
Suhu pendingin ruangan yang berada pada tahap terendah tidak cukup menyejukkan kedua tubuh yang terbakar gairah sedang menyatu dalam gerakan yang semakin membuncahkan gairah keduanya.
L*nguhan dan desah** saling bersahutan terutama sang wanita yang terus menjerit nikmat memenuhi ruang kamar hotel tersebut. Apalagi saat Zeha menhentak kuat bokongnya, membenamkan semakin dalam. Bahkan kedua kaki wanita itu semakin dilebarkan oleh sang empu, memberi akses penuh pada Zeha untuk menikmati miliknya.
Ini bukan pertama kalinya bagi wanita tersebut, namun ini pertama kalinya ia merasakan nikmat yang tidak terucapkan oleh bibirnya. Melihat betapa perkasannya Zeha pada pertama kali masuk ke perusahaan J'Foodies sudah membuatnya ingin disentuh oleh lelaki tersebut. Walau wanita itu tahu, bahwa Zeha bukan sesuatu yang bisa ia capai. Dan kini, karena kesalahan yang ia lakukan siang tadi, menjadi awal dari semuanya dan menjadi kenyataan. Ia senang dan menjadi gila dalam sentuhan yang Zeha ciptakan.
Dadanya membusung tinggi kala Zeha meraup rakus benda itu ke dalam mulutnya. Memainkan puc*k yang telah mengeras sempurna menggunakan lidah basahnya, memelintir bahkan sesekali mengapit menggunakan bibir lalu ditarik membuat mantan stafnya itu mend*sah kuat.
Sang wanita tidak membiarkan Zeha bermain sendiri. Bokongnya terangkat mengikuti iraman hentakan yang memabukkan dari Zeha. Bahkan kedua tangannya meraih tengkuk Zeha demi mempersatukan bibir dalam tautan yang memabukkan. Zeha meneroboskan lidahnya, membelit lidah sang wanita yang bergerak liar. Sedang di bawah sana terus menghentak tanpa henti.
Tanpa aba aba, wanita tersebut membalik posisi mereka hingga kini Zeha yang berada di bawah. Zeha cukup terkejut dengan tindakan wanitu tersebut, namun itu semua hanya sekelip mata, tergantikan oleh rasa nikmat disaat wanita itu menggerakkan pinggulnya naik turun. Wanita itu benar benar mengangk*ng disaat kedua lututnya berada dikedua sisi tubuh Zeha.
Apa yang ia lakukan itu benar benar membuatnya melayang hingga ke langit ketujuh. Juga begitu memuaskan zeha, walaupun sebenarnya sama saja seperti wanita wanita lain atau j*l*ng yang pernah ia tiduri.
Setelah hampir satu jam lamanya adegan panas itu, akhirnya masing masing dari mereka mendapatkan pelepasan yang membuat keduanya melenguh panjang.
Zeha meraih bathrobe miliknya yang tergeletak, lantas meraih ponsel yang tersimpan di atas nakas--samping tempat tidur, kemudian mendail nomor Gary yang tersimpan.
"Masuk!" perintah Zeha menjatuhkan bokong pada single sofa yang berhadapan langsung dengan ranjang hotel.
Tidak berselang lama Gary pun mengetuk pintu dan melangkah masuk setelah mendapat ijin dari Zeha. Ia menunduk hormat.
"Lenyapkan wanita itu," tukasnya dingin. Langsung tidak peduli dengan nyawa wanita tersebut. Sedang wanita yang terkapar tanpa sehelai benang itu tersentak dengan ucapan Zeha. Tubuh polosnya serta merta bangkit.
"Apa salahku?" Pertanya itu ia layangkan dengan tidak tahu dirinya. Sungguh tidak sadar apa yang telah ia lakukan pagi tadi. Atau mungkin, ia mengira bahwa Zeha telah memaafkan setelah ia memberi kepuasan pada lelaki tersebut.
"Ataupun kau pakai saja dulu, dia begitu agresif. Aku yakin itu dapat memuaskanmu. Tapi setelah itu lenyapkan, kemudian berikan pada buaya peliharaanku." Bagai angin yang melintasi telinga, Zeha mengabaikan ucapan wanita tersebut.
Deg!
Dengan detak jantung yang reflek bergemuruh hebat, gadis itu bangkit tanpa membuang waktu lagi. Ia tidak ingin menjadi makanan untuk seekor buaya. Meraih selimut demi menutupi tubuh naked'nya, berlari ke arah pintu hotel. Sayang sekali, bahkan sebelum meraih gagang pintu, ia sudah dicekal oleh Gary.
"Terima kasih, tuan. Saya pergi dulu." Setelahnya, Gary pun berlalu sambil menarik lengan sang wanita yang terus meberontak ingin dilepas. Kebetulan sudah sejak lama, ia tidak menikmati tubuh wanita. Gary sangat berterima kasih pada sang tuan.
"Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak ingin mati. Lepas!" Teriaknya histeris, tetapi Gary tetap menyeretnya keluar. Sedang Zeha hanya melirik sinis wanita yang telah hilang dibalik pintu.
Zeha paling benci dengan wanita seperti itu. Begitu mudah dan gampangnya menyerahkan diri pada seorang lelaki. Hal demikian yang semakin membuat rasa benci dan muak itu menyeruak memenuhi hati dan pikiran Zeha. Dan satu hal lagi, berani sekali wanita itu membalik tubuhnya disaat sedang bercinta? Bukan tidak suka dengan posisi tersebut, akan tetapi tindakan yang memandai itu mengusik Zeha. Bisa membalikkan posisi, namun itu hanya setelah seijin darinya.
Jika seperti itu, Zeha merasa bukan dirinya yang memegang kendali melainkan malah dikendalikan oleh lawan mainnya. Justru karena hal demikian, Zeha membenci tindakan yang memandai-mandai tanpa adanya perintah darinya.
Deringan ponsel membuyarkan lamunan panjang Zeha.
"Hello," ujarnya setelah sambungan tersambung.
"Aku telah menangkap orang yang telah membunuh beberapa orang kita beberapa hari yang lalu," sahut Sehun di seberang sana.
"Aku akan ke sana."
Tut tut tut.
Tanpa membuang waktu lagi, Zeha segera beranjak lantas mengenakan pakaian utuh dan segera meninggalkan ruang tersebut.
Mobil yang ia bawa melaju dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan yang mulai lenggang dengan kenderaan malam itu. Karena memang saat itu waktu telah menunjukkan pukul 11:53 menuju tengah malam.
Zeha membawa mobil Ferrari LaFerrari'nya itu menuju pinggiran kota. Tidak lama kemudian, Zeha membelok ke kanan. Sekitar 10 menit setelahnya, diujung jalan sana terlihat sebuah bangunan yang di sebut mansion, atau nama yang lebih tepatnya adalah Crytal Mansion. Tidak perlu dijelaskan seperti apa rupa dari mansion tersebut, karena memang sesuai seperti mana namanya. Begitu berkilau dengan lapisan kristal yang nyata.
Hampir begitu jarang mereka melihat majikannya itu muncul di sana. Jikalau pun muncul, itu hanya jika ingin melakukan sesuatu yang serius atau pun ingin menenangkan pikiran dari segala hal yang membuatnya stress.
Tiada yang berani mengangkat kepala jika bukan Zeha sendiri yang memerintahkan. Tidak ingin kejadian di mana dulu, ada seorang pelayan wanita yang begitu penasaran dengan wajah Zeha yang ia dengar begitu tampan. Namun naas menimpa, dikala langsung bertemu pandang dengan Zeha yang kala itu memang sedang dalam mode iblis. Timah panas yang berukuran kecil itu langsung melesat menembus kepala sang wanita. Nyawa melayang meninggalkan jasad.
Hingga kini, kejadian mengerikan itu terus terngiang di benak setiap pelayan hingga tiada yang berani melakukan hal serupa. Hanya kepala pelayan yang diberi hak untuk melihat ataupun bersitatap dengan Zeha, yang lain harus menunggu perintah.
""Bagaimana?" Manik tajam itu menghunus ke arah seorang lelaki yang diikat pada bangku. Disekujur tubuh lelaki itu sudah penuh dengan lebam serta darah yang memenuhi. Sebelah mata lelaki itu juga bengkak dengan warna biru. Bibir bawahnya juga koyak.
"Beres. Dia sudah mengatakan semuanya," sahut Sehun, menolak pinggang. Membawa pandangan ke arah yang sama dengan Zeha. Sebelum Zeha mengambil langkah mendekat.
Bayangan anak buah kepercayaannya dibunuh dengan sadisnya beberapa hari yang lalu membuat Zeha murka dengan rahang yang mengeras. Ia meraih parang yang tersusun di sana, dan langsung melayangkan benda tajam itu menebas kedua tangan sang sandera tanpa belas kasih sampai terputus.
"Arkkkk!"
Teriakan yang memilukan itu Zeha hirau. Telinga dipekakkan, begitu juga dengan Sehun. Orang yang telah berani mengusik mereka memang pantas diperlakukan sedemikian rupa.
Dor!
Peluruh itu pun melesat tanpa penghalang, menebus jantung lelaki tersebut.
"Buang mayatnya ke hutan biar di makan binatang buas," perintah Zeha dingin pada anak buahnya yang berjaga di sana.
"Baik, tuan," sahut mereka serempak.
"Lelaki itu memiliki kekasih," timpal Sehun tepat saat Zeha berhenti di dekatnya, sembari mengelap cipratan darah yang mengenaik lengan kekarnya.
"Terus, kenapa?" Acuh Zeha, tidak peduli.
"Masalahnya di sini adalah, kekasihnya itu bekerja di sini sebagai mata-mata," sambung Sehun kesal. Sehun mendesah panjang. Memang susah berbicara pada Zeha. Terlalu acuh. Seharusnya Zeha menunggunya selesai berbicara dulu, baru kemudian menanggapi.
Namun, apa yang Zeha katakan barusan berjaya membuat Zeha menoleh padanya dengan kilatan tajam. Ia tersenyum evil. Ternyata selama ini, ada mata mata disekitarnya.
"Ternyata mereka begitu berani mengusik singa yang sedang tidur." Urat pada leher keluar begitu jelas. Wajahnya mengeras dengan aura gelap yang mengelilingi. Bibirnya tersungging ngeri. "Bawa wanita itu ke hadapanku."
"Jadi, siapa yang memerintahkan mereka?" Tanya Zeha saat mereka melangkah keluar dari ruang bawah tanah itu.
"Anak dari keluarga yang telah kau bantai setahun yang lalu. Kau ingat?" Terang Sehun menoleh, menatap wajah yang otomatis tampak kebingungan itu.
"Setahun yang lalu ...." Lelaki itu terlihat berpikir. Yang telah ia bantai bukan hanya ada satu tapi ada banyak sehingga begitu sulit untuknya mengingat. "Keluarga Lee?" Zeha menerka, seraya menoleh pada Sehun.
"Yap. Entah bagaimana anak tertua mereka bisa selamat dari ledakan itu. Jadi wanita itulah yang telah mengirim mereka untuk balas dendam padamu."
"Wanita?" Sebelah alis Zeha terangkat tidak percaya. Ia kaget mendengar kata 'wanita' itu. Seorang wanita ingin membalas atas perbuatannya? Yang benar saja? Ckk! Membuang waktu saja.
"Aku serahkan padamu. Kau urus saja. Masih banyak hal yang lebih penting, yang harus aku lakukan daripada mengurus semut kecil seperti mereka."
Setelahnya, Zeha pun berlalu meninggalkan Sehun menuju lantai atas, tempat kamarnya berada.
"Bisa aku nikmati dulu?" Teriak Sehun saat Zeha menaiki anak tangga.
"Terserah." Zeha pun menghilang dari jangkauan mata Sehun, namun kembali tidak lama kemudian. Menghentikan langkah Sehun yang berniat pergi. "Aku ingin minta tolong padamu. Selidiki latar belakang gadis yang bernama Kwon Aeri. Kalau boleh dari gadis itu dilahirkan."