Untitled Love

Untitled Love
Ep 50



Kenzie membantu Hani merapikan barang-barang Yuri. Tinggal menunggu Dokter yang bertanggung jawab untuk memeriksa kondisi Yuri secara berkala. Malam ini dokternya baru bertugas. Jika dokternya sudah mengizinkan Yuri pulang, maka saat itu juga Yuri di perbolehkan pulang.


"Ma, lama banget sih. Aku mau pulang." Yuri mulai bosan menunggu sang dokter.


"Udah ada Kenzie aja, maunya buru-buru pulang. Dari kemaren setiap staycation disini gak ada tuh minta pulang." Hani meledek anaknya.


"Gimana kalau kita tinggalin Yuri disini saja, Tante?" Tanya Kenzie.


"Zie! kamu kok jahat sih sama aku?" Yuri memajukan bibirnya.


"Makanya jangan sakit." Jawab Kenzie.


"Ri, kayaknya mama harus pulang duluan deh. Mama belum masak makan malam untuk Papa sana Keenan." Hani baru teringat sesuatu.


Tok~


Pintu kamar Yuri kembali terbuka. Kali ini Kenzie juga mengenal orang yang baru masuk. Kenzie tidak cemburu dengan orang ini. Ia tahu bagaimana hubungan Yuri dengannya.


"Yuri!"


"Ehem!" Zein berdehem.


"Zein, lepaskan! Aku sesak nafas nih." Pinta Yuri. Dengan cepat Kenzie menjauhkan tangan Zein dari Yuri.


"Kamu kok ada disini sih?" Tanya Zein.


"Kenapa? Sudah punya istri masih saja peluk-peluk cewek orang." Kata Kenzie.


"Mama pulang duluan ya." Hani pamit lebih dulu.


"Aku antar Tante dulu,"


"Kamu! Awas macam-macam!" Kedua jari Kenzie menunjuk ke mata Zein dan dirinya secara bergantian.


Kenzie mengantar Hani tanpa di minta. Sebenarnya Kenzie juga cemburu meninggalkan Yuri dengan Zein. Walaupun ia sudah tahu bahwa Zein sudah menikah. Siapa yang tidak tahu tentang pernikahan Zein? Pernikahan seorang artis sudah pasti di liput oleh akun gosip dan acara gosip di TV.


Di tempat lain, seorang wanita masih saja mengejar Dita. Bahkan setiap hari selalu absen hadir datang ke Cafe. Melani mau tak mau harus terus melihat wanita itu.


Cemburu pasti ada, wanita itu selalu mengungkit masa lalu mereka. Hal itu yang membuat Melani cemburu. Selebihnya Melani hanya tersenyum melihat wanita itu berkali-kali di tolak oleh Dita. Bahkan Dita selalu mengunci dirinya setiap wanita itu datang.


"Ini pasti karena si cewek itu!" Audrey kesal.


"Dita keluar! atau aku akan menyakiti cewek itu!" Audrey mengancamnya agar mau keluar dan menemuinya.


"Oke, kalau kamu gak mau keluar. Aku benar-benar akan membuat perhitungan pada cewek itu!" Ucap Audrey.


"Siapa yang kamu maksud? Yuri?" Melani mulai menegur Audrey.


"Siapapun dia." Audrey tidak tau nama cewek itu.


"Kalau kamu membuat perhitungan padanya kamu salah sasaran!" Kata Melani.


"Aku sudah muak denganmu. Di diamkan malah makin menjadi-jadi." Lanjutnya.


"Mulai sekarang jauhi Dita!" Pinta Melani.


"Siapa kamu berani melarang ku?" Tanya Audrey.


"Kamu nanya aku siapa?" Melani kembali bertanya.


"Kamu bertanya-tanya aku siapa?"


"Biar aku kasih tau ya. Aku ini~" Melani membuat Audrey sedikit melongo menunggu jawaban dari dirinya.


"Kepo ya kamu?" Melani bertanya lagi.


"Aku kekasihnya Dita. Jadi kamu jangan coba-coba mendekatinya lagi." Jawab Melani.


"Gak usah ngaku-ngaku Kamu!" Audrey tak percaya.


Audrey merasa malas meladeni Melani. Melani juga merasa bosan berhari-hari Melihat Audrey yang selalu memaksa Dita. Melani gak suka melihat Audrey yang selalu menempel pada Dita.


Setelah itu Melani merasa takut pada Dita karena sudah mengaku-ngaku sebagai kekasihnya. Melani tidak berani menegur Dita. Biasanya Melani suka menanyakan keadaan Dita sambil meledeknya.


"Terimakasih ya Dok." Ucap Kenzie pada Dokter usai memeriksa Yuri.


Malam ini juga Yuri di perbolehkan pulang. Barang-barangnya sudah lebih dulu di masukkan ke dalam mobil Kenzie. Selang infus juga sudah di lepas oleh perawat. Administrasi juga sudah di selesaikan.


"Zie, maaf." Ucap Yuri.


"Maaf untuk apa Sayang?" Kenzie mengusap kepala Yuri.


"Aku udah salah sangka sama kamu. Bahkan aku gak pernah datang untuk menemui mu." Ungkap Yuri.


"Gak apa-apa sayang, itu tandanya kamu mencintaiku." Jawab Kenzie.


"Aku yang seharusnya minta maaf ke kamu. Aku tidak pernah ada saat kamu membutuhkan aku. Maafkan aku yang baru sekarang menemui mu." Lanjutnya.


Mereka sampai di depan rumah. Kenzie turun lebih dulu untuk membukakan pintu untuk Yuri. Setelah membawa Yuri masuk, Kenzie kembali untuk menurunkan barang-barang milik Yuri.


Di dalam rumah, Hani dan Indra sama-sama menyiapkan makan malam mereka. Keenan masih berada di kamarnya. Yuri masih merasa sedikit lemas, ia tiduran di sofa depan TV.


"Ken, makan malam dulu yuk." Ajak Hani.


"Iya Tante, masih ada beberapa barang lagi." Kenzie heran dengan barang bawaan Yuri yang sangat banyak.


"Yuri, Keenan. Ayo makan malam dulu." Teriak Hani.


Lama tidak merasakan kebersamaan hal ini. Yuri sangat senang bisa bertemu Kenzie lagi. Sesekali Kenzie menyuapi Yuri. Hani dan Indra hanya bisa senyum-senyum melihat anaknya.


"Ken, gimana kuliah kamu?" Tanya Indra.


"Baik Om, sekarang lagi libur semester saja Om." Jawab Kenzie.


"Om dengar kamu sibuk sekali ya disana?" Tanya Indra.


"Begitulah Om, Ayah tuh manja banget. Apa-apa minta di temani Kenzie." Jawab Kenzie.


"Wajarlah Ken, orangtua seperti itu. Apalagi selama beberapa tahun kamu tinggal terpisah dengan mereka dengan jarak yang lumayan jauh." Kata Indra.


"Ken, Om aja rindu kalau jauh dari anak-anak Om. Kayak setiap Yuri masuk rumah sakit, Om selalu rindu dan khawatir. Tapi mau gimana lagi? kalau gak kerja uang darimana?" Lanjut Indra.


"Orangtua juga selalu ingin yang terbaik untuk anaknya. Bukannya ayah kamu manja, tapi dia ingin kamu bisa melanjutkan bisnisnya nanti." Nasihat Indra.


"Iya Om, Bunda juga suka bilang seperti itu. Sama seperti Om, Kenzie juga gak bisa jauh dari anak Om." Balas Kenzie.


"Nah, kalau gitu kamu harus semangat kuliahnya. Semangat juga bantu ayah kamu. Karena Om gak akan mau menyerahkan anak om jika hanya di ajak susah." Kata Indra.


"Sesusah nya Om dan Tante. Om tidak ingin anak-anak Om kesusahan. Sebisa mungkin Om berusaha agar mereka hidup senang. Sudah cukup bagi Om melihat Yuri yang banting tulang bantu Om." Indra tiba-tiba menjadi melow.


"Papa." Hani mengelus tangan suaminya. Sedangkan kedua anaknya hanya menunduk terharu. Begitu juga Yuri yang menjadi sedih dengan perkataan ayahnya yang baginya menusuk ke hati.


"Kenzie gak akan buat Yuri kesusahan om. Kenzie janji sama Om dan Tante, Kenzie akan buat Yuri bahagia." Ucap Kenzie.


"Om akan pegang janji kamu, Ken." Kata Indra.


Makan malam yang terasa berat. Setidaknya Kenzie sudah menyampaikan janjinya pada kedua orangtua Yuri. Bahwa Kenzie juga sungguh-sungguh mencintai Yuri.