
"Aeri!" Panggil Zeha membuka pintu dengan kasar, memindai seisi WC yang banyak kamar-kamar kecil di dalamnya.
Tidak lama setelah itu samar-samar Zeha mendengar suara lemah juga putus-putus menyahut. Telinganya yang tajam langsung menangkap asal dari suara tersebut. Dengan langkah lebar bak berlari Zeha membawa tubuh menuju kamar kecil bagian ujung.
Melihat batang penyapu melintang serta menahan knock pintu, Zeha meregangkan leher yang tiba-tiba menegang dengan amarah yang membuncah. Dengan kasar ia menarik penyapu tersebut, lantas menobrak pintu WC hingga rosak.
Wajah cantik dan lembut Aeri berubah begitu ketara di manik gelap itu. Wajah yang biasanya berseri dengan natural kini terlihat begitu pucat dengan kedua belah bibir yang bergetar biru. Lihuid bening refleks mengalir membasahi wajah itu saat melihatnya.
Suara bergetar yang menyerunya masuk menyentuh hatinya yang kejam. Dalam hitungan detik semuanya berubah menjadi kekhawatiran yang memenuhi rongga dada Zeha. Aeri terlihat tidak jauh beda dengan mayat hidup saat itu. Mata sayu hampir tertutup itu terus menghasilkan air sebening krytal.
Kontan Zeha mengambil langkah sebesarnya meraih tubuh lemah Aeri yang terhuyung ke depan disaat bergerak kepadanya. Tubuh sedingin es itu masuk ke dalam dekapannya. Kedua lengannya melingkari punggung kecil Aeri yang bergetar hebat.
"A-a--aku ta--takut Tuan," lirih Aeri seringan angin malam, sebelum ia jatuh pingsan dalam dekapan hangat Zeha. Kesadaran yang dipertahankan kini terlepas juga dalam pelukan orang ia percayai.
Zeha langsung membawa tubuh ringan Aeri setelah ia membuka jas lalu dipakaikan pada tubuh Aeri lantas keluar dari sana menuju tempat parkiran dengan langkah lebar. Wajah dingin itu langsung tidak menunjukkan kecemasan, namun tiada yang tahu bagaimana detak jatung yang hampir membuatnya gelabakan.
Gary yang menuggu diluar langsung bertindak membukakan pintu saat melihat sang atasan dengan seorang gadis dalam gendongan mendekat dengan langkah tergesa-gesa. Gadis itu tampaknya tidak sadarkan diri.
"Minta dokter pribadi keluargaku datang apartemen segera!" Perintah Zeha setelah mendudukkan bokongnya pada tempat duduk penumpang. Tubuh dingin Aeri berada di atas pangkuan, dan tangan itu terus memeluk tubuh Aeri yang bergetar. Membenarkan letak jas miliknya di atas tubuh itu.
Disaat seperti ini, Gary mengerti harus segera tiba di apartemen sehingga ia pun membawa mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalanan sepi tanpa mobil waktu itu.
Zeha terus mengeratkan pelukan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah pucat yang berkerut, seolah menangis dalam tidur. Tubuh itu terasa dingin tetapi menghasilkan keringat sebesar biji jangung pada pelipisnya.
"Lebih cepat, Gary!" Ujar Zeha seraya menyeka keringat yang mengalir di atas wajah lembut yang jika pandang secara terus menerus akan memberikan ketenangan bagi yang memandangnya.
Sesekali terdengar lirihan yang Zeha tidak mengerti alasannya. "Tenanglah, kau aman sekarang," bisik Zeha lembut ditelinga Aeri. "Aku akan pastikan mereka yang melakukan ini membayarnya!" Dinginnya ucapan Zeha bergumam dalam bibir, sembari tangan terus mengusap lembut pipi pucat nan dingin itu.
Akhirnya mereka pun tiba dengan selamat di apartemen Zeha. Dengan sangat berhati-hati Zeha membarikan tubuh Aeri di atas ranjang king size miliknya.
"Kenapa lama sekali?!" Serga Zeha emosi, sedang Aeri harus segera mendapatkan perawatan. Tangan besar sudah tidak lagi merasakan hangatnya tubuh Aeri.
"Tadi katanya akan memakan waktu sedikit lama Tuan karena kebetulan dia berada di mansion ayah anda," sahut Gary.
Karena posisi mansion ayah Zeha berjarak jauh dari apartemen miliknya sehingga akan memakan waktu hampir satu jam dalam perjalanan.
"Saya kurang tahu Tuan, mungkin ayah anda memanggilnya."
"Semua tidak berg--"
"Tolong ...." lirih Aeri dengan wajah berkerut gelisah, menghentikan ucapan Zeha.
Lelaki itu kontan menoleh, wajahnya tiba-tiba melunak. Tiada lagi aura yang mematikan itu. "Keluar!" Titah Zeha mendekat. Memindai wajah itu dengan bibir membiru secara perlahan. Zeha tidak punya cara lain lagi. Apa yang ia pikirkan itu adalah pilihan terbaik saat itu.
"Ini demi menyelamatkanmu, jika kau ingin mamakiku maka kau bisa lakukannya setelah kau pulih."
Zeha menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuh kecil itu, begitu juga dengan dirinya dan hanya menyisakan dalamnya saja. Zeha naik ke atas ranjang, menarik tubuh itu masuk sedalam-dalamnya, tenggelam dalam dekapan tubuh besar berotot miliknya, lantas menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Zeha berharap dengan begitu, ia dapat menghangatkan tubuh yang hampir membeku itu.
Sesuatu yang bangkit dalam diri sekuat mungkin Zeha redam agar tidak memangsa tubuh yang tidak berdaya dalam dekapan yang sedang ia hangatkan melalui sentuhan tubuh. Zeha memang brengsek, tetapi tidak sebrengsek itu sehingga tidak dapat menahan nafsu sehingga memakan Aeri saat itu juga.
Walau begitu, Zeha tetap mengusap-usap punggung Aeri agar efek itu dapat meredakan hawa yang melanda tubuh rapuh itu. Kepala Aeri Zeha sandarkan pada dada bidangnya dengan kepalanya berada di puncak kepala Aeri. Harum wangi syampo yang Aeri pakaian semerbak menusuk indra penciuman Zeha, mengantarkan lelaki itu ke alam mimpi.
Namun, baru saja Zeha ingin terlelap, gerakan serta lenguhan Aeri menyadarkannya. Ia membuka mata, lalu sedikit menjauhkan tubuh demi bisa melihat wajah pucat yang mungkin telah terjaga.
"Kau sudah bangun?" Zeha dapat melihat manik sayu Aeri terbuka, menatap lurus pada dadanya yang tepat berada di hadapan mata. Kemudian, secara perlahan wajah itu mendongak bertemu pandang dengan manik tajamnya.
"Kenapa Tuan tidak pakai baju?"
Bersamaan dengan suara lemah itu pintu diketuk dari luar, lalu suara Gary berujar. "Tuan, dokter anda telah datang..."
"Tunggu sebentar!" Zeha menjawap tanpa melarikan bola mata dari bola mata Aeri yang tampak tidak bermaya. Tetapi, dengan melihat mata itu berbuka membuat hati Zeha merasa lega tanpa ia sadari. Berbeda dengan wajah yang malah menampilkan smirk yang seolah ia mengambil kesempatan atas ketidak sadaran Aeri. Zeha kembali mendekatkan wajah.
"Bukankah aku brengsek?" Tanyanya bergumam berat, dekat dengan ceruk leher Aeri yang telanjang, menggelitik dengan napasnya.
Tangan Aeri yang berada dalam selimut langsung digerakkan oleh sang empu. Barulah setelahnya, Aeri membulatkan matanya kaget karena ia tidak mengenakan pakaian apapun. Hanya dalaman bagian bawah serta bra yang membungkus tubuh bagian depannya, yang seketika hal itu membuat Aeri merasa lega.
Ternyata atasaannya tidak sebrengsek yang ia pikirkan. Itulah yang ada dalam pikirannya.
Zeha menyentuh pipi itu, suhunya sudah tidak sedingin tadi yang bak es. "Pikirkanlah apapun yang ingin kau pikirkan, tapi jangan banyak bergerak jika kau tidak ingin aku menyerangmu sekarang!"