
"Benarkah?"
Kontan wajah itu kembali mendongak. Isakannya terhenti walau air sebening kristal itu masih terus mengalir apalagi setelah mendengar suara tersebut. Kedua kaki otomatis sontak memaksa tubuh untuk segera berdiri.
"T-tuan?" Aeri seolah tidak percaya dikala melihat Zeha memanjat pembatas tersebut sehingga kini lelaki itu berdiri tepat di hadapan Aeri, menjulang tinggi diatas pembatas tersebut.
"Benarkah apa yang aku dengar itu?" tanya Zeha lembut. Tanpa mengalihkan pandangan dalamnya, ia melompat tepat di hadapan Aeri.
"Anda baik-baik saja? T-tapi bagaimana bi--"
"Kau belum menjawapku Aeri," sela Zeha cepat.
Beberapa saat lamanya, Aeri hanya memandangi kedua bola mata bening Zeha silih berganti. Kala itu, air mata Aeri bahkan turut mengalir, menganak sungai di atas pipi.
Greb!
Aeri berhambur masuk ke dalam dekapan Zeha yang kontan disambut oleh sang empu tubuh hingga tubuh Aeri sedikit terangkat. Aeri kembali menumpahkan air matanya di dalam pelukan hangat Zeha.
Sedangkan Zeha tidak perlu bertanya lagi. Pelukan Aeri memberi semua jawapan yang sesungguhnya Zeha nantikan. Ia sudah mendapatkan jawapanya.ย Ia menggerakkan kepalanya diantara kepala Aeri. Dekapan itu seolah dapat meremukkan tubuh kecil Aeri.
"Aku sangat takut, sangat takut Tuan. Jika terjadi sesuatu padamu aku harus bagaimana? Aku takut tidak dapat melihatmu lagi Tuan."
Zeha semakin mengeratkan dekapannya setelah mendengar ucapan Aeri. "Semua baik-baik saja, hmm. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu
Maaf jika aku membuatmu takut sayang ... Aku terpaksa melakukannya demi menahanmu tetap di sisiku."
Tanpa melepas pelukannya, Aeri terdiam beberapa menit.ย Barulah kemudian, seraya melepaskan pelukan tersebut secara perlahan, Aeri berujar pelan. "Tuan mempermainkanku lagi."
Cup!
Zeha sudah cukup gemas sedari tadi. Aeri terus saja memanggilnya 'Tuan' padahal tadi saat ia tidak berada di hadapan Aeri, Aeri hanya memanggilnya nama saja.
"Cukup dengan panggilan 'Tuan' itu, kau bukan pekerjaku lagi. Dan ini adalah terakhir kalinya." Tidak banyak bertanya lagi, Aeri hanya mengangguk. Tetapi ada satu hal yang membuat Aeri bingung di sini.
Ia mengangkat pandangan, menemui manik Zeha yang tiada hentinya memandangi wajah sembab miliknya.
"Tapi bagaimana Tua--"
"Jangan memancing sifat liarku Aeri. Kau ingin aku memakan bibirmu itu?"
Aeri tersenyum kecil. Walau terkesan lembut, tapi ini adalah jati diri lelaki itu yang sesungguhnya. Yakni suka menggoda dan menjahilinya, membuat ia merasa takut dengan menelan susah salivanya.
"Bagaimana k-ka--kau bisa-- emm maksudku apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Sudut bibir Zeha tertarik melihat Aeri terlihat kaku.
๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ, ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ, ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ, ๐๐ฆ๐ณ๐ช. Semua itu jelas terlihat dari wajah tampan itu.
Gerakan tangan besar Zeha yang tiba-tiba menyentuh tengkuk Aeri membuat sang empu membatu dengan mata tertuju pada Zeha. Tangan itu bergerak naik mengusap lembut pipi Aeri, lalu menuju bibir itu. Lantas Zeha membawa wajahnya menunduk, mendekati wajah Aeri yang tampak menegang dikala Zeha mendekat.
Dorongan dalam tubuh Aeri memaksanya untuk menoleh tepat disaat wajah Zeha sudah berada begitu dekat dengannya, ia mengelak.
"Aeri... izinkan aku ...."
Deg!
Kata-kata itu bagai sebuah mantra ditelinga Aeri. Kelembutan suara Zeha juga nada yang terdengar begitu dalam. Seolah memohon padanya. Aeri tidak dapat menolak lagi.
Tiada penolakan, Zeha pun meletakkan rahang Aeri diantara kedua tangan besarnya. Mempersatukan bibirnya pada bibir Aeri. Disaat Zeha mulai beriaksi dengan pergerakan dan cumbuannya yang dalam, Aeri refleks memegang kedua tangan Zeha yang bertengger dikedua sisi rahangnya. Maniknya terpejam rapat merasakan intensnya tautan yang Zeha ciptakan.
๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ถ๐จ๐ข๐ด๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช.
Kepala itu hanya bisa menunduk dalam. Tubuh yang tidak kalah kekar oleh tubuh Zeha itu bersandar pasrah dengan kedua tangan berada dalam saku celana.
Tanpa sadar, lihuid bening itu mengalir keluar setelah sekian lama. Melihat wanita dicintai bersama lelaki lain memang sungguh menyiksa batin, namun jika itu membuat Aeri bahagia, sesakit apapun Yohun akan sanggup menanggung.
Mengusap air mata kasar, sambil menarik napas dalam. ๐๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐๐ฆ๐ณ๐ช.
"Berbahagialah." Akhirnya Yohun pun membawa tubuhnya meninggalkan rooftop dengan berat hati. Keberadaannya sudah tidak dibutuhkan lagi.
๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ.
Aeri menarik wajahnya, mengakhiri tautan yang bahkan telah melibatkan indra perasa mereka. Tubuh Aeri juga bahkan telah bersandar pada pembatas simen dengan kedua tangan Zeha mengungkung.
Keduanya terengah. Melihat hal itu membuat Zeha senang juga merasa bersalah salah. "Maaf. Aku tidak bisa menahan diri," ujar Zeha membuat Aeri menunduk dengan semburat merah. "Kau tahu bahwa bibi--"
"Cukup," sela Aeri cepat, sambil mendorong tubub Zeha menjauh. Ia tidak sanggup mendengar kata-kata vulgar yang akan Zeha katakan.
"Kau belum menjawapku." Segera Aeri mengalihkan topik.
Sambil tersenyum, Zeha menuntun Aeri untuk melihat ke bawah gedung. "Kau melihat sesuatu?"
"Mobil?"
Kontan saat itu juga ketawa Zeha pecah, tanpa melepas back hug'nya. "Bukan sayang...." Sekilas Zeha mengecup rambut Aeri.
"Apa kau melihat simen yang moncong keluar itu?" Sebagai jawapan, Aeri berdehem. Apa yang Zeha tunjukkan itu ternyata tidak begitu jauh dari pembatas simen. Mungkin karena kurang pencahayaan membuat Aeri tidak dapat melihat keberadaan Zeha tadi.
"Aku berpegangan di sana dan memanjat naik."
"Syukurlah." Dalam hati Aeri sangat bersyukur. "Lalu apa yang terjadi padamu dan Yohun? Kenapa dia membawaku padamu? Kau mengancamnya?"
"Tidak!" sangkal Zeha cepat. "Semua itu karena dia sangat mencintaimu, Aeri," lanjautnya, membungkam Aeri.
Tentu saja hal itu Aeri ketahui dengan baik. Namun, yang membuat Aeri bingung di sini adalah Zeha. Zeha terlihat baik-baik saja dengan itu, ia langsung tidak terlihat kesal atau bermasalah dengan perasaan Yohun. Zeha sungguh telah berubah.
"Cintanya begitu besar padamu," tutur Zeha, mengusap lembut wajah itu.
"Tapi kau tahu bahwa cintaku lebih besar, kan?"
Aeri tersenyum kecil melihat kecemburuan yang jelas terpancar dikedua bola mata itu. "Aku tidak tahu. Karena kau tidak pernah menunjukkannya,"ย kata Aeri jujur tanpa kebohongan.
Mau cemberut pun tiada gunanya. Zeha mengakui apa yang Aeri katakan itu benar. "Jika seperti itu, kenapa kau tidak menerimanya?"
Aeri terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke lain arah, namun hal itu membuat Zeha tidak senang. "Jangan alihkan matamu dari pandangaku Aeri."
Walau baru beberapa kali Zeha mengatakan perasaannya, itu sudah terlihat sangat jelas di mata Zeha. Dari pancaran mata itu. Itu benar-benar sangat dalam. Aeri tidak pernah melihat cinta sebesar ini. Patutkah Aeri merasa senang?
"Aku tidak bisa." Aeri balas menatap Zeha dalam.
Sudut bibir Zeha tertarik miring. Ia kembali mendekat hingga membuat Aeri tersandar pada tembok pembatas. "Kenapa?"
"Karena nama seseorang sudah bersemayam di hati ini."
Mendengar kata-kata itu Zeha semakin tersenyum. Aeri menggodanya. Jika demikian, maka Zeha akan kembali menggoda Aeri. ๐๐ช๐ต๐ข ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ.
Zeha merapatkan wajah hingga bibir mereka hampir bersentuhan kembali. "Siapa?" lirih Zeha seksual tepat didepan bibir itu.
"Itu rahasia."
Kontan Zeha menarik pinggang kecil itu menempel padanya. Itu adalah wajah terseksi yang pernah Aeri perlihatkan pada Zeha. Sungguh menggemaskan. Zeha pun otomatis mengecup singkat bibir Aeri yang terbuka.
"Katakan," pinta Zeha menuntut dan kembali mengecup bibir Aeri yang terus menggodanya. Walaupun tidak menempel lama, namun itu terus Zeha lakukan berulang kali. Mengecup dan meraup bibir Aeri singkat dengan mulut. Singkat, namun intens. Mulai dari sisi kanan hingga sisi kiri.
"Kau masih tidak ingin mengatakannya, hm?" Aeri tersenyum senang. Saat perasaan dibalas ternyata sangat membahagiakan
"Jeon Zeha--epm!"
Zeha tersenyum penuh kemenangan. Ia kembali meraup bibir Aeri dengan bibirnya yang terbuka. Dalamnya tautan itu membuat Aeri kewalahan walau telah mencuba mengimbangi. Wajah mereka menempel sangat dalam dengan bibir yang tampak terus bergerak saling meraup.
Sekali lagi Aeri yang mengakhirinya. "Kau seolah ingin menelannya Zeha," gumam Aeri merasa malu mengingat cumbuan meraka begitu deep.
"Jika bisa, aku akan memakannya." Zeha menarikย tubuh itu masuk dalam pelukan hangatnya.
"Gila," gerutu Aeri, menanggapi ucapan Zeha.
Selang bebarapa menit, sebelum akhirnya Aeri kembali bersuara. "Bagaimana akhirnya kau tahu bahwa Yohun yang menyembunyikanku?"
Sebelum memulai, Zeha terdengar menghela napas panjang. "Disaat aku hampir pada keputus asaan, aku sontak teringat pada Yohun. Beberapa hari aku meminta anak buahku untuk menyelidikinya." Dengan tenang, Aeri mendengar dalam pelukan yang terasa semakin erat itu.
"Setelah itu, aku menemukan kejanggalan. Aku menemukan bahwa dia sering ke Gimsan sedangkan itu daerah yang cukup jauh dari Soul dan itu terus dia lakukan 4 kali dalam sebulan. Bukankah itu aneh? Dia juga sering mengunjungi ayahmu yang ada di rumah Yuri. Bahkan pengeluarannya pun terbilang cukup banyak bagi seorang lelaki lajang. Dan setelah itu, aku pun pergi menemuinya, tepatnya kemarin setelah dia balik dari mengunjungi ayahmu."
Kini Aeri tahu mengapa tadi siang Yohun kembali membahas mengenai Zeha. Ternyata ia ingin memastikan sesuatu. Aeri mendesah ke udara. Ia merasa bersalah karena tidak dapat membalas perasaan Yohun.
Mau bagaimana lagi, perasaan tidak dapat dipaksakan. "Aku harap dia menemukan seorang wanita yang baik sepertinya. Yang akan mencintainya sepenuh hati."
"Seperti kau mencintaiku?"
Aeri segera melepas pelukannya. "Aku serius Zeha."
"Loh, itu tidak betul, ya?"
Aeri terdiam. Ia speechless dengan balasan lelaki di hadapannya itu. "Sudahlah. Sekarang aku ingin bicara dengan Yohun, aku marah padanya."
Pas disaat Aeri hendak menelpon Yohun, kala itulah sebuah pesan dari lelaki tersebut.
๐ฌ
[๐ผ๐ ๐ช ๐ฉ๐๐๐ช ๐ ๐๐ช ๐ข๐๐ง๐๐ ๐ฅ๐๐๐๐ ๐ช, ๐ฉ๐๐ฅ๐ ๐๐ ๐ช ๐ข๐ค๐๐ค๐ฃ ๐๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐ข๐๐ข๐๐๐ฃ๐๐๐ ๐ช, ๐ฎ๐. ๐ผ๐ ๐ช ๐ฎ๐๐ ๐๐ฃ ๐ ๐๐ช ๐๐ ๐๐ฃ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ง๐จ๐๐ข๐๐ฃ๐ฎ๐. ๐ผ๐ ๐ช ๐ฉ๐๐๐ช ๐๐ฉ๐ช ๐จ๐๐๐ฉ ๐๐๐ ๐ข๐๐ข๐๐ฃ๐ฉ๐ ๐ฉ๐ค๐ก๐ค๐ฃ๐ ๐ฅ๐๐๐๐ ๐ช ๐ช๐ฃ๐ฉ๐ช๐ ๐ข๐๐ข๐ฅ๐๐ง๐ฉ๐๐ข๐ช๐ ๐๐ฃ ๐ ๐๐ก๐๐๐ฃ. ๐ผ๐ฌ๐๐ก๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐ ๐ช ๐ฉ๐๐๐๐ ๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐ฉ๐๐ฅ๐ ๐ข๐๐ก๐๐๐๐ฉ ๐ ๐๐๐๐ง๐๐ฃ๐ฉ๐๐ ๐๐ฃ๐ฃ๐ฎ๐ ๐ข๐๐ข๐๐ช๐๐ฉ๐ ๐ช ๐ฉ๐๐ง๐จ๐๐๐๐ง ๐๐๐ฃ ๐๐๐. ๐พ๐๐ฃ๐ฉ๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐๐๐๐ฉ๐ช ๐๐๐จ๐๐ง ๐ฅ๐๐๐๐ข๐ช ๐ข๐๐ก๐๐๐๐๐๐ ๐ช. ๐ ๐๐๐ ๐ข๐๐๐ ๐ ๐๐ง๐๐ฃ๐ ๐ฉ๐๐ก๐๐ ๐ข๐๐ข๐๐ค๐๐ค๐ฃ๐๐๐ข๐ช ๐๐ข๐ข? ๐ ๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐ฉ๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐๐๐๐๐ข๐๐ฃ๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐ฃ๐ ๐ช ๐จ๐๐๐๐ ๐ ๐๐ช ๐ฉ๐๐๐ช ๐ฅ๐๐ง๐๐จ๐๐๐ฃ๐ ๐ช ๐ฅ๐๐๐๐ข๐ช, ๐ฉ๐๐ฅ๐ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐๐ฅ๐ ๐จ๐๐ข๐ช๐ ๐๐ฃ๐ ๐๐ ๐๐ฃ ๐ข๐๐ข๐๐๐๐ ๐จ๐๐๐ง๐๐ฃ๐ ๐ฌ๐๐ ๐ฉ๐ช. ... ๐๐ ๐๐ฎ๐, ๐๐๐จ๐ค๐ ๐๐ ๐ช ๐๐ ๐๐ฃ ๐ฅ๐๐ง๐๐ ๐๐ค๐ฃ๐๐ค๐ฃ. ๐ผ๐ฎ๐๐ ๐ข๐๐ข๐๐ฃ๐ฉ๐๐ ๐ช ๐ช๐ฃ๐ฉ๐ช๐ ๐ข๐๐ฃ๐๐ช๐ง๐ช๐จ ๐๐๐๐๐ฃ๐ ๐๐ค๐ฉ๐๐ก ๐ ๐๐ข๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐๐๐ง๐ช ๐๐๐ง๐๐จ๐ข๐๐ ๐๐ฃ ๐๐ ๐จ๐๐ฃ๐... ๐๐ข๐ข ๐จ๐๐ ๐๐ก๐๐๐ฃ ๐ช๐ฃ๐ฉ๐ช๐ ๐๐๐๐ก๐๐ฃ๐ ๐๐๐๐. ๐๐๐๐ฅ๐ ๐ฉ๐๐๐ช ๐๐ ๐ช ๐๐ ๐๐ฃ ๐๐๐ง๐ฉ๐๐ข๐ช ๐๐ค๐๐ค๐ ๐๐ ๐จ๐๐ฃ๐, ๐ ๐๐ฃ? ๐๐ช๐ฃ๐๐ ๐๐ฃ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐จ๐๐ข๐, ๐ฉ๐๐ฅ๐ ๐จ๐๐ ๐ช๐ง๐๐ฃ๐-๐ ๐ช๐ง๐๐ฃ๐๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ฃ ๐ก๐๐ข๐๐ช๐ฉ ๐จ๐๐ฅ๐๐ง๐ฉ๐๐ข๐ช. ๐ฝ๐๐๐ ๐ก๐๐, ๐จ๐ช๐๐๐ ๐๐ช๐ก๐ช ๐ฎ๐. ๐ ๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐ข๐๐ฃ๐๐ฃ๐๐๐จ ๐ก๐๐๐, ๐๐๐ง๐๐๐๐๐๐๐๐ก๐๐ ๐๐๐ง๐จ๐๐ข๐๐ฃ๐ฎ๐, ๐ฉ๐๐ฉ๐๐ฅ๐ ๐๐ ๐ช ๐ฉ๐๐๐๐ ๐ฉ๐๐ง๐๐ข๐ ๐๐๐ ๐ ๐ ๐๐ช ๐ข๐๐ก๐ช๐ฅ๐๐ ๐๐ฃ๐ ๐ช ๐๐๐๐. ๐ผ๐ ๐ช ๐ข๐๐ฃ๐ฎ๐๐ฎ๐๐ฃ๐๐๐ข๐ช, ๐ผ๐๐ง๐.]
Seperti demikianlah akhir dari pesan Yohun yang berhasil membuat Aeri kembali mengeluarkan air matanya. Mereka berdua memang sama. Saat Yohun menuliskan pesan tersebut, ia juga meneteskan air matanya. Yohun memiliki perasaan yang enggan melepaskan, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa.
"Aku bersalah padanya," lirih Aeri membuat Zeha sontak memeluk tubuhnya erat.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Dia akan menemukan seseorang yang pantas untuknya."
"Aku sangat mengharapkan itu."
"Sekarang aku akan membawamu bertemu ayah mertua."
"Ayah mertua?" Aeri mengernyit, seraya melepas pelukan Zeha.
"Iya. Aku akan meminta restu ayahmu untuk menikahimu. Bagaimana?"
Karena tidak sabar menunggu jawapan dari Aeri, langsung saja Zeha mengangkat tubuh kecil Aeri ala bridal yang refleks mengundang teriakan Aeri.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Menggendong mu, sayang." Dengan santai Zeha melangkah meninggalkan lantai rooftop tersebut.
"Aku bisa sendiri Zeha."
"Kau lambat."
"Turunkan aku--ahh!" Aeri merasa takut saat Zeha menuruni tangga, sedangkan lelaki itu hanya tersenyum senang.
"Tidak akan pernah."
"Jeon Zeha!"