Untitled Love

Untitled Love
Ep 101



Kenzie kembali ke ruangannya usai meeting dengan perusahaan Hermans. Ia ingin mengajak Yuri ikut makan siang bersama di kantin. Dari jauh ia melihat dari celah jendela ada bayangan orang lain selain istrinya.


Ia terus memperhatikan orang itu. Sampai ia terlihat dengan jelas siapa pemilik bayangan tersebut. Fani, sahabat Klara sejak pertama mereka bekerja di perusahaan tersebut.


Rama menaikkan pangkat Klara melihat kinerjanya yang bagus. Ia di pindahkan menjadi kepala toko di daerah Y. Tak lama, Kenzie masuk membantu ayahnya mengelola perusahaan. Sejak saat itu Klara dan Fani dekat dengan Kenzie.


Kenzie melihat Yuri mengepalkan kedua tangannya. Ia yakin Yuri sedang menahan ketakutannya. Kenzie masuk saat Fani hendak memukul Yuri.


"Hentikan!" Teriak Kenzie dari pintu.


"Fani! berani sekali kamu memukul istri saya!" Bentak Kenzie.


"Dia,,"


"Saya gak butuh jawaban dari kamu! Saya sudah mendengarnya dari luar!" Kata Kenzie.


Kenzie menarik Fani ke luar. Seketika beberapa karyawan mendekat dan melihat keributan antara Kenzie dengan Fani. Fani melihat dirinya sudah di kelilingi oleh karyawan lain.


"Tapi Pak,"


"Bagi siapapun yang berani mengganggu istri saya, saat itu juga akan saya pecat! Termasuk kamu Fani, mulai saat ini kamu saya pecat!" Lagi-lagi Kenzie mengakhiri perkataannya dengan hentakan. Kenzie juga mendorong Fani hingga terjatuh ke lantai.


Cukup ia di manfaatkan oleh Klara. Ia tidak ingin kehilangan istri dan anaknya. Kenzie kembali masuk dan mengajak Yuri pergi ke kantin. Semua mata tertuju pada Fani dan Kenzie yang sedang menggandeng istrinya keluar ruangan.


"Zie,," Yuri mencoba memanggil suaminya. Ia tahu bahwa suaminya sedang dalam kondisi emosi yang melonjak.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" Tanya Kenzie.


"Apa dia melukaimu?" Tanyanya lagi.


"Aku tidak apa-apa, Zie. Dia bahkan tidak ada kesempatan untuk memukulku." Jawab Yuri.


Kenzie memeluk Yuri di dalam lift. Yuri kagum dengan sikapnya Kenzie. Walau itu hanya hal yang sepele. Tapi baginya itu membuktikan bahwa Kenzie mencintainya. Untuk pertama kalinya ia melawan rasa takutnya.


"Ken, ada apa?" Tanya Rama. Ia mendengar dari beberapa karyawan di kantin yang heboh ingin melihatnya.


"Gak ada apa-apa, Yah. Ken hanya menjalankan tugas Ken sebagai suami." Jawab Kenzie.


"Kamu gak apa-apa, Ri?" Tanya Naomi.


"Gak apa-apa Bunda." Jawab Yuri.


"Ma,, Mam!" Ucap Devan.


"Anak Mama lapar ya? Sini sayang sama Mama." Yuri mengulurkan tangannya.


Mereka makan bersama. Hani memilih semua menu yang ada di kantin. Sehingga yang lain tidak bisa memesannya lagi. Agar tidak tersisa karena kebanyakan makan yang di pesan.


"Eh tahu tidak? Tadi tuh Pak Kenzie keren banget loh." Kata salah seorang karyawan.


"Iya, bagus deh Bu Fani di keluarkan. Kerjanya juga cuma nyuruh, dandan sama cari perhatian." bisik yang lainnya.


"Pengen deh punya suami kayak Pak Kenzie." Kata orang yang tadi.


Karyawan itu berbisik tapi masih dapat di dengar oleh mereka. Kenzie tidak menanggapi omongan mereka. Rama melirik anaknya yang cuek.


"Lagi juga Pak Kenzie cocok kok sama istrinya." Katanya.


"Iya, kalian lihat tidak anaknya? Ganteng banget. Memang perpaduan yang tepat sampai menghasilkan bibit unggul. Good looking sejak dini anaknya." Katanya.


Yuri dan Kenzie cukup tersenyum mendengar perkataan terakhirnya. Yuri memberikan buah potong untuk Devan. Devan memakannya sendiri menggunakan alat makan yang di bawa oleh Yuri.


"Ri, yang ini enak deh. Mama suka banget. Kamu bisa pesankan lagi untuk Mama gak?" Tanya Hani.


"Biar aku saja, kamu jaga Devan saja ya." Pinta Kenzie.


Kenzie berdiri dan memesankan makanan kesukaan mertuanya. Sedangkan Naomi masih mengambilkan makanan untuk suaminya. Devan menikmati buah potongnya. Banyak yang memperhatikan tingkah lucu Devano.


"Ken!" Teriakan seorang wanita.


Yuri dan yang lain langsung menoleh ke wanita itu. Wanita itu memeluk Kenzie dari belakang. Yuri pastinya sakit hati melihatnya. Rama dan Naomi langsung menatap Yuri. Hani membantu Yuri menjaga Devan.


"Ken, aku mencintai kamu. Aku mau kok jadi yang kedua. Aku sudah sangat lama menyukaimu. Sebelum ada dia, aku sudah menyukaimu." Ucap Wanita itu. Kenzie langsung melepas paksa. Ia membalikkan tubuhnya.


"Aku yang tidak ingin mendua!" Tegas Kenzie.


"Dengarkan baik-baik! Yuri lebih dulu di hatiku dan tidak ada yang bisa menggantikan posisinya di hatiku, Klara!" Lanjutnya.


"Bohong! Aku tahu kamu juga menyukaiku, Ken. Kita bisa kok sama-sama." Klara menyangkal omongan Kenzie.


Plak~


"Berhenti memaksa orang yang tidak mencintaimu!" Ucap Yuri usai menamparnya di depan banyak orang.


Fani yang kebetulan melihat sahabatnya di tampar oleh Yuri mendekati Klara. Hani tersenyum melihat anaknya yang sudah mulai melawan rasa traumanya. Rama dan Naomi memaklumi sikap Yuri.


"Kamu memang lebih cantik dari saya! Tapi sikap kamu lebih murahan dan seperti tidak memiliki harga diri!" Ucap Yuri walau pelan tapi menusuk.


Kedua tangan mereka saling mengepal. Klara kesal mendengar perkataan Yuri. Begitu juga dengan Fani kesal mendengar temannya di permalukan di depan umum. Berbeda dengan mereka berdua, Yuri mengepalkan tangannya karena ia sebenarnya sedang melawan ketakutannya. Ia juga tidak bisa diam begitu saja melihat seorang wanita memeluk suaminya.


"Bukannya kalian berdua sudah di pecat? Kenapa masih berani kesini? Tidak tahu malu sekali kalian. Sebaiknya kamu pergi sekarang sebelum saya meminta petugas keamanan untuk membawa kalian keluar." Kata Yuri.


"Kurang ajar sekali kamu!" Klara mengangkat tangannya. Sayangnya, Kenzie lebih dulu menangkisnya tanpa menahan tangan Klara.


"Kamu yang kurang ajar! Berani kamu menyentuh istri saya, aku akan membuat kamu kehilangan segalanya!" Ancam Kenzie.


"Ken,," Ucap Klara dengan lirih.


"Bawa mereka keluar! Pastikan mereka tidak akan bisa masuk ke perusahaan ini lagi." Pinta Kenzie pada petugas keamanan yang datang.


Semuanya kembali ke tempat semula. Kenzie dan Yuri kembali ke tempat mereka lagi. Rama bangga dengan sikap anaknya yang sudah mulai belajar dari kesalahannya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa Kan?" Tanya Hani.


"Tidak apa-apa Ma. Yuri hanya tidak senang ada yang menyentuh suami Yuri." Jawab Yuri.


"Hebat, menantu Bunda memang wanita yang hebat. Kamu memang harus seperti itu sama wanita seperti Klara." Naomi menepuk pundak Yuri.


Devan tersenyum melihat Mama dan Papanya. Ia sudah menghabiskan makanannya. Kenzie memeluk Yuri untuk menenangkannya. Kenzie tahu bahwa saat itu Yuri merasa takut. Tapi ia berhasil melawan ketakutannya.


Selesai makan, mereka kembali bekerja. Sedangkan para ketiga wanita dan Devano pulang di antar supir pribadi. Devano juga sudah lelah dan mengantuk.


Di sisi lain, Derry hendak mengajak Kaira untuk memberinya kejutan. Kejutan yang sempat tertunda karena sebuah insiden. Derry menutup mata Kaira dengan kain.


"Beb, kita dimana sih?" Tanya Kaira.


"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai." Jawab Derry.


"Kamu sudah siap?" Tanya Derry.


"Sudah sangat-sangat siap. Jangan buat aku semakin penasaran dong." Jawab Kaira.


"Hitungan ketiga, kamu buka penutup matanya ya." Kata Derry. Derry menghitung sampai tiga dan Kaira membuka penutup matanya.


"Surprise!" Teriak Derry.