The President'S Crazy

The President'S Crazy
part. 64



Zeha tampak bersandar pada kepala ranjang dengan tubuh setengah berbaring. Atensinya terus tertuju pada Aeri yang merawatnya. Mengelap lengan, tangan bahkan wajahnya dengan sangat hati-hati dan lembut.


Bibir kecil itu terus bergerak mengajak Zeha berbicara, namun entah mengapa, ia hanya ingin menikmati wajah lembut yang tengah merawatnya itu. Wajah Aeri berada begitu dekat dengan wajahnya, membuat manik tajam itu terus mengikuti arah gerakan wajah tersebut.


"Ibu anda yang berada di atas, pasti sedih melihat Tuan seperti ini." Zeha jelas melihat air mata itu mengalir keluar dari mata indah Aeri. Ingin rasanya Zeha menghapusnya, tapi tangannya terasa berat untuk ia gerakan.


"Masih ada orang yang mengkhawatirkan anda. Seperti kak Sehun, ayah anda dan ... aku ...." perkataan yang terakhir itu terdengar samar oleh Zeha. Alisnya berkerut tidak yakin dengan apa yang ia dengar.


𝘉𝘦𝘳𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘮𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶?


"Disaat orang lain telah bahagia, anda malah tertinggal dan tenggelam dalam kenangan buruk itu. Tuan harus bangkit." Bibir berisi Zeha membentuk satu senyum tipis yang indah tanpa beban.


"Baiklah .... Sekarang Tuan harus istirahat. Aku akan pergi dulu."


"Tidak!"


Kedua mata itu kontan terbuka lebar. Cahaya mentari yang telah timbul masuk melalu gorden dan membias kamar itu. Sesuatu terasa menumpu pada tangan Zeha, membuatnya menoleh secara perlahan. Wajah Aeri yang terkena bias cahaya tampak cantik dengan wajah putih yang tampak berkilau dan berseri walau sedang tertidur.


Jadi tadi itu hanya sebuah mimpi? Bibir Zeha tertarik kecil. Mimpi itu terasa begitu nyata. Tetapi, sepertinya itu suatu kenyataan yang terbawa ke alam mimpi.


Tidak ingin membangunkan, Zeha bangkit secara perlahan tanpa menarik tangan yang ditindih oleh Aeri. Memandangi wajah yang tampak lelap dalam posisi duduk. Tangan Zeha yang menganggur, menyelitkan anak rambut yang menutupi wajah damai itu.


Seketika Zeha memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit, namun masih bisa ia tahan. Apa yang terjadi semalam terasa begitu jelas berputar di dalam kepala. Bergantian, kini tangan Zeha dengan hati-hati menyentuh bekas merah yang membekas di leher jenjang Aeri.


Zeha sangat ingat dikala ia hilang kawalan dan malah mencekik Aeri yang tidak bersalah. Waktu itu ia seolah kerasukan iblis sehingga membutakan mata hatinya. Rasa benci yang memang ada semakin menguasai hati dan pikiran, ditambah oleh pengaruh alhokol.


"Aku sudah menyuruhmu pergi, tapi kenapa kau begitu keras kepala dan malah memilih tinggal?" Ibu jari Zeha mengusap-ngusap lebut pipi mulus itu. "Bagaimana jika aku sampai membunuhmu, hmm?"


Selama ini belum pernah ada yang berani mendekatinya jika sedang seperti semalam. Jika Zeha menyuruh seseorang itu untuk pergi, maka orang itu akan pergi tanpa bantahan. Bahkan ada yang acuh dan tidak peduli bagaimanapun keadaannya. Mereka malah memilih untuk pergi dan meninggalkan Zeha sendiri tanpa ingin menemani.


"Dan kau entah bagaimana bisa datang ke sini, mengantarkan dirimu ke sarang harimau yang bisa merenggut nyawamu begitu saja."


Hal ini membuat hati Zeha terbuka untuk Aeri. Ia ingin memiliki Aeri tidak peduli apapun yang terjadi. Tiada lagi keraguan yang sebelumnya sempat ia rasakan. Sekarang Zeha yakin bahwa Aeri memang berbeda dari wanita lainnya. Aeri tidak akan pernah meninggalkannya, walau apapun yang terjadi. Jika Aeri menolak maka Zeha akan membuatnya tidak dapat menolak lagi.


.....


Disaat Jiha menginjakkan kaki di ruang tengah mansion John, lelaki itu baru saja menerima sebuah undangan dari seseorang yang langsung pergi setelah menyerahkan undangan tersebut.


"Undangan apa itu?" Jiha menjatuhkan bokong tepat di samping John.


"Mertuamu," tukas John tersenyum miring seraya menoleh pada Jiha yang berkerut bingung.


"Apa maksudmu? Aku belum menikah John!" ketawa John pecah disaat itu juga. Ia menjatuhkan ciuman singkat di atas bibir Jiha.


"Kau begitu cepat melupakan, itu sangat tidak baik." bibirnya menyungging menyindir. "Pesta ulang tahun J'Foodies yang ke-20 akan diadakan besok." John menyerahkan undangan tersebut pada Jiha.


"Jadi, kau akan pergi?" tanya Jiha tanpa melihat pada John.


"Apa itu pertanyaan bonus?"


Jiha tertawa kecil mendapat pertanyaan itu. "Haha... Okay, maaf. Sudah tentu kita akan pergi, bukan?"


"Wanitaku memang selalu tahu...."


"Sudah tentu. Ini adalah waktunya. Kau sudah menunggunya terlalu lama."


"Lalu, apa sekarang kau menggodaku?" John menoleh perlahan menemui wajah Jiha kala ia merasa tangan wanita itu mengelus-ngelus dadanya yang terdedah di balik jubah mandi.


"Aku tidak boleh melakukannya?" tanya Jiha menggoda. "Ya, sudah kalau begitu."


Dengan berpura-pura merajuk, Jiha membawa langkah kaki menjauh dengan kesal, namun sebelum itu John lebih dulu menarik tangan Jiha hingga terjatuh di atas pangkuannya.


Jiha tersenyum smirk. "Apa sekarang kau yang menggoda ku?" sebelah alis itu terjungkit naik. Jiha membiarkan saja saat kekasihnya itu membuka pengait di belakangnya.


"Hmm... Bukankah ini yang kau inginkan?"


"Bagaimana jika ada yang melihat kita? Pelayanmu?"


"Mereka tidak akan berani." kini tangan John sudah berada di kedua sisi gunung kembar Jiha sambil memainkannya sehingga berhasil membuat sang wanita di pangkuan melenguh dengan kepala yang sontak mendongak.


"Buah dadanyamu ternyata sudah lebih besar sekarang, ya?" John menarik naik baju Jiha hingga terlepas, lalu ia lepas begitu saja.


"Itu uhh kerana kau shh.... "


"Besok malam aku ingin kau berdandan dengan cantik...." Secara perlahan John menuntun Jiha untuk duduk menghadapnya dengan kedua paha Jiha yang terbuka.


"K--kenapa?" Jiha kepayahan mengeluarkan suara saat John memilin-milin ujung miliknya yang sensitif.


"Karena kau akan bergandenganku datang ke acara itu."


"Ahh!"


John langsung melesatkan miliknya masuk dikala ia telah membarikankan tubuh Jiha yang telah polos di atas sofa. Ia membuat Jiha terus berteriak dan mendesah hingga memenuhi ruang tengah tanpa takut terlihat oleh pelayan.


....


Aeri tersentak kaget bangun dari tidurnya. Ia semakin kaget kala sudah tidak melihat Zeha baring di atas ranjang. Dengan panik Aeri bangkit.


"Tuan Zeha," serunya memanggil.


"Tuan Zeha...." Aeri mengecek masuk ke dalam kamar mandi. Namun, nihil. Sekilas Aeri melihat pintu balkon terbuka. Tepat detik itu angin bertiup memperlihatkan Zeha yang sedang berdiri di pembatas besi. Aeri segera membawa tungkainya menuju balkon dengan perasaan lega. Menempatkan dirinya tepat di samping Zeha.


"Tuan lihat apa? " tanya Aeri menatap wajah itu dari samping.


"Apa Tuan sudah merasa baikan? Semalam tubuh anda begitu panas." Tanpa komando, tangan kecil Aeri terangkat untuk menyentuh dahi Zeha.


Aeri mengukir senyum mendapati tubuh besar Zeha tidak lagi panas seperti semalam, kini sudah normal seperti biasa, namun secara perlahan menyusut disaat Zeha meraih tangannya yang berada di dahi. Menggenggam hingga membuat Aeri kebingungan.


"Selama ini aku hidup dalam kesepian." Aeri mendengar. "Penyesalan dan kebencian yang aku rasakan membuat diriku semakin terjerat dalam masa lalu. Menenggelamkan aku pada dasar laut yang tidak tersentuh oleh cahaya matahari. Bahkan kadang, aku merasa hidupku ini tidak bermakna lagi."


"T-tuan..." mendengar cerita Zeha membuat manik Aeri berembun.


"Orang yang kucintai pergi meninggalkanku disaat aku membutuhkan sandaran. Sedangkan yang ibu selalu ada bersamaku juga telah pergi untuk selamanya. Aku bagaikan berada disuatu tempat yang hanya ada diriku sendiri saja. Apapun yang aku lakukan, sebising apapun keadaan di sekelilingku ini, aku tetap merasa sendiri. Hatiku terasa kosong. Kini aku sudah tidak tahu bagaimana rasanya nyaman, ketenangan dan kebahagian karena diperhatikan."


Sebutir lihuid bening jatuh tepat disaat Zeha menunduk. Tanpa sadar tangan Aeri kontan balas menggenggam tangan Zeha yang memang telah memegang tangannya.


"Tuan jangan berkata seperti itu. Aku rasa ingin menangis jika anda berkata lagi, " tutur Aeri jujur tepat disaat Zeha menatapnya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Hati Aeri sungguh terasa perih, mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut lelaki itu.


Zeha tersenyum kecil melihat wajah Aeri yang sedih karena ucapannya. Bagai gerakan slow motion, Zeha menarik pelan tangan Aeri hingga tubuh kecil Aeri masuk ke dalam dekapan eratnya, membuat Aeri kebingungan walau tidak melwan. Zeha memeluk tubuh itu begitu posesif sambil mengelus belakag kepala Aeri.


"Kini semuanya berubah karena kehadiran mu," ucap Zeha bergumam hingga Aeri hanya mendengar samar-samar.


"Apa? Tuan mengatakan sesuatu?"


"Sekarang kau sudah tahu semua rahsiaku. Jadi, kau dilarang untuk pergi atau meninggalkanku apapun yang terjadi karena sekarang kau milikku!"


Aeri tertegun tanpa menyahut. Apalagi disaat tiba-tiba bibir Zeha mendarat lembut di atas dahinya lama.


"Jika kau ketahuan berhianat atau ada niat untuk meninggalkanku, kau tahu sendiri apa yang akan terjadi padamu."