
Tiga hari Yuri tidak kuliah dan tidak masuk kerja. Pak Moko merasa sepi tanpa Derry dan Merry. Di posisi Derry ia merasa khawatir dengan Yuri yang tidak ada kabar selama tiga hari.
Hari terakhir di semester awal. Sebelum libur, Yuri menyempatkan diri untuk masuk kuliah. Sepulang kuliah, Yuri kembali masuk kerja. Pak Moko menyambut Yuri dengan senang sekali. Walaupun hanya tiga hari bagi Pak Moko berasa sangat lama.
"Wah, anak bapak yang satu ini. Gimana kabar kamu Nak?" Tanya Pak Moko.
"Baik Pak,"
"Loh Pak, kok Kasirnya ganti? Derry pindah jadwal Pak?" Tanya Yuri.
Pak Moko menjelaskan kenapa tidak ada Derry. Ia juga memberi tahu bahwa saat kejadian itu, Kenzie memecat Derry. Pak Moko juga menceritakan kekhawatiran Kenzie saat itu.
"Apa? Kok dia gak bilang ke saya ya Pak?" Tanya Yuri.
"Itu urusan kamu dan Bos. Bapak gak berani ikut campur." Jawab Pak Moko.
Ingin Yuri pergi menemui Derry. Tapi kondisi saat ini swalayan sedang ramai pelanggan. Ia mengurungkan niatnya dan melanjutkan kerjanya.
Kenzie menjemput Yuri untuk pulang ke rumahnya. Naomi mengundang Yuri untuk makan malam bersama. Kenzie memantau seluruh aktifitas di swalayan. Ia juga melihat hasil laporan bulanan yang di kelola oleh Pak Moko.
"Ayo, mau pulang sekarang?" Tanya Kenzie.
"Gak!" Jawab ketus Yuri.
"Kamu kenapa sayang?" Kenzie bingung.
"Kamu nanya? Kamu gak coba ingat kesalahan kamu dimana?" Tanya balik Yuri.
"Ya, kalau memang aku salah. Aku minta maaf." Ucap Kenzie.
"Gitu aja? Kamu gak sadar dimana salahnya?" Tanya Yuri.
"Ya aku bingung dimana salah aku sayang." Jawab Kenzie.
"Berarti kamu gak tulus minta maafnya." Kata Yuri.
"Bukannya gitu sayang," Kenzie kehabisan kata-kata.
"Udahlah, kalau kamu belum menyadari kesalahan kamu. Lebih baik kamu simpan tuh kata maaf kamu." Kata Yuri sambil keluar dari Swalayan.
Pak Moko cukup melihat sepasang anak muda yang sedang bertengkar. Ia tak ikut campur dengan masalah mereka. Padahal Pak Moko mengerti permasalahannya.
"Nak Kenzie, bisa ikut saya ke ruangan sebentar? Sepertinya ada beberapa laporan saya yang belum di lihat." Kata Pak Moko.
Kenzie kembali masuk ke ruangan Pak Moko. Kenzie duduk di kursi milik Pak Moko. Sambil memperhatikan berkas-berkas yang ada di meja Pak Moko. Namun berkas-berkas tersebut sudah ia periksa semua dan tidak ada kesalahan.
"Ada apa ya Pak? Mana berkas yang belum saya periksa?" Tanya Kenzie.
"Begini Nak," Pak Moko menjelaskan bahwa dirinya sudah menganggap Yuri sebagai anaknya.
"Bapak tahu betul apa permasalahan kalian." Kata Pak Moko.
"Yuri itu marah karena Nak Kenzie memecat Derry begitu saja." Jelas Pak Moko.
"Loh? Memangnya kenapa? Apa salah saya memecat orang itu? Ini demi kebaikan Yuri." Kenzie tetap merasa dirinya benar.
Sampai di kediaman Ishan, Yuri masih diam. Sepanjang jalan Kenzie teringat perkataan Pak Moko. Pak Moko mengatakan bahwa selama ini Derry selalu melindungi Yuri. Pak Moko juga mengatakan bahwa Derry selalu masuk kerja walau bukan jadwalnya kerja. Itu semua demi melindungi dan menjaga Yuri.
Sebelum masuk Kenzie menahan Yuri. Mereka masih berdiri di depan pintu. Kenzie menggenggam tangan Yuri.
"Sayang tunggu dulu." Kata Kenzie.
"Kamu masih marah ya?" Tanya Kenzie.
"Menurut kamu?" Yuri bertanya balik.
"Ya, aku minta maaf. Aku gak mau kamu kenapa-napa karena dia sayang." Jawab Kenzie.
"Aku cuma gak mau nanti ceweknya melakukan yang lebih dari itu." Lanjut Kenzie.
"Aku tahu dia itu seperti apa. Toh, mau menghindar dari ceweknya pun aku gak bisa. Kita satu kampus. Fakultas aku dengannya berseberangan. Aku juga sama-sama satu tower sama dia asramanya." Lanjut Yuri.
"Kamu suka ya sama dia?" Tanya Kenzie curiga.
"Zie!" Yuri kesal dengan pertanyaan Kenzie.
"Ya buktinya kamu membela dia." Ungkap Kenzie.
"Zie! Kamu gak tahu Derry. Dia baik, kerjanya juga rajin. Kamu memecat dia hanya karena kesalahan orang lain. Kesalahan yang tidak ia lakukan." Jawab Yuri.
"Apa buktinya kalau kamu tidak menyukainya?" Tanya Kenzie.
"Zie! Kamu meragukan cinta aku?"
"Aku pulang saja kalau gitu." Ucap Yuri kesal.
"Sayang, jangan marah ah. Aku kan cuma bercanda. Aku percaya kamu." Kenzie mengejar Yuri.
"Ya deh, aku bakal minta Pak Moko untuk bawa Derry kerja lagi di Swalayan." Seketika Yuri yang sudah berjalan sampai di depan air mancur berhenti.
"Sungguh? Kamu gak lagi bohongi aku seperti anak kecil yang sedang ngambek kan?" Tanya Yuri.
"Aku gak bohong sayang. Aku janji sama kamu." Kenzie menggenggam kedua tangan Yuri.
Kenzie memeluk Yuri. Sebuah mobil masuk dan membunyikan klakson mobilnya. Kaira mengeluarkan kepalanya melalui jendela mobilnya.
"Hei, ngapain kalian? Lagi syuting drama Ind****?" Ucap Kaira menyapa mereka berdua.
Kaira lebih dulu sampai di depan pintu. Mobil yang ia gunakan di ambil alih oleh pelayan untuk di masukkan ke garasi. Kenzie dan Yuri menyapa Kaira bersama.
"Malam Kak." Sapa Yuri.
"Hai Ri, masuk yuk." Ajak Kaira.
"Gimana kuliahnya? Sudah libur ya?" Tanya Kaira.
"Sudah Kak." Jawab Yuri.
"Kemana nih liburan? Mau jalan-jalan keliling Singapura?" Tanya Kaira.
"Yuri sudah pesan tiket pesawat Kak untuk lusa." Jawab Yuri.
Sampai di ruang makan, Naomi menyapa anak-anaknya. Begitu juga dengan Rama yang sedang asik nonton TV. Ia ikut bergabung di ruang makan.
Usai makan mereka berkumpul di ruang TV. Seperti biasa, mereka sibuk masing-masing dengan gadgetnya. Kenzie dan Yuri sama-sama melihat sosial media mereka. Ponsel Yuri tiba-tiba berdering. Seperti biasa, Sang Mama selalu menghubunginya setiap tiga hari sekali.
[Ri, kamu lagi apa Nak?] Tanya Hani.
"Lagi ngobrol saja sama Kenzie, Ma." Jawab Yuri.
[Itu kamu lagi dimana? Ingat ya Nak, jangan macam-macam.] Hani khawatir jika Yuri salah langkah.
"Engga Ma, Yuri gak akan macam-macam. Yuri lagi di rumah Kenzie." Jawab Yuri.
"Halo Jeng, Jeng tenang saja ya. Anak kamu gak akan macam-macam kok." Sahut Naomi.
[Eh Jeng Naomi. Aduh maaf ya Yuri sering merepotkan disana.] Ucap Hani.
"Engga Jeng, justru Yuri kalau tidak di minta kesini, dia gak akan kesini Jeng." Jawab Naomi.
[Terimakasih ya Jeng, setidaknya saya lebih tenang jika Yuri bersama Kenzie.] Ungkap Hani.
"Iya Jeng, saya juga senang ada Yuri. Semoga kita bisa cepat-cepat jadi keluarga ya Jeng." Kata Naomi.
[Amin Jeng, saya juga berharapnya begitu. Saya sudah kenal Kenzie dan Jeng. Begitu juga Jeng, kita sudah kenal sejak mereka kecil. Jadi saya tenang jika Yuri bersama Kenzie.] Balas Hani.
Setelah panjang lebar mengobrol antar emak-emak. Akhirnya mereka saling menyudahi obrolannya yang di akhiri dengan khayalan mereka.