The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 71



(π™΅π™»π™°πš‚π™·π™±π™°π™²π™Ί)


Waktu itu baru menunjukkan awal pukul 11 siang, belum waktunya bagi ayah Aeri untuk pulang dari kantor. Hal tersebut membuat Aeri mengernyit bingung. Entah siapa yang saat ini membunyikan bel rumah mereka.


Aeri turun ke bawah demi membuka pintu. Hari itu kebetulan juga pelayan mereka cuti.


"Eh! Yohun?!" sungguh suatu yang tak terduga. "Apa yang kau lakukan di sini di waktu ini? Bukankah kau seharusnya berada di kantor, kan?"


"Aeri...," lirih Yohun kontan meraih tangan Aeri. Ia melangkah masuk, mendorong Aeri.


Aeri mengernyit dengan menjauhkan wajahnya. "Kau mabuk?" bau alkohol begitu menyengat menguar dari dalam mulut lelaki itu.


"Siang-siang begini kau malah mabuk. Sebenarnya kau ada masalah ap--emp!"


Mata Aeri kontan membulat sempurna saat Yohun menyumpal mulutnya dengan mulut lelaki itu. Tanpa melepas tautan Yohun menutup pintu dengan menggunakan kakinya.


"Y-Yohun... Ap--apa yang kau l-la--lakuk---eup!"


Aeri mencuba menarik wajahnya, tetapi setangkas kilat Yohun kembali menarik tengkuknya dan menahan pinggang kecilnya dari memberontak.


Dalam sekali angkat tubuh Aeri sudah berada di bahu lebar Yohun. Dengan langkah kaki yang terkesan tergesa-gesa, Yohun menuju sofa yang berada diruang tengah. Melempar tubuh itu hingga terhempas, lantas ia merangkak naik.


"A-apa yang cuba kau lakukan?" Aeri bertanya dalam ketakutan.


Aeri mencuba untuk bergerak menjauh, namun kakinya malah di tahan oleh Yohun. Kedua manik lembut itu bahkan mulai berembun diikuti oleh tubuh yang bergetar. Sedang kedua tangan Aeri terus memberontak, menolak, dan memukul tubuh kekar Yohun yang berada di atasnya saat mulai mendekat ke arah lehernya yang saat itu memang mengenakan dress dengan tali sebagai penyangga.


Tetapi, apalah daya Aeri melawan tenaga seorang lelaki yang jauh besar darinya. Lihuid bening mengalir begitu saja saat merasa bibir Yohun menikmati lehernya dengan liar. Walau Aeri mencuba untuk mengelak, ia tetap saja tidak berhasil.


"Yohuunnnn!"


Aeri berteriak, tidak berdaya. Berharap seseorang untuk mendengar suaranya. Yohun sudah mulai menarik turun kedua penyangga dress yang Aeri gunakan dengan tidak sabaran sehingga menampakkan kedua benda aset Aeri yang sentiasa tertutupi.


"Y-Yohun hiks lepas!" Aeri tau bahwa ia tidak dapat melawan tenaga lelaki di atasnya itu, namun ia tetap berusaha dengan menggerakkan kedua kakinya ke sana kemari


𝘈𝘦𝘳π˜ͺ, 𝘡𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘒𝘬𝘢...


Yohun sudah dikuasai oleh alkohol. Ia ingin melindungi Aeri dari kejahatan sang ayah, tapi Yohun tidak tahu harus melakukan apa. Sedang ayahnya memintanya untuk menjauhi gadis itu disaat ia telah jatuh cinta. Yohun marah, kecewa dan benci hingga membuatnya berpikiran untuk memiliki Aeri secara untuh walau Aeri pasti akan menolak.


Air mata semakin deras disaat melihat Yohun melepas sabuk celananya. Jantung berdetak diatas normal, membuat tubuh semakin bergetar takut.


Aeri menyalahkan keadaan yang saat itu tidak ada seseorang pun yang dapat menolongnya. Kenapa harus hari itu pelayanannya mengambil cuti? Mengapa waktu terasa begitu lambat? Sehingga orang tuanya tidak juga pulang untuk makan siang.


Mata Aeri membulat sempurna saat Yohun tiba-tiba menarik turun ****** ***** yang ia kenakan dengan cepat. Saat itu, waktu serasa berhenti. Mungkinkah Aeri harus merelakan kesuciannya pada Yohun, lelaki yang ia cintai? Tidak! Aeri belum tahu lagi perasaan lelaki itu padanya seperti apa. Apakah sama seperti yang ia rasakan atau sebaliknya?


"Tidakkk!"


Plak!


Entah bagaimana tamparan keras itu berhasil menyadarkan Yohun. Tinggal sejengkal lagi miliknya memasuki Aeri sesaat sebelum Aeri berteriak.


"Aku membencimu Yohun!"


Wajah cantik itu sembab dengan mata yang memerah. Cairan bening mengalir pekat keluar dari hidung. Tersedu-sedu bagai anak kecil yang di marahi oleh sang ibu. Kedua tangan yang tidak dapat menutupi seuluruh bagian tubuhnya yang terpampang menyilang disaat Yohun menoleh dengan wajah bengong juga merasa bersalah. Sedetik kemudian, Yohun langsung berlalu dengan sempoyongan meninggalkan Aeri yang terus menangis tiada henti.


π˜”π˜’π˜’π˜§π˜¬π˜’π˜― 𝘒𝘬𝘢, 𝘈𝘦𝘳π˜ͺ.


(π™΅π™»π™°πš‚π™·π™±π™°π™²π™Ί 𝙴𝙽𝙳)


Aeri tersentak kaget dengan mata sontak terangkat, menatap manik tajam yang biasa terkesan dingin namun, kali ini yang Aeri lihat adalah kelembutan, penuh cinta saat Zeha tiba-tiba menyeka air matanya yang tanpa sadar mengalir dikala menceritakan kejadian kelam itu.


"Tn. Kwon tahu?" tanya Zeha kemudian.


Hanya anggukan yang Aeri berikan sebagai jawapan.


"Sehari kemudian, ayah terkena serangan jantung tepat saat perusahaan yang ayah bangun dengan air keringat dirampas oleh ayahnya Yohun yang notabenya adalah sabahat ayah dengan cara yang tidak aku mengerti," terang Aeri lagi, memeluk lulut. ***** wajahnya tersirat seribu kesedihan.


Tanpa sadar tangan Zeha mengepal erat. Sungguh ia tidak mengira bahwa hal seperti itu yang membuat Aeri begitu takut saat melihat Yohun waktu itu. Pasti kejadian itu otomatis berputar bagai kaset rusak di dalam pikiran Aeri.


"Terus kenapa kau tidak membenci nya lagi? Kau seharusnya langsung membunuhnya saat kau melihat dia hari itu!" kesal Zeha, tersulut emosi.


"Aku tidak bisa. Aku ingin terus membencinya, tapi--"


"Tapi, kau masih mencintai nya?" sambung Zeha, menyela. Matanya memicing tajam.


"Bukan," sangkal Aeri cepat kelabakan. Sungguh sulit berbicara pada lelaki itu. "Aku hanya tidak bisa. Mengingat sudah begitu banyak pertolongan yang dia berikan padaku."


"Bukankah itu artinya kau terus memikirkannya? Yang maknanya kau masih mencinmp--"


"Berapa kali aku harus katakan pada Tuan bahwa aku tidak lagi mencintainya. Aku hanya menganggap dia sebagai teman yang begitu aku kenal," terang Aeri lembut.


Zeha melepaskan tangan Aeri dari mulut nya dengan menarik tangan itu, lantas berujar. "Bagus kalau begitu, tapi..." Zeha sengaja menggantung ucapannya. Ia mendekatkan wajahnya hingga tersisa satu inci jarak antara wajah mereka. Menahan wajah itu saat ingin bergerak menjauh.


"Tapi aku tidak ingin melihatmu bertemu dengannya lagi atau apapun itu. Kau mengerti Kwon Aeri?!" tekan Zeha.


Aeri tidak memberi respon apapun, hanya menunduk. Ia takut memberi jawapan, karena apa yang akan terjadi di masa depan sama sekali tidak dapat ia tebak seperti apa nantinya.


"Dan satu lagi... Untuk apa Yohun mengucap terima kasih padamu? Apa alasan itu yang membuatnya menunggu di depan club?"


Refleks Aeri menggigit bibir bawah. Sungguh ia tidak bisa bermain-main dengan Zeha, bahaya. Aeri tidak menyangkah bahwa lelaki itu akan mengingat semua ucapannya yang tidak jelas alasannya. Seperti sekarang ini.


Dengan takut-takut Aeri melirik ke arah Zeha yang menanti jawapan darinya. "Hmm ... Kenapa?"


"Maaf Tuan, aku tidak bisa pergi denganmu besok malam. Aku sudah ada janji," ujar Aeri dengan suara meredam.


Dalam sekejap ekspresi Zeha beruba gelap. "Dengannya? Aku sudah bilang bahwa ak--"


"Aku mohon Tuan. Aku janji ini yang terakhir...."


"Tapi, aku lebih dulu mengatakan padamu!"


"Aku merayu...." Aeri memelas. Maniknya mengerjap-ngerjap imut di mata Zeha. Zeha menggeram tertahan.


"Berhenti! Sebelum aku kehilangan kendali!"


"Hm?" Aeri mengernyit bingung. Memangnya apa yang telah ia lakukan? Sifat Zeha memang sulit untuk ia tebak.


"Baiklah. Tapi aku ada persyaratan."


"Apa itu?" mau tidak mau, Aeri termaksa memerima persyaratan yang belum ia ketahui lagi. Ia menelan susah salivanya.


"Besok, Gary akan mengantar dress ke sini, jadi aku mau kau memakai dress itu saat pergi bersama Yohun. Kau tidak dibenarkan memakai yang lainnya, maupun itu darinya. Kau mengerti?"


π˜›π˜¦π˜³π˜―π˜Ίπ˜’π˜΅π˜’ 𝘩𝘒𝘯𝘺𝘒 π˜ͺ𝘡𝘢. "Baiklah, tidak masalah.... Terima kasih."


Hampir saja Aeri memeluk Zeha jika ia tidak dengan cepat tersadar, namun siapa yang menduga, disaat Aeri tidak jadi memeluknya, justru Zeha yang langsung menarik tubuh kecil itu dalam pelukannya.


"Tidak perlu. Aku ingin yang lain." Zeha tersenyum evil dibaliknya.


Membuat Aeri merasa was-was dalam pelukannya. Ingin segera meleraikan pelukan tapi, terlambat sudah. Bibir tipis lelaki itu telah mendarat untuk yang kedua kalinya dilehernya. Kali ini posisinya berada tepat di tengah tengkuk, yang memeliki tonjolan tidak timbul. Kepala Aeri kontan mendongak.


"Ahk!"


Lidah basah Zeha sedikit menekan tonjolan tersebut, yang pas berada dalam mulutnya. Menyesap dengan kuat hingga membuat Aeri sedikit mengeluarkan suara. Itu adalah tanda kedua yang Zeha berikan. Kali ini warnanya lebih pekat dari yang pertama.


Begitu saja Zeha melepas bibirnya dari leher Aeri, sontak sang empuk mendorong tubuh Zeha menjauh.


"Apa yang Tuan lakukan?! Bagaimana aku harus keluar besok? Sedang Tuan sudah melakukan dua di leherku." Aeri memberenggut kesal, seraya mencuba menutupi kiss mark itu.


"Eit! Jangan ditutup, aku suka melihatnya."


"Tapi orang-orang akan berpikiran buruk padaku nantinya. Apa yang akan Yohun katakan jika dia melihatnya--akh!" Pegangan dilengan itu tiba-tiba mengerat. Zeha tidak suka mendengar kalimat terakhir itu.


"Kau peduli tentang pendapatnya?! Kalau begitu aku akan buat lebih banyak, biar semua lelaki tidak berani mendekatimu!"


Drrt ... drrt ... drrt


Aeri bernapas lega saat telepon Zeha berdering tepat dikala bibir itu tinggal sedikit lagi menemui permukaan kulit di bagian lehernya.


"Ckk!" Zeha mengangkat dengan kekesalan yang memenuhi hati. "Hallo?!"


Aeri yakin, bahwa yang menelpon itu adalah Sehun, tapi apa yang menjadi pembicaraan mereka Aeri tidak tahu, namun sepertinya itu sesuatu yang serius, terlihat dari perubahan wajah Zeha yang mengeras.


"Baiklah, temui aku besok di mansion."


Setelah itu, Zeha pun memutuskan sambungan telepon tersebut. Lantas beralih pada Aeri.


"Kau selamat. Sekarang aku harus pergi, dan ingat apa yang aku katakan tadi."


Satu kecupan lembut mendarat begitu saja, tanpa beban dikening Aeri, membuatnya bergeming dalam posisi. Menatap punggung Zeha yang kian menjauh dan akhirnya menghilang di balik pintu.


Segaris senyum terbit di bibir. Tidak disangka, ternyata Zeha bisa begitu lembut setelah begitu jahat padanya.


"Tapi... ada yang aneh. Mengapa aku merasa bahwa lelaki yang aku layani tadi malam adalah dia?"