
John membawa bibirnya menemui telinga Jiha. "Aku menghargai wanita, tapi jangan sampai aku membuangmu dengan terpaksa dan berhenti menanggungmu, sayang," bisik John.
Puk!
Jiha memukul dada itu menjauh. "Kau mengancamku?" Jiha memicing tidak percaya.
John kembali menarik lengan Jiha, membawanya berputar sehingga punggung itu terbentur pada tubuh depan berotot miliknya. Kedua tangan John merambat masuk, mencari sesuatu yang tertutup rapi di dada Jiha.
"Ini semua demi menghancurkan Zeha, sayang." Menarik naik penutup tersebut, lantas menggenggam kedua milik Jiha yang selalu ia nikmati itu. "Kau tahu bahwa kau tetap nomor satu, kan?" John menjulurkan lidah, menyapu daun telinga itu.
"Emm...." Jiha melenguh. Jari kasar John menarik ujung miliknya yang menegang, lalu kembali memijat di sana.
"Jadi, jangan cemburu okay." Seperti biasa, Jiha selalu bisa dijinakkan oleh John melalui sentuhan. Sebelah tangan John keluar, kemudian menarik wajah itu kebelakang. Dan kembali bergumul dalam sembari sebelah tangan terus mempermainkan buah favorite nya itu.
....
Lihuid bening itu mengalir membasahi pipi putih Aeri. Mengenang semua membuat dada terasa begitu sesak, sangat. Entah sampai kapan ia harus dipermainkan. Bahunya seakan tidak mampu memikul beban lagi. Namun, apabila mengingat sang ayah yang tercinta membuat Aeri membuang jauh pemikirannya itu.
Segukan itu terdesak begitu memilukan. Aeri bahkan memukuk-mukul dadanya demi mengurangi rasa sesak yang menyiksa.
Tubuhnya bereaksi cepat saat sebuah tangan melingkari perut ratanya. Ingin segera berbalik, terapi ditahan.
"Lepas Tn. John!" tukas Aeri penuh penekanan. Entah bagaimana John masuk hingga Aeri tidak mendengar bunyi pintu sama sekali.
"Apa yang kau tangisi?" pelukan itu mengerat, membuat Aeri bergerak tidak nyaman. "Kau memikirkan lelaki itu?"
"Itu urusanku! Sekarang lepaskan aku!" Kedua tangan Aeri sekuat mungkin menahan tangan John yang bergerak liar mengelus perutnya dari luar.
"Lupakan dia Aeri. Lelaki itu sama sekali tidak menghargai keberadaanmu," bisik John, mengendus area leher itu. Hembusan napasnya menyapu permukaan itu. Membuat bulu kuduk Aeri merinding dengan jantung berdetak cepat. Ia merasa dalam bahaya.
"Apa bedanya denganmu, Tn. John?" sindir Aeri.
Dikala merasa Aeri hampir melepas diri, dengan cepat John mendorong tubuh Aeri sehingga tubuh bagian depan wanita menempel pada dinding kaca.
Sudut bibir John tertarik miring. "Jika kau mengatakan aku seperti itu, maka aku akan seperti itu."
Bagai tersengat listrik bervolt tinggi, tubuh Aeri menenggang dengan napas tertahan. Tangannya sontak mencengkram lengan John yang masih setia memeluk perutnya saat bibir lelaki itu menyentuh kulit lehernya dengan bibir terbuka.
"Breng--sek!" Aeri dapat merasakan bahwa John akan menjnggalkan bekas yang akan sulit hilangnya nanti.
"Argk!" Suara teriakan itu keluar disaat John menggigit kuat leher Aeri, namun tidak sampai berdarah.
Tidak tahu mendapat kekuatan dari mana, Aeri berhasil melepaskan diri. Mendorong tubuh itu menjauh, lalu segera berlari menjauh, tetapi sayang Aeri tidak bergerak secepat itu hingga John berhasil mencekal pergelangannya.
Tubuh kecil itu terhempas di dada bidang John. Dalam sekelip mata bibir buas lelaki itu telah mendarat di atas bibir Aeri. Bermain di sana dengan liar dan dalam. Aeri yang syok mematung kaku.
Semua lelaki yang hadir dalam hidupnya, semua sama brengseknya.
Selang beberapa detik barulah Aeri bertindak, memberontak dalam rangkulan John yang kuat tenaganya. Kedua tangan sekuat tenaga memukul dada berotot tersebut. Namun sayang, semua itu sama sekali tidak berdampak pada John.
Tetapi, Aeri tidak akan menyerah. Tidak akan pernah. Sebelah kakinya sudah untuk ia layangkan pada pusaka John di bawah sana. Namun, ponsel lelaki itu lebih dulu berdering dan otomatis mengakhiri tautan tersebut.
Walau samar, Aeri dapat mendengar John merutuk kesal. Tapi, apa peduli Aeri. Yang pasti ia merasa senang.
"Hmm, ada apa?"
Dengan tatapan benci dan jijik, Aeri mengelap kasar bekas John di atas bibirnya itu.
Selama sambungan telpon itu, raut wajah John berubah drastis. Memang Aeri belum begitu lama mengenal lelaki itu, tapi ini adalah pertama kalinya ia melihat aura seperti itu terpancar dari wajah John.
"Brengsek!" Sambungan itu telah berakhir. 𝘈𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘵𝘪.
John melirik pada Aeri yang menatapnya tajam bak helang mengincar mangsa. Secepat mata berkedip, tangan Aeri melayang kuat di udara, namun tangkapan John melebihinya. Alhasil tangannya mengapung tanpa bisa memberi pelajaran pada lelaki di hadapannya itu.
John mendekatkan wajah. "Jika kau ingin ayahmu selamat lebih baik kau mengikuti apa kataku."
....
Ternyata mengabaikan panggilan Yohun tidak membuat lelaki itu menyerah. Buktinya ponsel Zeha terus bergetar di atas meja, panggilan yang keberapa pun Zeha sudah tidak tahu. Yang pasti saat ini Zeha mulai merasa kesal.
"Ada apa?" tanya Zeha dingin tanpa basa basi.
"Kalau mengenai wanita itu, aku tidak punya masa untuk menjawap. Aku tutup," sela Zeha cepat.
"Tunggu!" ujar Yohun tidak kalah cepat. Jari besar yang hampir lagi menyentuh tombol merah tersebut berhasil berhenti.
"Kau tahu, kan Aeri di bawah pergi oleh John?"
"Lebih tepatnya dia sendiri memilih untuk mengikuti lelaki brengsek itu," ucap Zeha, seolah merendahkan Aeri. Tentu saja Yohun dapat menangkapnya melalui nada bicara Zeha.
Yohun disebarang beranjak berdiri. Membawa tungkai menuju dinding kaca yang memperlihatkan kesibukan kota tersebut.
"Walaupun benar, aku yakin lelaki itu telah melakukan sesuatu pada Aeri. Aku sangat mengenal seperti apa dia."
Zeha berdecih tidak suka. "Jadi sekarang kau ingin menunjukkan padaku?! Bahwa kau lebih mengenalnya begitu?"
"Bukankah itu kenyataannya Tn. Zeha?"
"Aku tidak peduli! Kau jangan cuba ikut campur Tuan Yohun yang terhormat!"
"Aku tidak bisa diam saja tanpa bisa melakukan apapun! Jika kau tidak ingin melakukannya, maka lepaskan Aeri."
Seketika Zeha terdiam. Ia kembali tersenyum sinis. "Bahkan jika tinggal jasad wanita itu, aku juga tidak akan memberikannya padamu. Jadi, kau jangan pernah bermimpi untuk memilikinya," sindir Zeha. Menekan setiap kalimat yang menunjukkan Yohun langsung tidak memiliki peluang.
"Jika kau tidak peduli lagi pada Aeri untuk apa kau pertahankannya? Kau hanya akan menyiksanya."
"Bahkan jika aku menyiksanya, aku tetap tidak akan memberinya padamu." Zeha membakar cerutu. Menaikkan kaki di atas meja lantas ia silangkan. "Lagian itu adalah tujuanku," cetus Zeha tersenyum miring.
"Jeon Zeha!"
"Sudahlah. Buang waktu saja melayani mu!"
"Kau benar-benar berhati bat--"
Tut tut tut.
𝘚𝘩𝘪𝘵! Yohun menonjok dinding kaca tersebut dengan kesal.
Sedangkan Zeha langsung melepar ponsel miliknya ke lantai. "Ingin memiliki apa yang menjadi milik seorang Jeon Zeha?" Zeha membuang asap dalam mulut ke udara. 𝘐𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪!
Zeha menelpon seseorang melalui ponsel lain miliknya. "Hancurkan semua sehingga tidak tersisa apapun!" tukas Zeha begitu saja sambungan itu tersebung.
Sedangkan Yohun langsung mendail nomor ponsel Yuri. Ia sangat yakin wanita itu pasti mengetahui sesuatu mengenai Aeri.
Yuri yang saat itu khawatir setengah mati karena ponsel milik Sehun tidak dapat dihubungi. Tidak kira berapa kalipun Yuri berusaha, hasilnya tetap sama. Nihil. Hingga bunyi panggilan masuk sukses membuatnya terjingkat karena kaget.
Dalam hati berharap itu adalah Sehun, namun kenyataannya itu hanya sekedar harapan saja.
"Hello Yohun.... Ada apa kau menelponku?"
"Aku ingin bertanya mengenai Aeri. Kau pasti mengetahui sesuatu, kan?"
Yuri memasang wajah datar walau tak terlihat oleh Yohun. Ia merasa muak dengan tingkah lelaki itu. "Untuk apa kau bertanya? Apa kau ingin mempermainkannya lagi?"
"Tidak Yuri. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Aeri memilih pergi bersama John? Aku yakin John telah melakukan sesuatu. Aku sama sekali tidak berniat untuk mempermainkannya," terang Yohun.
"Kau benar. Lelaki yang kau sebut John itu memang telah melakukan sesuatu yang membuat Aeri tidak dapat menolak keinginannya."
"Apa?" Yohun terdengar seperti ingin meledak.
"Ini bersangkutan mengenai ayahnya."
"Tn. Kwon?!" Yohun tersentak kaget.
"Iya," sahut Yuri terdengar sedih. "Lelaki brengsek itu mengancam Aeri menggunakan ayahnya. Jadi Aeri mau tidak mau terpaksa ikut dengannya."
Seperti yang Yohun tebak. Memang ada muslihat dibalik ikutnya Aeri dengan John. "Dia seharusnya mengatakan semua itu pada Tn. Zeha agar Zeha tidak salah arti padanya."
"Ckk! Jangan sebut nama lelaki itu!" Yuri mendadak emosi mendengar nama yang notabenya adalah atasan tertingginya. "Dia hanya mempermainkan Aeri saja! Jika dia benar-benar mencintai Aeri dia tidak akan membiarkan Aeri pergi. Dan nyatanya sekarang dia melepas tangan begitu saja! Cih! Benar-benar lelaki brengsek. Untung dia adalah atasanku, jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan padanya!" luap Yuri membabi buta. Membuat Yohun di seberang terdiam seribu bahasa.