Untitled Love

Untitled Love
Ep 43



Nathan mampir ke Cafe milik tetangganya itu. Dia menemui Ardita si pemilik Cafe itu. Dia langsung menuju ke ruangan Dita.


"Mas, untuk beberapa hari ini Yuri cuti dulu ya." Ucap Nathan. sambil menarik kursi.


"Kenapa? kalian mau liburan? Gak ada cuti! Dia kan belum setahun." Jawab Dita.


"Ya gimana dong? atau Cafe Mas Dita di pindahin dulu gitu?" tanya Nathan.


"Mau di pindahin kemana? enak saja!" Dita masih fokus dengan layar laptopnya.


"Aduh Mas nih, jadi bos gitu banget. Pantas saja Yuri sampai masuk ke rumah sakit. Pasti karena Mas Dita yang selalu marah-marah ya?" Nathan menuduh Dita.


"Loh? apa hubungannya sama Mas?" Tanya Dita sambil mulai membereskan barangnya.


"Ya lagi, Yuri lagi di rawat masih harus masuk. Kerja sambil bawa-bawa infusan gitu Mas?" Tanya Nathan.


"Pasti hanya akal-akalan kamu saja kan?" tanya Dita.


"Kalau gak percaya Mas Dita bisa periksa sendiri ke rumah sakit ini, nomor ini dan lantai ini." Nathan menulis tempat Yuri di rawat.


"Mas mau kemana sih?" tanya Nathan.


"Kapan kamu pulang? Saya ada keperluan mendadak." Dita menepuk pundak Nathan sambil keluar dari ruangan.


"Akan saya pikirkan dulu!" teriak Dita dari luar.


Kertas yang Nathan berikan tidak di bawa oleh Dita. Nathan mengambilnya kembali dan memasukkannya ke dalam kantong. Nathan segera keluar ketika ia masih mendengar suara Dita mengobrol di luar.


"Dita, dengarkan aku dulu! Aku cinta sama kamu, Dita!" teriak seorang gadis.


"Siapa dia Mbak?" bisik Nathan pada Melani.


"Mantannya Dita." jawab singkat Melani.


Sampai di rumah sakit, Dita mengingat kembali tulisan yang di tulis oleh Nathan. Ia mengikuti sesuai arahan dari Nathan. Sampai ia berhenti di ruang perawat lantai dua. Ia menanyakan ruangan Yuri.


"Oh, mas ganteng masuk nanti lurus saja. Nanti belok ke Kiri Ujung sebelah Kanan. Disitu ruangannya." jelas perawat.


"Terimakasih Mbak." ucap Dita.


Dita mengikuti arahan dari perawat tadi. Sampai di depan pintu, Dita mengintip dari kaca lebih dulu. Ia tidak melihat siapapun di ruangan itu. Ingin masuk tapi ia ragu, takut jika yang di dalam bukan karyawan barunya itu.


"Astaga!" Teriakan dari dalam berbarengan dengan Dita yang ikut kaget.


"Ya ampun Pak, buat saya jantungan aja sih. Untung saya Tipus bukan sakit jantung." Ucap Yuri sambil mengelus dadanya.


"Maaf, maaf. Saya lagi nyari ruangan teman saya. Saya kira di sini kamarnya."


"Kamu ngapain disini? Bukannya kerja, malah main kesini. Teman saya mana?" Tanya Dita.


"Lagi staycation saya Pak. Wah, jangan-jangan kebawa masuk di closet Pak." Jawab Yuri.


"Staycation kok di rumah sakit. Saya serius nanya loh." Mereka masih berdiri di depan pintu.


"Pak, bapak gak lihat ini?" Yuri menunjukkan selang infus yang ada di tangannya.


"Udah jelas saya lagi cosplay jadi pasien pak. Pasien disini rata-rata sedang sakit. Dari sakit ringan hingga berat. Ada juga yang sudah jadi alumni atau jadi pasien abadi." Lanjut Yuri sambil berjalan ke ranjangnya.


"Tapi saya lihat kamu sehat-sehat saja." Dita menatap Yuri tajam.


"Bapak kalau gak percaya mending bapak pergi deh. Saya mau istirahat nih. Sudah malam, ikan aja sudah di suruh bobo." Kata Yuri yang melihat Dita aneh.


Gak seperti biasanya Dita bertingkah seperti itu. Bahkan biasanya setiap ada Yuri, Dita langsung masuk ke ruangannya. Sebenarnya Dita terlihat aneh setelah Nathan memberikan kejutan ulangtahun pada Yuri. Dita lebih sering memperhatikannya. Dita juga suka memanggil Yuri tanpa memerintah apapun.


"Kamu ngusir saya?" Tanya Dita.


"Bukannya begitu Pak." Jawab singkat Yuri.


"Ya sudah, kalau gitu kamu tidur saja. Saya disini dulu sampai ada balasan dari teman saya. Dari pada nanti saya nyasar ke kamar mayat." Dita duduk di sofa besar yang ada di di sebelah ranjang Yuri.


Ya, rasa risih memang. Tapi mau bagaimana lagi. Yuri juga kasihan kalau misalkan nanti Dita mutar-mutar satu rumah sakit.


"Tunggu! Pak, kenapa bapak gak tanya ke resepsionis saja?" Tak ada jawaban dari Dita. Yuri melihat ke arah Dita, ia sudah memejamkan matanya.


Yuri kembali tidur setelah melihat Dita tertidur pules. Begitu mendengar suara dengkuran, Dita kembali terbangun. Ia menatap wajah Yuri dan mengusap kepalanya.


"Kamu cantik banget, Yur. Aku selalu merasa senang setiap melihat wajahmu. Semenjak pertama lihat kamu." Ucap Dita pada Yuri yang sudah tertidur pules.


Pagi harinya, Yuri terbangun saat Hani masuk ke ruangan anaknya. Ia melihat Dita yang sedang tertidur di sampingnya. Hani ikut bertanya dalam diam pada Yuri.


"Dia siapa Ri?" Tanya Hani berbisik


"Dia bos aku Ma. Pemilik Cafe tempat aku kerja." Yuri ikut berbisik.


"Mama kira tadi cewek. Tapi kok bajunya cowok. Habis rambutnya panjang dan di kuncir satu." kata Hani berbisik lagi.


"Ya sudah, Mama mau keluar sebentar ya. Mama mau cari sarapan dulu." Hani pamit keluar.


Yuri terus menatap Dita heran. Perasaan sebelum dirinya tidur, Dita berada di sofa. Tapi kini ia berada di sebelahnya.


"Permisi Nona Yuri. Ini sarapannya dan obatnya. Segera di makan ya Nona." Perawat tersebut masuk dan membuat Dita terbangun dari tidurnya.


"Terimakasih ya Sus." Ucap Yuri.


"Sorry, saya ketiduran." Ucap Dita setelah Perawat tadi keluar.


Dita pergi ke kamar mandi. Yuri menarik meja lipat yang ada di sisi samping ranjangnya. Ia membuka plastik warp yang menutupi hidangan yang di sediakan. Dita keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di samping Yuri.


"Buah itu lebih bagus di konsumsi di awal sebelum makan nasi. Kalau kata teman saya, Buah itu paling lama di prosesnya." Sambil menyuapi Yuri buah pepaya. Lalu ia mengambil sendok untuk menyuapi Yuri lagi.


"Sini saya suapin." ucap Dita.


"Gak perlu Pak. Saya bisa sendiri kok." Yuri meraih sendok yang ada di tangan Dita.


Dita dengan perlahan menyuapi Yuri. Semua makanan sudah habis bersih. Kini Yuri meminum obat yang di berikan perawat tadi.


"Terimakasih ya Pak. Saya jadi merepotkan bapak. Sampai bapak tidak jadi menjenguk teman bapak." ucap Yuri.


"Jangan panggil saya bapak kalau di luar Cafe. Memang saya terlihat tua sekali? Panggil saya Dita saja atau Ardita." pinta Dita.


"Sarapan datang." Teriak Hani dari pintu.


"Kan Yuri sudah dapat sarapan Ma. Malah sudah habis juga nih." Jawab Yuri.


"Oh, tentu bukan untuk kamu sayang. Mama bawakan sarapan untuk orang yang sudah menemani kamu semalaman." kata Hani sambil melirik ke Dita.


"Gak usah repot-repot Tante, saya ikhlas kok nunggu Yuri. Malah saya senang bisa menemani Yuri." Jawab Dita.


"Saya juga harus balik ke Cafe lagi." lanjutnya.


"Loh, ini loh di makan dulu. Di makan dulu yuk, gak baik kerja dengan perut kosong. Apalagi kalau karyawannya kayak Yuri semua. Malah jadi penyakit." Hani membujuk Dita.


Dita pun tak bisa menolak pemberian dari Hani. Ia makan bersama dengan Hani. Sedangkan Yuri mulai menonton TV yang di sediakan oleh pihak rumah sakit.