The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 56



Gary mengernyit. Dengan cepat tangannya memutar knock pintu saat menyadari sesuatu yang salah.


"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Gary menerobos masuk.Β 


Lelaki dengan noda darah pada pakain perawat, tepat pada bagian bahu kiri lelaki itu membuat Gary lansung bertindak. Membuat lelaki asing tersebut tersentak kaget, lantas kelabakan ingin melarikan diri.


Tapi tidak semudah itu untuk lepas dari seorang Gary. Kaki panjang Gary kontan menghadang, dan membuat lelaki itu jatuh tengkurap, namun lelaki itu tidak ingin menyerah. Ia melawan Gary yang baru saja ingin naik ke atas punggungnya. Menendang Gary sehingga terhempas pada nakas dan membuat vas bunga jatuh dan pecah.


Gary menggeram, ia mengetatkan rahang menahan kesal. Melihat lelaki itu ingin mengambil kesempatan untuk melarikan diri, sepantas kilat Gary mengayunkan kaki, menendang lipatan lutut lelaki tersebut hingga jatuh kembali dengan raungan kesakitan yang terdengar.


Yuri yang ternyata berada di dalam toilet segera keluar setelah mendengar suara bising yang membuat jantung berdegup kencang. Ia menutup mulut shock kala melihat seorang lelaki mengarahkan senjata tajam walau telah tertatih dan tampak kesakitan.


"Panggil dokter!" titah Gary, sebelum berlari demi mengejar lelaki tadi yang telah mengarahkan pisau kearahnya.


Atensi Yuri refleks terarah kearah Aeri. Jarum infus sudah tidak lagi berada di dalam kulit lengan Aeri, membuat Yuri segera mengambil langkah lebar, mendekati Aeri yang terlihat mulai tidak stabil.


Tangan Yuri segera menekan tombol yang berada tepat di samping kanan di atas kepala Aeri. Tidak lama setelah itu, dokter datang bersama dua perawat lainnya dengan langkah tergesa-gesa.


"Apa yang terjadi?" tanya sang dokter setelah melihat keadaan Aeri.


Yuri hanya menggeleng kepala sebagai jawapan. Maniknya berair karena ketakutan, antara karena melihat kejadian tadi atau karena takut jika sesuatu terjadi pada Aeri.


"Keadaan pasien kembali tidak stabil," ujar sang dokter mulai melakukan tugasnya.


Sedangkan Yuri ketakutan. Jika saja ia tahu akan terjadi seperti ini, maka ia tidak akan meninggalkan Aeri sekalipun itu jika hanya pergi ke toilet. Sekarang Yuri merasa bersalah. Jika saja lelaki tadi tidak datang tepat waktu, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu.


Pada masa yang sama diluar ruang Aeri, Gary langsung menarik kerah baju lelaki asing itu begitu jarak memungkinkan. Pisau yang berada di tangan lelaki itu Gary jatuhkan dengan mudah dengan gerakan mematikan. Mengunci tubuh lelaki tersebut dengan tubuhnya. Lantas segera menelpon sang tuan, Zeha.


Gary memiliki firasat yang mengatakan bahwa lelaki dalam kunciannya itu adalah orangnya John yang berhasil lolos. Melihat darah pada bahu bagian kanan atas, Gary yakin itu karena terkena serpihan dari letupan yang ia lakukan pada mansion tersebut.


Yang Gary sesalkan adalah kelalaian nya. Bisa-bisa nanti ia akan dimarahi oleh Zeha.


"Hmm?" deheman Zeha menyahut panggilan Gary.


"Sesuatu telah terjadi Tuan," ujar Gary. Walau begitu, Gary langsung tidak terlihat takut.


Zeha yang sangat itu duduk bersama Sehun yang baru saja selesai diobati sontak berdiri. "Apa maksudmu?!" Mendengar saja suara penuh penekanan sang Tuan mampu membuat Gary menelan susuh salivanya.


"Seseorang hampir saja membunuh nona Aeri," sahut Gary tanpa getar seperti orang pada umumnya.


Manik Zeha berkilat tajam bersamaan rahang yang mengeras. "Apa yang kau lakukan Gary?! Aku memintamu menjaganya karena takut dengan kemungkinan seperti ini! Tapi kau malah kecolongan, bodoh! Ck! Bagaimana keadaannya?"


"Nona Aeri sedang ditangani oleh dokter."


Zeha menyugar surainya ke belakang dengan resah. Kini perasaannya bercampur aduk. Rasanya semua telah bersatu dan tidak dapat mengerti dengan apa yang dirasakan kini lagi. Semua bermula sejak istri kedua ayahnya mengatakan bahwa Aeri adalah anak yang ia buang dulu. Zeha tidak mengerti, mengapa Aeri harus anak dari wanita itu?


"Sudah aku katakan untuk melakukan tugasmu dengan benar!"


Tidak mendengar suara atasan dari seberang membuat Gary bersuara dalam nada bertanya. "Apa yang harus saya lakukan dengan orang ini Tuan?"


"Bawa dia kesini!"


"Tapi, bagaimana dengan nona--"


"Sehun dalam perjalanan. Tapi, sebelum itu, pastikan dulu dia baik-baik saja saja. Kau mengerti?!"


"Baik Tuan."


Panggilan itupun diakhiri oleh Zeha. Lantas lelaki tampan dengan aura bengis itu menonjok kaca yang menjadi dinding ruangannya hingga pecah, menyalurkan rasa yang membuat dada serasa ingin meletup. Sedangkan Gary, setelah mengikat dan meletakkan lelaki tadi dalam jok mobil, ia pergi melihat keadaan Aeri. Semenit yang lalu dokter baru saja selesai menangani Aeri.


"Bagaimana keadaan nona Aeri?"


Yuri yang detik itu atensi nya begitu terpokus pada Aeri tersentak kaget dikala mendengar Gary bersuara. Bagaimana tidak, satu suara pergerakan pun tidak ada yang terdengar olehnya. Dengan pantas tangan Yuri mengusap air mata yang sempat mengalir tadi.


"Semuanya telah kembali normal. Itulah yang dokter katakan tadi."


Gary beralih melihat ke arah Aeri yang terbaring lemah setelah mendengar penjelasan Yuri. "Syukurlah jika seperti itu."


Jika saja terjadi sesuatu, Gary tidak tahu apa yang akan Zeha lakukan padanya mengingat hal tersebut adalah kesalahannya.


"Aku akan pergi sebentar karena ada urusan." Yuri kontan menoleh ke arah Gary. "Tapi jangan cemas, Tuan Sehun dalam perjalanan ke sini untuk menggantikanku," tambah Gary tanpa perasan perubahan raut wajah Yuri setelah ia menyebut nama dari teman bosnya itu.


"Baiklah," sahut Yuri berat. Wajahnya tiba-tiba berubah dingin. "Hati-hati Tn. Gary....," ucap Yuri seolah bergumam tepat disaat Gary membuka pintu.


Sudut bibir Gary tertarik kaku. Tapi, hanya sedikit ya. Jika ada yang melihatpun, mungkin mereka tidak akan menyadarinya. Gary tidak yakin dengan apa yang ia dengar tersebut. Entah salah atau bagaimana ia pun tidak tahu. Tidak ingin semakin tenggelam dalam perasaan itu, Gary segera berlalu, meninggalkan Yuri berdua dengan Aeri yang masih tak sadarkan diri.


"Brengsek kau Sehun! Aku menelponmu banyak kali dan satu pun tidak ada yang kau jawap! Tunggu saja, aku akan membuat perhitungan denganmu sialan!"


Melihat saja wajah damai penuh beban Aeri membuat amarah dan kekesalan Yuri hilang seketika. Ia tersenyum seraya mengusap lembut pergelangan dari temannya itu.


"Cepat sembuh, ya. Soal ayahmu jangan khawatir, aku akan menjaganya seperti aku menjaga ayahku sendiri. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah istirahat yang banyak dan cepat sembuh, okay?" Yuri merebahkan kepalanya pada sisi brankar Aeri sembari menatap wajah pucat itu. "Aku tidak ingin kehilanganmu Aeri."


Yuri mengatub mata yang telah terasa lelah sedari tadi. Ia akan menemani Aeri tidur. Mungkin saja mereka akan bertemu di alam mimpi. Mungkin saja Aeri tersesat di alam sana. Mana tahu dengan kehadirannya di alam mimpi dapat membantu sahabatnya itu keluar dan sadarkan diri.


Seperti yang Sehun tebak, bahwa Yuri pasti berada di sini menemani sang sahabat. Sehun bahkan mempersiapkan telinga juga tubuhnya apabila nanti terkena serangan dari Yuri. Soal luka yang ia miliki? Jangan cemas itu cuma luka kecil, ia tidak apa-apa.


Sembari tersenyum, tangan kasarnya mengusap pelan penuh cinta kepala Yuri yang rebah diatas kasur Aeri. Mengenai panggilan Yuri yang tidak satupun dijawab Sehun, itu karena Sehun ingin mengerjai wanita tersebut, walaupun ia yakin itu akan mengundang amarah Yuri, namun bagi Sehun, amarah seorang Yuri malah imut dan membuatnya semakin terjerat.


Kontan usapan itu terhenti disaat terlihat pergerakan dari Yuri. Secara perlahan wanita mulai sadar. Yuri mengangkat kepala sambil mengusap kedua matanya yang terasa buram. Usapan Sehun membangunkannya.


"Siapa?" tanya Yuri dengan suara parau.


Sehun menarik tangan dengan tersenyum kaku. "Kau bangun?"


Mendengar suara tersebut membuat Yuri mengernyit. Ia sangat kenal dengan suara itu. Refleks mendongak dengan tatapan tajam menghunus.


"Oh Sehun?!" penuh penekanan juga ancaman.


Sehun cengengesan. "Aku menepati janjiku sayang."


Yuri sontak berdiri. Bangku tempat duduknya terdorong jauh. Mengusap leher sembari berdecak kesal. Ia menatap tajam Sehun atas dan bawah. Kilatan tajam Yuri terhenti pada perban luka berwarna putih yang menutupi luka di kening Sehun.


𝘚𝘺𝘢𝘬𝘢𝘳𝘭𝘒𝘩.


Dalam sekejap Yuri kembali membuat lelaki di hadapannya itu bergerak mundur. Yuri membuatnya seperti mangsa yang siap diterkam oleh seekor harimau betina.


"Apa kau akan terus melihatku seperti itu?" tanya Sehun was-was. Sehun bahkan tidak berani beradu pandang begitu lama dengan Yuri. "Kau seperti ingin membunuhku--"


"Aku memang ingin membunuhmu!" Sehun refleks meneguk susah salivanya.


Buk!


"Auhhk!" Satu pukulan kuat didapat Sehun tepat pada dadanya.


"Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?!"


"Aku--akhh!"


"Kau tahu berapa banyak aku menelponmu?!"


"I-iya... Tahu--ahhhh! Sakit, Yuri."


Disaat Yuri terus memukul Sehun, sebisa mungkin juga lelaki itu menahan pukulan tersebut, tapi disaat satu tangan Yuri dicekal oleh Sehun, maka satu lainnya pula yang memukul tubuh keras Sehun.


"Tahu sakit! Tapi kau.... "


"Auuhh--ahkk!"


"Diam! Aeri sedang istirahat!"


"Jadi kau lebih peduli pada---akkk!"


"Iya!"


"Akkgggg! Sampai kapan kau ingin memukulku, sayang hmm?"


"Sampai kau mati!"


"Jahat banget--ahk!"


"Kau bahkan lebih jahat Sehun! Apa kau tahu betapa khawatirnya aku?! Ha?"


"Iya aku tahu," jawap sehun, menahan sebelah tangan Yuri. "Dan aku sengaja melakukannya." tanpa beban Sehun menjawap, bahkan bibirnya mengukir senyum tanpa dosa, membuat Yuri semakin kesal.


"Kau senyum sialan?!"


Buk! Buk!


"Argkkkk!"


"Mati saja kau brengsek--eup!"


Kerana merasa gemas, dan mulai merasa jengkel dengan sikap Yuri, apalagi setelah mendengar perkataan dari wanita di hadapannya itu membuat Sehun langsung membungkam mulut sexy yang sering kali menggodanya itu.


"Aku minta maaf, " tutur Sehun setelah melepas tautan tanpa pergerakan itu. "Jangan marah lagi, ya?"


"Aku membencimu!" sinis Yuri kembali memukul Sehun, tetapi berhasil dicekal oleh lelaki itu.


"Kalau dengan membenciku membuatmu senang, maka bencilah aku sesukamu."


Yuri terdiam dengan manik menatap lekat wajah tampan Sehun yang terlihat penuh cinta. Bibir itu lagi-lagi terus tersenyum. Yuri berdecak kecal dengan mengalihkan tatapannya. Sesaat kemudian, ia langsung berhambur kepelukan Sehun, bahkan sampai membuat Sehun termundur.


"Aku sangat takut. Aku takut sesuatu terjadi padamu," lirih Yuri mulai terisak dalam pelukan Sehun yang menyambutnya.


"Maaf hmm...."