
Beberapa menit yang lalu, manager Lee ada memberitahu bahwa Aeri tidak melayani lebih dari yang sewajarnya saja. Hal tersebut membuat Zeha tertawa. Bukan karena apa, lucu saja, memangnya ia tidak mengenal Aeri?
Tatapan Zeha lurus menatap Aeri yang berdiri mematung di hadapannya. Ia yakin bahwa wajahnya tidak terlihat oleh Aeri karena temaram lampu yang sengaja ia redupkan. Zeha tersenyum mendapati tubuh serta wajah lembut itu tampak takut.
"Mendekatlah," titah Zeha.
Sebelum memasuki ruang VVIP tersebut, Zeha telah memakan sesuatu agar suaranya tidak dapat dikenali oleh Aeri. Jadi tidak heran jika saat ini Aeri tidak mengenali suaranya.
Setelah menutup pintu, Aeri pun mendekat dan menjatuhkan bokongnya sedikit jauh dari lelaki tersebut, yang tidak ia ketahui bahwa adalah Zeha. Zeha menoleh dengan alis terjungkit naik.
"Kenapa kau duduk di situ?" Zeha sengaja bertanya dengan suara dingin. Ia ingin membuat Aeri merasa takut.
𝘓𝘢𝘭𝘶... 𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢? Aeri sungguh dibuat bingung oleh pertanya lelaki yang tidak ia ketahui wajahnya seperti apa itu.
"Pindah!" Zeha menahan senyum melihat kebingungan di wajah lembut cantik Aeri. Sebenarnya, Zeha juga tidak begitu melihat wajah Aeri, hanya saja ia sudah begitu mengenal sosok tersebut hingga membuatnya yakin bahwa Aeri pasti sedang kebingungan detik itu.
Tetapi mau bagaimana lagi, Aeri sungguh tidak tahu harus pindah ke mana. Bahkan kerutan halus tercetak jelas di atas dahi Aeri. Secara perlahan ia beranjak, namun juga berpikir, sebenarnya ia harus duduk di mana? Apa mungkin lelaki itu ada masalah dengan kebersihan? Jika demikian, bagaimana ia harus melakukan tugas melayaninya?
Sret!
Buk!
Bokong Aeri jatuh terhempas sedikit kuat pada paha Zeha disaat ia menariknya. Keterkejutan itu terlihat jelas di wajah Aeri.
"Sangat buruk!" sindir Zeha memindai wajah lembut yang menunduk itu.
Bagimana mana lagi, Aeri sungguh tidak terpikir bahwa yang dimaksud oleh lelaki tersebut adalah hal yang seperti ini. Posisi yang sangat membuatnya malu.
"Sekarang lakukan pekerjaan mu!"
Aeri sudah mengatakan pada manager Lee bahwa ia akan berhenti dari pekerjaannya ini. Dan malam ini adalah malam terakhir. Bahkan saat ini, Aeri merasa resah, takut jika ia akan ketahuan lagi oleh Zeha seperti waktu itu. Sedangkan Zeha sudah memintanya untuk berhenti.
Sudut bibir Zeha menyungging melihat Aeri mulai bertindak dengan membuka sisa kancing yang belum terbuka. Apa lagi rona merah yang mengjalari kedua pipi cantik Aeri.
Seketika Aeri tampak berpikir. Ia menatap lamat dada Zeha yang terekspos bebas.
𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘶𝘮 𝘥𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘪𝘯𝘪?
Sungguh dengan memikirkannya saja sudah membuat jantung Aeri hampir melompat keluar dari tempatnya.
𝘈𝘩! 𝘓𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢, 𝘣𝘪𝘢𝘳 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪.
Wajah Aeri pun kontan mendekat, membuat Zeha mengernyit bingung. Zeha penasaran dengan apa yang akan Aeri lakukan padanya.
Cup!
Cup!
Cup!
Wah, ini sungguh tidak terduga. Biasanya Zeha yang akan memulai sesuatu dengan Aeri, tapi ini, Aeri-lah yang memulai. Ya, walaupun gadis itu tidak tahu siapa ia sebenarnya.
Melihat bibir berisi Aeri mencumbui tubuh depannya membuat Zeha tersenyum. Betapa imut Aeri dilihat seperti ini. Namun demikian, Zeha tetap menikmati servis yang Aeri berikan padanya. Sekali lagi Zeha tersenyum dalam hati, gadis itu begitu amatir dalam hal seperti ini.
Tetapi ini justru menunjukkan bahwa Aeri bukan seperti wanita yang pernah ia kenal.
"Eughkk~" Zeha refleks melenguh dengan manik terpejam dikala Aeri tiba-tiba menyesap kuat lingkaran kecoklatan yang berada di depan tubuhnya.
Cup!
Bahkan kini Aeri membuka mulutnya, memberanikan diri dengan meraup lembut bibir Zeha dengan diselangi ******* lembut, lalu membawa bibir mungil berisinya menurun pada tengkuk sang lelaki yang menonjol, menyesapnya sehingga tanpa sengaja memancing sesuatu yang berada dalam tubuh Zeha.
"****!"
Dalam sekali angkat Zeha berjaya mengubah posisi duduk Aeri menghadapnya. Membuat tubuh kekarnya berada di antara kedua paha Aeri yang terbuka. Tangan Aeri otomatis mengalung pada leher kekar itu, sembari membuka mulut guna meraup bibir sang lelaki yang tidak ia ketahui itu.
Tetapi, saat itu bukan hanya Aeri yang membuka mulutnya, namun juga Zeha yang turut terbuka menyambut bibir Aeri yang siap kembali bersatu dengan miliknya. Tangan besar Zeha semakin menarik mendekat tubuh Aeri hingga rapat tiada jarak. Sementara sebelahnya pula menekan tengkuk Aeri, memperdalam ciuman.
Semakin lama, cumbuan Zeha semakin agresif dan liar, membuat Aeri kewalahan mengimbangi ciuman itu, walau Aeri tetap mencuba mengikuti permainan tersebut. Lidah mereka bahkan telah saling membelit.
Satu lenguhan lolos begitu saja dari bibir Aeri kala Zeha begitu menekan semakin dalam bibirnya, mengusai setiap inci bibir Aeri. Gerakan kaku dari Aeri membuat Zeha penasaran dengan Aeri disaat berada dalam mood liar.
Aeri menarik wajahnya secara tiba-tiba, ia terengah-engah akibat dari permainan Zeha. Ia mengakui bahwa ia telah terlena oleh permainan lelaki yang memangkunya itu. Walau begitu, ia tetap membalas Zeha tidak kalah liar, tapi tetap saja ia kehabisan napas.
"Kenapa? Kehabisan napas?"
Entah apa maksud Zeha bertanya, padahal sudah jelas ia telah membuat Aeri kehabisan napas. Dan bodohnya Aeri malah mengangguk yang membuat Zeha tersenyum puas. Zeha kembali mengemut bibir bawah Aeri yang terbuka, bahkan sedikit menyedotnya sebelum ia lepaskan.
Aeri bergeming. Ia membiarkan Zeha melakukan apapun pada bibirnya itu.
"Kau harus bisa mengimbangi ku mulai detik ini," bisikan penuh tuntutan di telinga itu membuat Aeri seketika bingung. Aeri tidak mengerti dengan maksud Zeha yang mengatakan 'mulai detik ini'. Apa maksudnya? Karena napas yang tidak stabil membuat Aeri tidak dapat berpikir dengan benar.
Tiupan kecil diakhir kata Zeha membuat Aeri meremang. Apalagi Zeha telah mendaratkan bibirnya pada permukaan leher jenjang Aeri yang terekspos bebas. Membawa bibir secara menyeret dengan lidah menyapa hingga ke tulang selangka, membuat Aeri menegang dengan kepala sontak mendongak, seolah memberi akses pada sang lelaki. Bibir Aeri yang terbuka tak sadar mengeluarkan lenguhan kecil yang membakar tubuh Zeha.
Zeha kembali menyeret bibir, naik melewati tonjolan yang tidak timbul pada bagian tengah leher Aeri, hinggap pada dagu itu, mengecup lembut, dan seterusnya Zeha menemui bibir Aeri yang sedikit terbuka.
Bunyi sesapan bibir yang saling bergumul, terdengar jelas dalam ruangan VVIP tersebut. Aeri mengalungkan tangannya pada leher Zeha, menariknya untuk memperdalam ciuman. Aeri sepertinya sudah terlena akan liarnya permainan yang Zeha ciptakan. Bahkan bagian bawah tubuh Aeri begitu menempel pada tubuh depan Zeha.
Tangan kasar Zeha mengelus seksual paha Aeri yang terlihat karena rok yang ia kenakan tertarik naik karena paha yang melebar.
Bibir saling meraup intens dengan lidah membelit liar. Kepala mereka bergerak bebas kiri dan kanan mencari kepuasan. Tautan terlepas hanya untuk menghirup oksigen, sebelum sedetik kemudian kembali bertemu dengan bibir yang saling terbuka, menyambut satu sama lain.
Di samping itu, tangan Zeha bergerak bebas, bergerilya meraba tubuh kecil Aeri, semakin menghanyutkan. Menyusuri punggung kecil itu demi mencari resleting yang Zeha yakini berada di sana.
Tangan kecil itu mencengkram kuat surai belakang Zeha, melampiaskan rasa yang membuat tubuhnya panas. Bukan kali pertama, karena ini sudah sebulan sejak Aeri kerja di club tersebut, tapi lelaki yang memangkunya saat ini begitu lihai dalam menghayutkannya.
"Ahh!"
Seketika Aeri tersadar dan tautan pun terlepas begitu saja dikala Aeri merasa Zeha menarik turun baju yang ia kenakan. Sejenak Aeri merasa bingung. Sejak kapan resleting bajunya ditarik oleh lelaki yang tidak ia ketahui itu.
Keduanya terengah dengan bibir saling terbuka. Pandangan mereka bertemu dalam temaram lampu. Sorot mata Aeri mempertanyakan tindakan sang lelaki. Namun, Zeha malah tersenyum miring melihat kebingungan yang tercetak jelas di wajah Aeri. Sedangkan semuanya sudah jelas akan perjanjian yang berupa larangan seperti demikian.
"Tu--Tuan...."
"Manager Lee sudah mengatakan padaku, kau tidak perlu khawatir tentang itu. Aku tahu apa yang aku lakukan," terang Zeha tidak ingin semakin membingungkan Aeri.
Tetapi, Aeri meragukannya. Ia tidak yakin lelaki yang tidak terlihat jelas wajahnya itu bisa mengontrol diri jika apa yang mereka lakukan tadi berkelanjutan. Aeri menggigit cemas bibir bawahnya. Ia tidak ingin memberikan kesuciannya pada lelaki yang tidak ia cintai. Lebih lagi, ia tidak mengenalinya.
"Aku hanya haus." Zeha menyungging smirk. Jika tadi pagi ia tidak dapat menyentuh milik Aeri, sekarang ia harus berjaya. Zeha yakin belum pernah ada seorang lelaki pun yang menyentuh atau bahkan menikmati kenyalnya milik Aeri tersebut.
Jika Aeri mengetahui bahwa saat itu adalah ia, maka Zeha yakin, sekarang juga Aeri keluar dari ruangan tersebut.
"Kalau begitu aku akan ambilkan air."
"Tidak," sela Zeha cepat. Menahan pinggang Aeri yang hendak beranjak. "Aku hanya ingin apa yang ada dihadapanku saat ini." tangan Zeha kembali bergerak semakin melorotkan baju yang dikenakan Aeri.
"Tapi...." Aeri menghentikan gerakan Zeha dengan cepat. "I-ini.... Tidak memiliki airnya, jadi haus Tuan tidak akan hilang.... " sebisa mungkin Aeri mencari alasan.
"Tidak masalah, karena aku akan menghisapnya hingga menghasilkan air." Zeha kembali tersenyum miring. Membuat Aeri menelan susah salivanya dengan manik yang melebar seakan bisa keluar dari tempatnya.
𝘞𝘢𝘩, 𝘪𝘯𝘪 𝘨𝘪𝘭𝘢.
"Ap-eugh!"
Kontan suara lenguhan keluar tepat saat Zeha bergerak cepat menarik turun dalam sekali tarik, menyembulkan kedua buah kenyal Aeri yang tidak mengenakan bra karena baju yang Aeri kenakan memiliki gabus. Lantas, Zeha langsung memasukkan miliknya ke dalam mulutnya yang terbuka lebar.
"Ahkk~ Tu--tuannhhh!"
Kepala Aeri otomatis terangkat. Tubuhnya serasa terkena listrik bervoltase tinggi. Jari-jarinya kontan mencengkram kuat bahu Zeha. Sekujur tubuhnya menegang, juga bergetar saat lelaki itu menyusuinya bak seorang bayi yang kehausan. Memainkan pucuknya menggunakan lidah, semakin membuat Aeri merasa geli sekaligus nikmat.
Aeri bergerak gelisah di atas paha Zeha. Bahkan disaat Zeha melepaskan miliknya dari dalam mulutnya, ada rasa tidak rela, sehinggalah Zeha meraup sebelahnya guna menyesapnya barulah Aeri merasa seolah mendapat kembali apa yang ia inginkan. Bahkan Aeri menekan kepala Zeha agar semakin dalam mengemut miliknya. Aeri menginginkan rasa yang sama seperti tadi.
"Umm--uh~"
Zeha menggerakkan lidahnya dengan gerakan memutar pada puncak Aeri. Terasa sedikit nyeri kala Zeha menyesapnya begitu kuat. Entah lelaki itu berjaya mendapatkan air susunya pun Aeri tidak tahu. Tapi, yang pasti lelaki itu terkesan seperti seorang maniak terhadap benda tersebut.
Bunyi yang dihasilkan karena disaat Zeha menyedotnya kuat, lalu ia tarik menggunakan bibirnya, kemudian dilepas begitu saja hingga benda kenyal itu melantun indah di hadapan Zeha.
Zeha tersenyum puas sebelum seketika ia mencium sekilas bibir Aeri yang sedang mengatur napas. Zeha memindahkan Aeri setelah merapikan baju sang gadis seperti sedia kala.
"Sangat nikmat, Aeri," bisik Zeha tepat diwajah Aeri yang memerah.
Aeri mengernyit bingung saat namanya tiba-tiba disebut oleh Zeha. Ia menatap punggung lebar yang mendekati pintu keluar. Aeri tidak ingat pernah mengatakan namanya pada lelaki tersebut.
"Ouh, iya." Zeha berbalik. "Jangan pernah memperlihatkan milikku pada lelaki lain, dan.... Besok aku tidak ingin melihatmu bekerja di sini lagi!"