Untitled Love

Untitled Love
Ep 90



Hari yang melelahkan. Tak hanya Naomi dan Rama. Semua benar-benar sibuk di hari itu. Setelah tamu pulang, mereka baru berkumpul kembali di kamar Yuri dan Kenzie.


"Sebentar," Rama merasa ada yang bertambah sejak tadi. Mereka seketika berhenti tertawa.


"Kenapa Yah?" Tanya Kenzie.


"Perasaan Ayah kok ada yang bertambah orangnya ya?" Tanya Rama.


"Iya, kan Keenan adiknya Yuri baru tiba tadi Yah." Jawab Kaira dengan sedikit terbata.


"Kalau itu ayah sudah tahu." Balas Rama. Rama langsung menoleh ke arah Kaira yang masih saja menggandeng tangan Derry. Semua orang ikut menolehnya.


"Kak?" Cukup satu kata Kaira sudah paham.


"Hehe,"


"Kenalin Yah, ini Derry." Kata Kaira memperkenalkan kekasihnya.


"Ayah sudah kenal." Jawab Rama.


"Malam Pak, Bu." Sapa Derry.


"Sudah itu saja?" Tanya Rama tegas.


"Bukankah kamu seharusnya sudah pulang bersama tamu yang lain? Kenapa masih berada disini?" Tanya Rama lagi.


"Ma~maaf Pak. Ka~kalau begitu saya pamit Pak. Maaf sudah mengganggu waktunya." Ucap Derry dengan terbata-bata. Derry membalikkan badannya dan berjalan keluar.


"Ayah! Kenapa sih Ayah begitu?" Tanya Kaira dengan kesal.


"Begitu gimana sih? Inikan waktu bersama keluarga." Jawab Rama.


"Yah, Derry tuh pacar Kaira!" Tegas Kaira.


"Pacar? Orang dia gak bilang kalau dia pacar kamu. Kalau dia pria sejati, dia benar-benar mencintai kamu, seharusnya dia bilang dan mengakui itu. Minta restu gitu ke Ayah sama Bunda. Ini mah gak ada ngomong apa-apa." Jawab Rama panjang lebar.


"Ayah!" Teriak Kaira.


"Sudahlah, jangan ribut terus, kasihan Devan." Kata Naomi, melerai ayah dan anak.


Yuri diam saja, karena dia sudah berjanji tidak akan mengatakan apapun pada siapapun. Ia sedang menyusui Devan. Tak butuh waktu lama, Derry kembali masuk dengan langkah yang cepat. Ia seakan ingin menyerang Rama dan yang lainnya.


"Pak Rama, maaf jika saya tidak sopan. Izinkan saya untuk melamar Kaira di depan kedua orangtuanya." Ucap Derry begitu sampai di hadapan Rama.


"Apa kamu yakin mereka akan menerimamu?" Tanya Rama.


"Apapun akan saya lakukan agar bisa mendapat restunya." Jawab Derry.


"Bagaimana jika saya meminta kamu untuk meninggalkan Swalayan saya?" Tanya Rama.


"Yah Pak, kalau itu jangan. Kalau saya tidak punya pekerjaan, bagaimana saya bisa menghidupi Kaira Pak?" Tanya Derry.


"Minta yang lain deh." Pinta Derry.


"Kamu tinggal pilih mau meninggalkan Pekerjaan atau meninggalkan anak saya?" Tanya Rama dengan nada tinggi.


"Ayah!" Kaira tak senang dengan pertanyaan Ayahnya.


"Ayah gak adil! Kenapa kalau Kenzie Ayah selalu setuju saja?! Kenapa Kalau Kaira malah seperti ini? Seharusnya Ayah senang dong anak perempuannya ada yang mau!" Kaira protes pada Ayahnya.


"Saya memilih Kaira!" Dengan tegas dan tanpa ragu Derry menjawabnya.


"Jika kamu tidak bekerja, apa kamu bisa menghidupi anak saya?" Tanya Rama.


"Pekerjaan masih dapat saya cari kembali. Tapi sosok wanita seperti Kaira tidak akan saya temukan di wanita manapun!" Jawab Derry.


"Kenapa? Karena Kaira Kaya? Yang Kaya itu saya! Bukan Kaira. Saya bisa saja mencabut semua fasilitasnya setelah kalian menikah." Kata Rama.


"Ayah!" Kaira kembali berteriak.


"Maaf Pak, saya memilih Kaira bukan karena dirinya kaya. Jika Pak Rama ingin mencabut semua fasilitas Kaira, silahkan cabut saja. Saya yang akan membahagiakannya dengan cara saya." Jawab Derry.


"Cinta tidak membutuhkan alasan, ia datang begitu saja. Tapi cinta akan membuat seseorang rela berkorban demi membahagiakan yang di cintainya." Lanjutnya.


"Nak, saya memang belum lama mengenalmu. Saat di tempat kerja, jujur saya suka dengan kinerjamu," Rama mengakui kinerja Derry dan Yuri yang di lihatnya cukup baik.


"Sesuai dengan pilihanmu. Jika kamu memang memilih Kaira, saya beri kamu waktu sampai akhir bulan. Selanjutnya, kamu saya pecat menjadi karyawan saya." Ucap Rama.


"Terimakasih Pak Rama. Saya akan bekerja dengan baik sampai akhir bulan. Asalkan Pak Rama menerima lamaran saya." Kata Derry.


"Ya, jika itu sudah menjadi pilihan kalian." Jawab Rama dengan santai.


"Ayah!" Kaira tidak suka dengan keputusan ayahnya.


"Ayah, gak bisa gitu dong!" Kaira protes.


"Kenapa gak bisa?" Tanya Rama.


"Setelah dia lulus, memang dia tidak ingin kerja sesuai dengan jurusannya?" Tanyanya lagi.


"Ya tapikan Yah, setidaknya tunggu sampai dia mendapat pekerjaan yang baru." Pembelaan Kaira.


"Kenapa harus salahkan ayah? Derry sendiri kok yang memilih." Balas Rama.


"Gak adil! Ayah gak berperasaan banget sih!" Kaira pergi menarik Derry.


Tersisa dua Minggu lagi waktu yang di berikan oleh Rama. Hal itu yang membuat Kaira kesal dengan ayahnya. Bagaimana mungkin Derry bisa mendapatkan pekerjaan dalam waktu yang sesingkat itu.


"Sayang, kamu kenapa marah?" Tanya Derry.


"Kamu sadar gak sih sama pilihan kamu?" Kaira berbalik nanya.


"Justru karena aku sadar dan aku yakini bahwa kamu adalah segalanya. Aku bakal berusaha untuk terus membahagiakanmu. Pekerjaan bisa aku cari, tapi orang yang sepertimu hanya ada satu di dunia ini." Kata Derry.


"Maafin aku ya sudah buat kamu susah." Kaira memeluk Derry.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu. Tapi aku janji, aku gak akan membuat kamu kesulitan." Derry memberikan jari kelingkingnya.


Kaira kembali masuk ke rumahnya setelah Derry pergi. Ia masih kesal dengan Ayahnya. Bahkan ia tidak ingin menatap ayahnya dan bicara pada ayahnya.


Hani dan Indra juga senang sekali bermain dengan cucu pertama mereka. Mereka sampai lupa bahwa hari sudah malam. Pelayan sudah menyiapkan makan malam.


"Kalau gitu kita makan dulu yuk." Ajak Naomi.


"Yuri, kamu bisa? Kalau tidak biar nanti Bunda minta pelayan untuk membawakan makan untukmu." Tanya Naomi.


"Bisa bunda, kebetulan juga Devano sudah tertidur. Lagi juga capek di tempat tidur terus. Kan harus banyak gerak juga kata dokter." Jawab Yuri.


"Lahiran zaman sekarang semakin canggih ya Jeng." Kata Naomi sambil berjalan.


"Iya Jeng, sudah banyak cara agar cepat pulihnya gitu Jeng." Jawab Hani.


"Kalau dulu saya lahir Keenan. Hem, harus ekstra hati-hati. Takut jahitannya robek lagi." Kata Hani.


"Kalau Kaira dan Kenzie mereka lahiran normal Jeng. Saat itu mah kan gak sanggup saya Jeng. Untungnya mereka lancar keluarnya." Kata Naomi.


"Hahaha ada-ada saja Jeng. Memangnya jalan tol lancar?" Kata Hani.


Mereka sudah berkumpul di ruang makan. Keenan senang sekali bisa merasakan makanan seenak yang di sajikan. Ia pun menyantapnya dengan lahap.


"Pelan-pelan makannya Ken!" Kata Yuri.


"Makanannya kayak masakan di restoran gitu Kak. Masakan Mama saja kalah enaknya." Jawab Keenan.


"Kak Kenzie pantas saja betah disini. Gak balik lagi ke Indonesia. Makanannya seenak ini." Lanjutnya.


"Lebih enak juga masakan Mama kamu, Nak. Kak Kenzie gak pernah loh di masakin sama Bunda. Bunda gak bisa masak seperti Mama kamu." Kata Naomi.


"Bundanya Kak Kenzie berarti harus belajar sama Mama. Mama bisa masak apa saja loh. Ya, walau gak seenak ini." Kata Keenan.


"Keenan!" Gertak Hani.


"Berarti Bundanya Kak Kenzie sama kayak Kak Yuri. Sama-sama gak bisa masak ya." Canda Keenan yang tidak membuat Yuri tertawa.


"Kakak kamu itu bukannya gak bisa masak. Dia hanya belum tahu macam-macam bumbu dapur. Iya. kan sayang?" Sahut Kenzie.