibuk mengurus pernikahan saya Tante." Jawab Zein.
"Oh, sama si itu ya. Siapa deh? Si itu deh pokoknya." Balas Hani.
"Rasanya tuh kayak baru kemarin gitu. Kamu bawa Yuri ke rumah sakit. Kalau kamu gak buru-buru mungkin saya sudah kehilangan anak pertama saya." Hani mulai nostalgia dengan Zein. Dita merasa hatinya panas sekali.
"Dita, kata Melani kamu pergi, katanya ada urusan penting?" Tanya Zein.
"Ya, aku habis menjenguk teman di rumah sakit ini." Jawab Dita.
"Temanmu berarti temanku juga. Siapa Yang sakit? Kok aku gak dengar kabar di grup?" Tanya Zein.
"Si itu loh." Jawab singkat Dita yang gak tau harus beralasan apa.
"Adalah temanku. Kamu gak kenal." Jawab Dita sedikit meninggi.
"Kamu punya teman baru? Bukannya dari dulu temanmu hanya itu-itu saja?" Tanya Zein.
"Memang setiap aku punya teman baru, kamu harus tau? Tidakkan?" Dita semakin merasa terhimpit dengan pertanyaan Zein.
"Sudahlah! Aku sibuk. Aku pulang duluan saja." Ucap Dita dengan kesal. Dita pun berpamitan pada Hani dan Yuri.
Padahal Dita ingin sedikit lebih lama melihat Yuri. Dita keluar sambil mengintip dari luar. Dita menghubungi Sora dia memperlihatkan Zein yang sedang menjenguk Yuri. Tak lupa ia memberi sedikit bumbu agar Sora terlihat cemburu.
Dita melihat Zein mengeluarkan ponselnya. Ia tertawa kecil melihat Zein yang langsung melihat ke kaca kecil yang ada di pintu. Zein keluar dan mengejar Dita yang masih belum terlalu jauh.
"Sejak kapan kamu menjadi menyebalkan seperti ini, DITA!" Zein merangkul leher Dita dengan satu tangannya.
"Kamar Sakura yang jenguk tampan-tampan ya." bisik seorang perawat.
"Yang sakit aja cantik. Apalagi ibunya, masih terlihat muda banget." balasnya.
"Adiknya yang waktu itu saja juga tampan. Tapi sayang masih pakai seragam SMA." bisik perawat yang lain.
Zein terus menatap Dita. Mereka saling tatap-tatapan. Seakan mereka mengeluarkan aura mengerikan. Seketika perawat tadi diam memperhatikan mereka.
"Sejak kapan kamu menjadi menyebalkan seperti ini?!" tanya Zein dengan kesal.
"Apa salahku? Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya bertanya pada Sora, topi yang kamu pakai saat ini beli dimana. Nah, Sora nanya topi yang seperti apa. Ya sudah aku tunjukkan kameranya ke arahmu. Kebetulan kamu ada di dalam. Kalau menunggumu keluar pasti akan lama." Jawab Dita dengan jelas.
"Apa kamu cemburu ya, melihat aku dengan Yuri?" Tanya Zein.
"Cemburu? untuk apa? Aku ini kan bosnya dia. Jadi aku harus memastikan dia baik-baik saja. Agar tidak mengurangi kinerjanya di tempat kerja." Jawab Dita sedikit gak jelas.
"Dulu aku pernah jatuh cinta sama dia," Zein menjelaskan ceritanya saat ia jatuh cinta pada Yuri.
"Tapi memang Sora jodohku. Berkat Yuri hubunganku dengan Sora bisa sampai sekarang ini." lanjutnya lagi.
"Zein!" Teriak Sora dari dalam Lift.
Perawat yang sedari tadi memperhatikan mereka mulai histeris dalam diam. Apalagi saat mereka melihat Sora. Wajah cantik dan postur tubuh yang ideal, idaman setiap wanita.
"Kamu ngapain disini?" tanya Sora.
"Aku nemenin Dita jenguk Yuri." Jawab Zein sambil menunjuk ke Dita.
"Loh? Katanya Dita, dia gak sengaja lihat kamu masuk ke ruangan. Terus pas dia lihat ternyata kamu nemenin Yuri seharian. Pantas saja dari kemarin sulit di hubungi." Balas Sora.
"Astaga sayang, masa kamu percaya sama dia? Dia itu cemburu sayang lihat aku dekat sama Yuri. Makanya dia ngarang cerita." Jawab Zein.
Para perawat tadi tersenyum melihat Zein Bucin sama Sora. Zein panik karena Sora cemburu bisa lama untuk berbaikan. Sedangkan seminggu lagi mereka akan menikah.
"Kamu boleh tanya langsung kok sama Yuri." Pinta Zein.
"Jangan sama dia! Dia tuh suka sama Yuri yang." lanjut Zein sambil menunjuk ke arah Dita.
"Dita, kamu suka sama Yuri? Sejak kapan?" Tanya Sora melegakan hati Zein.
"Iya sayang, Pas aku jenguk Yuri sudah ada Dita sedang sarapan sama Yuri dan mamanya." Sora kembali menatap Zein.
"Aduh, keceplosan!" bisik Zein pada diri sendiri.
"Jadi kamu memang ke Yuri sendiri? Kamu bohong! Pasti kamu masih suka ya sama Yuri?" tanya Sora sambil menangis.
"Aduh, gak gitu konsepnya sayang. Tadi tuh aku mau bawain dress seragam kita."Zein menjelaskan pada Sora.
"Sorry ya, aku harus pergi sekarang." Ucap Dita.
"Tunggu sini!" Zein menarik kemeja Dita.
"Tanggung jawab gak!" gertak Zein.
"Oke, oke. Aku akuin, Aku gak senang dia dekat-dekat Yuri!" Jawab Dita.
"Kan, aku bilang apa. Dita tuh suka sama Yuri sayang. Makanya dia bilang gitu ke kamu." Zein kembali meyakinkan Sora.