Untitled Love

Untitled Love
Ep 67



Usai makan, Naomi menyuguhkan sebuah puding caramel. Kenzie pernah cerita kalau Yuri suka banget dengan puding caramel. Naomi meminta chef yang bekerja di rumahnya untuk membuatkan puding caramel spesial.


"Wah, puding caramel?" Tanya Yuri.


"Kamu suka Nak?" Naomi tersenyum senang melihat ekspresi Yuri yang tampak natural.


"Suka banget Tante." Jawab Yuri.


"Ayah kemana sih Bun? Tumben lama banget." Tanya Kenzie.


"Ah iya, Bunda lupa. Tadi tuh Ayah kamu pergi kunjungan sama Frans." Jawab Naomi.


"Tumben gak minta aku yang jalan." Kata Kenzie.


"Kamu kan sedang ujian. Lagi juga kamu sudah janji ingin mengajak Yuri kesini." Jawab Naomi.


"Tadi juga ayah sudah nunggu lama. Dia sudah gak sabar ingin ketemu calonnya kamu, katanya." Lanjutnya.


Di sela percakapan seorang ibu dan anak. Yuri masih menikmati puding caramel yang ada di atas piringnya. Naomi dan Kenzie hanya tersenyum melihatnya.


"Hehe, maaf ya Tante, Zie. Saya gak sopan makannya." Yuri menyadari tatapan keduanya.


"Kamu mau lagi?" Tanya Kenzie. Yuri hanya tersenyum.


"Maaf ya Tante. Habis pudingnya juga gak sopan rasanya. Enaknya tuh ngajak ribut di mulut Yuri." Yuri sedikit membela dirinya.


"Mana ada Puding tau sopan santun." Bisik Kenzie.


Selesai makan, Kenzie izin mengantar Yuri. Yuri sangat berterimakasih banget pada Bundanya Kenzie. Ia juga harus pamit karena ia harus kembali kerja.


Belum sempat keluar rumah. Mobil hitam berhenti di depan pintu. Bersamaan dengan Kenzie dan Yuri yang berdiri di depan pintu rumah. Yuri terkejut dan salah tingkah. Ia bingung harus mengumpat atau tetap berdiam di tempatnya.


"Ayah!" Sapa Kenzie.


"Hah? Ayah?" Yuri semakin melongo mendengarnya.


"Loh, kamu?"


"Kenalin Yah, ini calon Kenzie." Kenzie mengenalkan dirinya.


"Malam Pak." Yuri menunduk menghormati ayahnya Kenzie.


"Jadi, jadi kamu calonnya anak saya?" Tanya Rama. Nadanya yang Rama buat bikin Yuri yakin jika cintanya akan terhalang restu ayah.


"Sayang, pasti lelah ya? Kita masuk yuk." Ajak Naomi.


"Saya pamit pulang ya Tante, Pak." Pamit Yuri.


"Tunggu dulu!" Perintah Rama. Jantung Yuri semakin berdetak kencang.


"Kamu yang kerja di minimarket milik saya kan?" Tanya Rama.


Hanya Rama yang belum mengetahui tentang Yuri. Ia hanya sekedar tahu bahwa anaknya mencintai seorang gadis tak lebih dari itu. Rama juga tidak melarang anaknya berhubungan dengan siapapun. Karena yang menjalani hidup kedepannya ya mereka.


"I~iya Pak." Jawab Yuri.


"Haduh, ayah bingung harus bagaimana?" Rama memegang kepalanya.


"Saya pamit pulang ya Tante, Pak." Lagi-lagi Yuri pamit. Kenzie sudah ingin melangkah.


"Tunggu dulu!" Lagi-lagi Rama menahannya.


"Ini gimana sih? Kenzie jadi bingung deh. Baru melangkah kaki kiri di tahan. Melangkah kaki kanan di tahan lagi." Keluh Kenzie.


"Ini kenapa pada ngumpul disini sih? Memang di dalam kurang luas apa?" Kaira yang baru pulang kerja pun ikut heran.


Akhirnya Naomi memutuskan untuk kembali mengajak semua masuk ke ruang keluarga. Disana semua orang berkumpul termasuk Kaira. Ia masih menggantungkan tasnya di pundak.


Yuri menjadi semakin canggung. Atasannya yang ternyata adalah ayah dari Kenzie pun terus menatapnya dalam kebingungan. Kaira selalu menatap Yuri sambil tersenyum, Naomi dan Kenzie hanya melihat sekitar yang terlihat sangat kaku.


"Hai, waktu di Jakarta kita belum saling kenal secara langsung ya." Sapa Kaira memecahkan keheningan.


"Aku Kaira kakaknya Ken. Maaf ya, buat kamu salah paham." Ungkap Kaira.


"Ayah, ayah tuh mau ngomong apa sama Yuri? Kasihan loh, dia tadi mau pulang gak jadi terus." Tanya sang istri.


"Ayah tuh bingung mau ngomongin apa dulu." Jawab Rama.


"Ya sudah kalau masih bingung lain waktu lagi saja. Lagi juga sudah malam." Kata Naomi.


"Oke baik,"


"Jadi kamu yang namanya Yuri?" Tanya Rama.


"Iya Pak." Jawab Yuri secara resmi. Karena ia masih melihat Rama sebagai atasannya.


"Jangan panggil saya Pak." Pinta Rama.


"Baik Om." Jawab Yuri.


"Kamu pacarnya Kenzie sejak sekolah?"


"Iya Pak. Eh, I~iya Om." Jawab Yuri.


Rama terus bertanya selayaknya orang sedang interview. Ketiga manusia yang berada di dalam satu ruangan dengan mereka pun merasa semakin canggung. Begitu juga dengan Yuri, ia menjawab dengan sangat hati-hati.


"Ini tuh lagi interview kerja atau lagi interview mantu sih?" Tanya Kaira.


"Oke, oke." Rama kembali membenarkan duduknya.


"Hari ini kenapa kamu tidak masuk kerja?" Tanya Rama.


"Bunda yang meminta Yuri kesini." Naomi yang menjawab.


"Maaf Pak,"


"Maaf Om." Yuri membenarkan panggilannya. Ia benar-benar merasa canggung.


"Saya janji tidak akan mengulangnya lagi." Lanjut Yuri.


"Aduh, saya tuh sebenarnya bingung mau menyampaikannya bagaimana." Kata Rama.


"Kamu tuh sebenarnya karyawan teladan, Ri. Tapi saya sedih kenapa kamu seperti itu." Lanjut Rama sambil mendekat ke Yuri.


"Ayah, sudah ya." Ucap Naomi menghentikan ucapannya.


"Ri, saya malu sama diri saya sendiri. Saya gak tau harus bilang apa. Kamu orang terdekat anak saya. Tapi kamu~" Rama mengusap air matanya.


Rama memang sosok yang lembut. Ia mudah sekali tersentuh hatinya. Bahkan saat ia mengetahui kebiasaan Yuri, di dalam mobil Rama menangis. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi tubuhnya yang selalu mengkonsumsi makanan yang tidak layak di makan. Hanya sekedar membuka mulutnya saja ia pasti gak akan mau. Bagaimana jika makanan itu masuk ke dalam tubuhnya.


"Saya gak mau lagi melihat kamu seperti itu ya. Bukan karena kamu kekasihnya anak saya atau kamu karyawan saya, bukan. Justru, karena kamu kekasih anak saya, bukan kamu yang saya hukum tapi anak saya yang akan saya hukum. Begitu juga karena kamu karyawan saya, saya merasa gak pantas menjadi atasan kamu." Rama berbicara panjang lebar.


"Ini tuh membicarakan apa sih?" Tanya Kaira yang bingung sendiri.


"Kamu bisa mengambil apapun yang kamu mau. Asal jangan yang kadaluarsa. Apapun itu, tanpa batasan nominal. Nanti saya yang bilang ke Pak Moko." Ucap Rama.


"Gak perlu Pak,"


"Maaf Om, gak perlu Om. Saya gak ingin di istimewakan. Saya akan tetap sama seperti yang lain. Selain itu saya janji gak akan melakukan hal itu lagi." Ucap Yuri.


"Kamu, makan makanan kadaluarsa?" Kaira tidak yakin dengan apa yang ia dengar.


"Astaga Ri, kamu gimana sih Ken? Anak orang jauh-jauh malah di kasih makanan yang kadaluarsa. Ayah juga! Gimana sih ayah?" Tak hanya adiknya yang kena tegur, bahkan ayahnya sendiri pun kena tegur dari Kaira.


Sepanjang malam mereka berdebat. Yuri jadi merasa tidak enak dengan satu keluarga. Karenanya mereka menjadi debat. Sudah larut malam, Yuri khawatir jika pintu asramanya sudah terkunci. Ia kembali pamit begitu perdebatan mereka mereda.


"Kamu bermalam disini saja dulu, Ri." Usul Naomi.


"Aku setuju, lagi juga kita belum makan malam nih. Kai lapar sekali Bun." Kata Kaira.


"Tenang saja, nanti bisa pakai baju aku." Lanjut Kaira.


"Sudah yuk, aku tunjukkan kamarnya." Kaira menarik tangan Yuri.