
Karena niat menghindar akhirnya membawa Aeri pada penyiksaan dirinya. Aeri meruntuki diri karena meminta Zeha untuk menghukum atas kesalahan yang telah ia lakukan dengan jaminan tetap bekerja di perusahaan tersebut.
Sesungguhnya, Zeha tidak berniat menghukum Aeri, ia justru hanya ingin berrtanya atas tindakan Aeri yang menghindarinya. Akan tetapi, malah salah dianggap oleh gadis tersebut. Dari sana, Zeha mendapat idea untuk menjahili Aeri dengan menerima usalan iaitu memberi hukuman padanya.
Memberi pelajaran pada mainan itu tidak apa-apa, biar mereka tidak berani macam-macam pada majikan mereka.
"Ma-maaf tuan, saya sudah tidak sanggup lagi," lirih Aeri menjatuhkan sudu yang ia pegang begitu saja. Segala sesuatu yang telah masuk ke dalam perutnya seolah ingin keluar.
Setengah mati Aeri menahannya. Padahal dalam mulutnya masih penuh oleh makanan yang berusahan ia telan. Ini sudah restoran kelima yang mereka datangi sejak siang tadi. Sebenarnya Aeri merasa lega karena hukuman yang Zeha berikan tidak seperti yang ia bayangkan, tapi ini semua juga tidak terduga olehnya.
Zeha membawa Aeri meninjau beberapa restoran yang masuk dalam list pembeli produk makanan yang dikeluarkan dari perusahaannya. Apakah banyak diminati atau bagaimana? Tentunya Zeha ingin mengetahui semua itu demi perkembangan J'Foodies dikemudian hari. Tidak lupa juga untuk mencuba setiap olahan dari produk tersebut yang dihasilkan dari setiap restoran tentunya.
Dan di sini Zeha menjadikan Aeri sebagai orang yang akan mencicipi setiap makanan tersebut. Zeha rasa ini hukuman yang cocok untuk Aeri. Biar sekalian tubuh kecilnya itu membesar setelahnya.
"Jangan banyak mengeluh! Habiskan saja. Setelah ini kita akan mendatangi satu tempat lagi," tukas Zeha membuat Aeri mendelik kaget. Kedua matanya membesar.
Ini saja Aeri sudah setengah mati menghabiskannya, dengan sesekali mual datang menyapa. Apalagi harus mendatangi satu tempat lagi. Bisa-bisa perut Aeri meletub karena terlalu penuh. Jika di setiap restorannya hanya menghidang satu hidangan saja mungkin tidak masalah untuk Aeri, namun ini ada yang sampai lima olahan dari satu produk. Dan Aeri diharuskan untuk merasa semua hidangan itu bahkan dituntun untuk menghabiskan.
Bukankah itu gila? Bagaimana perut kecil Aeri akan memakan semua makanan tersebut? Lagian ini sudah jam 6, jam kerja sudah berlalu beberapa jam. Bahkan kini mereka akan mendatangi satu tempat lagi sebagai tempat terakhir. Yang artinya Aeri akan pulang sekitar jam 7 lewat.
Karena di sana nantinya pasti akan menghabiskan sekurang-kurangnya satu jam ataupun lebih. Itu terjadi karena introgasi pada beberapa pengunjung yang dilakukan oleh Gary, dilanjutkan dengan Zeha yang menginterview pemiliknya pula.
Sungguh ini penyiksaan batin. Menguras semua energi Aeri.
Akhirnya Aeri tidak dapat menahannya lagi. Dengan kelima jari kedepan, seolah mengatakan pada Zeha 'maaf', sedang sebelah tangan Aeri gunakan untuk menutup mulutnya yang ingin memuntahkan sesuatu. Aeri pun lantas berlari keluar dari ruang VIP tersebut, meninggalkan Zeha yang kebingungan.
Aeri terus berlari dengan tergesa-gesa. Sebelumnya Aeri sempat bertanya keberadaan toilet pada pelayan yang bekerja di sana. Sekarang yang ada dalam pikiran hanya ingin segera sampai ke toileh. Bahan makanan yang telah masuk ke dalam perut Aeri seolah berlomba-lomba untuk keluar. Terlambat sedikit saja, ia bisa mendatangkan masalah untuk Zeha, dan Aeri tidak ingin itu terjadi.
Bhuk!
Aeri meringis dengan bibir yang terkatub sambil mengusap-usap dahinya. Saking terburu-burunya ia sampai tidak menyadari ada yang baru saja keluar dari toilet yang bersebelahan dengan toilet wanita.
"Kwon Aeri?"
Mendengar saja namanya disebut sontak membuat Aeri mendongak dan apa yang dilihat oleh maniknya malah semakin membuatnya kaget.
"Y-Yohun?" Bisik batinnya.
Akan tetapi, ada hal yang lebih mendesak. Dengan langkah lebar serta tangan yang membekap mulut, Aeri memasuki toilet wanita yang berada tempat di sampingnya. Dada terasa penuh dan sesak oleh segala sesuatu yang memberontak untuk keluar.
Aeri membasuh mulutnya dari bekas muntahan yang keluar. Sesekali terdengar helaan napas berat dalam aktivitasnya itu. Aeri melirik ke arah pintu toilet yang tetutup, sembari bergumam. "Apa dia masih di luar?"
Sesungguhnya, Aeri tidak ingin bertemu dengan Yohun buat masa ini, bahkan kalau boleh ia tidak ingin bertemu dengan lelaki itu lagi buat selamanya. Sekali lagi Aeri menghela napas. Tidak cukup satu masalah yang datang. Perasaan cemas, khawatir, dan takut sudah menghantuinya sedari tadi, terus melayang memikirkan operasi sang ayah.
Tadi, sebelum Zeha membawa Aeri untuk melakukan pemantauan diluar kantor, Aeri sempat pergi ke rumah sakit untuk menyerahkan sejumlah uang yang ia pinjam dari Zeha untuk biaya operasi sang ayah. Dan kini, lelaki bernama Yohun muncul pula, tambah meperkeruh perasaan Aeri yang tengah serabut. Belum lagi sang presiden yang terus menyiksanya.
Aeri melangkah pelan ke arah pintu toilet. Membuka pintu secara perlahan. Dalam hati, Aeri sangat berharap Yohun telah pergi dari sana. Namun, itu tidak sesuai ekspektasi Aeri. Ia malah terkaget disaat pintu itu malah langsung didorong kuat oleh Yohun dikala melihat Aeri membuka pintu secara perlahan. Karena memang sedari lima menit tadi, Yohun terus memperhatikan pintu itu, sehingga di saat ada pergerakan ia langsung melihatnya.
Tubuh Aeri terdorong masuk oleh tubuh Yohun yang juga ikut masuk, lantas kemudian lelaki itu menutup pintu dan menguncinya. Manik matanya tidak pernah lepas dari wajah lembut Aeri yang terlihat guratan marah serta ketakutan saat melihat keberadaannya.
"Aeri...."
"Menjauhlah Yohun!" Sentak Aeri melihat lelaki itu semakin mendekat. "Aku tidak punya urusan denganmu!"
Akan tetapi, Yohun seakan tuli, ia mengendahkan perkataan gadis itu. Tungkainya terus ia bawa mendekat pada tubuh Aeri yang menjauh. Dalam perasaan marahnya itu terselit rasa takut yang mampu buat tubuh bergetar dikala tubuh Yohun semakin mendekat. Aeri begitu ingat dengan kegilaan yang pernah Yohun lakukan padanya, masih sangat jelas. Seperti kejadian itu baru saja terjadi kemarin.
"Tapi aku merindukanmu Aeri." Yohun memelas.
Tamat sudah. Punggung Aeri mentok pada pinggiran watsafel. Kontan tangan kecil itu terulur ke depan, menahan tubuh Yohun agar tidak mendekat.
"Aku tidak peduli dengan rasa rindumu itu. Namun, yang pasti, aku tidak sedikit pun merindukan lelaki sepertimu! Dan sekarang bisakah kau minggir?!" tukas Aeri bertegas. Walau sebenarnya ia sudah hampir pingsan.
Terbit senyum ringan yang terkesan mengerikan. Tangan lelaki itu merambat naik untuk menyentuh tangan Aeri yang bertengger di dadanya. Meremat sedikit kuat tangan kecil Aeri. Wajahnya mendekat.
"Lelaki sepertiku? Memangnya ada apa denganku, hmm?" Begitu lembut, namun tidak untuk Aeri. Malah terdegar seperti sebuah alunan musik yang menyeramkan. Apalagi saat sebelah tangan Yohun mulai mengusap lembut pipi halus Aeri.
Segera mungkin Aeri menepis tangan itu, tetapi itu malah berujung pada pencekalan pergelangan tanganya.
"Lepas!"
"Bukannya kau menyukaiku? Kenapa sekarang kau beruba? Kau terus bersembunyi dariku! Kenapa?!" Yohun menyudutkan Aeri, semakin membawa wajahnya ke depan. Bahkan hembusan napas itu terasa menerpa wajah Aeri.
"Ergkk ...." Cengkraman yang secara tiba-tiba pada dada Aeri membuat gadis itu mengerang sakit. Tatapan nyalang Aeri layangkan dengan manik yang memerah karena marah, malu, dan kesal. Ia merasa terhina saat ini. Mengapa semua orang begitu mudah merendahkannya? Ia memberontak, sayang, semua itu sia-sia saja.
Yohun menyenyir. "Kau merendahkanku Aeri!" Hati Yohun seakan terbelah mendengar Aeri mengatakan bahwa ia menyesal pernah menyukainya. "Kejadian itu pasti masih begitu segar diingatanmu," bisik Yohun. Lelaki itu kemudian menngecup lembut telinga yang terlihat menggoda itu. Yang justru membuat Aeri menarik wajah.
Akan tetapi, tangan yang tadinya berada pada dada Aeri merambat secara perlahan ke punggung kecil Aeri, meremasnya perlahan, lantas menarik tubuh itu hingga menempel sempurna pada tubuhnya. Wajah yang menunduk itu hampir bersentuhan dengan wajah Aeri yang terhentak padanya.
Sedang kepala Yohun bergerak ke arah leher Aeri, mengendus aroma lembut yang menguar pada dari dalam tubuh Aeri. Kenangan indah yang pernah mereka lewati berputar begitu saja dibenak Yohun. Yohun tidak tahu entah sejak kapan perasaannya tumbuh pada Aeri yang saat itu hanya ia manfaatkan atas perintah dari sang ayah.
"Aku minta maaf atas semua yang telah aku lakukan padamu," cicit Yohun mendaratkan kecupannya pada leher putih Aeri. Yang tak ayal langsung ditolak oleh sang empu.
"Kau lelaki brengsek Yohun. Aku hampir mati, dan sekarang dengan mudahnya kau meminta maaf? Apa dengan maaf nyawaku bisa kembali seandainya aku meninggal?" Serga Aeri emosi. Memang begitu mudah untuk meminta maaf, namun tidak untuk memaafkan. Aeri terus berusaha untuk melepas diri dari rangkulan Yohun, tapi tenaga yang ia milik jauh beda dari lelaki itu.
"Sekarang lepaskan aku!"
"Aku mencintaimu Aeri," bisik Yohun lembut. Berbeda dengan tadi yang terdengar begitu dingin dan penuh dengan penekanan.
Bibir Aeri menyungging. Jujur ia cukup kaget mendengar perkataan itu keluar dari bibir Yohun apabila mengingat apa yang telah lelaki itu lakukan padanya. Perasaan yang pernah hadir waktu itu kini telah hilang dan tidak akan pernah lagi muncul walau bagaimanapun keadaannya.
"Perasaanku sudah mati untukmu Yohun." Ujar Aeri membukam bibir Yohun. "Sekarang lepaskan aku!"
Tubuh Yohun didorong kuat oleh Aeri sehingga berhasil lepas dari rangkulan itu. Seketika apa yang Aeri ucapkan membuat Yohun hilang fokus hingga cekalan pada pinggang Aeri melonggar dengan begitu saja.
Yohun sangat tahu bahwa ia begitu menyakiti hati Aeri. Tetapi, Yohun tidak menyangkah Aeri begitu membenci dirinya, mengingat Aeri adalah seorang gadis yang lembut dan baik hati. Apa yang semakin membuat Yohun terdiam adalah, hati Aeri yang telah mati untuknya. Tetspi, Yohun tidak ingin menerima semua kenyataan itu.
Greb!
Aeri menelan kasar salivanya tepat saat pergelangannya dicekal oleh Yohun. Belum sempat Aeri ingin menepis, tubuhnya sudah ditarik dengan kuat sehingga berbalik dan terhempas pada tubuh Yohun. Kemudian dengan bibir yang terbuka Yohun meraup bibir Aeri dengan deep. Membuat manik Aeri lantas membulat sempurna.
Aeri bergeming dengan perasaan bercampur aduk. Sedang Yohun bergerak agresif pada bibirnya. Menyapu benda lembab itu begitu intens, bahkan sesekali menyesap bibir bawah Aeri bagai mengemot permen.
Aeri yang tersadar langsung mendorong kuat sehingga tautan itu terlepas begitu saja.
Plak!
"Kau memang brengsek!"
Tamparan kuat itu menyadarkan Yohun. Ia melirik pada Punggung Aeri yang menjauh, lalu tersenyum getir.
"Aku memang lelaki brengsek Aeri."
......
Zeha pun mulai merasa emosi menunggu Aeri yang entah mengapa begitu lama perginya. Jari-jari besarnya mengetuk-ngetuk meja, dengan emosi yang tertahan.
"Tuan...." seruan yang Gary ucapan membuatnya menoleh.
"Ada apa?"
"Wanita yang membuat masalah pagi tadi ingin bertemu dengan anda di hotel xx kamar 112," bisik Gary.
Bibir Zeha sontak menyunggingkan senyum miring. Ternyata wanita itu mengetahui sifatnya yang suka menikmati tubuh wanita. Tidak masalah. Kebetulan sudah berapa hari ini Zeha tidak pernah lagi melakukan s*x.
Aeri yang melangkah masuk dengan langkah tergesa membuat kedua lelaki beda pangkat itu menatap kaget pada Aeri. Apalagi raut ketakutan yang begitu ketara di wajah lembut Aeri nampak di manik gelap Zeha. Ia mengernyit, terus menatap Aeri yang mendekat.
"Ada apa? Kenapa kau begitu lama?" Bahu yang bergetar itu menyita perhatian Zeha. Ia yakin sesuatu telah terjadi pada Aeri. Mata elang lelaki itu tanpa sengaja melihat pada bibif Aeri yang terlihat seperti habis di ****. Kontan alis Zeha tertukik naik dengan tajam. Secara perlahan netranya bergulir menelisik wajah takut itu.
Aeri menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya ... sakit perut," dalih Aeri. Tidak mungkin juga ia mengadukan kejadian itu pada Zeha.
"Baiklah kalau begitu, kita pulang sekarang karena aku ada urusan lain," imbuh Zeha seraya bangkit diikuti oleh Aeri. Kalau memang Aeri tidak ingin memberitahunya, ia juga ingin memaksa. Lagian itu bukan urusan seorang Zeha.
Sedikit sebanyak gadis itu merasa lega. Akhirnya ia akan segera pergi dari tempat tersebut. Dengan begini, ia juga memiliki waktu untuk istirahat sebelum pergi club untuk bekerja.
Aeri pun mengikuti Zeha keluar dari restoran yang hanya mampu didatangi oleh orang-orang kelas atas tersebut, namun pandangannya kembali tersita oleh sosok Yohun yang juga kebetulan melangkah keluar dari sana dengan beberapa orang lagi. Sepertinya lelaki itu baru saja menyelesaikan meetingnya.
Tapi, Aeri tidak peduli itu. Tubuhnya reflek ia sembunyikan dibalik badan kekar Zeha. Zeha yang menyadarinya menoleh bingung, di sudut matanya terlihat kerutan halus dikala menatap Aeri yang kembali bergetar takut.
Zeha pun berinisiatif untuk mengikuti arah pandang Aeri sehingga maniknya melihat punggung seorang lelaki yang melangkah keluar. Netranya kembali ia alihkan pada Aeri.
"Apa punca ketakuatan ini dari lelaki itu?"