
"Senang, ya?"
Aeri terlonjat kaget mendengar suara Zeha, apalagi kedua tangan besar itu langsung melingkari perutnya secara posesif dari belakang. Pisau yang Aeri pakai untuk memotong sayur jatuh begitu saja. Aeri menunduk dengan bibir yang digigit seperti kebiasaan ketika resah.
Tidak seharusnya tadi Aeri mengikuti cara bicara lelaki itu. Mampuslah ia kali ini, entah apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu. Lagian, cepat sekali mereka mengakhirinya, Aeri pikir mereka akan melakukannya hingga berjam-jam lamanya. Namun ini malah sebaliknya, bahkan belum sampai 30 menit semenjak mereka masuki kamar.
"Kau keberatan aku menyuruhmu memasak?" Zeha meletakkan dagu di pundak kecil Aeri.
"T-tidak Tuan, mana mungkin ...."
"Terus ... kau cemburu?" Bisik Zeha dengan suara napas membuat Aeri merinding.
"Untuk apa aku cemburu, anda bukan siapa-siapa ku sehingg harus cemburu," tutur Aeri bergerak gelisah saat Zeha mengendus-ngendus bagian ceruk leher yang tertutup rambut.
"Hmm ... benarkah?" Akhirnya bibir Zeha mendarat di leher putih mulus milik Aeri, bergerak perlahan ke arah belakang sembari tangan menyibak rambut yang menutupi secara perlahan.
Sebenarnya, jauh dalam lubuk hati, Zeha merasa sakit saat Aeri mengatakan hal itu. Ya, memang mereka tidak memiliki hubungan apapun, namun Zeha tidak suka mendengar kata 'bukan siapa-siapa'.
Sehingga tak ayal kecupan Zeha berhasil membuat Aeri menghasilkan satu lenguhan lembut. Aeri tidak dapat menahan rasa geli yang mengalir kesekujur tubuhnya.
"Eukk ... aku tidak b-berani Tuan ...." Aeri memegang kuat pada pinggiran meja saat merasa bibir Zeha menyesap kuat di kulit leher bagian belakangnya. Aeri yakin atasannya itu akan meninggalkan jejak lagi.
Kepala Aeri secara perlahan mendongak disaat bibir kenyal nan hangat Zeha kembali bergerak menyusuri hingga bagian depan. Lalu, tangan lelaki itu menarik wajah Aeri sedikit ke samping hingga bersandar pada pundaknya, barulah setelahnya Zeha leluasa untuk menikmati leher putih Aeri dengan bibirnya yang terbuka.
"T-tuanhhh~~"
"Sangat bagus, kau mengetahui posisimu, sayang," sela Zeha di tengah aktivitasnya. Melihat wajah merona Aeri membuat Zeha tersenyum puas. Ia suka melihat wajah Aeri disaat seperti ini.
"Tapi ... mulutmu begitu begitu kurang ajar, Aeri." Zeha menggerakkan bibir, naik secara perlahan menuju rahang dan seterusnya singgah di atas bibir Aeri yang terbuka. Mengecup serta mel*mat dalam bibir ranum favourite'nya, sebelum tangan meraih tangan Aeri yang teriris pecahan kaca, Zeha angkat dan ia tatap intens tangan kecil yang terluka itu.
"Karena tangan ini aku tidak dapat bersenang-senang. Kau mengacaukan segalanya," Zeha berujar dalam, lalu ia kecup jari yang belum di balut oleh plaster luka itu. "Kau ceroboh. Tidak bisakah kau lebih berhati-hati?"
Aeri merona melihat Zeha membalut jarinya dengan begitu lembut dan berhati-hati seolah itu barang yang begitu rapuh, apalagi saat bibir hangat yang menjalari lehernya tadi mengecup penuh kelembutan di atas jarinya.
Aeri tersentak saat Zeha tiba-tiba menoleh. Wajah telah merona semakin memerah dalam jarak yang begitu dekat. Senyum merekah di bibir Zeha kala melihat wajah merona dan canggung Aeri. "Kau bisu? Atau ingin aku cium dulu baru kau ingin menjawap?"
"Tidak!" Jawap Aeri serta-merta seraya menarik wajah sehingga mata Zeha bertemu dengan rahang gadis itu. Ia lagi-lagi tersenyum. "Aku ti-tidak sengaja Tuan. Kaca itu begitu tajam," Aeri menunduk.
Ia benar-benar semakin merasa tidak nyaman dipeluk terus dari belakang oleh Zeha, tubuh mereka rapat tanpa ada jarak karena Zeha begitu posesif memeluk tubuh kecilnya. Ditambah napas lelaki itu terus menggelitik lehernya yang terbuka.
"Lagian siapa yang menyuruhmu membersihkannya, hmm?" Zeha menarik wajah Aeri untuk ia kecup pipi yang terlihat menggemaskan itu. Membuat Aeri menggeliat geli dalam kebingungan.
Siapa yang menyuruhnya? Pertanyaan apa itu? Tadi Zeha juga ada di sana saat Se In memintah Aeri membersihkan pecahan tersebut, lalu sekarang lelaki itu malah bertanya kembali? Tulikah? Ini sungguh membuat Aeri bingung.
"Tadi kekasih anda yang meminta saya unt--"
Aeri tidak dapat melanjutkan perkataannya dikala Zeha tiba-tiba membalik tubuhnya dalam putaran yang cepat, kemudian meletakkan kedua tangan di bawah lengan Aeri, lalu ia angkat dan didudukkan pada meja dapur. Kedua lengan kekar milik Zeha lantas mengunci tubuh kecil Aeri diantaranya. Tatapan matanya tiba-tiba berubah tajam membungkam Aeri.
"Siapa kekasihku? Se In?" Zeha tertawa miring yang terlihat mengerikan kala melihat Aeri mengangguk kecil. "Kapan aku mengatakan dia kekasihku Aeri?"
"B-bukan, ya? Tapi anda dan dia ...." Aeri sengaja menggantung kalimatnya, ia mengigit bibir.
"Bukannya kau tau bahwa aku brengsek?" Zeha mendekat, masuk diantara kaki Aeri yang ia lebarkan. "Dia hanya salah satu korban kebresekanku yang bekerja memuaskan nafsuku." Sekilas Zeha tersenyum sinis seketika setelah berbisik di telinga Aeri membuat gadis itu meremang dengan tubuh membeku.
Aeri tahu atasannya itu memang brengsek, tapi mendengar lelaki itu mengakuinya sendiri membuat Aeri menjadi takut berada di dekat Zeha.
"Jadi, dia bukan kekasihku atau sesuatu yang sama seperti itu! Apa kau faham?!"
"I-iya Tuan ...."
"Hanya kau kekasihku," bisik Zeha tepat di depan bibir yang sedikit terbuka itu. Ya, ampun rasanya jantung Aeri sudah ingin copot mendengar setiap ucapan yang dikeluarkan oleh Zeha. Tidak terkecuali apapun itu perkataannya, semua membuat jantungnya berdebar tidak tenang.
Aeri menolak tubuh besar itu apabila Zeha kembali bergerak menyusuri rahangnya secara perlahan. Semakin turun hingga ke tulang selangka yang membuat Aeri kontan mendongak. "Tuan t-tolong berhenti," rayu Aeri terus menjauhkan wajah Zeha dari lehernya. Rasa geli yang menggelitik perutnya kembali ia rasakan.
"Lain kali siapapun yang memerintahkanmu jangan pernah turuti, kau mengerti? Hanya arahanku yang bisa kau dengarkan."
Cklek!
Pintu kamar Zeha terdengar terbuka dipendengaran Aeri dan Zeha. Namun, Zeha tidak peduli, ia tetap melakukan aktivitasnya di kulit selangka Aeri. Sedangkan Aeri dibuat kelabakan. Disaat ia sedang berusahan melepas diri dari kuncian tubuh Zeha, tangan besar yang berada di belakang malah menarik resleting dress selutut yang ia kenakan.
"He--hentikanhhk ... nanti nona itu melihat apa yang kita lakukan ...."
"Inihhh tidak pa--pantas uhh!" Aeri melenguh kecil kala bibir tipis Zeha menyesap selangka bawah bagian kananya.
"Zeha aku pergi sekarang?" Se In berteriak membuat Aeri terjingkat kaget. Suara itu terkesan ingin di cegah kepergiannya. Sebenarnya Se In masih kesal karena Zeha meninggalkannya tanpa melakukan apa-apa. Tidak biasanya Zeha seperti itu, aneh.
"Apa yang tidak pantas? Melakukan ini?" Zeha menyambar kuat leher sampirng Aeri, meninggalkan bekas di sana yang lagi-lagi membuat sang empu melenguh tertahan.
"Zeha?"
"T--tu-tuan shh berhent--emp!" Kali ini Zeha mengulum bibir Aeri liar, namun berhasil diakhiri oleh Aeri. "Nona itu memanggil anda," ujarnya menahan wajah Zeha.
"Pergi saja!" Suruh Zeha bernada dingin, keberadaan Se In mengganggu kesenangannya saja. Bibir Se In mengerucut kesal mendengar nada bicara itu.
Saat pintu apartemen telah berbunyi yang menandakan Se In telah pergi, kala itu juga bagian atasan dress Aeri telah melorot, menampakkan bra berwarna cream yang hampir menyatu dengan warna kulitnya.
Kedua tangan Aeri disetiap sisi Zeha ditekan menggunakan tangan lelaki itu agar tidak terus memberontak menolak wajah dan tubuhnya, ya walaupun itu tidak mengganggu sebenarnya.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung Aeri semakin berdegup tidak karuan saat bibir Zeha mulai bergerak dalam garis lurus menuruni selangkah menuju bawah.
"J-jangan Tua---uhh!"
Terlambat bibir telah mendarat di tengah dada Aeri, diantara kedua gunung kembar miliknya. Sangat terasa kala bibir itu menyesap kuat setelah lidah membasahi kulit dan menyisakan jejak kemerahan. Lalu, Zeha kembali bergerak, mengecup pinggir dada Aeri yang menyembul dari tempatnya.
"Apa Tuan menganggapku pelac**?"
Deg!
Zeha terhenti dengan bibir terangkat. Secara perlahan Zeha membawa wajah menemui wajah Aeri. Betapa kagetnya saat ia melihat air bening itu menggenang di mata indah Aeri yang menatapnya senduh.
"Apa maksudmu?"
"Tuan memperlakukan ku seperti seorang pelac** yang bisa seenaknya disentuh dan dipermainkan," lirih Aeri. Lihuid bening itu mengalir tanpa bisa dibendung lagi.
"Tidak aku--"
"Aku rasa begitu hina dan menjijikkan disaat Tuan menyentuhku seperti ini."Aeri menyela Zeha tanpa sadar. Dengan derai air mata yang mengalir, Aeri membenarkan pakaiannya yang berantakan.
Tiba-tiba emosi Zeha terpicu mendengar perkataan Aeri. "kenapa? Karena aku brengsek?! Karena aku suka bermain wanita?" Zeha tertawa lantang. Ia meraih rahang Aeri dengan kasar. "Bukannya itu memang pekerjaanmu di Black Club? Melayani lelaki yang menjadi pelangganmu?!"
Aeri membeku dengan air mata yang mengalir. Entah dari mana Zeha mengetahui rahsianya itu.
Zeha menarik sudut bibir membentuk smirk. "Dihadapanku kau tidak perlu sok suci padahal kau kotor!" Desis Zeha seperti ular, semakin membuat air mata Aeri mengalir. Kata-kata Zeha benar-benar mengiris hatinya.
"Tu-tua-tuan tidak tahu apa-apa tentangku," ujar Aeri terseduk-sedu.
"Ya, aku memang tidak tahu apa-apa tentangmu! Yang aku tahu kau hanya gadis bodoh yang berpura-pura suci padahal lebih hina dari seorang jala**!"
Zeha menekan rahang itu semakin kuat membuat Aeri meringis, ia mendekatkan wajah bengisnya. "Aku memerintahkan kau untuk berhenti dari pekerjaan kotormu itu! Kau faham?!" Tanpa perasaan Zeha menghempas wajah itu, lalu berlalu meninggalkan Aeri begitu saja.
Brak!
Zeha memasuki kamar dengan emosi yang meluap. Pintu kamar hampir roboh saking kuatnya ia hempas. Tangis Aeri yang begitu lirih mengusik telinga walau ia tahu gadis itu sedang mencuba menahannya. Lalu, apa pedulinya?
Tubuh Aeri merosot, menarik tubuh untuk ia ringkuk, lantas memeluk lutut erat. Wajah yang terluka karena ucapan Zeha disembunyikan diantara kedua lututnya. Aeri tidak mengerti, mengapa ia harus sesakit itu mendengar peruturan atasannya? Padahal saat orang-orang menghina atau merendahkannya rasa sakitnya tidak separah ini.
Segumpal daging seolah menyumbat saluran darah yang mengalir ke jantung sehingga Aeri merasa begitu sesak, ia terisak dan tersedu dalam diam.
"Ya tuhan ... tidak mungkin aku mencintai lelaki itu," lirih Aeri ditengah tangisnya.
Tidak berselang lama Zeha kembali keluar dan meninggalkan apartemen tanpa berkata apapun. Segukan Aeri semakin kuat, aliran air mata melaju diantara kedua lututnya. Seharus Aeri yang merasa marah atas kelakuan Zeha terhadapnya, tetapi ini malah sebaliknya.
"A-a--ayah ...."