The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 91 (The End)



"Benarkah?"


Kontan wajah itu kembali mendongak. Isakannya terhenti walau air sebening kristal itu masih terus mengalir apalagi setelah mendengar suara tersebut. Kedua kaki otomatis sontak memaksa tubuh untuk segera berdiri.


"T-tuan?" Aeri seolah tidak percaya dikala melihat Zeha memanjat pembatas tersebut sehingga kini lelaki itu berdiri tepat di hadapan Aeri, menjulang tinggi diatas pembatas tersebut.


"Benarkah apa yang aku dengar itu?" tanya Zeha lembut. Tanpa mengalihkan pandangan dalamnya, ia melompat tepat di hadapan Aeri.


"Anda baik-baik saja? T-tapi bagaimana bi--"


"Kau belum menjawapku Aeri," sela Zeha cepat.


Beberapa saat lamanya, Aeri hanya memandangi kedua bola mata bening Zeha silih berganti. Kala itu, air mata Aeri bahkan turut mengalir, menganak sungai di atas pipi.


Greb!


Aeri berhambur masuk ke dalam dekapan Zeha yang kontan disambut oleh sang empu tubuh hingga tubuh Aeri sedikit terangkat. Aeri kembali menumpahkan air matanya di dalam pelukan hangat Zeha.


Sedangkan Zeha tidak perlu bertanya lagi. Pelukan Aeri memberi semua jawapan yang sesungguhnya Zeha nantikan. Ia sudah mendapatkan jawapanya.ย  Ia menggerakkan kepalanya diantara kepala Aeri. Dekapan itu seolah dapat meremukkan tubuh kecil Aeri.


"Aku sangat takut, sangat takut Tuan. Jika terjadi sesuatu padamu aku harus bagaimana? Aku takut tidak dapat melihatmu lagi Tuan."


Zeha semakin mengeratkan dekapannya setelah mendengar ucapan Aeri. "Semua baik-baik saja, hmm. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu


Maaf jika aku membuatmu takut sayang ... Aku terpaksa melakukannya demi menahanmu tetap di sisiku."


Tanpa melepas pelukannya, Aeri terdiam beberapa menit.ย  Barulah kemudian, seraya melepaskan pelukan tersebut secara perlahan, Aeri berujar pelan. "Tuan mempermainkanku lagi."


Cup!


Zeha sudah cukup gemas sedari tadi. Aeri terus saja memanggilnya 'Tuan' padahal tadi saat ia tidak berada di hadapan Aeri, Aeri hanya memanggilnya nama saja.


"Cukup dengan panggilan 'Tuan' itu, kau bukan pekerjaku lagi. Dan ini adalah terakhir kalinya." Tidak banyak bertanya lagi, Aeri hanya mengangguk. Tetapi ada satu hal yang membuat Aeri bingung di sini.


Ia mengangkat pandangan, menemui manik Zeha yang tiada hentinya memandangi wajah sembab miliknya.


"Tapi bagaimana Tua--"


"Jangan memancing sifat liarku Aeri. Kau ingin aku memakan bibirmu itu?"


Aeri tersenyum kecil. Walau terkesan lembut, tapi ini adalah jati diri lelaki itu yang sesungguhnya. Yakni suka menggoda dan menjahilinya, membuat ia merasa takut dengan menelan susah salivanya.


"Bagaimana k-ka--kau bisa-- emm maksudku apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Sudut bibir Zeha tertarik melihat Aeri terlihat kaku.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ˆ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช. Semua itu jelas terlihat dari wajah tampan itu.


Gerakan tangan besar Zeha yang tiba-tiba menyentuh tengkuk Aeri membuat sang empu membatu dengan mata tertuju pada Zeha. Tangan itu bergerak naik mengusap lembut pipi Aeri, lalu menuju bibir itu. Lantas Zeha membawa wajahnya menunduk, mendekati wajah Aeri yang tampak menegang dikala Zeha mendekat.


Dorongan dalam tubuh Aeri memaksanya untuk menoleh tepat disaat wajah Zeha sudah berada begitu dekat dengannya, ia mengelak.


"Aeri... izinkan aku ...."


Deg!


Kata-kata itu bagai sebuah mantra ditelinga Aeri. Kelembutan suara Zeha juga nada yang terdengar begitu dalam. Seolah memohon padanya. Aeri tidak dapat menolak lagi.


Tiada penolakan, Zeha pun meletakkan rahang Aeri diantara kedua tangan besarnya. Mempersatukan bibirnya pada bibir Aeri. Disaat Zeha mulai beriaksi dengan pergerakan dan cumbuannya yang dalam, Aeri refleks memegang kedua tangan Zeha yang bertengger dikedua sisi rahangnya. Maniknya terpejam rapat merasakan intensnya tautan yang Zeha ciptakan.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Kepala itu hanya bisa menunduk dalam. Tubuh yang tidak kalah kekar oleh tubuh Zeha itu bersandar pasrah dengan kedua tangan berada dalam saku celana.


Tanpa sadar, lihuid bening itu mengalir keluar setelah sekian lama. Melihat wanita dicintai bersama lelaki lain memang sungguh menyiksa batin, namun jika itu membuat Aeri bahagia, sesakit apapun Yohun akan sanggup menanggung.


Mengusap air mata kasar, sambil menarik napas dalam. ๐˜›๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ˆ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช.


"Berbahagialah." Akhirnya Yohun pun membawa tubuhnya meninggalkan rooftop dengan berat hati. Keberadaannya sudah tidak dibutuhkan lagi.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ.


Aeri menarik wajahnya, mengakhiri tautan yang bahkan telah melibatkan indra perasa mereka. Tubuh Aeri juga bahkan telah bersandar pada pembatas simen dengan kedua tangan Zeha mengungkung.


Keduanya terengah. Melihat hal itu membuat Zeha senang juga merasa bersalah salah. "Maaf. Aku tidak bisa menahan diri," ujar Zeha membuat Aeri menunduk dengan semburat merah. "Kau tahu bahwa bibi--"


"Cukup," sela Aeri cepat, sambil mendorong tubub Zeha menjauh. Ia tidak sanggup mendengar kata-kata vulgar yang akan Zeha katakan.


"Kau belum menjawapku." Segera Aeri mengalihkan topik.


Sambil tersenyum, Zeha menuntun Aeri untuk melihat ke bawah gedung. "Kau melihat sesuatu?"


"Mobil?"


Kontan saat itu juga ketawa Zeha pecah, tanpa melepas back hug'nya. "Bukan sayang...." Sekilas Zeha mengecup rambut Aeri.


"Apa kau melihat simen yang moncong keluar itu?" Sebagai jawapan, Aeri berdehem. Apa yang Zeha tunjukkan itu ternyata tidak begitu jauh dari pembatas simen. Mungkin karena kurang pencahayaan membuat Aeri tidak dapat melihat keberadaan Zeha tadi.


"Aku berpegangan di sana dan memanjat naik."


"Syukurlah." Dalam hati Aeri sangat bersyukur. "Lalu apa yang terjadi padamu dan Yohun? Kenapa dia membawaku padamu? Kau mengancamnya?"


"Tidak!" sangkal Zeha cepat. "Semua itu karena dia sangat mencintaimu, Aeri," lanjautnya, membungkam Aeri.


Tentu saja hal itu Aeri ketahui dengan baik. Namun, yang membuat Aeri bingung di sini adalah Zeha. Zeha terlihat baik-baik saja dengan itu, ia langsung tidak terlihat kesal atau bermasalah dengan perasaan Yohun. Zeha sungguh telah berubah.


"Cintanya begitu besar padamu," tutur Zeha, mengusap lembut wajah itu.


"Tapi kau tahu bahwa cintaku lebih besar, kan?"


Aeri tersenyum kecil melihat kecemburuan yang jelas terpancar dikedua bola mata itu. "Aku tidak tahu. Karena kau tidak pernah menunjukkannya,"ย  kata Aeri jujur tanpa kebohongan.


Mau cemberut pun tiada gunanya. Zeha mengakui apa yang Aeri katakan itu benar. "Jika seperti itu, kenapa kau tidak menerimanya?"


Aeri terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke lain arah, namun hal itu membuat Zeha tidak senang. "Jangan alihkan matamu dari pandangaku Aeri."


Walau baru beberapa kali Zeha mengatakan perasaannya, itu sudah terlihat sangat jelas di mata Zeha. Dari pancaran mata itu. Itu benar-benar sangat dalam. Aeri tidak pernah melihat cinta sebesar ini. Patutkah Aeri merasa senang?


"Aku tidak bisa." Aeri balas menatap Zeha dalam.


Sudut bibir Zeha tertarik miring. Ia kembali mendekat hingga membuat Aeri tersandar pada tembok pembatas. "Kenapa?"


"Karena nama seseorang sudah bersemayam di hati ini."


Mendengar kata-kata itu Zeha semakin tersenyum. Aeri menggodanya. Jika demikian, maka Zeha akan kembali menggoda Aeri. ๐˜’๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.


Zeha merapatkan wajah hingga bibir mereka hampir bersentuhan kembali. "Siapa?" lirih Zeha seksual tepat didepan bibir itu.


"Itu rahasia."


Kontan Zeha menarik pinggang kecil itu menempel padanya. Itu adalah wajah terseksi yang pernah Aeri perlihatkan pada Zeha. Sungguh menggemaskan. Zeha pun otomatis mengecup singkat bibir Aeri yang terbuka.


"Katakan," pinta Zeha menuntut dan kembali mengecup bibir Aeri yang terus menggodanya. Walaupun tidak menempel lama, namun itu terus Zeha lakukan berulang kali. Mengecup dan meraup bibir Aeri singkat dengan mulut. Singkat, namun intens. Mulai dari sisi kanan hingga sisi kiri.


"Kau masih tidak ingin mengatakannya, hm?" Aeri tersenyum senang. Saat perasaan dibalas ternyata sangat membahagiakan


"Jeon Zeha--epm!"


Zeha tersenyum penuh kemenangan. Ia kembali meraup bibir Aeri dengan bibirnya yang terbuka. Dalamnya tautan itu membuat Aeri kewalahan walau telah mencuba mengimbangi. Wajah mereka menempel sangat dalam dengan bibir yang tampak terus bergerak saling meraup.


Sekali lagi Aeri yang mengakhirinya. "Kau seolah ingin menelannya Zeha," gumam Aeri merasa malu mengingat cumbuan meraka begitu deep.


"Jika bisa, aku akan memakannya." Zeha menarikย  tubuh itu masuk dalam pelukan hangatnya.


"Gila," gerutu Aeri, menanggapi ucapan Zeha.


Selang bebarapa menit, sebelum akhirnya Aeri kembali bersuara. "Bagaimana akhirnya kau tahu bahwa Yohun yang menyembunyikanku?"


Sebelum memulai, Zeha terdengar menghela napas panjang. "Disaat aku hampir pada keputus asaan, aku sontak teringat pada Yohun. Beberapa hari aku meminta anak buahku untuk menyelidikinya." Dengan tenang, Aeri mendengar dalam pelukan yang terasa semakin erat itu.


"Setelah itu, aku menemukan kejanggalan. Aku menemukan bahwa dia sering ke Gimsan sedangkan itu daerah yang cukup jauh dari Soul dan itu terus dia lakukan 4 kali dalam sebulan. Bukankah itu aneh? Dia juga sering mengunjungi ayahmu yang ada di rumah Yuri. Bahkan pengeluarannya pun terbilang cukup banyak bagi seorang lelaki lajang. Dan setelah itu, aku pun pergi menemuinya, tepatnya kemarin setelah dia balik dari mengunjungi ayahmu."


Kini Aeri tahu mengapa tadi siang Yohun kembali membahas mengenai Zeha. Ternyata ia ingin memastikan sesuatu. Aeri mendesah ke udara. Ia merasa bersalah karena tidak dapat membalas perasaan Yohun.


Mau bagaimana lagi, perasaan tidak dapat dipaksakan. "Aku harap dia menemukan seorang wanita yang baik sepertinya. Yang akan mencintainya sepenuh hati."


"Seperti kau mencintaiku?"


Aeri segera melepas pelukannya. "Aku serius Zeha."


"Loh, itu tidak betul, ya?"


Aeri terdiam. Ia speechless dengan balasan lelaki di hadapannya itu. "Sudahlah. Sekarang aku ingin bicara dengan Yohun, aku marah padanya."


Pas disaat Aeri hendak menelpon Yohun, kala itulah sebuah pesan dari lelaki tersebut.


๐Ÿ’ฌ


[๐˜ผ๐™ ๐™ช ๐™ฉ๐™–๐™๐™ช ๐™ ๐™–๐™ช ๐™ข๐™–๐™ง๐™–๐™ ๐™ฅ๐™–๐™™๐™–๐™ ๐™ช, ๐™ฉ๐™–๐™ฅ๐™ž ๐™–๐™ ๐™ช ๐™ข๐™ค๐™๐™ค๐™ฃ ๐™Ÿ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™š๐™ฃ๐™˜๐™ž๐™ ๐™ช, ๐™ฎ๐™–. ๐˜ผ๐™ ๐™ช ๐™ฎ๐™–๐™ ๐™ž๐™ฃ ๐™ ๐™–๐™ช ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™—๐™–๐™๐™–๐™œ๐™ž๐™– ๐™—๐™š๐™ง๐™จ๐™–๐™ข๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™–. ๐˜ผ๐™ ๐™ช ๐™ฉ๐™–๐™๐™ช ๐™ž๐™ฉ๐™ช ๐™จ๐™–๐™–๐™ฉ ๐™™๐™ž๐™– ๐™ข๐™š๐™ข๐™ž๐™ฃ๐™ฉ๐™– ๐™ฉ๐™ค๐™ก๐™ค๐™ฃ๐™œ ๐™ฅ๐™–๐™™๐™–๐™ ๐™ช ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ข๐™š๐™ข๐™ฅ๐™š๐™ง๐™ฉ๐™š๐™ข๐™ช๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ ๐™–๐™ก๐™ž๐™–๐™ฃ. ๐˜ผ๐™ฌ๐™–๐™ก๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™–๐™ ๐™ช ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ž๐™ฃ๐™œ๐™ž๐™ฃ ๐™ฉ๐™–๐™ฅ๐™ž ๐™ข๐™š๐™ก๐™ž๐™๐™–๐™ฉ ๐™ ๐™š๐™—๐™š๐™ง๐™–๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™ช๐™–๐™ฉ๐™ ๐™ช ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™จ๐™–๐™™๐™–๐™ง ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ž๐™—๐™–. ๐˜พ๐™ž๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™—๐™š๐™œ๐™ž๐™ฉ๐™ช ๐™—๐™š๐™จ๐™–๐™ง ๐™ฅ๐™–๐™™๐™–๐™ข๐™ช ๐™ข๐™š๐™ก๐™š๐™—๐™ž๐™๐™ž๐™ ๐™ช. ๐™…๐™–๐™™๐™ž ๐™ข๐™–๐™–๐™› ๐™ ๐™–๐™ง๐™š๐™ฃ๐™– ๐™ฉ๐™š๐™ก๐™–๐™ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™ค๐™๐™ค๐™ฃ๐™œ๐™ž๐™ข๐™ช ๐™๐™ข๐™ข? ๐™…๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™—๐™–๐™œ๐™–๐™ž๐™ข๐™–๐™ฃ๐™– ๐™ ๐™š๐™–๐™™๐™–๐™–๐™ฃ๐™ ๐™ช ๐™จ๐™š๐™—๐™–๐™— ๐™ ๐™–๐™ช ๐™ฉ๐™–๐™๐™ช ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™–๐™จ๐™–๐™–๐™ฃ๐™ ๐™ช ๐™ฅ๐™–๐™™๐™–๐™ข๐™ช, ๐™ฉ๐™–๐™ฅ๐™ž ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฅ๐™– ๐™จ๐™š๐™ข๐™ช๐™– ๐™ž๐™ฃ๐™ž ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ข๐™—๐™–๐™ž๐™  ๐™จ๐™š๐™ž๐™ง๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™ฌ๐™–๐™ ๐™ฉ๐™ช. ... ๐™Š๐™ ๐™ž๐™ฎ๐™–, ๐™—๐™š๐™จ๐™ค๐™  ๐™–๐™ ๐™ช ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™ฅ๐™š๐™ง๐™œ๐™ž ๐™‡๐™ค๐™ฃ๐™™๐™ค๐™ฃ. ๐˜ผ๐™ฎ๐™–๐™ ๐™ข๐™š๐™ข๐™ž๐™ฃ๐™ฉ๐™–๐™ ๐™ช ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™œ๐™ช๐™ง๐™ช๐™จ ๐™˜๐™–๐™—๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™๐™ค๐™ฉ๐™š๐™ก ๐™ ๐™–๐™ข๐™ž ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐™—๐™–๐™ง๐™ช ๐™™๐™ž๐™ง๐™š๐™จ๐™ข๐™ž๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™™๐™ž ๐™จ๐™–๐™ฃ๐™–... ๐™ƒ๐™ข๐™ข ๐™จ๐™š๐™ ๐™–๐™ก๐™ž๐™–๐™ฃ ๐™ช๐™ฃ๐™ฉ๐™ช๐™  ๐™๐™š๐™–๐™ก๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™๐™–๐™๐™–. ๐™Ž๐™ž๐™–๐™ฅ๐™– ๐™ฉ๐™–๐™๐™ช ๐™–๐™ ๐™ช ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ ๐™—๐™š๐™ง๐™ฉ๐™š๐™ข๐™ช ๐™Ÿ๐™ค๐™™๐™ค๐™ ๐™™๐™ž ๐™จ๐™–๐™ฃ๐™–, ๐™ ๐™–๐™ฃ? ๐™ˆ๐™ช๐™ฃ๐™œ๐™ ๐™ž๐™ฃ ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™จ๐™–๐™ข๐™–, ๐™ฉ๐™–๐™ฅ๐™ž ๐™จ๐™š๐™ ๐™ช๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ-๐™ ๐™ช๐™ง๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™—๐™–๐™ž๐™  ๐™™๐™–๐™ฃ ๐™ก๐™š๐™ข๐™—๐™ช๐™ฉ ๐™จ๐™š๐™ฅ๐™š๐™ง๐™ฉ๐™ž๐™ข๐™ช. ๐˜ฝ๐™–๐™ž๐™ ๐™ก๐™–๐™, ๐™จ๐™ช๐™™๐™–๐™ ๐™™๐™ช๐™ก๐™ช ๐™ฎ๐™–. ๐™…๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ฃ ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ž๐™จ ๐™ก๐™–๐™œ๐™ž, ๐™—๐™š๐™ง๐™—๐™–๐™๐™–๐™œ๐™ž๐™–๐™ก๐™–๐™ ๐™—๐™š๐™ง๐™จ๐™–๐™ข๐™–๐™ฃ๐™ฎ๐™–, ๐™ฉ๐™š๐™ฉ๐™–๐™ฅ๐™ž ๐™–๐™ ๐™ช ๐™ฉ๐™ž๐™™๐™–๐™  ๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ž๐™ข๐™– ๐™Ÿ๐™ž๐™ ๐™– ๐™ ๐™–๐™ช ๐™ข๐™š๐™ก๐™ช๐™ฅ๐™–๐™ ๐™–๐™ฃ๐™ ๐™ช ๐™๐™–๐™๐™–. ๐˜ผ๐™ ๐™ช ๐™ข๐™š๐™ฃ๐™ฎ๐™–๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ž๐™ข๐™ช, ๐˜ผ๐™š๐™ง๐™ž.]


Seperti demikianlah akhir dari pesan Yohun yang berhasil membuat Aeri kembali mengeluarkan air matanya. Mereka berdua memang sama. Saat Yohun menuliskan pesan tersebut, ia juga meneteskan air matanya. Yohun memiliki perasaan yang enggan melepaskan, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa.


"Aku bersalah padanya," lirih Aeri membuat Zeha sontak memeluk tubuhnya erat.


"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Dia akan menemukan seseorang yang pantas untuknya."


"Aku sangat mengharapkan itu."


"Sekarang aku akan membawamu bertemu ayah mertua."


"Ayah mertua?" Aeri mengernyit, seraya melepas pelukan Zeha.


"Iya. Aku akan meminta restu ayahmu untuk menikahimu. Bagaimana?"


Karena tidak sabar menunggu jawapan dari Aeri, langsung saja Zeha mengangkat tubuh kecil Aeri ala bridal yang refleks mengundang teriakan Aeri.


"Apa yang kau lakukan?!"


"Menggendong mu, sayang." Dengan santai Zeha melangkah meninggalkan lantai rooftop tersebut.


"Aku bisa sendiri Zeha."


"Kau lambat."


"Turunkan aku--ahh!" Aeri merasa takut saat Zeha menuruni tangga, sedangkan lelaki itu hanya tersenyum senang.


"Tidak akan pernah."


"Jeon Zeha!"