Untitled Love

Untitled Love
Ep 80



Sudah dua Minggu Yuri seperti itu. Ia selalu menolak untuk di bawa ke rumah sakit. Ia tidak merasa terbebani oleh rasa mualnya. Yuri justru mengira ia mual karena terlalu banyak makan. Karena memang Yuri lebih sering lapar dan mudah mengantuk.


"Besok kamu sudah harus masuk kuliah sayang. Aku mohon turuti permintaan aku untuk ke dokter." Kata Kenzie.


"Sayang, aku itu gak kenapa-napa. Aku cuma kebanyakan makan, ditambah aku habis makan pasti langsung tidur. Jadi asam lambungku meningkat." Jawab Yuri.


Bel apartemen mereka berbunyi lagi. Kenzie membukakan pintunya. Karena Bundanya tadi sudah menghubunginya dan mengabarkan bahwa ia dan suaminya akan berkunjung ke apartemen.


"Masuk Yah, Bun." Ajak Kenzie.


"Mana Yuri?" Tanya Naomi.


"Ada di ruang TV, Bun." Jawab Kenzie.


"Malam Bunda, Ayah. Kok malam-malam sih datangnya? Kenapa gak dari tadi pagi sih?" Tanya Yuri.


"Biasa, ayahmu itu banyak kerjaan. Jadi Baru sempat sekarang." Jawab Naomi.


"Ri, Bunda bawain ini loh untuk kamu." Naomi memberikan sebungkus makanan.


"Wah, sayap ayam!" Yuri mengambil bungkusan yang di berikan oleh Naomi.


Yuri sibuk sendiri dengan sayap ayamnya di meja makan. Naomi juga membelikan ceker ayam yang telah di buang tulangnya. Yuri sangat senang sekali. Naomi juga senang melihat Yuri yang makan dengan lahap.


"Ken, kulkas kamu kok kosong sih?" Tanya Naomi.


"Mau diisi juga bingung, mau isi apa. Setiap Ken mau masak, Yuri langsung mual dan jadi gak napsu makan." Jawab Kenzie.


"Jangan-jangan Bunda bakal jadi Grandma nih." Ucap Naomi dengan senang hati.


"Hush, gak boleh gitu ah Bun. Gimana di kasihnya saja. Kalau terlalu berharap juga kan kasihan anak kita Bun. Mereka pasti merasa terbebani jika belum di kasih." Rama membela anak dan menantunya.


"Bawa Yuri berobat Ken atau panggil dokter saja." Saran Rama.


"Yuri gak mau, Yah. Dia tuh gak suka minum obat." Jawab Kenzie.


"Sama kayak kamu. Cocok udah kalian tuh." Kata Naomi.


"Yah, malam ini kita nginap disini saja yuk. Bunda masih kangen sama Kenzie dan Yuri." Pinta Naomi.


"Tadi janjinya gak lama. Sekarang kenapa malah minta nginap?" Tanya Rama.


"Ya gimana? Namanya sama anak mah pasti kangen terus, Yah." Jawab Naomi.


Akhirnya mereka menginap di apartemen. Hingga larut malam, Kenzie dan sang ayah sibuk mengobrol dan membahas tentang pekerjaan mereka. Sedangkan Naomi dan Yuri sudah tidur di kamar mereka masing-masing.


Pagi-pagi Yuri bangun sudah mual-mual. Naomi sudah memanggil Chef yang bekerja di rumahnya. Setelah mengeluarkan makanan dan minuman yang ia kumpulkan tadi malam.


"Eh, menantu kesayangan Bunda sudah bangun." Sapa Naomi.


"Bun, ini aroma bau apa sih? Aku mual banget nyium nya." Yuri menutup hidungnya.


"Baru juga mulai masak, Nak. Tapi aromanya pasti lezat kok. Apalagi masakannya, enak banget. Bunda pesan makanan kesukaan kamu loh." Kata Naomi.


"Bagaimana kalau nanti kita jalan-jalan? Bunda pengen banget jalan-jalan nih. Ada tas baru yang bagus banget." Naomi terus berbicara.


"Bunda, Bunda. Tunggu dulu ya, aku sudah gak tahan nih mau buang air." Yuri menahan sesuatu.


"Tunggu! Kamu tunggu disini." Naomi menahan Yuri.


"Bun, aku sudah gak tahan nih." Yuri menggoyangkan kedua kakinya bergantian.


"Tunggu sebentar." Naomi masih terus merogoh tasnya.


"Nah ini dia. Kamu pakai ini ya." Pinta Naomi.


"Testpack?" Yuri benar-benar gak terpikirkan untuk mencoba tes kehamilan.


"Iya, kamu pakai ya." Naomi senyum-senyum melihat Yuri masuk ke kamar mandi.


Naomi menunggu dengan harap-harap cemas. Ia tidak ingin terlalu berharap. Tapi ia yakin bahwa Yuri sedang hamil.


Yuri keluar dengan ekspresi yang sulit di tebak olehnya. Belum sempat bertanya, Rama sudah melayangkan pertanyaan pada Yuri. Belum lagi Kenzie yang baru keluar dari kamar.


"Nunggu apa sih, Bun?" Tanya Rama.


"Makanya, sabar ngantri dulu." Jawab Naomi.


"Ayah kan gak tahu, Bun." Kata Rama.


"Pagi-pagi ada apa sih ramai sekali?" Tanya Kenzie.


"Gimana Ri? Apapun hasilnya bunda gak akan kecewa kok." Kata Naomi.


"Agar kamu bisa cepat di tangani. Ini sudah lama loh kamu seperti ini." Naomi sangat mengkhawatirkan menantunya.


Belum sempat Yuri menjawab, Chef Gerry sudah mulai memasak. Mencium aroma tersebut, Yuri kembali mual-mual. Yuri masuk lagi ke kamar mandi.


"Suruh Chef Gerry berhenti memasak. Minta dia masak di luar saja." Pinta Naomi.


"Memang ada apa sih Bun?" Tanya Rama.


"Kok ramai sekali disini." Kaira yang baru datang bingung melihat semua keluarganya menunggu di depan kamar mandi.


"Kamar mandinya rusak?" Tanya Kaira.


Chef Gerry memindahkan barang-barangnya ke teras luar. Ia kembali memasak di luar dengan pintu yang tertutup rapat. Lama menunggu akhirnya Yuri keluar dari kamar mandi.


"Kamu kenapa, Ri?" Tanya Kaira bingung.


"Kenapa? Kenapa apanya?" Yuri ikut bingung.


"Oh itu, mana ya Bun tadi alatnya?" Yuri merogoh kantung piyamanya.


"Bunda mau tahu hasilnya?" Canda Yuri.


"Tapi Bunda harus janji ya, jangan pernah setuju jika kedepannya Kenzie macam-macam." Kata Yuri.


"Iya Bunda janji. Ayo dong, bunda Sudah tidak sabar nih." Naomi benar-benar penasaran.


"Ada apa sih ini?" Kaira bingung juga.


"Sudah, kamu tunggu sampai selesai." Jawab Naomi pada anak pertamanya.


"Hasilnya~" Yuri memberikan alat tersebut pada Naomi.


Naomi, Kaira dan Rama terkejut melihat hasilnya. Berbeda dengan Kenzie yang sibuk mencicipi masakan Chef. Begitu Kenzie membuka pintu teras, Yuri kembali mual dan masuk ke kamar mandi.


"Kenapa masih pada kumpul di depan kamar mandi sih? Kan di kamar bunda ada kamar mandi juga." Tanya Kenzie ketika baru masuk ke ruangan.


Rama langsung meminta dokter spesialis senior yang bekerja di rumah sakit miliknya untuk datang ke rumahnya dan membawa peralatan lengkap. Naomi masih menatap alat periksa kehamilan dan Kaira menepuk pundak adiknya. Kenzie masih bingung dengan keluarganya tersebut.


"Selamat ya Ken. Kakak gak nyangka kamu akan secepat itu." Ucap Kaira.


"Selamat?" Tanya Kenzie.


"Iya, selamat kamu bakal menjadi bapak-bapak." Ucap Kaira kembali.


"Kakak bercanda ya?" Tanya Kenzie.


"Kamu dulu sekolah IPA masa kamu gak paham sih sama kondisi Yuri." Jawab Kaira.


"Kayaknya gak sampe situ sih. Tapi yang benar kak? Mana buktinya?" Tanya Kenzie.


Naomi memberikan hasil alat periksa kehamilan. Yuri keluar dengan ekspresi bahagia. Begitu juga dengan Kenzie, ia langsung memeluk Yuri dengan erat.


"Ehem," Kaira berdehem.


"Kalian gak nyicil lebih awal kan, Ken?" Tanya Kaira.


"Hush! Enak saja. Aku aja baru Unboxing sesudah nikah. Gimana mau nyicil Kak?" Sahut Kenzie.


Mereka sarapan bersama dengan perasaan bahagia. Yuri juga senang melihat hasilnya, ia tak menyangka akan secepat itu. Naomi langsung mengontrol masakan yang di buat oleh Chef Gerry.