Untitled Love

Untitled Love
Ep 102



Derry berhenti menuntun Kaira. Mereka telah sampai ke tempat tujuan mereka. Di depan sebuah bangunan yang belum sepenuhnya jadi. Derry menuntun Kaira agar menghadap ke bangunan tersebut.


"Hitungan ketiga, kamu buka penutup matanya ya." Kata Derry. Derry menghitung sampai tiga dan Kaira membuka penutup matanya.


"Surprise!" Teriak Derry.


"Apa ini beb?" Tanya Kaira.


"Aku membangun istana untuk keluarga kecil kita. Ini hasil kerja keras aku dan tabungan aku." Jawab Derry.


"Memang belum jadi sepenuhnya. Karena aku ingin selebihnya sesuai dengan keinginan kamu." Lanjut Derry.


"Beb, ini serius?" Tanya Kaira.


"Serius sayang, rumah ini untuk kamu dan anak-anak kita nanti." Kata Derry.


"Memang gak sebesar rumah orangtua kamu. Tapi ini aku buat murni dari uang aku sendiri dan aku persembahkan untuk kamu dan anak-anak kita." Lanjutnya.


"Beb, aku terharu. Gak peduli seberapa besarnya. Bagi aku ini sudah lebih dari cukup sayang." Kata Kaira.


"Terimakasih sayang, terimakasih kamu sudah membuktikan janjimu." Kaira memeluk Derry. Air matanya berhasil mengalir turun membasahi kedua pipinya.


"Kamu suka?" Tanya Derry.


"Lebih dari suka, aku sangat bahagia." Jawab Kaira.


"Tadinya aku khawatir kamu tidak suka." Kata Derry sambil menghapus air mata Kaira.


"Aku sangat suka sayang. Aku tidak sabar untuk cepat-cepat menempatinya." Kata Kaira.


"Selebihnya aku serahkan ke kamu. Apapun yang kamu inginkan katakan saja. Akan aku buatkan istana ternyaman untuk kamu." Kata Derry.


Derry dan Kaira masuk ke bangunan yang terbilang hampir jadi. Karena untuk warna pengecatan dan desain lainnya Derry menyerahkan pada Kaira. Ia ingin rumahnya di desain sesuai dengan kesukaan istrinya.


"Sayang, kamu kenapa?" Derry memeluk istrinya yang hampir terjatuh.


"Aku pusing banget sayang." Jawab Kaira.


"Kita pulang saja yuk. Nanti kita bisa kesini lagi." Derry menggendong istrinya sampai masuk ke dalam mobil.


"Aku juga ada kejutan untukmu." Kata Kaira dengan lemas.


Sesampai di rumah, Naomi, Hani dan Yuri sudah berada di ruang tamu. Devan sudah di letakkan di kamarnya. Ia tertidur saat berada di jalan.


"Kaira, Derry. Kalian sudah sampai?" Tanya Naomi.


"Kaira kenapa Derry?" Tanya Naomi.


"Tadi saat melihat-lihat rumah. Kaira mendadak mengeluh pusing." Jawab Derry.


"Kamu kenapa, Kak?" Tanya Naomi.


"Gak apa-apa, Bunda." Jawab Kaira.


Derry membawa Kaira ke kamarnya. Ia rebahkan istrinya di kasur. Derry mengambilkan minum untuk Kaira.


"Beb, aku punya surprise untuk kamu." Kata Kaira.


"Kamu istirahat saja dulu, sayang." Jawab Derry.


"Aku tidak kenapa-napa sayang. Mungkin aku hanya kelelahan saja." Kata Kaira.


"Gak kenapa-napa gimana sih sayang? Pokoknya kamu istirahat dulu. Ayo, aku temani kamu istirahat." Derry ikut merebahkan tubuhnya di sebelah sang istri.


Mereka kini saling tatap-tatapan. Kaira tersenyum melihat Derry yang begitu perhatian padanya. Tapi ia juga sudah tidak sabar ingin memberikan kejutan. Kaira kembali bangun dan meraih sesuatu dari dalam lemari.


"Sayang, kamu mau ngapain? Ayo istirahat dulu." Pinta Derry.


"Aku punya kejutan untuk kamu." Kaira memberikan sebuah kotak kecil yang di atasnya di hiasi sebuah pita.


"Astaga sayang, oke baiklah. Apa itu kejutannya? Apa aku harus menutup mataku?" Tanya Derry.


"Kamu buka saja." Pinta Kaira.


"Apa nih? Ringan banget. Sepertinya isinya bukan benda yang besar." Derry mengguncangkan kotaknya.


Derry membukanya perlahan. Agar lebih terasa, ia menutup matanya sambil membuka kotak kecil tersebut. Sampai kotak tersebut terbuka dengan sempurna.


"Kamu lagi tidak mengerjai ku kan?" Tanya Derry.


"Tidak beb, ayo dong buka mata kamu. Kotaknya udah terbuka tuh." Pinta Kaira. Derry membuka matanya perlahan.


"Sayang, inikan alat,," Derry senyum-senyum. Kaira hanya mengangguk.


"Sayang, ini benar?" Tanya Derry.


"Aku gak salah lihat kan?" Tanyanya lagi.


"Ini garisnya gak kamu tambahkan sendiri kan?" Derry memastikan kembali. Mata Derry langsung berkaca-kaca. Ia langsung memeluk Kaira dengan erat.


"Kita bakal punya Baby?" Tanya Derry.


"Sudah ah, aku capek. Dari tadi nanya Mulu." Kaira pura-pura ngambek.


"Sayang, jangan ngambek dong. Aku benar-benar senang banget." Derry memeluk Kaira lagi.


"Kamu sudah ke dokter? Gimana kalau kita ke dokter sekarang?" Tanya Derry.


"Aku hubungi temanku dulu ya." Derry langsung menghubungi rekan kerjanya yang menjadi dokter spesialis kandungan.


"Aku sudah menghubungi temanku dan membuat janji dengannya. Nanti malam kita kesana." Kata Derry.


Menjelang makan malam, Seluruh penghuni rumah berkumpul di ruang TV. Mereka menonton bersama begitu juga dengan Devan yang di pangku oleh Kenzie. Yuri masih asik dengan ponselnya. Ia menceritakan kejadian tadi siang pada Marsha. Tentu saja Marsha senang sekali mengetahui hal itu.


"Permisi Tuan dan Nyonya. Makan malam sudah siap." Ucap seorang pelayan.


"Wah, kebetulan sekali kamu datang Ken." Naomi menyapa kedatangan Keenan.


"Iya Tante, mau jemput Mama." Jawab Keenan.


"Kita makan malam dulu yuk." Ajak Rama.


Keenan tidak dapat menolak. Ia juga sudah lapar pulang kerja belum sempat makan. Kaira dan Derry sudah berpakaian rapi. Sehabis makan mereka akan berkunjung ke rumah sakit.


Mereka makan bersama. Seperti biasa Devan makan sendiri. Yuri sudah menyiapkan makanan untuknya. Selesai makan, Kaira dan Derry langsung berpamitan. Sama dengan Keenan dan Hani yang pamit untuk pulang.


"Ayah, Bunda. Kaira pamit dulu ya mau pergi sama Derry." Pamit Kaira.


"Mau kemana? Bukannya tadi siang kamu sudah keluar sama Derry?" Tanya Naomi.


"Mau nge date kali, Bun. Masa iya udah nikah mau nge date aja masih pakai di tanya." Sahut Kenzie.


"Lagi juga mumpung masih berdua. Kalau sudah bertiga mah gak bisa nge date berduaan." Lanjutnya.


"Kan ada Bunda. Kamu juga kalo mau nge date sama Yuri ya tinggal nge date aja. Nanti Devan sama Bunda, sama Ayah." Jawab Naomi.


"Kami ingin ke rumah sakit, Bun." Kata Derry.


"Siapa yang sakit? Kamu jaga malam?" Lagi-lagi Naomi kepo.


"Kami ingin periksa kandungan, Bunda." Jawab Kaira.


"Sabar dulu saja. Kalian juga belum ada setahun. Santai saja dulu, gak usah ikut program hamil dulu." Kata Naomi.


"Justru karena hasil tes kehamilan Kaira positif. Makanya kami ingin langsung konsultasi ke dokter." Jawab Kaira.


"Kamu hamil nak?" Tanya Naomi.


"Ya sudah yuk, kita periksa sekarang." Kata Naomi.


"Yah, panggil supir sekarang juga." Naomi menuntun Kaira. Rama buru-buru memanggil supir. Yuri dan Kenzie dengan santainya mengikuti Naomi dan Kaira dari belakang. Begitu juga dengan Derry.


"Derry, selamat ya." Ucap Kaira.


"Terimakasih ya, Ri." Jawab Derry.


"Bro, selamat ya. Kami turut berbahagia." Ucap Kenzie.


Mereka sama-sama ke rumah sakit. Yang memiliki keperluan hanya satu orang tapi yang mengantarnya seisi rumah. Seluruh petugas di rumah sakit pun bingung. Karena pemilik, pengelola dan salah satu rekan kerja mereka sama-sama datang ke rumah sakit.


Siapa yang tidak kenal dengan Kaira dan Rama. Mereka yang sibuk bolak-balik mengurus rumah sakit. Hanya saja saat Kaira mulai sibuk pacaran dengan Derry ia sudah tidak lagi ke rumah sakit tersebut. Derry juga merupakan salah satu dokter baru yang di kenal ramah pada pasien dan calon dokter terbaik di rumah sakit tersebut.