Untitled Love

Untitled Love
Ep 60



Saat itu, Naomi selalu mengantar Kenzie dan menunggunya di dalam mobil sendiri. Sedangkan Hani, ia asik ngobrol dengan para ibu-ibu lain yang juga menunggu anaknya. Naomi hanya bisa menyaksikan keseruan mereka. Naomi takut sekali bergaul.


Hani pun menyadari bahwa sedari tadi Naomi selalu menyaksikan keseruan mereka. Hani menghampiri mobil Naomi. Ia mengetuk kaca jendela mobil Naomi. Naomi membukakan jendela mobilnya.


"Bun, nunggu anak ya?" Tanya Hani.


"Sini gabung yuk. Kita sedang mengadakan arisan." Ajak Hani.


"Iya terimakasih, saya disini saja." Naomi agak malu-malu menolaknya.


"Gak apa-apa udah sini yuk." Hani memutar dan menghampiri pintu Naomi.


Naomi senang bisa ikut gabung. Setiap ia menunggu Kenzie, ia tidak sendiri lagi. Ia memiliki banyak teman. Walau beberapa temannya memanfaatkan dirinya. Berbeda dengan Hani yang selalu meringankan Naomi.


Setiap ibu-ibu lain memanfaatkan Naomi, Hani selalu membantunya. Sesekali Hani yang menolak permintaan teman-temannya.


"Mi, karaoke yuk. Ada tempat karaoke baru loh. Tempatnya luas, enak, asik deh pokoknya." Pinta salah satu temannya.


"Ah, kita mah udah pada tua. Gak usah gaya-gaya an mau karaoke udah." Tolak Hani.


"Di rumah aku aja ayo kalau mau karaoke." Ajak Hani.


"Eh Bun, anakmu tuh nangis lagi." Kata temannya.


"Yuri mah udah biasa. Paling juga di senggol sama Kenzie." Jawab Hani.


"Maaf ya Jeng anak saya suka jahil." Ucap Naomi.


Naomi dengan Hani semakin dekat. Setiap ibu-ibu lain ingin sekali melihat rumah Naomi. Ia selalu mengalihkan ibu-ibu lain agar tidak merepotkan Naomi. Naomi merasa terlindungi oleh Hani.


Naomi sudah menganggap Hani sebagai adiknya. Walau Hani yang selalu membantunya. Namun usia Hani lebih muda dari Naomi. Setiap dirinya gak sempat menjemput Kenzie, Hani lah yang mengantar Kenzie sampai ke rumahnya.


...----------------...


[ Iya Ma. ] Yuri mengangkat telepon dari Mamanya.


[ Iya ini Yuri baru saja sarapan sama Kenzie. ]


[ Iya Ma, nanti Yuri sampaikan. ]


[ Mama kenapa nangis? ]


[ Iya, Mama juga jaga kesehatan ya. ] Yuri menutup teleponnya. Yuri bingung kenapa mamanya harus nangis. Padahal hampir setiap hari juga mereka saling telepon.


Kenzie dan teman-temannya ngumpul di kantin sambil menunggu jam pelajaran di mulai. Seperti biasa Yesha selalu menempel pada Kenzie. Kenzie sudah lelah untuk memberontak. Sekeras apapun Kenzie pada Yesha, ia akan selalu menempel padanya.


"Yuri." Ucap Kenzie lirih. Yuri dan teman-temannya masuk ke kantin.


"Yuri!" Kenzie teriak memanggil namanya. Ia langsung menghampiri Yuri.


"Sayang, mau kemana?" Tanya Yesha melihat Kenzie pergi.


"Ri, tunggu dulu. Aku sama dia benar-benar gak ada apa-apa, Ri." Kenzie menggenggam tangan Yuri. Menahannya agar tidak pergi.


"Lepas Ken! Aku gak suka!" Yuri meminta Kenzie untuk melepasnya. Ia sudah sangat kecewa pada Kenzie.


"Ri, aku sama dia gak ada apa-apa. Dia yang selalu mendekati aku. Aku sama sekali gak ada niatan untuk selingkuh." Jelas Kenzie. Kedua teman Yuri hanya menyaksikannya sambil duduk di samping mereka.


"Ri, aku mohon dengarkan aku. Aku sangat-sangat mencintai kamu Ri. Aku selalu menjaga hati aku untuk kamu Ri." Kenzie pun bertekuk lutut di depan Yuri.


"Ken! Aku gak suka jadi pusat perhatian seperti ini. Aku gak suka Ken memiliki saingan. Kamu tau sendiri bagaimana aku. Jadi biarkan aku pergi Ken. Biarkan aku rela melepas kamu." Sebisa mungkin Yuri menahan air matanya yang mulai berkumpul di ujung mata.


"Kita bisa hadapi sama-sama Ri. Tanpa harus mengakhiri hubungan ini." Kata Kenzie.


"Ada aku Ri. Sampai kapanpun aku akan selalu ada di samping kamu menjaga kamu." Kenzie kembali berdiri dan menggenggam tangan Yuri.


"Ken." suara imut yang memanggil Ken terdengar ke telinga Yuri. Dengan jelas Yuri melihat wajah perempuan yang ada di samping Kenzie.


"Kamu lihat kan Ken? Nyatanya gak ada siapapun yang ada di samping aku. Bahkan kamupun gak ada." Yuri pergi di susul oleh kedua temannya.


Air mata Yuri akhirnya berhasil lolos. Yuri tidak menggubris kedua temannya yang terus memanggilnya. Ingin rasanya kembali ke asrama. Tapi ia hanya mahasiswa beasiswa yang seharusnya bisa rajin dan dapat mempertahankan prestasinya.


Derry sekalipun tidak bisa membuat Yuri berhenti melangkah ke kelas. Di kantin, Yesha kembali bergelayutan di tangan Kenzie. Kenzie masih berdiri menatap kepergian Yuri.


"Lepas!" Kenzie mulai kesal.


"Ken, kapan sih kamu bisa melihat aku? Sedetik saja." Pinta Yesha.


"Saat kamu pergi menjauh dariku!" Jawab sinis Kenzie sambil pergi keluar.


"Kenzie!" Yesha merengek di kantin.


"Sudah, sudah. Lagi kamu gak ada capeknya ya ngejar-ngejar Kenzie." Ucap Darren.


"Berisik!" Yesha masih meneruskan tangisannya.


"Udah sih, kayak cowok cuma Kenzie aja. Udah jelek makin jelek tau gak kamu kalo nangis." Kata Darren menghentikan tangisan Yesha.


"Memang aku jelek?" Tanya Yesha.


"Ya menurut kamu? Kalau di banding sama ceweknya tadi yang natural tanpa make up menor kayak kamu gitu. Memangnya Kenzie bakal suka? Lagi juga dia udah cinta mati sama Yuri." Jelas Darren.


"Siapa namanya? Yuri?" Tanya Yesha. Darren menganggukkan kepalanya.


"Hmmmh Cantik sih dia. Tapi memangnya Kenzie gak bisa gitu pindah lain hati." Tanya Yesha. Yesha dan Darren terus ngobrol berdua dia kantin.


Sepulang kuliah, Derry sudah menunggu Yuri di lantai dasar. Yuri melihat Derry yang sedang duduk di kursi panjang.


"Ri, kamu benar gak apa-apa?" Tanya Stella.


"Iya gak apa-apa. Terimakasih ya." Yuri tersenyum pada kedua temannya.


"Ciye, udah di tunggu sama Calon Pak Dokter." Canda Wenda.


"Kita hanya teman kok." Jawab Yuri.


Yuri dan teman-temannya turun menemui Derry. Derry berdiri ketika melihat Yuri sudah berada di depannya. Kedua tangan Derry memegang pundak Yuri.


"Mau langsung berangkat kerja atau mau izin?" Tanya Derry.


"Ya langsung kerja Derry. Nanti malam aku makan apa kalau gak kerja. Kalau kerjakan aku masih bisa menikmati Rice Meal atau Mie." Jawab Yuri.


"Makan, makanan kadaluarsa lagi?" Tanya Derry.


"Ya begitulah." Jawab singkat Yuri sambil jalan menjauh dari Stella.


"Yuri!" Stella lari mengejar Yuri mengelilingi lantai dasar.


"Awas kamu ya makan, makanan kadaluarsa lagi! Aku akan membawakan banyak makanan untuk mu setiap saat!" Teriak Stella.


Ya, Stella termasuk orang kaya. Papanya pemilik salah satu Bank swasta di Singapura. Mamanya memiliki banyak toko bunga dan beberapa Restoran juga Cafe di Singapura.


Stella juga senang berteman dengan Yuri. Meski ia selalu memamerkan barang baru miliknya. Yuri tidak pernah memanfaatkannya.