Untitled Love

Untitled Love
Ep 105



Di mobil, Stella dan Andre saling diam. Setelah Stella mengungkapkan perasaannya ia merasa canggung untuk memulai. Karena selama ini Stella hanya diam dan cuek pada Andre. Semua sikap Andre padanya membuat dirinya luluh.


"Mau makan dulu gak? Aku lapar nih." Ajak Andre.


"Boleh." Jawab Stella.


"Gimana kalau kita kesana?" Andre menunjuk sebuah restoran yang tidak jauh darinya.


"Oke." Lagi-lagi Stella menjawabnya dengan singkat.


Andre belok ke restoran yang ia tunjuk. Mereka langsung memesan makanan. Setelah pelayannya pergi, Andre meraih tangan Stella.


"Stella, apa benar yang kamu katakan tadi di apartemen Kenzie?" Tanya Andre.


"Ya,"


"Kenapa kamu tidak bilang padaku?" Tanya Andre memotong ucapan Stella.


"Aku masih belum yakin kalau yang aku rasakan saat ini adalah rasa cinta." Jawab Stella.


"Gak apa-apa, aku akan terus menunggumu sampai kamu yakin. Kita bisa melalui ini semua." Kata Andre.


"Besok adalah hari pernikahan kita. Kamu bisa membatalkannya jika kamu merasa terpaksa." Lanjut Andre.


Mereka mulai makan, makanannya masing-masing. Tidak ada sepatah kata apapun yang keluar dari mulut mereka. Stella kembali bimbang dengan perasaannya. Ia juga bimbang dengan keputusannya lanjut atau berhenti sampai disini.


"Besok, jika kamu tidak ingin melanjutkan perjodohan ini. Pergilah, aku punya Villa di daerah Y untuk kamu tempati sementara."


"Semua keputusan ada di kamu. Aku akan tetap hadir di acara pernikahan kita. Karena aku mencintaimu." Ucap Andre.


Andre mengantarkan Stella pulang sampai ke rumahnya. Setelah itu, ia kembali ke rumahnya dan mempersiapkan segalanya. Ia tidak bisa berharap lebih pada Stella.


***


Acara yang terbilang megah. Tak hanya kerabat Andre dan Stella yang datang. Semua pengusaha dan rekan bisnis kedua orangtua mereka turut hadir di acara tersebut.


Stella mempersiapkan dirinya di ruang ganti. Ia di temani Wenda, Yuri dan juga Devano. Setelah selesai di rias, di ruangan tersebut tersisa mereka berempat.


"Stella, tampaknya kamu gak bahagia hari ini. Kenapa?" Tanya Yuri.


"Iya, Stella. Kenapa?" Tanya Wenda.


"Aku gak tahu harus lanjut atau tidak. Aku masih ragu saja." Jawab Stella.


"Ikuti kata hati kamu, Stella. Pernikahan itu sekali seumur hidup. Gak semudah masa pacaran. Akan ada rintangan yang harus kamu lalui nantinya." Jawab Yuri.


"Aduh, si Devan kayaknya ada aroma gak sedap nih. Aku balik ke kamar dulu ya." Lanjut Yuri.


Acara sudah hampir di mulai. Panitia acara memastikan seluruhnya. Salah satu di antaranya menyiapkan posisi untuk pengantin.


Semenit sebelum acara di mulai, panitia mulai panik mencari pengantin wanita. Sudah mereka cari di beberapa tempat tidak mereka temui. Kabar tersebut sampai ke telinga Andre. Ia pasrah dengan keputusan Stella. Ia tetap tegar dan maju ke Altar dengan senyuman.


Sudah lima menit acara berlangsung. Mereka tak juga melihat pengantin wanitanya. Andre benar-benar sedih dengan keputusan Stella. Ingin rasanya menahannya, tapi ia tidak ingin melihat Stella tidak bahagia bersamanya.


Pintu aula terbuka lebar. Lampu ruangan padam tersisa lampu sorot yang masih menyala. Stella berdiri tepat di pintu masuk. Dengan gaun putihnya ia melangkah berjalan menuju altar. Ia melihat Andre yang berdiri menunggunya.


Sungguh membuat Andre tak dapat berkata-kata. Ia sangat bahagia Stella hadir dan berjalan menujunya. Andre tak dapat menahan air matanya.


"Katanya Pria, tapi malah nangis." Bisik Stella.


"Kamu datang? Apa kamu yakin?" balas Andre.


Acara janji suci pun berlangsung. Seluruh tamu undangan yang hadir ikut merasakan kebahagiaan mereka. Begitu juga Yuri dan Wenda. Apalagi saat mengingat kelakuan Stella yang sibuk makan tanpa mengabari siapapun.


Wenda dan Yuri menemukan Stella tengah menyantap buah yang Stella bawa. Beruntung hanya lipstik yang perlu di perbaiki. Yuri memperbaiki lipstik Stella dan langsung membawanya. Tentunya sesuai dengan keputusan Stella mereka membawa Stella ke depan aula.


"Terimakasih kamu mau terus bersamaku." Ucap Andre.


"Aku sangat mencintaimu." Lanjutnya dengan mencium bibir Stella.


Seluruh tamu undangan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Andre tak menyangka Stella akhirnya memilihnya. Di peluknya dengan erat Stella.


"Aku sangat-sangat mencintaimu." Ucap Andre. Tak henti-hentinya ia mengucapkan itu.


"Aku juga mencintaimu." Balas Stella.


"Thank you honey. Aku janji akan membuatmu menjadi wanita terbahagia di dunia ini." Kata Andre.


"Wanita membutuhkan pembuktian bukan sekedar janji." Balas Stella.


Acara pernikahan mereka berjalan lancar. Yuri dan Wenda turut bahagia melihat Stella menikah dengan orang yang ia cinta. Keenan terus menatap Wenda yang tertawa.


"Kamu mau yang seperti ini atau yang lebih dari ini?" Tanya Keenan.


"Apa sih? Baru juga pacaran udah ngomongin nikah." Jawab Wenda.


"Kenapa harus lama-lama pacaran? Langsung nikah lebih baik." Balas Keenan.


"Yuri! Adikmu ini nih." Wenda mengadu pada sahabatnya.


"Ken, jangan jahil ah." Yuri membela Wenda.


"Aku cuma ngajak Wenda menikah Kak." Jawab Keenan.


"Loh, kapan? Jangan dadakan ya. Kenapa semua jadi ikut dadakan?" Tanya Yuri.


"Yang dadakan biasanya pasti jadi Kak. Kalau di rencanakan lama-lama hanya jadi wacana saja." Balas Keenan.


Kenzie bergabung dengan teman-temannya yang lain. Begitu juga dengan mertua Yuri yang ikut bergabung dengan rekan bisnis mereka. Tiba saat pelemparan bunga. Keenan menarik Wenda untuk ikut bersamanya.


Wenda tidak ada niat untuk ikut menangkap bunga. Ia yakin tidak akan dapat. Jadi ia malas untuk ikut berkumpul. Berbeda dengan Keenan yang sangat bersemangat. Ia bahkan sudah bersiap untuk menangkap bunga tersebut.


"Ayo dong lempar sekarang." Ucap Keenan.


"Sabar woi! Buru-buru banget!" Teriak Dimas.


"Sayang, kalau Keenan duluan yang dapat. Berarti kita tertunda lagi dong?" Tanya Laras.


"Ya kita paksa mereka untuk segera menikah. Jadi gak perlu nunda." Kata Dimas.


"Lagi juga ngapain di tunda. Mau Minggu depan juga ayo." Lanjut Dimas.


Andre dan Stella mulai melempar bunganya. Ketika yang lain sibuk merebutkan bunga. Keenan sibuk mempertahankan bunga yang ia sekap. Bunga tersebut jatuh dan langsung di lindungi Keenan. Ia berhasil mendapatkan bunganya.


Ia juga langsung memberikannya ke Wenda. Keenan bahagia sekali mendapat bunganya. Sedangkan Wenda merasa malu melihat Keenan yang bersemangat.


"Tuh kan, Keenan dapat." Laras sedikit kesal.


"Ya, biarkan saja. Apa perlu aku minta dia menikah Minggu depan?" Tanya Dimas.


"Boleh, suruh dia menikah Minggu depan." Laras menantang Dimas.


"Hehehe,, sabar ya sayang." Jawab Dimas.


Andre senang acara pernikahannya berjalan dengan lancar. Stella juga bersedia untuk menikah dengannya. Kini mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.