Untitled Love

Untitled Love
Ep 87



Di kantin Kenzie sudah menunggu Andre untuk menemuinya. Tepat sesuai permintaan Kenzie, Andre datang dengan tingkah anehnya. Kenzie hanya tersenyum melihat temannya bertingkah aneh.


"Sini, sini." Kenzie menepuk ke kursi kosong di sebelahnya.


"Jadi mau cerita atau mau terus kucing-kucingan?" Tanya Kenzie.


"Aku tahu kok." Kata Kenzie.


"Jadi kamu sudah tahu?" Tanya Andre.


"Pasti Stella cerita ya ke Yuri. Huh, padahal dia yang minta untuk di rahasiakan." Kata Andre.


"Coba gimana ceritain lebih jelasnya." Pinta Kenzie. Andre pun menjelaskan sejak awal.


"Oh gitu, jadi kamu punya hubungan dengan Stella selama ini." Kata Kenzie.


"Aku baru tahu." Lanjutnya.


"Gak usah pura-pura baru tahu deh. Sudah jelaskan tadi kamu sudah tahu dari Yuri." Kata Andre.


"Kapan aku bilang? Aku hanya ingin memancing mu saja untuk bercerita. Hahaha." Kenzie tertawa melihat wajah Andre yang memerah.


"Wah, teman macam apa seperti ini." Kata Andre.


"Ken, please jangan kasih tahu yang lain. Biar ini jadi rahasia kita. Stella masih belum mau mengumumkan hubungan kita." Jelas Andre.


"Siap, kita tidak akan bilang ke siapapun kok." Dengan serempak Dimas, Darren dan Laras. Ternyata sejak Andre bercerita mereka sudah berada di belakang Andre.


"Kalian? Sejak kapan kalian disini?" Tanya Andre.


"Masuk yuk, kata Harry dosen sudah ada." Kata Dimas mengalihkan pembicaraan. Setidaknya mereka sudah tahu berita terbaru.


Ujian telah usai, mereka kembali liburan. Stella mengajak Yuri dan Wenda main ke rumahnya. Dengan senang hati Wenda main ke rumah Stella. Sesungguhnya Yuri tidak ingin ikut main ke rumah Stella. Stella dan Wenda terus membujuk Yuri yang kini perutnya sudah mulai membesar sedikit.


Sampai di rumah Stella mereka langsung masuk ke kamar Stella. Pelayan membawakan minum dan Snack untuk mereka. Mereka saling bertukar cerita tentang ujian terakhir mereka di semester tersebut.


"Ri, kalau nanti kamu lahiran jangan lupa untuk selalu kabari kami ya." Pinta Stella.


"Hahaha kado ya jangan lupa." Jawab Yuri.


Sementara di Swalayan Indra sedang mengecek CCTV. Terpikirkan ia untuk melihat anaknya saat bekerja di swalayan tersebut. Ia melihat sejak pertama Yuri datang dan melamar di Swalayan tersebut.


Indra juga melihat bagaimana Yuri dan rekannya bercanda dan saling bekerjasama. Indra senang sekali anaknya di kelilingi oleh orang-orang baik. Namun ia harus melihat dimana Yuri mengambil beberapa makanan kadaluarsa. Tak hanya itu, ia juga melihat bagaimana anaknya memakan makanan yang seharusnya berada di tempat sampah.


"Begitulah Yuri dulu. Dia anak yang baik sekali. Dia tidak ingin merepotkan bapak." Kata Pak Moko yang tiba-tiba masuk.


"Apa Kenzie mengetahui ini?" Tanya Indra.


"Ya, saat itu Pak Kenzie marah. Ia juga langsung pergi. Kalau tidak salah, saya juga melihat ia sempat meneteskan air matanya. Pak Rama juga marah besar." Kata Pak Moko.


"Saat itu, Pak Rama dan Yuri belum saling mengenal. Kalau Pak Kenzie dia langsung menegur saya. Tanpa sepengetahuan Yuri." Jelasnya.


"Tapi kenapa Kenzie tidak mengatakannya pada saya dan istri saya?" Tanya Indra.


"Mungkin karena mereka saling tidak ingin menyakiti hati bapak dan ibu." Jawab Pak Moko.


Indra terus melihat semua rekaman CCTV selama anaknya bekerja di Swalayan tersebut. Ia merasa sesak setiap melihat anaknya memakan makanan kadaluarsa. Walau dengan kehidupan seperti itu, Yuri masih tetap terlihat bahagia.


Sampai ketika ia kembali melihat sesuatu yang tidak mengenakan di pandangannya. Saat dimana anaknya di bully oleh anak lain. Indra kembali mengusap matanya yang sudah basah.


"Anakku, Papa tidak sanggup untuk melihatnya. Bagaimana dengan kondisimu saat itu Nak?" Tanya Indra dalam lirihnya.


"Ya, saat itu Yuri terlihat Shock dan pingsan. Pak Kenzie juga sudah menceritakan pada saya." Kata Pak Moko.


Tak berapa lama, ia melihat dari CCTV Kenzie yang masuk ke Swalayan. Pak Indra langsung meminta Kenzie untuk ke Ruangnya. Pak Moko meninggalkan mereka berdua di dalam.


"Pa, bagaimana kerjanya hari ini?" Tanya Kenzie.


"Tadi Yuri ngabarin dia sedang berada di rumah temannya. Mungkin nanti sore dia ke Swalayan dulu." Kata Kenzie.


Pak Indra masih terdiam. Dia tidak membalas perkataan Kenzie. Kenzie pun bingung melihat mertuanya yang tiba-tiba diam.


"Pa, Papa baik-baik saja kan?" Tanya Kenzie.


"Ken, Papa tidak baik-baik saja." Jawabnya.


Ia melemparkan beberapa pertanyaan. Setelahnya, Indra menceritakan tentang apa yang ia lihat di rekaman CCTV tadi. Kenzie menjawabnya dengan perlahan agar tidak salah ucapan.


"Pa, sejak saat Mama Hani menghubungi Bunda. Kami tidak sanggup untuk mendengarnya. Kami yakin jika kami mengatakan yang sebenarnya, Mama dan Papa pasti sangat Khawatir dan Sedih." Kata Kenzie.


"Maafkan Kenzie Pa, Kenzie tidak mengatakannya lebih awal. Ken Harap hal ini jangan sampai Mama Hani tahu. Ken hanya tidak ingin Mama Hani sedih." Pinta Kenzie.


"Ken, sejujurnya Papa kecewa. Tapi Papa juga tidak bisa menyalahkan kamu. Semua memang karena trauma yang di alami Yuri. Papa juga salah tidak bisa memantau anak Papa sendiri." Indra beberapa kali juga selalu menyalahkan dirinya.


"Pa, kalau kata Bunda. Keberhasilan orangtua dalam mendidik anaknya akan terlihat ketika mereka sudah tumbuh dewasa." Kata Kenzie.


"Papa dan Mama sudah berhasil mendidik Yuri menjadi anak yang mandiri, yang tidak ingin merepotkan orangtua. Bahkan Kenzie saja masih belum mandiri seperti Yuri." Lanjutnya.


Indra memeluk Kenzie yang selalu menenangkan hatinya. Walau masih ada rasa sedih dan kecewa bukan pada Kenzie, tapi pada dirinya sendiri. Ia tidak tahu harus bagaimana membalas semuanya pada anaknya.


Indra mengusap air matanya dan tersenyum pada Kenzie. Kenzie membalas pelukannya untuk membuat hati mertuanya kembali tenang. Pak Moko masuk dengan membawa tiga gelas cokelat panas. Karena dirinya tidak menyukai kopi.


"Yuk diminum dulu." Pinta Pak Moko.


"Saya berterimakasih sekali sama Kenzie, Pak Moko dan semua karena sudah baik pada anak saya." Ucap Indra.


"Sudah seharusnya saya baik pada karyawan. Bukan begitu Pak?" Tanya Pak Moko.


"Apa yang kita tanam, maka itulah yang akan ia dapatkan. Begitulah Yuri dan juga kita semua. Jika kita berbuat baik maka kebaikan akan selalu menghampiri kita." Jelas Pak Moko.


"Pak Indra memang hebat mendidik Yuri." Puji Pak Moko.


"Saya hanya sibuk bekerja. Istri sayalah yang selalu berada di rumah bersama anak-anak saya." Jawab Indra.


"Saya jadi rindu anak-anak saya." Ucap Pak Moko lirih.


"Sesekali ambillah jatah Cuti bapak. luangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga." Kata Indra.


"Saya ingin mengumpulkan biayanya dulu untuk bersenang-senang bersama mereka." Jawab Pak Moko.


"Berlibur Lah Pak, besok. Saya sudah mengirim bonus untuk Bapak." Sahut Kenzie.


"Ini gak bermaksud memecat saya kan Pak Kenzie?" Tanya Pak Moko.


"Hahaha, tidak pak. Untuk apa saya memecat karyawan teladan seperti bapak. Saya juga gak ada gak memecat bapak. Semuanya tergantung Mertua dan Ayah saya." Jawab Kenzie.


Pak Moko ikut terharu, ia juga mengusap matanya yang basah. Ia menatap layar ponselnya yang memberi notifikasi. Indra dan Kenzie memeluk Pak Moko.


"Terimakasih Pak, terimakasih. Saya janji hanya libur sebentar. Pak Indra memang hebat, memiliki anak dan menantu yang baik." Pak Moko kembali memuji Indra.


"Seperti apa kata Pak Moko tadi. Kebaikan akan selalu menghampiri orang-orang baik seperti Pak Moko." Kata Indra.


"Saya kasih waktu seminggu untuk Cuti. Kurang tidak?" Tanya Kenzie.