Untitled Love

Untitled Love
Ep 71



Sampai di kediaman keluarga Ishan. Kenzie langsung membawa Yuri masuk. Ia membawa Yuri langsung ke kamar yang waktu itu di tempati oleh Yuri. Keluarga Ishan memang terbiasa tidur larut malam. Mereka melakukan suatu apapun di ruang TV. Naomi yang sibuk chit chat di ruang TV, Kaira yang juga sibuk dengan sosial medianya dan juga Rama yang sedang menonton reality show komedi.


Fokus mereka teralihkan ketika Kenzie membawa Yuri dengan langkah cepat. Mereka saling mendekat dan saling bertanya-tanya. tatapan mereka berhenti melihat Kenzie yang membawa Yuri masuk ke kamar keluarga. Mereka kembali ke tempat mereka semula dengan cepat ketika Kenzie keluar dari kamar.


"Ken! turun!" Teriak Kaira.


Kalau sudah kakaknya yang manggil, Kenzie akan menurut. Kenzie yang tadinya hendak masuk ke kamarnya pun kembali menutup pintunya. Ia turun menghampiri kakaknya.


"Ken, kita tuh sebesar ini loh."


"Bisa-bisanya kamu melewati kami begitu saja." Kata Kaira.


"Maaf Bund, Yah, Kak." Kata Kenzie.


"Siapa yang kamu bawa? Ini rumah Bunda sama ayah. Biasakan kamu izin lebih dulu ke mereka?" Tanya Kaira.


"Iya Maaf." Kata Kenzie.


"Maaf ya Bunda, Ayah. Ken bawa Yuri tanpa izin kalian." Ungkap Kenzie.


Setelah mulai mereda dan kembali santai. Kenzie menceritakan kejadian tadi di Swalayan. Rama sempat kesal saat mendengar Kenzie memecat karyawannya begitu saja. Tapi Kenzie tetap membela dirinya dan akan tetap memecat Derry. Bahkan ia mengancam jika Rama memanggil Derry kembali, ia tidak ingin meneruskan bisnis ayahnya.


"Oke, oke. Jika itu mau kamu." Rama mengalah.


Ia mengerti, mungkin saat ini Kenzie sedang di kuasai oleh emosinya. Ia akan berbicara kembali jika Kenzie sudah tak lagi emosi. Itu kenapa Rama memilih untuk mengalah saat ini.


"Ken, Yuri memang punya penyakit dalam atau sakit jantung?" Tanya Kaira.


"Masa karena begitu saja dia pingsan?" Kaira heran. dalam hatinya ia merasa jika Yuri lemah sekali. Hanya sekedar gertakan kecil saja ia sampai pingsan.


"Panjang ceritanya kak. Intinya dia punya trauma dan dirinya masih di kuasai oleh traumanya." Jawab Kenzie.


"Trauma? Memang dia pernah di bully?" Tanya Kaira.


Sebenarnya Kenzie sudah bosan menjelaskannya. Baru saja di swalayan ia menjelaskan hal itu. Kini ia harus menjelaskan kembali pada keluarganya. Tapi ia tetap menjelaskannya.


"Cuma karena cowok? Setampan apa sih tuh cowok sampai dia buat seperti itu ke Yuri?" Tanya Kaira.


"Ya masih tampan Ken sih Kak. Tapi mereka itu sudah di jodohkan sejak kecil dan si Prisa juga sudah menantinya." Kata Kenzie


"Ah Yah, coba ayah hubungi Dokter Laura. Dia psikolog favorit di rumah sakit kita Yah." Usul Naomi.


"Dia gak mau Bun. Dia memilih mengalir begitu saja." Jawab Kenzie.


"Kalau gitu nanti biar bunda yang nanya langsung ke Dokter Laura." Kata Naomi mengakhiri percakapan mereka.


Kaira mengambil pakaiannya untuk Yuri. Setelah ia memilih baju untuk Yuri, Kaira mengantarkannya sendiri ke kamar yang di tempati Yuri. Kaira mengetuk-ngetuk pintunya, tapi tak juga di buka oleh Yuri.


"Apa sudah tidur ya?" Tanya Kaira dalam hati.


"Ri, kamu sudah tidur ya?" Kaira memanggil Yuri.


"Eh, gak di kunci?" Kaira menekan handle pintu dan terbuka.


"Kakak masuk ya." Kata Kaira.


Suara kucuran air terdengar oleh Kaira. Ia menggantungkan pakaiannya di atas lemari. Samar-samar Kaira mendengar suara selain suara kucuran air. Ia memperjelas lagi pendengarannya. Sampai ia mendengar jelas ada suara tangisan yang menyatu dengan suara air.


"Ri, Yuri." Panggil Kaira.


"Ri, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Kaira.


"Ri, buka pintunya dong." Kaira mencoba membukanya namun ternyata di kunci dari dalam.


"Ri!" Teriak Kaira.


lima menit ia menunggu, Yuri tak juga membuka pintunya. Kaira semakin khawatir namun berusaha untuk tidak panik. Ia kembali menunggu hingga setengah jam tak juga terbuka pintunya. Suara tangisannya juga tak terdengar lagi. Tersisa suara gemericik air kucuran.


"Ri, setidaknya kamu bilang kalau kamu baik-baik saja di dalam." Kata Kaira.


"Ri, kamu baik-baik saja kan." Tanya Kaira.


"Aduh, si ayah. Ini pintu terbuat dari apa sih susah banget di bukanya." Kaira kesal.


Kaira akhirnya pergi ke ruang keluarga. Ia mulai panik dan mengguncang ruang keluarga dengan suaranya. Bicaranya yang terlalu cepat membuat yang lain bingung apa yang dikatakan oleh Kaira.


"Kak, pelan-pelan kenapa sih kalau ngomong." Protes Kenzie.


"Itu loh," Kaira mengatur napasnya.


"Yuri~" Belum sempat menyelesaikan perkataannya Kenzie berdiri dengan cepat dan lari ke kamar yang di tempati Yuri.


"Yuri di dalam kamar mandi Bun, Yah." Kaira melanjutkannya dengan lemas. Ia tak menyangka adiknya pergi secepat kilat. Baru saja menyebut namanya, Kenzie sudah secepat kilat menghilang dari hadapannya.


Kaira, Naomi dan Rama menyusul Kenzie. Kenzie masih mencoba untuk mendobrak pintu kamar mandi. Namun belum juga terbuka. Akhirnya begitu Rama membantu Kenzie mendobrak secara bersamaan, pintu kamar mandi tersebut terbuka.


Yuri sudah tergeletak di lantai, dibawah kucuran air. Kenzie menggendong Yuri, ia tak peduli bajunya akan basah karena kucuran air. Kenzie membawanya keluar dan membaringkan tubuh Yuri di atas ranjang.


"Ayah sudah menghubungi dokter Gerald." Kata Rama.


"Kamu ganti baju saja dulu. Biar Kakak sama bunda yang mengganti pakaian Yuri." Kata Kaira.


Rama keluar menunggu kedatangan Dokter Gerald. Kenzie mengganti pakaiannya yang basah. Naomi dan Kaira menggantikan pakaian Yuri.


Dokter Gerald memberikan obat yang langsung di masukkan melalui jarum suntik. Ia juga menyarankan Yuri untuk konsultasi ke psikolog atau setidaknya konsultasi melalui orang terdekatnya. Naomi meminta pelayannya untuk membuatkan makanan hangat dan minuman herbal yang menghangatkan tubuh.


Pagi hari, Yuri terbangun dari tidurnya. Ia melihat Kenzie, Kaira, Naomi dan Rama tidur di sekeliling Yuri. Ada Naomi dan Kaira yang ikut tidur di atas kasur di sebelahnya. Kenzie yang tidur dengan posisi duduk dan menggenggam tangannya, juga Rama yang ikut tidur di sofa kamar.


Gerakkan Yuri membangunkan Kenzie, Kaira dan Naomi. Mereka kaget karena semalaman mereka berbincang menemani Yuri. Sampai mereka ketiduran di kamar tersebut.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Tanya Kenzie sambil memegang dahi Yuri.


"Yuri, kamu sudah merasa membaik belum?" Tanya Kaira.


"Tante sudah meminta Chef untuk membuatkan sup untuk kamu." Kata Naomi.


Rama masih tertidur pulas di atas sofa empuk berwarna biru. Yuri merasa hangat dengan perlakuan keluarga Ishan padanya. Ia jadi semakin merindukan kedua orangtuanya.