
Aeri membawa kakinya menapak ke dalam lobi perusahaan dengan setengah wajah yang ditutup menggunakan tangannya. Pipinya terus terasa panas sedari tadi.
Jika tahu akan terjadi seperti itu, Aeri tidak akan mahu mengobati bibir Zeha padahal lelaki itu sudah mengatakan tidak perlu. Ia merutuk dalam hati sambil mengatub mata rapat sekilas. Tidakkah tadi ia terkesan seperti sengaja mencari kesempatan? Sungguh ia berharap tidak.
••°°FlashBack°°••
Setelah membereskan meja serta mencuci peralatan makan mereka bertiga tadi, Aeri mendekat pada Zeha yang saat itu duduk pada sofa--fakus pada benda pipih miliknya, ada kerjaan apa Aeri tidak tahu.
"Tuan ..." Seru Aeri berdiri di samping Zeha.
"Hmm ...," Zeha hanya bergumam sebagai jawapan tanpa menoleh.
"Obati luka tuan, ya?"
Kontan Zeha mendongak, menatap Aeri tatapan bingung. "Luka apa yang kau maksud?"
"Itu," sahut Aeri menunjuk pada bibir Zeha.
"Tidak perlu!" Jawap Zeha cepat. "Nanti pasti sembuh semdiri," tambahnya kembali fokus pada ponselnya.
"Tapi, itu bisa terenfeksi jika tidak diobati ...."
"Aku sudah biasa dengan luka kecil seperti ini. Kau tidak perlu khawatir. Tidak akan ada yang memperhatikan luka seperti ini." Entah mengapa kata-kata itu membuat Aeri merasa sedih. Pasti selama ini Zeha merasa kesepian. Rindu untuk diperhatikan dan dibelai. Walau semua itu tidak ia tunjukkan, namun, kadang semua itu keluar dengan sendirinya tanpa diketahui oleh orang tersebut.
"Tapi aku memperhatikannya...." Zeha bergeming, terkesima oleh ucapan itu. Belum sempat ingin mengangkat kepala, Aeri sudah berlutut di hadapannya. "Aku buka seseorang yang mengabaikan luka kecil seperti ini," tambah Aeri menoleh sekilas pada Zeha yang bergeming menatapnya lekat.
Mengabaikan tatapan itu, tangan lembut Aeri mulai mengoleskan salep pada bibir Zeha yang koyak. Aeri mengernyit seolah ia yang merasakan perih itu, sedang yang empu bibir hanya memasang wajah serius dengan semburat dingin menatap lurus pada Aeri yang sedari tadi entah berkata apa.
Setelah sang ibu, Aeri adalah wanita kedua yang begitu perhatian padanya. Luka kecil yang biasanya hanya diabaikan--ataupun mereka hanya sekedar berbasa-basi menanya mengapa ia bisa mendapat luka itu tanpa ada rasa khawatir atau cemas seperti yang terlihat dikedua bola mata indah di hadapannya saat ini. Kerutan halus di sudut mata serta bibir yang melengkung jelek menunjukkan Aeri seolah bisa merasakan sakit yang seperti digigit semut baginya.
Ia terus memindai secara lekat wajah lembut dengan semburat cemas itu. Ia merindukan perasaan seperti ini. Dikhawatirkan dan diperhatikan.
"Luka kecil bisa menjadi besar jika tidak diobati segera. Dari itu, kita tidak boleh memandang remeh luka-luka kecil kare--eumpp!"
Mata Aeri melotot kaget. Kedua sisi rahangnya di pegang erat dengan bibir yang bertemu intens. Dengan lembut Aeri rasakan bibirnya dikulum oleh bibir Zeha. Dikala ia mencuba untuk memberontak, lelaki itu malah semakin menekan wajahnya sehingga ciumannya semakin dalam pada wajah Aeri yang mendongak.
******* lembut itu menghayutkan Aeri. Netranya tertutup secara perlahan, membiarkan Zeha menikmati bibirnya dengan ******* ******* yang memabokkan. Bibir Zeha mengemot bibir bawah Aeri penuh nikmat, lalu menariknya sebelum mengakhiri cumbuannya.
"Bibirmu terus memanggilku untuk menikmatinya," bisik Zeha tepat di depan bibir Aeri yang terbuka. Mata tajamnya mengerjap puas melihat wajah merah merona Aeri.
••°°FlashBack End°°••
"Aeri!" Teriak Yuri menghampirinya. Membuyar segala lamunan yang mengganggu pikiran Aeri. Dengan menepuk kuat kedua belah pipi miliknya, lantas tersenyum lebar menyambut sanga sahabat.
"Yuri ... aku merindukanmu!" Aeri langsung memeluk sahabatnya itu yang dibalas oleh Yuri. Mereka seolah berpisah benua yang setelah setahun baru dapat bertemu. Tingkah mereka menarik banyak pasang mata.
Tetapi ada yang aneh. Tatapan tajam yang mereka layangkan penuh dengan benci. Aeri hanya mengabaikannya. Mungkin saja mereka memang berlebihan.
"Kau tidak datang bersama tuan Zeha?" Yuri bertanya setelah meleraikan pelukan mereka.
Aeri mengernyit. "Apa maksudmu? Kenapa aku harus datang bersamanya?" Memang tadi ia tidak datang bersana Zeha, itu karena atasannya itu berangkat deluan sebab ada urusan lain.
Deg!
Sumpah, Aeri tercengang mendengar apa yang Yuri ucapkan. "Kau mempercayinya," Aeri balik bertanya. Ia merasa sedih saat Yuri tidak mempercayainya.
"Tidak, bukan begitu ... Kau jangan salah faham. Cuba kau lihat ini...."
Yuri pun menyerahkan News Paper yang berada dalam pegangannya pada Aeri. Walau kini Aeri dilanda kebingungan, ia tetap menerima benda tersebut dengan sesekali melirik pada Yuri.
"Lihat berita utama yang keluar hari ini," ujar Yuri kemudian.
Aeri pun mencari berita utama yang dimaksud oleh sang sahabat yang berada pada muka surat paling depan.
Detak jantung Aeri otomatis melaju melihat foto yang tertera di sana bersama judul yang membuat tubuh kaku. Kini ia mengerti alasan dari tatapan tidak enak yang ia dapatkan dari orang-orang.
Hanya lulusan sekolah menengah atas, kenapa
bisa menjadi seorang sekretaris tanpa pengalaman. Mungkinkah ia melakukan sesuatu yang tidak bermoral?
Laju jantung semakin diluar kendali, membuat tubuh bergetar, setelah membaca judul tersebut Ia menatap sendu pada Yuri. Ya tuhan, tidak bisakah ia merasa tenang sedikit saja.
Tangannya mengepal kuat menahan amarah serta rasa sedih yang menghampiri. Ingin rasanya ia merobek kertas besar itu, menghilangkan foto besar dirinya serta Zeha.
"Apa kau ada urusan perkerjaan ke hotel itu?" Yuri bukan tidak percaya pada sahabatnya itu, namun terkadang ada kondisi yang memaksanya untuk bertanya.
"Iya. Hari itu memang tuan Zeha ada jadual untuk mendatangi Kim'Hotel," sahut Aeri tanpa mengalihkan tatapan dari koran.
Masih sangat jelas dalam ingatan--pose yang terlihat pada koran tersebut adalah saat Zeha menolongnya yang hampir terjatuh sewaktu pergi ke Kim'Hotel. Di saat itu juga ada Yohun serta cleaning service yang menjadi saksi.
Ia kembali membawa pandangan berembun miliknya melihat pada koran. Entah manusia mana yang kurang kerjaan sehingga menjadikannya dan Zeha berita utama.
Bahkan di sana mengatakan bahwa ia pergi ke hotel untuk melakukan mesum dengan atasannya sendiri. Cih, memangnya ia ******? Sungguh brengsek. Ingin rasanya Aeri patangkan kedua tangan orang yang membuat berita tersebut.
Semuanya bohong. Tidak ada satu kata pun yang benar.
"Aeri ..." panggilan lembut itu membuat kepala Aeri kontan menoleh dengan manik yang berair. Ia menatap curiga pada Yohun yang melangkah mendekat.
"Kenapa? Kau juga--"
"Tenanglah...." Yohun menjatuhkan tangan pada puncak kepala Aeri. Ia tahu saat ini pasti Aeri merasa resah dan gelisa. Tangannya mengusap dengan penuh kelembutan puncak kepala itu. Biasa gadis itu akan merasa tenang setelah kepalanya diusap.
"Kau tahu aku juga berada di sana, kan. Semua yang tertulis pada koran itu tidak. Walaupun seandainya aku tidak berada di sana, aku tetap akan percaya padamu," tutur Yohun tanpa mengada-ngada.
Aeri mempercayainya. Karena sedari dulu, Yohun adalah orang yang sentiasa percaya padanya tanpa penjelasan. Tidak peduli apa pun yang orang-orang katakan padanya, lelaki itu hanya akan mengabaikannya.
Tring tring...
Vibrate yang berasal dari ponsel Aeri memutuskan tautan pandangan mereka. Aeri merogoh, lantas melihat siapa yang menelponnya.
"Ya, tuan Zeha ...."