
Baru saja beberapa menit yang lalu pihak rumah sakit menelpon Aeri. Menyampaikan khabar mengenai sang ayah yang semakin hari semakin parah dan harus segera dioperasi seperti yang gadis itu ketahui.
Namun, permasalahannya di sini adalah uang operasi, yang baru beberapa saja terkumpul. Itupun hasil dari kerja di club, tempat kerja paruh waktunya. Sedangkan gajin kerja sebagai cleaning servise di perusahaan J'Foodies telah hangus semua, menutupi biaya rumah sakit selama ayahnya dirawat di sana.
Yang semakin membuat Aeri resah adalah, pihak rumah sakit memberitahu bahwa paling lambat tiga hari ayahnya harus dioperasi. Bukankah itu berarti, uang tersebut harus ada dalam masa itu juga?
Aeri menyugar rambut ke kebelakang dengan gelisah. Menggigit-gigit bibir bawah sebagai pelampiasan. Detak jantung berdetak tidak tenang. Apalagi kini Aeri telah terlambat beberapa menit. Padahal Aeri begitu berharap pada bayaran yang ia peroleh dari melayani seseorang di club tersebut.
Tetapi, Aeri malah terlambat. Ia mendesah resah. Melirik pada lampu pejalan kaki yang belum menyalah.
"Ehh.. jaebal," lirih Aeri lantas menoleh ke arah datangnya mobil.
Deg!
Namun, netra bening Aeri malah disuguhkan oleh pemandangan yang menjijikkan. Di dalam mobil mewa, yang Aeri yakini itu adalah sebuah Ferrari LaFerrari, mobil yang menjadi favoritenya.
Sepasang manusia berbeda genre tampak berbuat mesum. Alis Aeri mengernyit jijik akan tindakan tidak bermoral mereka. Bukankah kelakukan mereka itu akan membahayakan pengemudi lain dengan seperti itu? Sebagai seorang perempuan, Aeri merasa malu melihat tindakan sang wanita yang duduk di atas pangkuan lelaki yang membawa mobil tersebut. Bahkan baju bagian atas wanita itu telah melorot, menampakkan punggung mulusnya.
Aeri tidak yakin apa yang lelaki itu lakukan pada bagian depan tubuh tersebut saat kepala wanita itu tiba-tiba mendongak. Ah! Aeri tidak ingin membayangkan. Melihat wanita itu mengangkat-ngangkat bokongnya sudah membuat Aeri membayangkan sesuatu yang tidak ingin ia bayangkan.
Mahu tidak mahu, jauh dalam lubuk hati Aeri, ia mengkritik kelakuan tidak senonoh itu. Tidak bisakah mereka menunggu hingga sampai ke rumah?
Kembali Aeri terpaku. Bergeming di tempat dengan mulut dan mata yang melebar. Tanpa diduga pandangan Aeri bertemu pandang dengan sang lelaki. Netra tajam, setajam mata elang itu seolah menarik roh Aeri keluar secara perlahan. Aura dingin menusuk ke dalam diri Aeri sehingga membuatnya bergetar tanpa bisa mengalihkan pandangan. Padahal jarak antara mereka cukup jauh.
Aeri menahan napas saat melihat sudut bibir lelaki itu tertarik naik sembari terus bergerak seperti sedang mengemut sesuatu. Netra Aeri melirik sang wanita di pangkuan. Aeri bergidik jijik seraya menarik paksa pandangan dari sana. Tubuh wanita itu menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Bu-bukankah i-itu tuan Z-Zeha?"
***
"Kwon Aeri!"
Aeri tersentak kaget. Menoleh pada Yuri yang meneriakkan namanya lantang. Aeri yang saat itu membuat secangkir kopi tampak tidak fokus dengan pikiran yang melayang entah ke mana. Pandangannya kosong menghadap ke pantri. Bahkan disaat Yuri bercelotehkan sesuatu, itu sama sekali tidak masuk ke dalam pendengaran Aeri.
"Kau kenapa? Apa yang kau pikirkan sampai tidak mendengarkan aku?"
"Eoh? Kau ada bicara padaku?" Aeri menatap seperti orang kebingungan pada Yuri. Tangan kecilnya bergerak kaku menggaruk alis yang tidak gatal.
"Ya ampun." Yuri menepuk jidat. "Aku bicara panjang lebar ternyata kau tidak mendengarkanku." kepala itu hanya mampu bergerak ke kanan dan ke kiri, tidak habis pikir.
"Memangnya kau mau gosipkan apa lagi kali ini?" Aeri kenal betul dengan temannya yang satu ini. Kalau seperti ini, sudah pasti ada sesuatu yang membuat Yuri tidak tahan ingin bercerita ataupun bisa disebut bergosip.
Entah dari mana lagi Yuri mendengar cerita ini. Walaupun Aeri belum mendengarnya, namun ia yakin, temannya ini akan bercerita buruk seseorang lagi. Walau tidak jarang apa yang Yuri gosipkan itu benar belaka.
"Tuan muda.. Tuan muda Zeha..." Aeri terpaku. Entah cuma perasaan Aeri atau bagaimana. Nada bicara Yuri seperti akan menceritakan sesuatu yang bersifat serius. Cara bicara Yuri berhasil memutarkan kembali kejadian kemarin malam di mana Aeri melihat Zeha bersama seorang wanita. Aeri menggeleng keras, membuang jauh kenangan itu. Ia tidak ingin mengingatnya.
Yuri mendekat pada telinga Aeri. "Ternyata tuan muda Zeha itu suka bermain wanita." sontak kepala Aeri menoleh pada Yuri. Raut kaget terpampang jelas di wajahnya. "Sudah banyak wanita yang telah tidur dengannya. Bahkan aku dengar, banyak wanita mengantarkan diri mereka untuk ditiduri tanpa diminta oleh tuan muda Zeha."
Aeri bergeming tanpa menyahut. Salivanya terasa begitu sulit untuk ia telan. Entah mengapa jantungnya berdetak tidak menentu setelah mendengar semua itu. Bagai sebuah kaset, sekali lagi kejadian menjijikan itu melintas dipemikiran.
"Tidak heran sih wanita wanita itu mengejar tuan muda Zeha. Wajah tampan yang tegas, tubuh kekar, kaya, memang lelaki idaman semua wanitalah," tambah Yuri tanpa melihat ke arah Aeri yang entah bagaimana sudah ekspresi wajahnya.
"Bahkan kemarin ada yang melihat tuan muda Zeha bersama seorang wanita di dalam mobil seperti sedang... Em.. Melakukan itu. Uhk! Ya ampun." Yuri geleng geleng kepala tidak habis pikir. Memang ya, kehidupan orang kaya itu beda, pikir Yuri.
Hampir saja Aeri tersedak air kopi yang ia minum disaat mendengar ucapan Yuri. Kemarin? Maniknya menerawang tidak tenang. Jadi saat itu bukan hanya dirinya yang menyaksikan? Bahkan mungkin saja orang tersebut yang lebih dulu melihat darinya.
Mengetahui ini bukankah seharusnya Aeri merasa senang? Namun, Aeri malah merasa sebaliknya. Ia juga tidak mengerti mengapa ia merasa semakin gelisah disaat mengetahui banyak yang menyaksikan kelakuan tidak terpuji itu.
Aeri sepatutnya tidak merasa terbebani seperti saat ini. Untuk apa mencemaskan tuan muda Zeha? Kenal pun, begitu saja. Lelaki itu sudah berani buat, harus berani menanggung konsekuenainya juga. Tidak ada urusannya dengan Aeri.
Namun, satu hal yang tidak dimengerti oleh Aeri. Mengapa pandangan mata Zeha saat bertemu pandang dengannya saat itu terlihat seolan akan menerkap Aeri?
Tunggu. Tidak mungkinkan hanya Aeri yang melihat kelakukan Zeha dan ketahuan juga saat itu juga?
"Senang memikirkanku?"
Deg!
Tubuh Aeri condong kebelakang dengan kedua tangan yang berpegangan pada sisi pantri. Lelaki yang memenuhi pikiran beberapa saat lalu muncul entah dari mana, berdiri dengan kedua tangan di dalam celana kain bahan miliknya. Ujung sepatu pantofel Zeha bahkan bersentuhan dengan ujung sendal yang Aeri kenakan saat itu.
Pandanga mereka bertemu membuat Aeri menelan susah salivanya. Melirik kesamping, mencari keberadaan Yuri. Namun, bayangan wanita itu pun tidak terlihat oleh Aeri.
"Kemana sih perginya Yuri?" bisik batin Aeri. Mata itu bergulir pelan pada Zeha yang terus menatap dirinya. "Sejak kapan lagi orang ini masuk?"
"Puas mengataiku?"
Manik Aeri membulat sempurna. Ya ampun, ini gila. Apa lelaki ini bisa membaca pikiran? Serasa batu yang ditelan, padahal itu air liurnya sendiri yang entah mengapa terasa keras.
"A-ada yang perlu saya bantu tuan muda?" Tanya Aeri dengan suara yang bergetar takut. Bagaimana tidak? Mereka dalam jarak yang begitu dekat, dalam ruangan yang tertutup lagi. Bagaimana jika ada yang melihat mereka dan salah faham? Bisa habis hidup seorang Aeri.
"Mulai saat ini, aku ingin kau jadi seketarisku."
"N-nae?!" Aeri tersedak kaget. Menatap tidak yakin pada Zeha yang tidak pernah mengalihkan pandangan.
Zeha mendekatkan tubuh atasn, condong ke arah Aeri. Membuat tubuh kecil Aeri semakin melengkung ke belakang.
"Aku bilang, saat ini, di dalam ruangan ini, KAU JADI SEKETARIS PRIBADIKU!" ujar Zeha penuh penekanan tepat di depan bibir Aeri yang mematung di tempat. Pandangan mata Aeri dikunci oleh Zeha.
"Ini terlalu dekat," batin Aeri berbisik. Entah mengapa manik gelap Zeha begitu memikat di mata Aeri hingga sulit baginya menarik netra, mengalihkan pandangan.
Bibir terbuka Aeri terus mendapat lirikan dari Zeha. Imut dan cukup sexy untuk seukuran gadis seperti Aeri, pikir Zeha. Kembali beralih pada manik tidak berkedip itu.
"Ma-maaf tuan muda. Saya tidak layak untuk menjadi seketaris. Kelulusan saya hanya cocok bekerja sebagai cleaning servise saja."
"Yang menentukan semua itu hanya aku!" tegas Zeha membuat Aeri bergeming. Kilatan amarah karena dibantah terlihat di manik gelap itu.
"Apa yang lelaki tua itu katakan padamu?"
Aeri mendelik kaget. Sebenarnya lelaki di hadapannya ini memang bisa membaca pikiran, ya? Bagaimana bisa Zeha mengetahui apa yang ia takutkan saat itu? Tiba-tiba saja Aeri merasa ngeri membayangkan Zeha. Aeri menggigit bibir bawahnya antara gugup dan resah.
Ya ampun, ada apa ini? Aeri tidak memiliki keberanian lagi saat merasa Zeha menarik dagunya untuk menghadap lelaki itu, Zeha melepaskan bibir bawah Aeri yang menjadi sasaran Aeri tadi.
"Kau ternyata tidak mengingatku." Zeha tersenyum miring. Tidak menduga akan ada wanita yang begitu mudah melupakan wajah tampan itu.
Mendengar penuturan itu membuat Aeri mengernyit bingung. Memangnya di mana mereka pernah bertemu dan kapan?
"Maaf tuan muda, saya tidak mengerti maksud anda."
Zeha hanya manggut-manggut menanggapi ucapan Aeri yang berada dalam kuncian tubuh tegapnya. Sebelah tangan besar itu mengambil sebungkus roti cokelat yang tertata rapi di atas meja pantri, di samping Aeri. Membuka lalu memakan roti tersebut seolah tidak pernah makan selama satu hari.
Dan tindakan itu berhasil menarik atensi Aeri untuk melihat pada Zeha. Alis Aeri semakin berkerut ketara. Mengapa cara Zeha memakan roti tersebut terlihat seperti lelaki gondrong dengan bulu-bulu lebat diwajah yang pernah Aeri temui beberapa hari lalu di depan pintu lobi perusaahan itu? Wajah itu berubah kaget tidak terkira dalam hitungan detik kala melihat pandangan mata Zeha yang sama persis dengan lelaki gondrong yang ia pikir saat itu adalah seorang pengemis.
Tidak mungkin.
Glek!
"Sekarang sudah ingat?"
"Ma-maafkan saya tuan muda. Saya tidak bermaksud--"
"Bagus kalau kau sudah ingat." nada itu seperti menyindir.
Disaat Zeha meneguk air, saat itulah Aeri mengambil kesempatan untuk melepaskan diri dari Zeha. Jujur saja punggungnya terasa pegal sedari tadi. Sedang Zeha yang menyadari itu hanya menyunggingkan senyum remeh, apa lagi saat melihat Aeri menghela napas lega.
"Maaf tuan, saya harap anda bisa menemukan yang lebih layak untuk menjadi seketaris anda. Permisi."
Segera Aeri berlalu cepat meninggalkan ruang istirahat untuk para cleaning servise tersebut setelah seketika menundukkan kepala. Meninggalkan Zeha yang hanya menatap dingin kepergiannya.
Bibirnya menyungging miring dengan kepala yang mengangguk kecil. "Okay, kita lihat nanti."