Untitled Love

Untitled Love
Ep 96



Sejak bertemu dengan Klara, Kenzie jadi sibuk kerja. Ia bahkan pulang sampai larut malam. Awalnya Yuri mencoba untuk positif thinking. Tapi semakin lama, hatinya menolak untuk itu. Seakan ada sesuatu yang mengancamnya.


Ia tidak ingin berdebat oleh sang suami. Itulah sebabnya Yuri hanya diam saja tanpa berkomentar. Pagi itu mereka menikmati sarapan bersama. Yuri diam tanpa sepatah kata. Ia hanya menyajikan sarapan untuk suaminya tanpa bersuara.


"Hari ini kita jalan ke Mall yuk!" Ajak Kenzie.


"Kalau cuma untuk ninggalin kami di Mall, lebih baik tidak usah." Jawab Yuri.


Sudah beberapa kali Yuri mencoba untuk bersahabat. Tapi setiap mereka pergi, Kenzie selalu meninggalkan mereka dengan alasan pekerjaan mendadak. Yuri bisa menerimanya sekali dua kali. Tapi kini ia menolaknya karena sudah terlalu sering seperti itu.


"Kali ini tidak kok." Balas Kenzie.


"Gak perlu." Jawab Yuri.


"Pekerjaan kamu lebih penting." Katanya lagi.


"Pintarnya anak Mama makanannya habis. Kita mandi yuk." Ajak Yuri.


Tak berapa lama ponsel Kenzie berdering. Kenzie mengangkat panggilan di ponselnya. Yuri hanya menatapnya sinis dan pergi memandikan Devan.


"Baiklah, aku akan kesana sebentar lagi." Kata Kenzie membalas lawan bicaranya.


"Sayang~"


"Gak perlu pamit. Kalau mau pergi, pergi saja." Belum selesai Kenzie bicara, Yuri sudah menjawabnya. Ia menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.


Dalam kamar mandi Yuri memandikan Devan sambil menangis. Sudah cukup baginya untuk bersabar. Ia yakin ada sesuatu yang tidak baik. Selesai memandikan Devan, Yuri menitipkan Devan pada Mamanya dengan alasan ingin berbenah apartemen mereka.


Yuri kembali menyendiri di kamarnya sambil menangis. Hatinya sangat-sangat sakit, tapi ia terlalu takut untuk bertindak. Ia tidak ingin membahayakan dirinya. Jangankan melabrak Klara, Menemuinya saja ia terlalu takut. Ia menghubungi Marsha dan mencurahkan isi hatinya.


[Ri, kali ini kamu harus bisa melawan rasa takut kamu.] Kata Marsha.


"Gak bisa Cha, aku takut."


[Kamu bisa, Ri. Kenzie itu suami kamu! Dia sudah menjadi milik kamu. Jangan biarkan orang lain merebutnya.] Kata Marsha.


"Lalu aku harus apa?" Tanya Yuri.


[Ya katakan apa yang kamu rasakan pada Ken. Biar dia juga tahu perasaan kamu.] Kata Marsha.


"Kalau nanti Kenzie marah gimana?" Tanya Yuri.


[Itu hak kamu sebagai istri, Ri. Sekarang gini, kamu selalu menjaga batasan dengan Zein, Nathan dan yang lain. Ken juga harus bisa seperti itu.]


"Beda Cha, dia memanfaatkan pekerjaan untuk menjauh dari kami." Yuri merasa tidak mendapat solusi yang tepat. Ia semakin frustasi.


Di tempat Hani, Devan bermain bersama Keenan yang sedang libur. Hani membuat Snack untuk cemilan Devan. Devan senang sekali setiap ke tempat Hani karena akan selalu ada Snack kesukaannya. Itulah kenapa Devan terlihat semakin chubby. Katena ia senang sekali makan.


"Ma,, Ma,, Ma,," Seketika ekspresinya berubah sedih.


"Mah!" Teriak Devan.


"Kenapa sayang? Devan ingin ke Mama?" Tanya Hani. Devan mengangguk jawabnya.


"Mama belum selesai beberesnya. Tunggu dulu ya." Kata Hani. Devan memukul mejanya seakan ia menolak.


"Devan sayang, Devan mau Snack lagi gak?" Tanya Hani mencoba untuk menenangkan Devan.


"Ma,, Ma,, Ma!" Teriak Devan.


Hani heran dengan sikap Devan. Tak seperti biasanya ia bersikap seperti itu. Bahkan ia tidak pernah menolak Snack yang di buat oleh Hani. Devan terus meminta bersama Yuri.


"Devan, Devan bisa mendengar Omah?" Tanya Hani. Devan mengangguk.


"Devan berhenti menangis dulu ya." Pinta Hani.


"Devan kenapa? Devan sedih?" Tanya Hani. Devan mengangguk lagi.


"Devan sedih ninggalin Mama?" Tanya Hani. Devan kembali mengangguk. Tak biasanya Devan seperti itu. Tiba-tiba Jantung Hani berdetak begitu cepat. Ia merasa sesuatu yang tidak baik-baik saja pada anaknya.


"Devan gak mau ninggalin Mama karena mama sedang sedih?" Tanya Hani perlahan dengan ragu. Ia berharap Devan tidak mengangguk. Tubuhnya lemas ketika Devan menjawab dengan mengangguk.


"Mama Devan sedih?" Tanyanya lagi. Devan mengangguk lagi.


"Mama dan Papa marah?" Tanya Hani. Devan menggelengkan kepala. Agak sedikit tenang di hati Hani.


"Mama sedih karena Papa?" Tanya Hani. Devan mengangguk. Hani seketika melemas. Ada sesuatu yang terjadi pada anaknya.


"Ma! Mama kenapa?" Tanya Keenan.


"Gak apa-apa Nak. Antar Mama ke rumah Jeng Naomi sekarang!" Pinta Hani. Keenan menuruti permintaan Mamanya. Hani membawa Devan ke rumah besan.


Di tempat lain, Kenzie masih berbincang-bincang dengan Klara. Dengan mudah ia menyelesaikan sesuatu yang di anggap menjadi masalah bagi Klara. Lagi-lagi Klara mencegah Kenzie pulang lebih cepat.


"Ken, sepertinya sudah lama kita gak makan malam bersama." Kata Klara.


"Bukannya kemarin kita sudah makan-makan sama para karyawan?" Tanya Kenzie.


"Maksudnya kita berdua, Ken." Jawab Klara.


"Aku sudah ada janji dengan istriku." Kata Kenzie.


"Ayolah Ken, gak sering juga kan kita makan berdua?" Klara terus mengajaknya.


Akhirnya Kenzie mau makan malam berdua bersama Klara. Klara sudah menyiapkan tempat dinner mereka. Tentunya tanpa sepengetahuan Kenzie.


Selesai makan malam, Klara minta untuk di antar ke apartemennya. Dengan alasan sudah larut malam, dirinya takut jika harus pulang sendiri. Tidak hanya itu, ia berbohong pada Kenzie kalau beberapa hari terakhir ada orang yang mencurigakan mengikutinya. Kenzie percaya dengan semua perkataan Klara.


Sampai apartemen, Semua lampu di padamkan. Ia bahkan tidak mendapati Yuri menyambutnya pulang. Saat ia melihat ke kamar, ia juga tidak menemukan Yuri. Hari juga sudah larut, ia tidak enak jika harus mencarinya di tempat orangtuanya.


Kenzie berencana untuk mencarinya besok. Ia memilih istirahat setelah pekerjaannya yang padat. Ia sangat merindukan Yuri dan Devan. Tidurnya menjadi tidak nyenyak karena tidak ada anak dan istrinya.


Pagi hari, Kenzie mencari Yuri di rumah orangtuanya. Setelah menunggu agak lama, Keenan keluar. Ia mengatakan sejak kemarin Yuri pergi. Hani juga tidak tahu kemana Yuri pergi.


Kenzie berganti pakaian dan bersiap untuk mencarinya di kediaman keluarga Ishan. Baru saja ia sampai lobby, ia bertemu dengan Klara. Klara mengatakan bahwa ia ingin Kenzie menemaninya ke kantor pusat dengan segala alasannya. Kenzie tak bisa menolaknya. Karena segala yang berurusan dengan pusat adalah tanggung jawabnya.


Kenzie mengurungkan niatnya untuk mencari Yuri. Ia menemani Klara ke kantor pusat. Tadinya Kenzie ingin sekalian bertemu dengan sang ayah. Tapi ternyata ayahnya tidak masuk dan hanya ada Frans di ruangannya.


Selesai dengan urusannya, Klara mengajaknya makan siang bersama. Kebetulan rekan bisnis mereka juga mengajak makan siang bersama. Sambil berbincang-bincang mengenai pekerjaan. Tak jarang mereka mendapat pujian karena kerjasama mereka berdua. Klara pun berbahagia mendengan pujian tersebut. Sesekali sadar tidak sadar, Klara mengambil kesempatan untuk menggenggam tanga Kenzie.