
Derry masih berdiri sampai Yuri naik dan masuk ke kelasnya. Tak hanya Derry yang masih berdiri disana. Kenzie juga masih berdiri sambil menatap Derry.
"Yuri milikku dan jangan harap kamu bisa merebutnya dariku!" Kata Kenzie.
"Benar kata Yuri, sebaiknya kamu berkaca sebelum mengatakan hal itu padaku." Balas Derry.
"Apa maksudmu?" Kenzie menarik kerah kemeja Derry.
"Seharusnya kamu sadar, dia sudah bukan milikmu lagi. Kamu yang membuatnya pergi." Jawab Derry sambil mendorong Kenzie dan dengan santainya Derry pergi.
"Bagus aku tidak mengatakan bahwa kamu adalah bos di tempatnya bekerja." Teriak Derry sambil melambaikan tangan.
Di Swalayan Pak Moko berjumpa dengan Pak Rama. Di sela waktu kosongnya, Pak Rama mengontrol seluruh mini marketnya. Ia di temani oleh Pak Frans Asistennya.
"Bagaimana Pak Moko?" Tanya Rama.
"Berjalan lancar Pak. Swalayan ini tidak pernah sepi pengunjung setiap harinya." Pak Moko menjelaskan kondisinya.
"Boleh saya lihat rekaman CCTV nya?" Tanya Rama.
"Boleh pak, silahkan." Rama masuk ke ruang kontrol dan Pak Moko mengikutinya.
"Siapa dia? Kenapa dia memakan, makanan tanpa membayar?" Tanya Rama.
"Kalian sudah saya kasih jatah sebulan sekali untuk mengambil yang kalian inginkan dengan batas yang di berikan. Kenapa masih seperti ini?" Tanya Rama dengan nada tinggi.
"Maaf Pak, dia karyawan baru. Bukan tidak ingin membayar. Justru beliau memakan makanan yang sudah kadaluarsa." Jawab Pak Moko sambil menunduk.
"Apa? apa kau gila ya? Kamu itu atasan mereka. Seharusnya kamu memberi tahu. Saya meminta produk yang kadaluarsa di tarik dan di buang atau di musnahkan. Bukan untuk di konsumsi Pak Moko!" Rama marah melihatnya.
"Maaf Pak, saya sudah sempat melarangnya," Pak Moko menjelaskan sesuai cerita dari Yuri.
"Saya gak mau tahu! Kalau saya dapat menemukan hal seperti ini lagi, Saya akan memberi peringatan untuk kamu!" Rama keluar dari ruangan tersebut.
"Saya sudah memberikan keringanan untuk kalian setiap bulannya. Kamu tahukan bahayanya mengkonsumsi makanan yang sudah kadaluarsa? Itu alasan saya mengapa saya harus memusnahkan produk yang sudah kadaluarsa!" Pak Moko menunduk. Derry dan Yuri baru saja sampai Mini Market Rama.
Mereka melongo melihat Rama yang keluar dan Pak Moko yang terus menunduk. Yuri dan Derry langsung menghampiri Pak Moko. Pak Moko hanya melemparkan senyumannya.
"Ada apa Pak?" Tanya Derry.
"Gak apa-apa. Tadi hanya ada kunjungan saja dari Owner." Jawab Pak Moko.
"Kalian sudah makan belum?" Tanya Pak Moko.
"Sudah Pak, tadi di kampus." Jawab mereka berdua.
"Ya sudah kalian langsung bersiap ya." Perintah Pak Moko.
"Ri, Nanti temui saya di ruangan ya." Lanjut Pak Moko.
Yuri dan Derry saling tatap-tatapan. Setelah mereka menaruh barang mereka, Derry langsung menggantikan posisi karyawan yang shift sebelumnya. Yuri langsung ke ruangan Pak Moko. Disana Yuri melihat Pak Moko sedang menunduk di tumpu oleh kedua tangannya.
"Permisi Pak, ada apa ya bapak manggil saya?" Tanya Yuri.
"Begini Ri~" Pak Moko menceritakan apa yang di lihat Pak Rama dan memintanya untuk melarang Yuri mengkonsumsi makanan yang sudah kadaluarsa.
"Memangnya kenapa Pak? Bukankah makanan itu juga akan berakhir di tempat sampah?" Tanya Yuri. Pak Moko menjelaskan kenapa Rama melarangnya.
"Tapi Pak, buktinya sampai sekarang saya baik-baik saja." Kata Yuri.
Dengan berat hati Yuri menerimanya. Ia keluar dari ruangan Pak Moko dengan lemas. Derry yang melihatnya pun merasa khawatir pada Yuri.
"Kenapa, Ri? Kamu gak di pecat kan?" Tanya Derry.
"Kalau kamu di pecat, aku akan ikut keluar dari swalayan ini." Lanjutnya.
"Engga, aku gak di pecat kok." Yuri tersenyum.
"Manis banget sih kamu kalau senyum gitu. Pokoknya kamu harus tersenyum terus ya." Kata Derry. Tapi tak lama Yuri kembali murung.
"Loh, kenapa?" Tanya Derry.
"Aku di larang untuk mengambil makanan yang sudah kadaluarsa lagi." Yuri sedikit merengek.
"Bagus dong, itu tandanya Pak Rama perhatian pada karyawannya." Ucap Derry.
"Terus kalau gak makan itu, nanti aku makan apa? Toh, pada akhirnya mereka juga akan di buang ke tempat sampah." Jawab Yuri.
Derry menenangkan Yuri. Sampai Yuri tenang mereka baru mulai bekerja. Untungnya toko masih terlihat sepi. Yuri mulai mengecek persediaan barang di toko. Yuri mengumpulkan makanan dan minuman yang sudah memasuki tanggal kadaluarsa.
"Oh ya ampun, berat sekali rasanya mamamu ini membuang mu Nak." Kata Yuri pada makanan dan minuman yang akan di buang.
Menjelang malam, Derry sudah bersiap untuk pulang. Sedangkan Yuri masih duduk termenung di meja panjang yang menempel di dinding. Sambil menatap jalan dan memikirkan nasibnya.
"Kamu gak pulang Ri?" Tanya Derry.
"Aku lembur hari ini. Kamu hati-hati dijalan ya." Jawab Yuri.
Ketika Derry sudah pulang dan Pak Moko masih sibuk dengan pekerjaannya. Yuri kembali membersihkan toko agar nampak bersih dan cerah. Sampai jam sudah menunjukkan pukul 02:00 Yuri mematikan seluruh ruangan dan memastikan bahwa semuanya aman. Ia mengunci pintu Swalayan.
Selama sebulan Yuri memilih lembur. Jika lembur ia juga akan mendapat tambahan biaya lembur. Stella tenang ketika mendengar dari Derry bahwa Yuri mendapat teguran.
"Lagi juga kamu mah aneh, Ri. Orang-orang mah malas kalau sudah kadaluarsa, kamu malah di makan." Kata Stella.
Saat makan siang Derry menghampiri Yuri dan teman-temannya. Mereka makan bersama. Derry duduk bersebelahan dengan Yuri. Sedangkan Stella dan Wenda hanya memperhatikan Derry dan Yuri yang sibuk makan sendiri-sendiri.
Di sudut kantin seperti biasa Kenzie memanas melihat Derry dekat dengan mantan kekasihnya. Di sebelahnya ada Yesha yang tidak suka melihat Kenzie yang sedang cemburu. Andre, Dimas dan Darren terus memanasi Kenzie.
"Ken! Udah sih! Seharusnya tuh kamu sadar! Dia itu bukan cewek baik-baik!" Ucap Yesha sambil menggebrak meja.
"Apa maksud kamu?!" Kenzie menatap tajam Yesha.
"Ya kamu lihat sendiri kan? Baru putus dari kamu sudah mau dekat dengan cowok lain. Apalagi aku pernah lihat dia pulang ke asrama jam 2 malam." Jawab Yesha.
"Kalau cewek baik-baik jam segitu udah bobo cantik kayak aku." Lanjutnya.
"Berarti benar dong, dia bukan cewek baik-baik, cewek murahan yang mau di dekati sama siapa saja. Dia juga mau tuh di dekati sama Andre." Tambahnya.
"Apa kamu bilang?" Kenzie mencengkram kuat rahang Yesha.
"Ken, Ken lepasin!" Ketiga sahabatnya memintanya melepaskan Yesha. Ken tidak menggubris omongan mereka.
"Berani sekali kamu menilai dia seperti itu. Bahkan kamu sendiri lebih buruk darinya!" Ken melepaskan cengkeramannya sambil mendorong Yesha.
Kenzie pergi begitu saja tanpa sepatah kata apapun.